Bab 65

2291 Words

Intonasi bariton yang membentak kasar itu—yang berbeda terbalik bagai bumi dan langit dari cara lembut pria itu berbincang dengan Clarissa di kedai belut tadi sore—menjadi belati tak kasat mata yang menyayat ulu hati Maura hingga kian berdarah-darah. “Kenapa?! Apa salahnya kalau saya cuma mau jalan-jalan sebentar sendirian?!” Maura yang emosinya sudah mencapai batas absolut akhirnya ikut terpancing. Ia berbalik menyentak, memberanikan diri menantang lurus sorot mata menghunus milik Samudra. Lapisan bening air mata kembali mengumpul, menggenangi pelupuk matanya yang mulai membengkak sembap. Dengan gerakan kasar menggunakan punggung tangan, Maura mengusap jejak basah di wajah piasnya, lalu kembali memutar tubuh untuk melangkah pergi. Di tempatnya berdiri, Samudra dilanda rasa kacau yang l

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD