Selama hampir satu jam Soraya tak henti henti memandang jam dinding di kamarnya, setelah jam pulang sekolah, Soraya memutuskan untuk pulang sebentar ke rumah agar tidak membuat ibunya curiga,
Sebelumnya Soraya sudah mengatakan pada Ucok dan Fitri untuk menjemputnya di jam sembilan malam agar mereka bisa memasuki gedung tersebut di jam sepuluh atau sebelas malam. Namun kenyataannya sampai sekarang pun Ucok dan Fitri masih belum menunjukkan batang hidungnya.
“Kamu nungguin siapa sih kak?” tanya Kirana saat melihat anaknya sampai sekarang belum tidur.
Selama ini Kirana selalu membesarkan Soraya dengan baik, wanita itu merasa kalau anaknya pasti akan menjaga kepercayaannya dengan sangat baik karena itulah Kirana tidak pernah melarang Soraya untuk keluar malam, lagi pula ada Ucok yang melindungi dirinya.
Sifat penuh rasa penasaran dan susah diatur anaknya ini benar-benar turun dari mendiang ayahnya Soraya. Seandainya ayahnya itu tidak membantu orang yang memiliki masalah dengan ilmu hitam dulu, pasti saat ini mereka masih berkumpul dan tertawa bersama.
“Soraya mau pergi sama Ucok dan Fitri bu, terus nanti nginap di rumah Fitri,”
“Mau malam mingguan?” tanya Kirana lembut.
“Heheh iya bu, mau jurit malam,”
“Kamu ini kok suka banget sama yang mistis mistis sih nak,” ucap Kirana heran.
“Seru tau buk,” tak lama setelah Kirana mengucapkan kata itu terdengar suara klakson mobil dari depan yang menandakan bahwa Ucok sudah sampai didepan rumahnya.
“Soraya pergi ya bu,” ucap Soraya sambil menyalam tangan ibunya.
“Iya, hati hati ya nak,”
“Oke ibu, bye bye!”
Kirana berjalan ke arah pintu masuk rumahnya untuk mengantarkan sang putri pergi dari rumah. Matanya terpaku saat melihat sosok yang tinggi besar sekilas tampak berdiri disamping Soraya.
“Apa itu?” gumam Kirana merasa sangat khawatir.
“Lama banget sih kamu Cok!” omel Soraya saat duduk disamping Ucok.
“Tadi ada urusan sebentar,” ucap Ucok sambil tersenyum dengan ekspresi yang kacau namun tidak dapat terlihat oleh Soraya.
Perempuan itu hanya mengangguk sambil mengerutkan dahinya, tak lama kemudian Ucok mulai menjalankan mobilnya untuk menjemput Fitri terlebih dahulu lalu langsung pergi menuju gedung angker yang akan mereka telusuri malam ini.
“Ayo turun,” ujar Soraya semangat saat melihat Ucok dan Fitri menatap ke arah gedung tersebut dengan ekspresi yang ketakutan.
“Kalian nunggu apa lagi sih? Ayo masuk, Cok, Fit!” ucap Soraya mulai kesal.
“Gue takut ada orang gila nya,” ucap Fitri gemetaran.
“Ya udah kita cek dulu orang gilanya,” ujar Soraya.
“Biasanya orang gila itu tidur dimana?” tanya Ucok.
“Biasanya di luar sini sih, serem banget tau gak, kulitnya tuh putih pucat gitu kaya mayat, matanya gede, terus rambutnya gondrong,”
“Oke kita cari dulu,”
“Gas,” ujar Soraya senang setelah melihat Ucok dan Fitri mulai turun dari mobil.
Mereka bertiga mulai mengecek pekarangan sekitar rumah itu dengan teliti, Ucok tidak mau keberadaan orang gila yang di maksud Fitri akan membahayakan keselamatan mereka terutama keselamatan Soraya.
Setelah memastikan semuanya aman, Ucok pun mengangguk memberikan izinnya kepada Soraya dan Fitri untuk dapat memasuki ruangan gelap tersebut hanya dengan bantuan sebuah senter.
Mereka menyusuri ruangan gelap itu bersama sama dengan posisi Soraya berjalan paling depan, Fitri di tengah, dan Ucok dipaling belakang. Ruangan tersebut dihiasi oleh beberapa poster kesehatan yang masih bertuliskan dengan dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Belanda.
Mata Soraya terpaku saat melihat tulisan aneh yang terukir di dinding, dulu dirinya sempat belajar aksara jawa, namun dirinya tidak mengerti apa yang dimaksud dari tulisan ini.
“Semua orang disini akan di selamatkan,” ucap Fitri tiba tiba.
“Kamu tau artinya?” tanya Soraya.
Fitri mengangguk sebentar lalu mengambil handphonenya.
“Gue suka banget sama kultur Jawa,” ucapnya sambil menunjukkan lock screen ponselnya yang menunjukkan gambar reog.
