“Vin, makasih.” Suara Maura mengalun sangat tipis, nyaris tenggelam oleh desau angin siang di atas rooftop. Dia bersusah payah bertumpu pada pilar semen, mencoba menegakkan kembali raganya yang sempat lunglai. Namun, persendian kakinya terasa begitu lemas. Baru satu tapak melangkah, keseimbangannya goyah. Tubuhnya hampir oleng dan ambruk ke lantai jika Vino tidak bergerak sigap menangkap lengannya. Grep! “Hati-hati, Ra,” ujar Vino, menahan bobot tubuh Maura dengan kedua tangannya. Sepasang manik matanya menatap khawatir pada wajah pias di hadapannya. “Gondisi kamu drop banget ini. Aku pesenin Grab aja ya? Jangan dipaksain jalan.” Maura menarik lengannya perlahan, mendorong pelan tangan Vino yang menopangnya. Dia menggeleng lemah, menolak opsi tersebut tanpa seulas keraguan fiktif. “Eng

