Di tengah acara gathering yayasan yang mewah dan megah ini, di antara tawa para undangan dan denting gelas wine, Maura menyadari satu hal, yakni dia tidak akan pernah bisa lepas dari bayang-bayang Samudra Hadiningrat. Samudra menyentuh dagu Maura, memaksa gadis itu menatap matanya. "Kembalilah ke meja. Dan jangan pernah berani menatap pria lain lagi seperti yang kamu lakukan pada Reksa tadi. Kamu milikku, Maura. Bahkan di ruangan yang penuh dengan orang-orang paling berkuasa di negeri ini, kamu tetap milikku." Samudra pun melepaskan dagu Maura dan melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Maura yang masih terpaku di tempat, dengan jantung yang berdegup kencang dan perasaan takut yang bercampur dengan kebingungan. Acara malam ini baru saja dimulai, dan Maura tahu, sisa malam ini akan men

