LIMA BELAS

1165 Words
            Saleh masuk ke dalam rumah nya dengan perasaan letih serharian bekerja membersihkan sekolah, di tambah lagi saat ini sedang musim kemarau, dedaunan kerap berjatuhan ke tanah, dan Saleh harus menyapu sekitaran sekolah di bawah terik nya matahari. Belum lagi ritual yang harus ia lakukan setiap malam nya untuk melindungi anak anak di sekolah ini dari gangguan Jasmine.             Mata nya melihat ke sana kemari, mulut nya tak henti henti memanggil nama istrinya seraya mengecek setiap kamar di dalam rumah nya.             Tidak biasanya Putih tidak menjawab panggilannya seperti ini, padahal selama ini dia selalu sangat cepat menghampiri Saleh ketika suaminya itu pulang.             Tangan nya perlahan membuka pintu ruang kerja milik nya, biasa nya kalau sedang senggang Putih sering duduk disana sambil membaca buku.             Sedari dulu Putih sangat suka membaca buku, Putih juga terkenal sebagai juara kelas di sekolah nya. Pertama kali melihat Putih saat kelas 1 SMA, entah kenapa Saleh langsung jatuh cinta kepada perempuan itu.             Namun siapa sangka ternyata Putih adalah adik dari mantan nya sendiri. Saleh sangat menyesal sudah mengkhianati Jasmine karena ingin bersama dengan Putih, tapi perasaan Saleh terhadap Putih memang sudah tidak dapat terbendung lagi.             Pada saat itu, di mata Saleh, Jasmine sudah tidak menarik hati nya lagi, di tambah lagi begitu banyak anak di sekolah mereka yang begitu ingin menjadi kekasih mantan nya itu.             Saleh tidak mampu menahan rasa cemburu dan rasa takut setiap hari nya, ia ingin bebas  mencintai seorang perempuan yang ia sayang tanpa ada nya ancaman atau pun  gangguan dari pihak mana pun.             Tindakan Saleh terhenti saat listrik di rumah nya tiba tiba padam. Tangan nya merogoh ponsel yang tadi ia letak kan di dalam saku celana. Setelah menghidup kan senter ia pun mulai mengarahkan cahaya tersebut ke dalam ruang kerjanya, tidak ada siapa siapa di sana, hanya ada meja kerja dan buku buku di dalam rak raksasa yang tersusun dengan rapi. Saleh dia melihat ke arah jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul dua belas tengah malam. Saat diri nya hendak keluar, Saleh di kejut kan dengan suara buku yang terjatuh dari rak nya. Lelaki itu kembali membalik kan badan nya lalu menyinari rak buku yang berada di dalam sana. Memang ada satu buku yang terjatuh, tapi bagaimana bisa? Saleh sangat tau kalau buku buku di dalam rak nya sudah tersusun dengan sangat padat, untuk mengambil buku buku itu dengan tangan aja sangat sulit, tidak mungkin buku itu bisa terjatuh dengan sendiri nya. Tangan lelaki itu terus bergerak mengelilingi sekitar ruang kerjanya. Takut takut kalau ada pencuri yang bersembunyi di dalam ruangan tersebut untuk melindungi diri agar tidak ketahuan. Tubuh Saleh sontak membatu saat sebuah tangan menyentuh pundak nya tiba tiba. Spontan Saleh langsung membalik kan badan nya  dan melihat seorang perempuan berambut panjang dengan baju terusan berwarna putih sedang berdiri disana menghadapnya. “Aaaaa!! Setan!!” jerit Saleh sekuat tenaga. Sekujur badan Saleh bergetar ketakutan, mata nya terpejam rapat takut kalau nanti jadi bisa melihat wajah menyeram kan perempuan itu dengan jelas. “Mas!” sahut Putih menghentikan jeritan Saleh yang terdengar mirip seperti jeritan anak kucing. “Ini Putih mas!” ujar Putih lagi. “Putih?” “Kamu ngagetin aja sih dek!” “Mas ngapain gelap gelapan disini mas?” “Lah bukan nya mati lampu?” “Enggak kok. Dari tadi lampu kamar hidup, adek juga bingung kenapa waktu adek keluar malah mati lampu semua,” “Eh