“Ha bagus, tapi kenapa di selamatkan? Bukannya mereka semua mati?” tanya Soraya kebingungan.
“Udah jalan terus yok,” ucap Ucok sambil mengarahkan senternya ke arah tangga.
“Mau ke atas?” tanya Soraya.
“Yes, kayanya lebih seru di atas deh soalnya ruangan anak suster yang di operasi itu ada di atas,” ucap Fitri semangat.
“Ya udah yok!” balas Soraya tak kalah semangat.
Mereka bertiga mulai bergerak menuju lantai dua dengan menaiki tangga berbentuk U, langkah Soraya terhenti saat tiba tiba tangannya tersangkut besi pegangan tangga yang terlepas dari tempatnya.
Dengan kasar Soraya menarik tangannya sampai ikatan tali kain pemberian mang Saleh yang menjadi gelang di tangannya terlepas tanpa sadar.
Bahkan Ucok sendiri pun tidak menyadarinya juga.
Soraya mulai melangkahkan kakinya kembali tanpa menyadari sesosok dengan pakaian serba putih memandanginya dari lantai teratas.
“Kok disini dingin banget ya?” ucap Soraya.
“Iya kan? Gue juga ngerasain,” ucap Fitri mengiyakan.
Langkah mereka terhenti setelah mereka melewati tangga terakhir, Ucok memandangi pemandangan di depannya, ruangan tersebut benar-benar hancur, dengan perabotan yang gosong di makan api.
“Dalamnya hancur gini, tapi kok gedung di luar gosongnya dikit doang ya?” tanya Ucok kebingungan.
“Kalau kata orang orang sini, pemilik gedung ini dulunya pengabdi sekte sesat gitu, terus gedung ini kaya jadi tempat dia biasanya melakukan ritual hitam,”
“Kaya pengabdi setan gitu ya?”
“Iya!”
“Katanya dulu mereka suka ngambil jantung anak perawan yang baik gitu untuk jadi persembahan tiap tahunnya,”
“Jantung?” tanya Ucok penasaran.
“Iya, sumpah serem banget kan?”
“Soraya!” jerit Fitri saat melihat Soraya yang tiba tiba jatuh terduduk di depannya.
Matanya terlihat begitu ketakutan, tubuhnya bergetar hebat.
“Aaaa!” jerit Soraya ketakutan saat melihat seorang perempuan dengan wajah gosong menatap ke arahnya sambil menjerit kencang.
“ANAK KU!!!!” jeritnya tepat di depan mata Soraya, namun hanya Soraya lah yang mampu mendengar jeritan pilu itu.
“Pergi!” sahut Soraya sambil memejamkan matanya.
Spontan Ucok melihat ke arah tangan Soraya, tidak ada lagi gelang pemberian mang Saleh melingkar disana.
Buru buru Ucok berlari ke lantai bawah untuk mencari dimana gelang Soraya terjatuh.
“Cok,” panggil Fitri sambil menahan tangan Ucok saat laki laki itu ingin berjalan menuruni tangga.
“Apa?” tanya Ucok kesal namun terhenti saat melihat seorang pria berambut panjang dengan kulit yang putih pucat berdiri di dekat mereka.
“Kau turun duluan terus lari keluar, aku bakalan urus dia dan Soraya,”
“Gila lo Cok! Lo gak akan bisa ngalahin dia sendirian,”
“Turun cepat!” bentak Ucok mengagetkan Fitri, lantas perempuan itu langsung berlari ke bawah sambil menahan tangisnya, ia tidak tau apa yang akan terjadi pada teman-temannya malam ini, yang pasti mereka dalam bahaya.
Saat Fitri hendak berlari ke bawah pria menyeramkan itu langsung berlari untuk mengejar Fitri, namun terhalang saat Ucok memasang badannya untuk mendorong pria itu mundur.
Pria itu menatap Ucok tajam lalu tersenyum sangat lebar menunjukkan gigi gigi nya yang hitam dan berbau sangat busuk.
“Jangan ganggu dia,” ucap Ucok tidak tau harus mengatakan apa.
Fitri berlari dengan sangat cepat lalu masuk ke dalam mobil Ucok yang untungnya tidak terkunci.
Perempuan itu berteriak sekuat tenaga mengeluarkan seluruh penyesalan yang menyesakkan dadanya. Seharusnya dia tidak menyetujui permintaan Soraya untuk masuk ke dalam gedung ini, seharusnya dia berpikir seribu kali lagi untuk membawa teman temannya itu dalam bahaya.
Sekarang apa yang harus dia lakukan? Teman temannya mungkin tidak akan pernah keluar lagi dari gedung itu dalam keadaan selamat. Fitri tidak bisa diam saja seperti ini, dia harus melakukan sesuatu.
Tubuh Fitri terkejut saat tiba tiba mendengar suara dering telepon dari ponsel Ucok yang tertinggal di dalam mobil.
[Incoming call from Raja]
Tangan Fitri dengan cepat mengambil ponsel tersebut lalu mengengangkat panggilan Raja.
“Halo?” ucap Fitri ketakutan.
“Eh ini siapa?” tanya Raja bingung saat mendengar suara perempuan selain suara Soraya menjawab telepon Ucok.
“Gue Fitri, lo bisa kesini gak bantuin gue, Ucok dalam bahaya,” ucap Fitri sambil menahan tangisnya.
“Bahaya?!”
“Iya, gue gak tau mereka bakalan bisa keluar dengan selamat atau enggak, please cepat kesini,”
“Mereka? Kak Soraya juga disitu?” ucap Raja.
“Iya,”
“Mati betulan nih abangku, oke kak bentar aku kesana, share loc nya sekarang ya,”
“Aku gak tau sandi ponsel Ucok, aku gak bisa buka whatsappnya,” ucap Fitri panik.
“Kata sandinya tanggal ulang tahun kak Soraya,”
“Mana gue tau Soraya ulang tahun kapan,”
“Udah lo datang ada ke perumahan Cemara Asri, terus cari gedung yang terbengkalai di blok G,”
“Oke, lima menit,” ucap Raja langsung menarik tangan Panji menuju motor trail miliknya.
“Mau kemana anjing?”
“Abang ku mau mati jancok, ayok bantuin gue,”
“Mati gimana? Kau yang betul betul lah Raja,” tanya Panji ikutan panik setelah naik ke atas motor milik Raja.
“Aku juga gak tau, tapi udah gak beres kalau yang ngangkat telepon abangku udah cewek lain selain kak Soraya, orang betina yang di sampingnya cuma kak Soraya doang,”
“Iya juga ya, ya udah gas!”
Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke lokasi tempat Ucok dan Soraya berada. Raja memarkirkan motornya tepat di belakang mobil Jeep milik Ucok, dan Fitri pun langsung turun dari mobil untuk menghampiri Raja dan Panji.
Raja dapat menyadari raut wajah ketakutan yang terukir di wajah Fitri, memang benar benar ada sesuatu yang gak beres terjadi di tempat ini.
“Dimana abang?”
“Di atas,” jawabnya.
“Oke, kau jaga disini Pan, biar aku jemput abangku di atas,”
“Raja!” sahut Fitri saat Raja hampir masuk ke dalam ruangan itu,
“Cari senjata, yang sedang di lawan Ucok bukan orang waras seperti kita.
Raja mengangguk dan langsung mengambil sebuah linggis yang kebetulan terletak di lantai bawah.
Kakinya melangkah dengan cepat ke lantai atas untuk mencari abangnya, disana ia mendapati Ucok sedang menahan cekikan dari seorang lelaki bertubuh tinggi namun sangat kurus yang tersenyum lebar ke arah abangnya.
“b*****t!” teriak Raja sambil mengayunkan linggis itu ke arah tengkuk pria gila yang menyerang abangnya.
Pria itu menghentikan aksinya dan memandang Raja lekat-lekat kemudian tersenyum dengan sangat lebar lagi.
Raja menyipitkan matanya, seolah pernah melihat wajah pria gila ini entah dimana.
“Hari ini aku akan makan besar,” ucapnya dengan suara serak dan nafas yang berbau busuk.
Tepat sebelum pria itu mendorong Raja jatuh dari tangga, Ucok langsung menarik tubuh pria itu ke belakang, tak mau menyia nyiakan kesempatan Raja pun ikut menusukkan linggis di tangannya ke arah tulang kering di kaki kanan pria gila itu.
Ucok membangkitkan tubuhnya dan langsung menggendong tubuh Soraya untuk keluar dari gedung terkutuk ini.
“Ayo turun,” ucap Ucok.
Raja mengangguk lalu mengikuti Ucok turun tangga menuju keluar gedung, dirinya sama sekali tidak peduli dengan jerit kesakitan yang di lontarkan pria gila itu. Bahkan dia merasa senang bisa menyakiti orang itu.
“Buka pintunya,” ucap Ucok dingin, yang ada di kepalanya saat ini adalah kondisi Soraya, setelah berteriak begitu keras Soraya langsung kehilangan kesadarannya.
Seandainya Ucok langsung sadar saat Soraya kehilangan gelangnya, pasti Soraya tidak akan jadi seperti ini.
Setelah membaringkan Soraya di kursi belakang bersama dengan Fitri, Ucok langsung menjalankan mobilnya bermaksud untuk membawa Soraya menuju rumah sakit.
“Terima kasih,” ucap Soraya tiba tiba dengan mata yang terbuka lebar,
“Terima kasih sudah memberikan tubuh ini untuk ku, kini aku bebas! HAHAHAH,” ucapnya lagi dengan suara tawa yang melengking seperti bukan suara Soraya.
Ucok memberhentikan mobilnya tiba tiba lalu memandang ke belakang untuk melihat Soraya yang sudah menatap Ucok lekat lekat sambil tersenyum sangat lebar.
Tidak, ini bukan Soraya.