“Cok! Soraya!” jerit Fitri saat Soraya tiba tiba beranjak turun dari mobil Ucok yang masih melaju kencang.
“Soraya!” bentak Ucok panik sambil memberhentikan mobilnya. Tangannya dengan sigap membuka pintu untuk melihat ke arah Soraya yang terbaring di tengah jalan yang gelap.
“Tubuh ini benar benar lemah” gerutu Soraya sambil menatap kakinya yang terkilir dan luka luka.
Raja memberhentikan motornya tepat di depan Soraya lalu ikut mengecek keadaan Soraya bersamaan dengan Ucok.
“Kita harus kembali ke rumah itu, aku harus mengambil gelang milik Soraya,”
“Gila lo ya? Gue gak mau lagi nginjakin kaki gue ke gedung itu!”
Seketika tubuh Soraya langsung memberontak dan berusaha untuk kabur melarikan diri dari genggaman tangan Ucok. Untungnya dengan sigap Ucok menangkap tubuh Soraya dan membiarkannya memberontak di bawah dekapannya.
“Lepaskan aku b******n!” sahut Soraya dengan suara yang lantang.
Raja menatap Soraya terkejut, baru kali ini dia mendengar sahabat abangnya itu bisa mengumpat sekasar itu pada Ucok. Selama ini ia tidak pernah mendengar Soraya berbicara sekasar itu.
“Ini bukan kak Soraya,” ucap Raja yakin.
“Aku yakin Soraya masih ada di dalam sana,” ucap Ucok.
Tiba tiba tubuh Soraya terdiam sendirinya, Ucok menundukkan kepalanya dan mendapati Soraya sudah menatapnya sambil tersenyum lebar.
“Dia sudah ku usir dari tubuh ini,” ucap Soraya lalu tertawa nyaring.
“Siapa kau!” bentak Ucok penuh amarah.
“Keluar kau dari tubuh ini! Kembalikan Soraya!”
“Mana mungkin aku mau mengeluarkannya,
“Sudah puluhan tahun aku menunggu manusia seperti dirinya untuk membebaskan aku dari tempat terkutuk itu, tapi baru sekarang kalian datang dan membebaskan aku dari sana,”
“Apa maksudmu?”
“Perempuan ini spesial, dia memiliki ruang kosong di tubuhnya yang bisa menjadi tempat tinggal untuk makhluk seperti ku,”
“Siapa kau?” tanya Ucok pada makhluk yang ada di dalam tubuh Soraya.
“Aku Soraya,”
“Jangan menipu ku, aku tau kau bukan Soraya,”
“Hahaha, sepasang kekasih huh?”
“Aku yakin perempuan ini tidak mencintaimu sama sekali, aku tidak melihat kau di dalam benaknya yang terdalam,”
“Sekali lagi aku tanya padamu! Kau ini siapa!”
“JAWAB!!!” bentak Ucok dengan emosi yang tak tertahankan,
“Aku akan membalaskan dendamku,” balas Soraya, pria itu menatap wajah Soraya yang tersenyum lebar lalu seketika tak sadarkan diri.
“Ray,” panggil Ucok khawatir.
“Soraya,” panggilnya lagi.
Tangannya menepuk nepuk pipi Soraya dengan lembut. Tak lama kemudian perempuan itu terbangun lalu langsung menangis di hadapan Ucok dengan tubuh yang bergetar ketakutan.
“Cok, aku takut,” ucap Soraya sambil menangis senggukan.
“Sshh, gak papa, ada aku kok,”
“Kau tenang aja, semuanya aman,” ucap Ucok lagi seraya menenangkan Soraya di dalam pelukannya.
“Ayo pulang Cok,” ujar Soraya, Ucok mengangguk tangannya dengan lembut membantu Soraya untuk bangkit berdiri dan berjalan menuju mobil.
Setelah melihat jam di mobilnya yang menunjukkan sudah hampir pukul 1 pagi, Ucok memutuskan untuk mengantar Fitri ke rumah perempuan itu dan membawa Soraya ke rumahnya. Tidak mungkin Ucok membawa Soraya pulang dengan keadaan kacau seperti ini.
Belum pun membuka pintu rumahnya, kehadiran Ucok, Raja, dan Soraya sudah di sambut oleh Papa dan Mama Ucok juga Raja disana.
Kedua orang tua itu menatap anaknya dengan tatapan penuh intimidasi, bagaimana tidak, ternyata selama mereka tidak di rumah, anak anaknya berlaku nakal seperti ini, tidak tau jam pulang, dan pulang dalam keadaan kacau seperti gembel.
“Dari mana saha kalian?” tanya Elisa dengan suara tegas.
“Umm..” gumam Raja tak tau harus menjawab apa.
“Kamu juga Raja! Sejak kapan mama kasih kamu pergi bawa motor sampai larut malam seperti ini?”
“Mama pulang jam berapa?” tanya Ucok mengalihkan pembicaraan.
“Jangan alihin mama, mama masih belum selesai sama kalian,”
“Ya, papa juga belum mulai,”
“Aduh,” gumam Raja lagi.
“Sekali lagi mama tanya, kalian dari mana?”
“Jurit malam tante,” ucap Soraya lemas.
