Bab 22

1422 Words

"Sekarang udah baikan?" Vino tersenyum tipis, matanya mengamati wajah Maura yang masih menyisakan rona merah di sekitar mata meski air matanya telah mengering. Maura memaksakan tawa kecil, suara sengaunya masih terdengar jelas. "Aku malu-maluin banget ya, menangis kayak anak kecil di taman kampus begini," kekehnya sumbang, mencoba menutupi luka yang digoreskan Samudra di ruang bimbingan tadi. Vino mengedikkan bahu santai, berusaha mencairkan suasana. "Itu manusiawi, Ra. Soal skripsi, enggak ada yang bisa menebak kapan bencana datang. Minimal sekali seumur hidup, setiap mahasiswa pasti ngalamin tragedu data hilang, laptop mati total, atau yang paling klasik ... laptop tiba-tiba off saat revisi belum sempet di-save." Maura mendengus kasar, ironi nasibnya terasa seperti lelucon pahit. "Aku

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD