Bagi Samudra Reynand Hadiningrat, dikte dan intervensi yang dilayangkan secara konstan oleh Thomas Hadiningrat dari balik meja utama keluarga besar adalah sejenis racun yang perlahan mengikis sisa saraf kesabarannya. Setiap ekspektasi yang dibebankan ke pundaknya tidak pernah berwujud saran, melainkan perintah mutlak yang harus dieksekusi tanpa cacat. Sisa-sisa frustrasi akibat perjalanan dari Kyoto dan tuntutan perjodohan politik dengan Clarissa yang terus digelorakan sang kakek kini menumpuk, menjelma menjadi energi gelap yang siap meledak di ruang rapat lantai teratas gedung Hadiningrat Development. Atmosfer di dalam ruang rapat persegi itu mendadak drop, merosot ke titik beku yang paling ekstrem. Seluruh tirai otomatis telah diturunkan, menyisakan pendar lampu LED putih di atas meja m

