Atmosfer di dalam kubus mewah ruangan VIP nomor tiga itu seketika bergeser, memadat menjadi sebuah ketegangan yang mencekik. Pendar lampu neon keunguan yang remang-remang justru mempertegas gurat-gurat kepanikan di wajah Jumadi. Pria paruh baya bertubuh tambun itu semakin merongrong panas, merasa egonya diinjak-injak saat menyadari bahwa seorang staf magang ingusan kini memiliki keberanian besar untuk menelanjangi boroknya tepat di hadapan sang CEO tertinggi. “Kurang ajar! Mulut kamu beneran tidak berpendidikan, ya!” bentak Jumadi, suaranya naik beberapa oktav, menggelegar mengalahkan sisa-sisa dentum musik dari luar dinding kedap suara. “Saya ini yang sudah berbaik hati memberikan penilaian bagus! Saya juga yang membantu kamu agar bisa masuk dan diterima di perusahaan sebesar Hadiningrat

