Brug! Punggung Maura membentur permukaan dinding semen yang dingin dengan suara hantaman yang teredam. Sebelum udara di dalam parunya sempat berputar, kungkungan tubuh tegap Samudra sudah mengunci seluruh ruang geraknya. Dunia di sekeliling Maura mendadak menyusut, menyisakan aroma pekat tembakau berbaur dengan wangi maskulin yang menguar dari kulit Samudra—aroma yang biasanya memicu debaran gila, namun siang ini justru terasa mencekik. Maura terkejut seketika. Insting pertahanannya bergerak impulsif; sepasang telapak tangannya yang dingin naik, menumpu pada daada bidang berbalut kemeja katun tipis milik Samudra. Ia mengerahkan sisa pasokan tenaganya untuk mendorong raga kokoh seberat delapan puluh lima kilogram itu menjauh. Namun, usahanya sia-sia. Samudra tidak bergeser satu sentimeter