“Astaga!” balas Elisa tidak percaya, se-suntuk apakah anak anak nya ini sampai melakukan hal yang tidak penting seperti itu.
“Semua salah Soraya tante, Soraya yang minta Ucok buat nemanin Soraya jurit malam,”
“Iya ma, Raja juga cuma ikut ikut kak Soraya kok,”
“Hah? Raja? Ada Raja ya?” tanya Soraya kebingungan.
“um.. tadi Ucok yang nelepon Raja buat nyusul ma,”
Elisa menarik nafasnya panjang lalu mengangguk perlahan. Tangannya dengan anggun membukakan pintu untuk Soraya dan anak anaknya.
“Tante,” ucap Soraya saat melewati Elisa.
“Tolong jangan bilang ke ibu soal ini ya tan, Soraya gak mau ibu khawatir,”
“Makanya jangan bandel kalau gak mau ibunya khawatir,”
“Please tante,” ujar Soraya memohon.
Lagi lagi Elisa menghembuskan nafasnya kesal, ia pun mengangguk mengabulkan permintaan Soraya, ia tau saat ini Salsa sedang tidak sehat dan juga kondisi ekonomi perempuan itu saat ini pasti sedang tidak stabil karena Soraya baru saja masuk ke jenjang SMA.
“Iya, tapi lain kali gak usah jurit malam lagi ya nak,” ucap Elisa lembut.
“Kalian mandi gih, kamu mandi di kamar tante aja ya, bukan berarti karena mama sudah baik sama kalian, mama juga sudah memaafkan kalian ya,”
“Setelah mandi turun lagi kemari dan sidang akan langsung kita mulai,”
“Tapi kan udah malam mah!” keluh Raja sambil menghentak hentakkan kakinya seperti anak kecil.
“Mama tidak peduli, lakukan yang mama perintah kan atau semua fasilitas kalian mama sita,”
“Gak seru ih!” balas Raja namun tetap menuruti perintah ibunya menuju lantai atas.
“Bang,” ucap Raja sambil masuk ke dalam kamar Ucok.
“Ha, apa?”
“Keknya aku kenal lah sama orang gila yang ada di gedung tua itu,”
“Kau kenal?”
“Iya,”
“Ngarang kau,”
“Nggak ngarang paok, keknya aku pernah liat mukanya,”
“Mana ada orang se-seram itu berkeliaran di kota ini, yang ada dia bakalan di tangkap,”
“Ehe kau gak pernah percaya samaku bang,”
“Masalahnya kau ngeliat dimana,”
“Jadi gini, aku kan kemaren ke rumah Kirana ngecek cctv, awalnya tuh aneh banget bang! Kakaknya gak mau ngasih,”
“Kenapa gitu?”
“Iya katanya dia masih trauma,”
“Tapi kan rekaman itu bisa jadi bukti,”
“Iya kan! Terus kakaknya kaya susah banget diajak kerja sama,”
“Aneh,”
“Iya,”
“Terus kau liat muka orang gila itu dimana!”
“Aku minta rekaman cctv tetangganya Kirana, waktu itu mereka memang lagi jalan jalan keluar kota, tapi cctv nya di hidupin takut ada yang nyusup ke rumahnya,”
“Aku masih nyimpan rekamannya bang, nih liat,” ujar Raja lagi sambil menunjukkan rekaman cctv yang ia minta dari tetangga Kirana.
Percakapan mereka terhenti saat Elisa mulai memanggil mereka dari lantai bawah, Ucok dan Raja mendengus kesal bersamaan, mereka paling benci sesi ini dalam hidup mereka, disidang oleh ibunya sendiri rasanya sangat mengintimidasi, tidak ada orang lain yang bisa mengalahkan intimidasi ibunya mereka sendiri pun heran kenapa ibunya malah berprofesi sebagai pengacara ketimbang seorang hakim.
Rasanya ibunya lebih cocok menjadi seorang hakim daripada pengacara.
“Iya ma! Tunggu,” ucap Ucok dan Raja bersamaan.
Mereka keluar dari kamar dan mendapati Soraya sudah berdiri sambil bersandar di dinding menunggu mereka.
“Kalian ngapain sih di dalam? Kok lama kali?”
“Ada deh, ayok kita sidang pari purna dulu,” ujar Raja lalu menuruni tangga.
Mereka bertiga duduk di hadapan Elisa dengan rapi sambil menatap wanita paruh baya itu gugup.
“Karena papa mu sudah tidur, mama langsung ke inti pembicaraannya saja,”
“Untuk kasus Kirana, mama mau kalian tidak ikut campur atau sok sok mencari tau kasus tersebut. Mama tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada kalian,”
“Kenapa gitu ma? Bukannya mama suka sama kasus kasus yang sulit, mama juga udah biasa kan memenangkan kasus pembunuhan seperti ini,”
“Melihat pola pembunuhan yang di lakukan oleh pembunuh temanmu itu, tanpa di selidiki pun mama sudah tau siapa pembunuhnya,”
“Siapa ma?”
“Sekte sesat yang ada di kota ini,”
“Sekte?”
“Ya, dan papamu adalah salah satu anggotanya,” bisik Elisa yang membuat anak anaknya merinding ketakutan.