iya ya? Apa ada konslet setengah mungkin ya dek,” “Mungkin lah bang,” ujar Putih sambil mengangguk. Tanpa sepengetahuan Saleh sesosok laki laki dengan tubuh yang sangat tinggi menatap diri nya dari dalam ruang kerja. Sosok itu adalah Kajiman. Makhluk yang dulu Putih pelihara untuk mewujud kan segala keinginan Putih namun dengan syarat yang tentu harus Putih lakukan terlebih dahulu. Tak beberapa lama setelah berbicara dengan Putih, lampu di rumah mereka pun hidup dengan sendiri nya. “Kayanya besok mas harus liat semua saklar di rumah deh dek,” ucap Saleh merangkul pinggang istri nya seraya mereka berjalan menuju kamar mereka. “Iya mas,” balas Putih tanpa tersenyum sedikit pun. Perempuan itu sebenarnya sudah tau apa yang terjadi barusan. Ia dapat merasakan sosok Kajiman dari dalam ruangan  itu. Putih tau, Kajiman pasti sedang mengejek nya karena masih mampu mempertahan kan Saleh di dalam kehidupan nya. Mengingat alasan utama Saleh dapat menyukai Putih adalah karena kekuatan dan ilmu hitam yang Kajiman berikan pada Putih. Mereka masuk ke dalam kamar, dan Putih pun naik ke tempat tidur memandangi suaminya yang sedang mengganti baju yang ia pakai sebelum nya dengan baju tidur. “Mas,” panggil Putih. “Iya sayang,” jawab Saleh dengan lembut. “Putih mau bertemu dengan Papa,” ujar Putih yang membuat Saleh terdiam sejenak. “Ada apa?” tanya Saleh mulai curiga. Ia tau ayah Putih bukan lah orang baik, bahkan satu satu nya orang yang sangat ia hindari di dunia ini adalah lelaki bernama Bara itu. Untuk apa Putih ingin menemui nya? Apa ada hal buruk yang terjadi? Setau Saleh, istri dan mertua nya itu sudah memutus hubungan sedari dulu mereka menikah. “Putih hanya rindu dengan nya,” ujar Putih bohong. Kalau bukan permintaan Kajiman ia tidak mungkin mau menemui ayah nya lagi. Memang benar ayah nya itu sangat mencintai dan menyayangi Putih. Bagaimana tidak? Diantara semua anak laki laki yang ia dapat kan dari hasil pernikahan nya yang sah, hanya Putih lah satu satu nya anak perempuan yang diri nya miliki. Walau pun berasal dari kecelakaan yang menghancur kan kehidupan ibu nya. Namun siapa yang peduli, wanita itu tidak pernah mencintai Putih, satu satu nya anak yang di sayangi oleh Amira hanya lah Jasmine. “Terlepas dari semua sifat buruk papa, dia tetap satu satu nya keluarga Putih yang tersisa di dunia ini,” Saleh menarik nafas nya dalam dalam, Putih benar, Bara memang satu satu nya keluarga yang Putih miliki di dunia ini. Tidak seharus nya juga Saleh melarang Putih untuk menemui ayah nya. “Ya sudah kalau begitu, mau mas antar?” tanya Saleh. Dengan cepat Putih menggeleng kan kepala nya. Ia tau kalau suami nya ini sangat menghindari Bara. “Putih pergi sendiri saja mas,” ujar Putih. Saleh pun mengangguk setuju. Putih melihat ke arah tangan suami nya. Mata nya membelalak ketika menyadari bahwa gelang pemberian nya sudah menghilang dari tangan Saleh. “Kemana gelang yang Putih kasih mas?” tanya Putih. “Ah itu, mas memberikan gelang itu pada seorang murid,” “Siapa?” “Nama nya Soraya, entah kenapa Jasmine terlihat seperti sangat menyukai anak itu,” “Jasmine menyukai nya?” “Iya, tadi mas mau mencari tau tentang kondisi Soraya dan alasan kenapa Jasmine sangat menyukai diri nya, tapi sayang anak itu tidak masuk sekolah hari ini,” “Soraya ya,” gumam Putih. Kalau Jasmine saja menyukai nya, maka Kajiman pun pasti akan menyukai perempuan itu juga. “Kapan kapan ajak Putih bertemu dengan Soraya ya mas,” “Iya sayang, ayo tidur, mas sudah mengantuk,” ucap Saleh sambil membawa Putih masuk ke dalam pelukan nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD