Hening yang mendadak jatuh di taman belakang itu terasa jauh lebih mengerikan daripada suara benturan fisik beberapa menit lalu. Kalimat terakhir Maura laksana belati perak yang memotong langsung urat nadi kesombongan seorang Samudra Reynand Hadiningrat. Pria tegap itu berdiri mematung di bawah remang lampu taman, dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Untuk pertama kalinya, sang arsitek ulung kehilangan seluruh kata-kata pembelaan. Wajah matangnya yang semula memerah padam akibat cemburu buta, kini perlahan berubah pias, menyiratkan keterkejutan yang teramat pekat atas hantaman realitas yang dibawa oleh mahasiswi bimbingannya sendiri. Terluka hebat oleh penolakan mentah dan untaian kalimat jujur dari mulut Maura, cengkeraman tangan Samudra pada kerah kemeja Vino mendadak kehilangan

