Maura menggeser pintu kayu kamarnya lebih lebar, membiarkan pendar lampu putih menerangi ruang tidurnya yang minimalis namun tertata teramat rapi. Bau karbol lavender yang menenangkan menguar tipis, kontras dengan sisa bau alkohol dan asap rokok yang sempat menempel pada pakaian Yulia. “Kamu tidur di sini saja malam ini. Kalau nanti haus atau mau minum, bisa langsung ambil di kulkas depan, ya. Jangan sungkan,” ucap Maura, melempar nada bicaranya selembut mungkin demi mengikis sisa-sisa trauma yang masih membayang di sekeliling wajah pias gadis di hadapannya. Yulia mengangguk kikuk, jemarinya meremas ujung jas kantoran milik Samudra yang masih melingkari bahunya dengan canggung. “Maaf … aku benar-benar enggak enak, malah datang malam-malam dan membuat kamu repot seperti ini.” Maura mengu

