"Kau ... mau pergi, Sam?" Maura bertanya lirih, suaranya hampir tak terdengar di tengah keheningan apartemen. Ia menatap Samudra yang sudah tampil rapi, memancarkan aura otoritas yang selalu berhasil mengintimidasi sekaligus memikatnya. Samudra tidak menjawab secara verbal. Matanya tertuju pada laptop baru yang menyala di hadapan Maura. Ia melangkah mendekat, lalu tiba-tiba kedua lengannya terulur ke meja, mengungkung tubuh kecil Maura di antara dadanya dan tepian meja marmer. Maura refleks menahan napas, ruang geraknya mendadak lenyap. Sial. Aroma musk yang maskulin dan dominan milik Samudra menyerbu indra penciumannya, bertindak sebagai katalis yang memicu detak jantungnya berpacu liar. Tubuhnya mendadak kaku, terjepit di antara rasa takut dan ketertarikan yang tak terelakkan. "Aku s
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


