EMPAT BELAS

1194 Words
            “Papa mau membawa Soraya kemana ma?” tanya Ucok pada Elisa saat melihat Soraya sedang duduk di sofa ruang tamu nya dengan berbalutkan sebuah gaun merah pemberian Geri tadi pagi.             Gaun tersebut terlihat seperti gaun lama, dan rasanya Ucok pernah melihat gaun ini, tapi dia lupa dimana ia melihatnya.             “Ma, kok gak di jawab sih? Hans nanya ini ma,”             Elisa menghela nafasnya. Ia tidak mungkin memberi tahu putra nya kalau Geri akan menjadi kan Soraya sebagai permaisuri persekutuan mereka di sekte terlarang itu.             “Soraya itu sakit, papa cuma mau nyembuhin Soraya kok,”             “Tapi kok harus pake gaun norak kaya gitu sih ma?”             “Mama juga gak tau Hans, kamu jangan nanya nanya mama mulu deh,”             “Hans boleh ikut gak ma? Perasaan Hans gak enak,” tanya Hans meminta izin sang ibu.             Elisa cukup terkejut melihat ikatan batin antara anak nya dan Soraya yang begitu kuat. Seolah Hans selalu tau kapan dan dimana Soraya merasa kesulitan atau dalam bahaya.             Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya perlahan. Jujur sebenar nya diri nya sendiri pun tidak rela membiar kan suami nya menikah dengan perempuan lain. Ia tau Geri adalah seorang pangeran, memang seharus nya ia memiliki seorang istri untuk di jadi kan Putri bagi persekutuan mereka.             Sejak dulu Geri tidak pernah mengizinkan Elisa untuk menjadi permaisurinya. Ia tidak ingin Elisa ikut masuk ke dalam aliran sesat tersebut, karena itu lah sampai sekarang Geri tidak pernah menikah dengan siapa pun, tidak ada seorang perempuan pun yang berhasil mendapatkan hati nya selain Elisa.             “Gak boleh, kita disini aja, kamu kok kaya gak percaya sama papa mu sih?”             “Bukan gitu ma, Hans cuma—“             “Papa tidak akan melakukan hal buruk pada Soraya. Mama jamin itu,” ucap Elisa dengan tegas. Lalu berjalan menuju kamar nya untuk menemui Geri.             Seperti yang dia duga, Geri tidak ada di dalam kamar, melainkan di sebuah lantai bawah yang pintu masuknya sengaja di tutup oleh Geri dan Elisa dengan karpet.             Setelah menutup dan mengunci jendelanya Elisa menutup gorden jendela kamar nya, lalu mengunci pintu kamar milik nya dan Geri rapat rapat.             “Bang,” ujar Elisa sambil menuruni tangga kayu ruang bawah tanah itu perlahan lahan.             Mata nya menyusuri setiap sudut ruangan ini, banyak sekali lukisan dan ukiran ukiran kata dengan bahasa yang tidak Elisa mengerti tertempel disana.             “Kenapa dek?” tanya Geri yang tiba tiba muncul di belakang Elisa.             “Buat kaget aja kau bang!” sahut Elisa sambil memegang dadanya.             “Ngapain adek kesini?” tanya Geri sambil menyeka keringatnya.             “Itu Soraya nungguin abang di atas,”             “Oh iya, sebentar lagi aku akan mandi,” ucap Geri sambil melirik ke arah bak mandi yang sudah di penuhi oleh ribuan kelopak bunga.             “Mau adek bantu?” tanya Elisa ragu ragu, biasa nya Geri selalu menolak kalau Elisa ingin ikut campur dengan ritualnya.             Mungkin karena merasa bersalah dengan Elisa, Geri memutus kan untuk memberi izin pada Elisa agar ikut campur dalam ritual nya untuk kali ini saja, biar bagaimana pun Geri juga sadar kalau Elisa pasti merasakan sakit hati karena mengetahui diri nya akan menikah dengan perempuan lain.             “Maaf kan aku,” ujar Geri saat Elisa mulai menggosok pundak nya.             Elisa hanya diam, tidak tau harus menjawab apa, meskipun diri nya tidak rela, tapi ia tidak mungkin melarang Geri melakukan ritual nya.             Dulu Geri memang sempat berhenti melakukan ritual ritual aneh nya itu hanya demi Elisa. Namun tak lama setelah itu keluarga mereka seolah di landa petaka yang bertubi tubi, mulai dari kedua orang tua Elisa yang mati tidak wajar, hingga penampakan penampakan yang sering meneror keluarga mereka dulu.             “Iya bang,” ucap Elisa mau tidak mau.             “Bagaimana proses ritual pernikahan ini?”             “Kami akan menikah seperti biasa lalu meminum secawan air dengan darah kami berdua di dalam nya,”             “Setelah itu?”             “Aku akan tidur dengan Soraya sebagai tanda bahwa kami sudah menikah,”             Gerakan Elisa terhenti sejenak, ia baru tau kegiatan itu juga di perlukan dalam pernikahan di ajaran sesat mereka. Elisa pikir b********h itu merupakan hal yang biasa di depan orang orang seperti mereka, tapi ternyata tidak, hal itu merupakan hal yang spesial juga.             “Maaf,” ucap Geri sekali lagi.             “Apakah harus?” tanya Elisa.             “Iya,” jawab Geri.             “Kasihan Soraya, dia masih 16 tahun bang, kau tidak boleh melakukan itu, dia bahkan seumuran dengan anak mu,”             “Apa yang harus ku lakukan Elisa? Memang seperti itu jalan nya,”             “Tidak bisa kah abang menghentikan semua ini, biarkan saja jiwa Soraya mati, biar aja Annelise kembali ke dunia ini,”             Geri langsung menatap Elisa dengan tajam, ia tau Elisa pasti tidak rela mengetahui suami nya tidur dengan perempuan lain, bahkan perempuan itu sudah Elisa anggap sebagai putri nya sendiri, namun Geri tak abis pikir, kenapa Elisa sekarang jadi seolah tidak peduli dengan keselamatan Soraya.             Di tambah lagi dengan keberadaan Annelise di dalam tubuh Soraya. Kalau saja Annelise berhasil menguasai tubuh itu. Maka akan sangat sulit bagi Geri untuk melindungi keluarga nya. Dendam Annelise yang begitu besar terhadap garis keturunan Geri pasti akan membuat makhluk itu tidak ragu untuk menghabisi nyawa mereka semua.             “Kalau itu sampai terjadi, bukan hanya Soraya yang akan mati, tapi seluruh keluarga kita juga tidak akan bisa hidup dengan tenang,” ujar Geri pada Elisa.             Tiba tiba terdengar suara pintu yang terbuka, Elisa sadar kalau ada seseorang yang masuk ke dalam ruang bawah tanah mereka. Tapi siapa? Elisa ingat betul kalau dia sudah mengunci semua pintu dan jendela agat tidak ada satu orang pun yang masuk ke dalam ruangan ini.             Tidak ada yang boleh tau tempat ini selain diri nya dan Geri. Ia tidak ingin anak anaknya ikut menjadi sasaran sekte yang di ikuti oleh Geri hanya karena penasaran dengan hal hal yang ayah nya kerjakan.             Terdengar suara ketukan hak sepatu perempuan di lembaran papan tangga di dalam ruangan itu.             “Soraya,” gumam Elisa.             “Tidak, itu bukan Soraya,” balas Geri sambil bangkit mengambil jubah mandinya dan berdiri menunggu kehadiran Annelise.             “Kau tidak akan bisa menyingkir ku Geri,” ucar Annelise dengan rupa Soraya, tangan nya terlipat ke depan dan terlihat sangat anggun, perawakan nya yang gemulai membuat diri nya terlihat sangat cocok dengan gaun merah yang membalut tubuh nya.             “Kau tidak akan bisa tinggal lebih lama lagi di dalam tubuh anak perempuan ini,”             “Aku akan segera mencampak kan mu, sama seperti yang telah buyut ku lakukan pada anak mu dulu,” ucap Geri tanpa rasa takut sama sekali di hadapan Annelise yang sudah murka.             “Setelah aku menguasai tubuh ini, aku akan langsung membunuh mu dan seluruh keluarga mu Geri!”             “Aku akan membuat kau merasa kan bagaimana pahit nya kehilangan seorang anak!” sahut Annelise lalu membiarkan Soraya terjatuh tak sadarkan diri di lantai.             “Ayo, aku akan membawa Soraya ke atas, kau rawat saja dia, aku bisa melanjutkan kegiatan ku sendirian,”             Elisa mengangguk dan mengikuti Geri naik menuju kamar mereka untuk membaringkan Soraya di tempat tidur.             “Sebentar lagi aku selesai, kalau dia sudah sadar, bawa dia keluar,”             “Oke,” ujar Elisa sambil mengangguk patuh.             
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD