Putih langsung melompat ke dalam kolam berenang untuk menyelamatkan anak nya di dalam sana. Putih berusaha untuk berenang sekuat tenaga namun entah kenapa jarak antara dirinya dan Roni tidak berubah sedikitpun.
Putih menghentikan pergerakanan nya untuk melihat ke sekitar. Tidak ada seorang pun disana selain diri nya dan kedua anak nya.
“Keluar kamu! Jangan ganggu aku dan anak anak ku!” bentak Putih entah pada siapa.
Laras yang mendengar itu pun tertawa lalu menampakkan wujud asli nya ke hadapan Putih.
Seorang anak perempuan dengan rambut yang terikat, kulit yang membusuk dan mata yang merah menatap Putih dengan ekspresi yang tidak menyenangkan.
“Tolong lepas kan anak ku,”
“Kenapa kau terlihat panik seperti itu? Kamu kan tidak ada beda nya dengan ibu ku, kalian sama sama pengikut iblis,” ujar Laras lalu tersenyum.
“Apa maksud mu?! Aku sudah tidak ikut aliran sesat itu lagi!”
“Oh iya? Tapi bukan nya kamu masih memberi makan tuan mu hanya untuk menjaga anak anak mu dari dia yang telah kau hancur kan hidup nya,”
Putih terdiam tak tau harus menjawab apa, yang di katakan makhluk halus itu benar ada nya, meskipun Putih sudah tidak lagi mengikuti ritual ritual yang di lakukan nya bersama dengan sang ayah dulu. Putih masih tidak bisa meninggalkan makhluk yang di berikan oleh ayah nya untuk menjaga diri nya dulu.
Ia tidak ingin Jasmine menyentuh anak anak nya, satu satu nya cara yang bisa membuat Putih tenang adalah dengan memberikan anak anak nya untuk di jaga oleh makhluk tersebut.
“Kamu tidak percaya Tuhan tapi berlagak agamis sekali ya?”
“Siapa kau berani berkata seperti itu pada ku?!”
“Mungkin kamu merasa diri mu lebih tinggi dari makhluk makhluk rendahan seperti mu, tapi dengan kondisi kamu yang tidak mempercayai siapapun, membuat aku akan dengan sangat mudah mengambil jiwamu,”
“Lihat sekarang bahkan tidak ada yang melindungi anak mu,”
“Tolong jangan ambil anak ku,” pinta Putih sambil menangis tersedu sedu.
“Aku tidak mungkin melepaskan anak ini hahah, aku ingin memiliki teman untuk bermain di kolam ini selama lamanya, lagi pula anak mu juga suka berenang kan? Dia akan bahagia bersama ku disini,”
Aliyah melihat ibu nya berteriak teriak sendirian, bukan nya menganggap ibu nya itu gila, Aliyah sudah sadar pasti ibu nya sedang berbicara dengan makhluk tak kasat mata, Aliyah langsung memakai gelang kain pemberian ibu nya dulu lalu menceburkan diri nya masuk ke dalam air.
Tangannya berhasil menangkap tubuh sang adik, namun tiba tiba sesuatu mengikat pergelangan kaki nya membuat Aliyah tidak mampu naik ke atas permukaan spontan Aliyah langsung memindahkan gelang kain itu ke Roni dan mendorongnya naik ke permukaan.
Setelah mengetahui perhatian Laras sudah teralih kan dengan kehadiran Aliya, spontan Putih langsung berenang dengan cepat ke arah Roni lalu membawa anak laki laki nya itu keluar dari kolam.
“Ibu!” teriak Aliyah meminta tolong.
Putih mengangguk lalu beranjak masuk ke dalam kolam, namun belum juga melompat kaki nya seolah tertahan di atas batu dan tidak bisa bergerak sama sekali.
“Ibu!”
“Aliyah!” balas Putih panik, seharusnya ia tidak menuruti permintaan Roni untuk membawa mereka ke kolam berenang.
Kalau saja dari tadi mereka di rumah, keselamatan Roni dan Aliyah pasti tidak akan terancam seperti saat ini.
“Aliyah bertahan lah nak!” sahut Putih dengan perasaan khawatir yang mengusik hati nya.
“Ibu!”
“Kenapa kau tidak lagi datang pada ku Putih?” bisik seseorang yang sangat Putih kenal siapa namun tidak mampu untuk melihat nya.
“Kajiman?” gumam Putih setelah mendengar perkataan itu.
“Kenapa kau meninggal kan ku sendirian?”
“Maaf kan aku, aku terlalu takut, aku tidak bisa berpikir jernih saat ini, ku mohon bantu aku selamat kan Aliyah,” ujar Putih memohon pada Kajiman.
“Buat apa aku membantu mu kalau kau sendiri tidak setia pada ku?”
“Aku akan kembali padamu,”
“Benar kah?”
“Iya!”
“Kau berjanji?”
“IYA!!!” jerit Putih frustasi.
“Aku akan menyerah kan nyawa ku pada mu bila perlu,”
“Baik lah,” setelah Kajiman mengucap kan itu, permukaan air menjadi tenang dan tubuh Aliyah seolah terangkat sendiri ke atas permukaan.
Wajahnya terlihat pucat seolah sudah tidak lagi bernyawa, sambil menahan tangisnya Putih berjalan mendekati Aliyah mengecek kondisi putri nya tersebut. Apakah masih hidup atau sudah mati.
“Aliyah. Bangun nak, jangan bikin ibu takut,” ujar Putih sambil menekan nekan d**a sang putri.
“Bagaimana ini Kajiman! Kalau anak ku tetap mati aku tidak akan mau menyembah mu lagi!”
Seolah mendengar jawaban dari Kajiman, Aliyah langsung terbangun dan memuntah kan banyak air dari mulut nya.
“Ibu, dimana Roni?”
“Astaga!” sahut Putih terkejut, bisa bisa nya dia lupa dengan Roni.
Spontan Putih berlari mendekati Roni, namun sayang tubuh anak nya itu sudah benar benar kaku, Putih sebisa mungkin menekan nekan d**a Roni untuk mengeluarkan air yang ada di paru paru nya namun kegiatan nya itu terhenti saat ia merasa kan seseorang sedang memandangi diri nya dari arah belakang.
Disana sudah berdiri sosok Larang yang sedang tersenyum ke arah Putih sambil menggenggam tangan seorang anak laki laki yang sangat di kenali oleh Putih.
Anak tersebut adalah Roni, mata nya yang sayu menatap ke arah Putih, tubuh nya terlihat pucat dan membiru, sama seperti bentuk mayat nya saat ini.
“Kenapa ibu gak nyelamatin Roni?” ucap nya sambil menangis.
“Maaf kan ibu nak! Jangan tinggalin ibu!” sahut Putih sambil menangis.
Aliyah yang melihat tingkah ibu nya pun ikut menangis saat menyadari bahwa adik laki laki nya saat ini sudah tidak lagi bernyawa.
“Roni gak mau pergi ibu, Roni masih mau sama ibu,”
“Aku akan merawat anak mu mulai hari ini,”
“Diam! Kembali kan anak ku!!!”
“HAHAHA, TIDAK AKAN!!!” jerit Laras lalu menghilang bersama dengan Roni.
“KAJIMAN!!!!!” teriak Putih sekuat tenaga, ia benar benar frustasi, apa yang harus di kata kan nya pada Saleh saat lelaki itu mengetahui bahwa putra kesayangannya itu sudah meninggal?
“Kenapa kau tidak menyelamat kan anak ku!”
“Aku tidak pernah berjanji untuk menyelamatkan putra mu, aku juga tidak peduli kalau dia mati. Sebelum nya aku hanya berjanji akan menyelamat kan putri mu,”
“b******n!” desis Putih tak mampu lagi menahan amarah nya. Ia tidak ingin kehilangan putra semata wayang yang ia miliki.
“Hidup kan dia kembali,”
“Kau tau itu sangat terlarang,”
“AKU TIDAK PEDULI! KEMBALIKAN ANAK KU PADA KU!”
“Baik lah kalau memang itu mau mu, aku akan mengembalikan nyawa anak mu,”
“Asalkan kau mampu memberikan korban jiwa dari seorang anak gadis yang masih perawan besok tepat pada saat bulan purnama tiba,”
“Aku rasa kau dapat melakukan nya dengan mudah Putih, kau pernah melakukan hal seperti ini juga kan?”
Putih terdiam sebentah, kepala nya berpikir keras, harus kah dia kembali ke kehidupan nya yang dulu? Atau harus kah ia mengikhlas kan kepergian Roni?
Purih menarik nadasnya dalam dalam lalu mengangguk kan kepala nya perlahan.
“Aku akan membawakan apa yang kau minta,”
“Aku ingin jantung nya,”
“Ya, aku tau,”