DELAPAN BELAS

1065 Words
            Geri masuk ke dalam mobil lalu memberi kan Soraya sebuah botol kaca kecil yang berisi cairan berwarna ungu kepada Soraya yang duduk di samping nya.             “Minum dulu, biar badan mu enakan,” ujar Geri, sambil memberikan botol yang memang sengaja di bawa nya agar Soraya tidak mengingat jalan menuju tempat perkumpulan mereka.             Untung saja perempuan itu langsung menuruti perkataan Geri tanpa bertanya sedikit pun mengenai apa isi dari botol tersebut. Namun tingkah soraya yang sangat menurut itu ternyata malah membuat Geri semakin tidak tega untuk melukai anak perempuan yang sudah ia anggap sebagai anak nya sendiri itu.             Tidak Geri, kau tidak perlu merasa bersalah. Kau melakukan ini karena kau ingin menyelamat kan Soraya dari Annelise.             “Kita mau ke mana om?” tanya Soraya yang menyadarkan Geri dari lamunan nya.             “Ke tempat yang bisa mengeluar kan makhluk itu dari tubuh mu,” ujar Geri spontan tanpa sadar mengucap kan hal yang tidak seharus nya ia ucap kan. Kalau sudah begini Soraya pasti akan penasaran bagaimana Geri bisa tau mengenai Annelise.             Dari balkon kamar nya Ucok dapat melihat mobil sedan hitam milik ayah nya sudah keluar dari gerbang rumah. Tanpa memperduli kan perintah sang ayah Ucok mengambil jaket denim milik nya dan kunci sepeda motor, ia tidak bisa diam saja seperti ini. Hati nya benar benar tidak tenang. Ia harus menjaga Soraya dengan mata kepala nya sendiri.             “Makhluk?” tanya Soraya bingung tepat seperti yang Geri sudah duga, ia tau betul bagaimana besar nya rasa penasaran Soraya terhadap sesuatu.             “Kamu tidak ingat dengan perempuan yang menatap mu di dalam gedung gosong itu?” jawab Geri mau tidak mau harus menjelas kan maksud dari jawaban nya.             “Ingat, dia sangat menyeram kan,” jawab Soraya.             Tubuh nya terdiam seketika, dari mana Geri tau tentang kejadian yang mereka alami di dalam gedung angker itu? Bukan nya hanya Ucok, Fitri dan Raja yang mengetahui soal ini?             Atau mungkin maksud Ucok tadi adalah hal ini? Pantas saja Ucok begitu marah pada Soraya tadi.             “Dari mana om tau kalau Soraya melihat seorang perempuan?” tanya Soraya dengan mata yang mulai tertutup karena terasa berat.             Geri menghembuskan nafas nya lega, untung saja obat tidur tersebut bekerja dengan cepat. Kalau tidak Geri pasti akan sangat pusing menjawab semua pertanyaan yang Soraya ajukan.             “Kok Soraya ngantuk banget ya?”             “Tidur lah, kalau sudah sampai nanti akan om bangun kan” ujar Geri tanpa melihat ke arah Soraya.             “Untuk saat ini tubuh kamu memang perlu banyak istirahat,” sambung nya.             Soraya mulai menguap, sejujur nya ia tidak mau tidur dan membiarkan Geri menyetir sendirian, tapi rasa kantuk nya saat ini benar benar tidak bisa lagi di tahan oleh nya.             “Maaf kan om ya nak, om juga sebenar nya tidak mau melakukan ini, tapi ini semua demi kebaikan mu,” gumam Geri dengan penuh rasa bersalah.             Geri membawa mobil itu dengan cepat menuju sebuah gedung yang tidak terlalu besar milik nya di atas sebuah bukit. Jika di lihat dari jalanan aspal yang di bawah, tidak akan ada seorang pun yang akan tau keberadaan gedung ini karena tempat nya yang di selimuti dengan pepohonan di hutan yang luas, hanya ada satu jalan agar mobil dapat masuk ke dalam hutan tersebut.             Biar pun hanya satu, tidak ada orang yang bisa masuk atau tersasar di jalan tersebut karena hanya anggota sekte tersebut lah yang mampu melihat gerbang mewah tempat mobilnya dapat masuk, selain dari anggota, mereka hanya dapat melihat pepohonan tinggi dan hutan rindang yang biasa terdapat di jalan perbukitan.             Geri memarkirkan mobil nya tepat di depan pintu masuk, disana sudah berjejer anggota anggota sekte mereka dengan jubah merah yang menutupi sekujur tubuh, serempak mereka pun menunduk akan kepala nya saat melihat sang pangeran menginjak kan kaki nya di tanah yang kudus itu.             “Selamat datang pangeran,” ujar mereka kompak.             Geri mengangguk lalu mengangkat ke dua tangan nya seperti ingin memberkati.             “Terpuji lah pangeran cahaya!” sahut mereka lagi seraya ikut mengangkat ke dua tangan mereka seperti hendak menerima berkat dari Geri.             “Bawa calon permaisuri ku masuk,” perintah Geri yang langsung di laksana kan oleh seorang pria yang berubuh cukup besar di barisan itu.             Seolah seringan kapas, tubuh Soraya terangkat dengan mudah nya oleh lelaki itu lalu terbawa masuk ke dalam gedung dengan dekorasi yang begitu cantik, di hiasi dengan patung patung manusia dengan ornamen yang eksentrik seperti tanduk, lidah panjang yang menjulur keluar, kepala yang berubah seperti kepala serigala atau pun kambing, dan masih banyak lagi.             “Siap kan peralatan untuk upacara pernikahan. Setelah dia sadar, aku mau kita langsung mengadakan upacara tersebut.             “Baik yang mulia,”             Tidak memakan waktu yang lama bagi setiap anggota sekte tersebut untuk dapat mempersiap kan acara pernikahan pangeran mereka. Mereka pun turut berbahagia mengingat sebentar lagi mereka akan mendapat kan seorang anak yang dapat mengganti kan posisi Geri.             “Aku akan memanggil Soraya,” ucap Geri pada salah satu anggota nya.             Lelaki itu melangkah kan kaki nya menuju kamar tempat Soraya ber istirahat, disana dia melihat terdapat dua orang perempuan dengan jubah merah yang dengan senang hati menawar kan diri untuk menjaga keamanan Soraya. “Acara pernikahan akan segera berlangsung, tolong siap kan mempelai ke altar,” ujar Geri yang spontan membuat Ucok benar benar murka. Kedua perempuan itu mengangguk dan menuruti perintah Geri seraya lelaki itu pergi meninggal kan mereka. “Aku tidak mau di nikah kan!” jerit Soraya saat dua perempuan itu masuk ke dalam kamar tempat nya ber istirahat. Dengan cepat Ucok berlari memasuki ruangan tersebut untuk menyelamat kan Soraya, Ucok tidak tau apa kah ini memang satu satu nya cara agar tubuh Soraya bisa terlepas dari hantu gila itu, tapi menikahi perempuan se muda Soraya dengan laki laki seperti Geri tidak masuk ke akal sehat Ucok, di tambah lagi perempuan itu adalah sahabat nya sendiri. Ia tidak mungkin membiar kan ayah nya sendiri merusak Soraya. Bahkan jika harus mati karena melawan semua orang di dalam gedung ini, Ucok sama sekali tidak takut. “UCOK!!” jerit Soraya yang sudah berada di dalam genggaman dua perempuan di samping kiri dan kanan nya. “b******n!” geram Ucok seraya memukul kedua perempuan itu tanpa rasa kasihan sedikit pun. Setelah berhasil menjatuh kan ke dua perempuan itu, dengan cepat Ucok meraih tangan Soraya dan menarik nya keluar dari  ruangan tersebut. “Kita pergi dari sini!” ucap Ucok sambil berlari membawa Soraya pergi. “Pengawal!!” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD