Bab 20

1765 Words
"Bro ... lo enggak balik ke apartemen?" Tomi menuangkan brendi ke dalam gelas kosong sesaat setelah Samudra kembali dari restroom. Cairan amber itu berkilau tertimpa lampu neon redup di sudut VIP klub malam tersebut. Samudra hanya mendengus kasar, menarik kursi kulit di depan meja yang dipenuhi botol-botol minuman mahal. "Sejak kapan kau jadi penjaga jadwalku?" Tomi tergelak hebat, tawanya bersaing dengan dentuman bas yang meredam suara di luar area mereka. "Beberapa minggu ini lo kan punya 'mainan' baru di apartemen. Gadis itu ... masih segar, kan? Atau sudah mulai layu karena lo paksa lembur setiap malam?" Samudra melirik sinis ke arah Tomi yang masih merangkul wanita cantik berpakaian minim yang duduk menempel di sampingnya. Samudra menyambar gelasnya, lalu menenggak brendi itu dalam sekali tegukan, membiarkan rasa panas membakar tenggorokannya. "Aku bukan pria hyper, Tomi. Jangan samakan aku denganmu." Jonas, yang sejak tadi sibuk meraba pinggul wanita di sebelahnya, ikut menimpali dengan seringai nakal. "Serius, Sam? Cewek yang tempo hari lo ceritain ... beneran lo 'bungkus' sampai ke akar-akarnya?" Mereka bertiga bukanlah pria baik-baik, itu fakta yang tak terbantahkan. Berkumpul di klub malam dengan alkohol mengalir deras dan dikelilingi wanita-wanita bayaran adalah habitat alami mereka. Namun, malam ini Samudra tampak berbeda. Ia tidak mengizinkan satu pun wanita duduk di sisinya. Ia hanya ingin meredam kegelisahan aneh yang menghantuinya sejak meninggalkan Maura di apartemen tadi. Tomi kembali tertawa, matanya berkilat jahil. "Kalian enggak tau, kan? Gue rasa ... si Sam ini beneran sudah kepincut sama barang perawan. Liat aja mukanya, kayak orang lagi nahan rindu." Samudra tak menjawab. Ia membiarkan banyolan lancang teman-temannya berlalu begitu saja. Baginya, Tomi dan Jonas adalah orang-orang yang mengenalnya sejak sebelum ia terbang ke luar negeri, satu-satunya lingkaran di mana ia bisa menjadi b******k tanpa perlu memakai topeng dosen yang terhormat. Jonas tiba-tiba terdiam, menatap Samudra dengan intensitas yang aneh hingga Samudra melemparkan segenggam kacang tepat ke wajahnya. "Berhenti memandangiku seolah kau ingin meniduriku, Jonas. Itu menjijikkan," desis Samudra tajam. Jonas berlagak muntah, wajahnya menunjukkan ekspresi ngeri yang dibuat-buat. "Hoek! Najis, Sam! Gue masih lurus seratus persen!" Tomi terpingkal hingga tersedak minumannya. "Masalahnya ... Jonas kan punya rekam jejak hampir dikokop sama boti yang tiba-tiba joget di depannya waktu kita di Bali dulu!" Mata Jonas melotot lebar, emosinya terpancing. "Anjing! Ngapain lo ingetin kejadian sialan itu lagi! Perut gue mual kalau ingat kumis tipisnya hampir nempel di pipi gue!" semburnya berang. Samudra ikut tersenyum tipis. Ia ingat betul kejadian itu. Bagaimana seorang pria dari kaum pelangi dengan berani melakukan pelecehan terang-terangan di depan mereka semua, yang berakhir dengan amukan hebat Jonas. "Gue penasaran, 'aset' miliknya masih bisa berdiri atau enggak setelah lo injek pakai sepatu boots lo waktu itu, Nas?" Tomi berseloroh tanpa filter. Jonas menggeleng ngeri, mengingat keganasannya sendiri saat itu. "Gue tadinya mau sekalian bikin mulutnya enggak bisa dipake lagi buat seumur hidup, tapi lo berdua malah nahan gue duluan," dengusnya, masih menyesali kenapa ia tidak menghajar pria itu lebih parah lagi. Samudra menyesap gelas keduanya, senyum tipis masih menghiasi bibirnya. Setidaknya, di sini, di tengah hiruk-pikuk maksiat dan tawa kasar teman-temannya, ia bisa sejenak melupakan wajah pucat Maura yang selalu tampak ketakutan di bawah kuasanya. Namun, jauh di sudut hatinya, ia tahu bahwa ia tidak sabar untuk kembali dan melihat bagaimana Maura berjuang menghadapi "sidang" darurat yang sudah ia siapkan untuk esok pagi. "Tapi ... umur berapa dia? Masih bocah banget kayaknya, ya?" Jonas bertanya tiba-tiba, beralih dari topik boti di Bali ke mangsa baru Samudra. Tomi bertepuk tangan dengan heboh, matanya berkilat jahil. "Lo mau tahu faktanya, Nas?" "Apa?" Samudra yang merasa Tomi sudah mulai melewati batas privasinya segera melempar segenggam kacang ke d**a pria itu. "Cukup, Tom. Jangan jadi ember bocor." Tomi bukannya berhenti, justru semakin bersemangat di bawah pengaruh alkohol. "Dia ... mahasiswi bimbingan Samudra di kampus! Bayangin, sang dosen killer memangsa mahasiswinya sendiri!" serunya. Jonas tertegun sejenak, menatap Samudra dengan pandangan tak percaya sebelum ledakan tawanya pecah. "Serius?! Hahaha! Gila, Sam. Lo benar-benar dapet jackpot. Pantesan aja lo susah diajak nongkrong belakangan ini, ternyata udah punya 'menu' yang jauh lebih enak di apartemen." Samudra hanya mendesis sinis. Ia menyesal telah terlalu terbuka pada Tomi. "Ya ... masih polos, kan?" Jonas melanjutkan sembari menyeringai. "Kasih uang saku sedikit juga pasti bakal nurut terus di atas ranjang." Pembicaraan antar pria itu mengalir begitu saja, merendahkan sosok yang bahkan tidak ada di sana tanpa rasa bersalah sedikit pun. Bagi mereka, wanita seperti Maura hanyalah variabel dalam persamaan kesenangan. "Kalau Naren tau sih ... dia pasti bakal kejar tuh cewek. Ya enggak, Tom?" Jonas berceletuk santai. Suasana meja mendadak beku. Tomi hampir tersedak brendinya mendengar nama kawan lama mereka yang satu itu disebut. Ia melirik takut-takut pada Samudra, lalu menyikut lengan Jonas dengan keras. "Ehem. Enggak usah bahas Naren lah. Itu masa lalu." Jonas baru menyadari atmosfer yang berubah drastis. Ia menatap Samudra dengan perasaan janggal. "Sori, Sam. Enggak maksud bahas dia." Samudra menyeringai sinis, menyesap minumannya dengan tenang seolah nama itu tidak berdampak apa-apa. "Kejadian itu sudah lama sekali. Cinta monyet yang tidak perlu diingat. Kenapa aku harus mempermasalahkannya?" Namun, Tomi tahu lebih baik. Ia ingat betul konflik besar yang pernah menghancurkan persahabatan Samudra dan Naren hanya karena satu wanita di masa lalu. Luka itu tidak pernah benar-benar sembuh, hanya tertutup oleh arogansi. "Dia lagi pegang klien besar di Singapura. Naren ... bakal menang enggak ya proyek itu?" Jonas mencoba mengalihkan topik. Samudra tersenyum tipis, sebuah senyuman predator. "Tinggal kita tebak saja cara kotor apa lagi yang akan dia gunakan untuk menjatuhkan lawan." *** Maura tidak bisa tidur. Kamar Samudra yang didominasi warna arang dan pencahayaan redup itu terasa seperti sel penjara yang menyesakkan. Pikirannya terus melayang pada hari esok—memperkirakan seberapa kejam kemarahan Samudra saat tahu progres skripsinya lenyap. Ia tidak bisa hanya diam dan pasrah. Maura bangkit, menyalakan MacBook perak milik Geri yang ia sita. Ia tahu ia tidak bisa memulihkan file yang sudah tertelan cairan kopi, tapi ia harus melakukan sesuatu. Laptop lamanya benar-benar sudah menjadi bangkai. Membaca kembali tumpukan referensi dan mencoba menyusun analisa baru di lembar kerja yang kosong ternyata jauh lebih sulit dari yang ia duga. Pikirannya kacau. Setiap kata yang ia ketik terasa hambar. Detik jam dinding yang berdetak seolah menjadi wasit yang sedang menghitung mundur kekalahannya. Maura rasanya ingin menangis saat itu juga. Dunianya hancur dalam satu tumpahan kopi. Tiba-tiba, ia mendengar suara dari luar. Suara percakapan samar yang menembus dinding tebal kamar yang kedap suara itu. Karena pintu kamar tidak tertutup rapat dan menyisakan sedikit celah, Maura tahu bahwa sang pemilik apartemen telah pulang. Langkah kaki Samudra terdengar mendekat ke arah kamar, dan jantung Maura berdegup kencang seirama dengan ketakutan yang kini menguasai nadinya. Esok pagi akan menjadi neraka, dan malam ini adalah awal dari eksekusinya. Maura terburu-buru menutup layar MacBook milik Gery dan menyembunyikannya di bawah bantal. Ia segera merebahkan diri, memejamkan mata erat-ratap, dan mengatur napasnya agar terdengar seperti orang yang telah terlelap jauh ke dalam mimpi. Pintu terbuka. Langkah kaki yang berat dan sedikit terseret mendekat ke arah ranjang. Samudra, yang separuh kesadarannya telah tergerus alkohol, berdiri di tepi tempat tidur. Ia mendengus pelan saat mendapati Maura sudah tak sadarkan diri. Jemarinya yang dingin menyentuh surai halus Maura, merapikannya dengan gerakan yang nyaris lembut namun terasa posesif. "Huh ... sial. Seharusnya aku membiarkanmu pulang saja," desis Samudra dengan suara serak yang datar. Dada Maura berdebar kencang hingga terasa sakit. Setiap sentuhan pria itu mengirimkan sensasi setruman kecil yang membuat sarafnya menegang. Di balik selimut, jari-jari Maura saling meremas kuat, berdoa agar Samudra tidak menyadari sandiwaranya. Samudra terdiam cukup lama, hanya memandangi wajah Maura di bawah temaram lampu tidur. Ia terkekeh rendah, suara yang lebih mirip geraman frustrasi. "Kau ... benar-benar menyulitkanku, Maura." Apa maksudnya? Maura hanya bisa bertanya dalam hati. Tiba-tiba, Maura merasakan bibir panas dan lembap menempel di pipinya cukup lama. Aroma tajam minuman keras bercampur pekatnya nikotin menyerbu indranya, menciptakan kombinasi mematikan yang membuatnya mual. Maura menahan napas, berusaha tidak bereaksi saat Samudra akhirnya berbaring di sampingnya dan langsung terlelap dalam hitungan detik akibat pengaruh hangover. *** Pagi menyapa dengan suasana yang canggung. Maura terbangun lebih awal, ia enggan membangunkan Samudra yang masih mendengkur halus. Ia ingin melarikan diri dari apartemen itu secepat mungkin sebelum "monster" itu bangun dan menagih janji revisinya. Sebagai bentuk inisiatif—atau mungkin rasa terima kasih yang dipaksakan—Maura menyiapkan sarapan sederhana. Hanya telur mata sapi dengan sandwich cokelat. Ia meninggalkan catatan singkat di samping piring yang ia tutup rapat. Maaf aku enggak membangunkanmu, Sam. Aku butuh persiapan ekstra untuk bimbingan siang ini. Maura bergegas menuju perpustakaan kampus. Ia harus bertarung dengan waktu, menyusun kembali puing-puing analisanya yang hilang dalam ingatan sebelum jam bimbingan dimulai. *** Samudra terbangun dengan kepala yang seolah dipukul martil. Ia mendengus saat mendapati sisi ranjangnya kosong dan hanya ada pesan singkat di ponselnya. Pria itu menenggak sekaleng s**u dingin untuk menetralkan rasa mual di perutnya, lalu melangkah ke dapur. Matanya tertuju pada dua piring di atas meja. Begitu membukanya, raut wajah Samudra mengeras. Ia tidak tersentuh. Baginya, makanan sesederhana itu tampak tidak layak di dapurnya yang mewah. Dengan ekspresi datar, ia membawa piring itu ke tempat sampah dan membuang sandwich buatan Maura tanpa ragu. "Ck, baguslah," gumamnya dingin setelah membaca pesan Maura sekali lagi. Sebelum ke kampus, Samudra menyempatkan diri ke kantor firman-nya. Atmosfer di sana mendadak mencekam begitu ia masuk. Tomi, sang tangan kanan, tampak pucat pasi dan tidak bersemangat—ia jelas menderita hangover yang lebih parah dari Samudra. Gita meletakkan tumpukan berkas di meja Samudra. "Pak Reynand, ini laporan bulanan yang Anda minta." Samudra memeriksanya hanya dalam hitungan detik sebelum wajahnya menggelap. BRAK! Ia melemparkan berkas itu hingga membentur rak dokumen dengan suara dentuman keras. "Siapa yang membuat sampah ini?!" bentaknya dingin. Gita memeriksa tabletnya dengan tenang. "Tim A, Pak." "Minta mereka merombaknya total. Laporan ini seperti tulisan anak SMA yang tidak pernah mengecap pendidikan. Apa mereka tidak paham cara menyajikan data?" cecarnya kejam. Gita hanya tersenyum tipis dan mengangguk, sudah terbiasa dengan tabiat "setan" bosnya itu. Setelah Gita pergi, Tomi mendekat dan menaruh tiga lembar brosur di meja. "Ada tiga butik fashion kelas atas yang gue rekomendasikan untuk ... gadis itu." Samudra terdiam, matanya menatap profil koleksi pakaian di brosur tersebut. Ia membayangkan Maura mengenakan gaun-gaun mahal itu, membalut tubuhnya dengan kemewahan yang ia beli. "Tentukan satu yang menurutmu terbaik." Tomi mendengus kasar sembari memijat pelipisnya. "Gue enggak paham selera anak muda, Sam. Gue sudah kepala tiga, lagian selera wanita gue jauh lebih dewasa dibanding selera 'mahasiswi' lo itu," sindirnya telak. Samudra tidak menyahut. Ia hanya menatap brosur itu dengan tatapan predator, bersiap untuk memberikan "pelajaran" pada mahasiswinya yang paling keras kepala siang nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD