Dua jam berlalu, akhirnya Soraya pun terbangun dari tidur nya, tubuh nya terasa benar benar lelah seolah dia telah melakukan olah raga berat selama waktu yang panjang. Mata nya menyelidiki kesana kemari memandangi ruangan tempat dia berbaring.
“Ray,” ucap Ucok yang berdiri disamping Soraya.
“Ucok?” tanya Soraya sambil menahan rasa sakit di kepalanya.
“Bukan. Justin Bieber,” ujar Ucok dengan wajah sinis.
“Kenapa sih kau marah marah?” tanya Soraya karena heran.
“Kata mama kau jatuh dari tangga, baru aja ku tinggal bentar ke kamar, lasak kali kau tah kemana mana,”
“Aku jatuh dari tangga?” tanya Soraya berusaha mengingat apa yang terjadi.
Soraya tidak mengerti sama sekali dengan apapun yang di kata kan oleh Ucok. Hal terakhir yang Soraya ingat hanya lah saat dia masih duduk di ruang tamu sambil menonton film.
“Nih, minum,” Ucok mengulur kan tangan nya ke arah Soraya untuk memberi kan secangkir teh hijau pada sahabatnya itu.
“Apa nih?”
“Racun tikus, minum lah!” ujar Ucok emosi.
“Biar cepat mati kau, capek kali aku jagai kau terus,”
“Kok kamu marah marah mulu sih Cok! Aku emang ada salah apa?” tanya Soraya ikutan kesal.
“Banyak salah mu!”
“Apa emang?”
“Gara gara kau kemaren pengen kali jurit malam di gedung gosong itu, sekarang kau malah jadi sakit kaya gini. Malah bapak ku lagi yang tau cara ngobati kau, dah tau aku gak pernah bisa percaya sama bapak ku,”
“Kau bisa gak sih gak usah buat aku khawatir satu hari aja Ray?”
“Maaf,” ujar Soraya tak mampu melawan Ucok, ia sadar kalau Ucok sudah benar benar marah dengan nya, Soraya juga sadar dia sudah terlalu banyak merepot kan Ucok karena tingkah nya yang selalu ingin tau dengan apapun yang janggal menurut nya.
“Jangan minta maaf kalau gak bisa berubah,” ujar Ucok tak mampu lagi menahan emosi nya.
Ini semua karena Geri yang tidak mengizin kan untuk ikut bersama diri nya dan Soraya. Ia tidak tau apa yang akan di lakukan ayah nya pada sahabat nya itu. Kalau saja dia boleh ikut pasti dia tidak akan se-khawatir ini.
“Kenapa sih Cok? Kamu gak pernah marah marah separah ini, memang nya apa yang terjadi dengan ku?”
“Entah lah Ray, pergi la kau sama bapak, biar cepat sembuh kau,” ucap Ucok bersamaan dengan datang nya Soraya ke kamar mereka.
“Soraya sudah bangun?” tanya Elisa yang baru saja selesai membantu Geri bersiap siap.
“Udah,” jawab Ucok ketus berusaha sebisa mungkin kan ibu nya membawa Elisa pergi dari kamar nya.
“Ayo nak,” ucap Elisa sambil tersenyum lalu membawa Soraya pergi dari ruangan tersebut.
Soraya melangkah kan kaki nya ke ruang tamu, di sana ia melihat Geri sudah menunggu nya dengan setelan jas berwarna merah marun, perempuan itu tersenyum ke arah Geri seraya menunduk kan kepala nya untuk mengucap kan salam. Geri pun ikut tersenyum untuk membalas Soraya.
“Ya sudah, kamu tunggu di mobil aja ya, om mau berbicara dengan Ucok dulu,”
“Oke om,” jawab Soraya lalu berjalan menuju mobil di ikuti Soraya.
Geri mengangguk sejenak lalu berjalan menuju kamar Ucok di lantai dua, tangannya perlahan menurunkan gagang pintu di kamar Ucok, disana dia melihat anak kedua nya duduk dengan wajah murung karena Geri tidak mengizin kan Ucok untuk ikut bersama nya untuk menyembuh kan Soraya.
“Maaf kan bapak,”
“Kenapa minta maaf? Kan bapak cuma mau nyembuhin Soraya kan?”
Geri terdiam sejenak, ya memang maksud nya baik ingin menyembuh kan Soraya. Namun di sisi lain di juga akan menghancur kan hidup perempuan itu.
Mungkin setelah upacara pernikahan itu ia kan membuat Soraya lupa dengan apa yang telah terjadi, sehingga perempuan itu dapat menjalan kan hidup nya kembali seperti sedia kala.
“Iya,” jawab Geri akhir nya.
Ucok dapat merasa kan ada hal menjanggal yang di sembunyi kan oleh ayah nya mengenai Sorya, entah kenapa perasaan nya sedari tadi tidak pernah tenang.
“Sebenar nya apa yang mau bapak lakukan pada Soraya?” tanya Ucok tepat sebelum Geri pergi dari kamar nya.
“Kau tidak perlu tau,” ujar Geri lalu pergi.
Geri masuk ke dalam mobil lalu memberi kan Soraya sebuah botol kaca kecil yang berisi cairan berwarna ungu kepada Soraya yang duduk di samping nya.
“Minum dulu, biar badan mu enakan,” ujar Geri,
Soraya menuruti perkataan Geri lalu mengambil botol kecil itu dari tangan nya. Sebelum nya Elisa juga sudah berpesan kepada Soraya untuk menuruti segala perintah yang Geri berikan pada nya.
“Kita mau ke mana om?”
“Ke tempat yang bisa mengeluar kan makhluk itu dari tubuh mu,” ujar Geri seraya menjalan kan mobil nya.
Dari balkon kamar nya Ucok dapat melihat mobil sedan hitam milik ayah nya sudah keluar dari gerbang rumah. Tanpa memperduli kan perintah sang ayah Ucok mengambil jaket denim milik nya dan kunci sepeda motor, ia tidak bisa diam saja seperti ini. Hati nya benar benar tidak tenang. Ia harus menjaga Soraya dengan mata kepala nya sendiri.
“Makhluk?” tanya Soraya bingung.
“Kamu tidak ingat dengan perempuan yang menatap mu di dalam gedung gosong itu?”
“Ingat, dia sangat menyeram kan,” jawab nya.
Tubuh nya terdiam seketika, dari mana Geri tau tentang kejadian yang mereka alami di dalam gedung angker itu? Bukan nya hanya Ucok, Fitri dan Raja yang mengetahui soal ini?
Atau mungkin maksud Ucok tadi adalah hal ini? Pantas saja Ucok begitu marah pada Soraya tadi.
“Dari mana om tau kalau Soraya melihat seorang perempuan?” tanya Soraya dengan mata yang mulai tertutup karena terasa berat.
“Kok Soraya ngantuk banget ya?”
“Tidur lah, kalau sudah sampai nanti akan om bangun kan” ujar Geri tanpa melihat ke arah Soraya.
“Untuk saat ini tubuh kamu memang perlu banyak istirahat,” sambung nya.
Soraya mulai menguap, sejujur nya ia tidak mau tidur dan membiarkan Geri menyetir sendirian, tapi rasa kantuk nya saat ini benar benar tidak bisa lagi di tahan oleh nya.
“Maaf kan om ya nak, om juga sebenar nya tidak mau melakukan ini, tapi ini semua demi kebaikan mu,” gumam Geri dengan penuh rasa bersalah.
Namun tanpa dia sadari dari belakang nya sudah ada Ucok yang mengikuti, apapun yang akan di lakukan Geri, Ucok tidak peduli. Ia hanya ingin memasti kan keamanan Soraya. Meskipun Geri adalah ayahnya sendiri, Ucok hanya bisa mempercaya kan keamanan Soraya pada diri nya sendiri.
Aku akan terus menjaga mu Ray,