SEMBILAN BELAS

1078 Words
            “Calon permaisuri anda kabur tuan muda,” ujar seorang pengawal yang bertugas untuk menjaga keamanan tempat yang biasa mereka sebut gereja itu.             “Bagaimana bisa?!”             “Setelah tuan muda pergi seorang pria tiba tiba menerobos masuk ke kamar nona Soraya dan membawa nya kabur,”             “Hans,” gumam Geri yang sudah mengetahui bahwa anak nya lah pelaku dari semua ke kacauan ini.             “Tangkap mereka, jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk pada mereka,” ucap Geri. Pengawal itu menganggu kan kepala nya dan langsung pergi mengerja kan perintah dari tuan nya.             Geri duduk di kursi kebesaran milik nya, tangan kanan nya terangkat dan menyentuh kepala nya yang sedang berpikir keras. Bagaimana bisa anak nya itu masuk ke dalam pintu gerbang tempat ibadah mereka ini? Malah seharus nya Ucok tidak bisa melihat gerbang itu mengingat diri nya bukan lah bagian dari sekte ini.             “Sayang,” panggil seorang perempuan yang tiba tiba muncul di belakang Geri dengan di balut gaun merah darah yang sangat pas di badan nya.             “Elisa? Bagaimana bisa kamu disini?” ujar Geri sambil melihat istri nya itu sedang berdiri di belakang nya sambil memegang sebuah cawan.             “Aku tidak bisa membiar kan mu menikah dengan Soraya,”             “Tapi aku melakukan itu demi ke baik kan Soraya sendiri Elisa,”             “Kalau dia di biar kan seperti itu terus menerus, Annelise akan merebut jiwa nya sebentar lagi,”             “Aku tidak peduli Geri! Apa hidup anak itu lebih penting dari pada ku?!”             “Aku—“             “Aku ini istri mu Geri! Aku lah yang seharus nya jadi permaisuri mu disini !”             Elisa mengambil sebuah pisau di meja yang berada di tengah tengah altar, tangan kanan nya dengan cepat menggores telapak tangan kiri nya dengan pisau tersebut lalu menetes kan arah itu ke dalam cawan.             “Elisa, jangan!”             “Ke neraka pun aku akan mengikuti mu Geri,” ucap Elisa dengan air mata yang mulai membasahi pipi nya.             Awal nya dia memang ingin berusaha sekuat mungkin untuk merela kan suami nya itu untuk keselamatan Soraya, tapi makin lama ia memendam perasaan itu, semakin tidak rela dia untuk membagi Geri dengan perempuan lain.             Di tambah lagi perempuan itu adalah Soraya, seorang anak yang sudah ia anggap sebagai anak kandung nya sendiri, seorang anak perempuan yang tidak pernah ia dapat kan di dalam hidup nya.             “Kalau Soraya tau apa yang telah kau perbuat pada nya hari ini, apa nanti dia akan bisa menerima nya? Dia menganggap mu sebagai ayah nya sendiri Ger, bagaimana perasaan nya nanti kalau dia tau kau telah menikahi nya tanpa persetujuan dari nya?”             Geri menunduk kan kepala nya. Perkataan istri nya itu tidak salah sedikit pun, sebenar nya Geri pun tidak tega melakukan itu pada Soraya, anak itu adalah anak yang baik, entah kenapa dia harus mengalami hal seperti ini.             Geri mengangguk kan kepala nya setuju lalu mengambil pisau tersebut dari tangan kanan Elisa.             “Untung saja kamu datang, sekali lagi kamu menyelamat kan ku El,” ujar Geri sambil menyayat tangan nya.             Tanpa merasa sakit sedikit pun Geri menyucur kan darah milik nya untuk bergabung dengan darah dan air suci mereka di dalam cawan emas itu.             Bersama sama Geri memegang cawan tersebut lalu menutup matanya, Elisa pun mengikuti apa yang di lakukan oleh sang suami.             Tubuh nya mulai terasa panas saat Geri mulai membaca kan mantra dengan bahasa yang aneh dari mulut nya.             Semakin lama tubuh Elisa malah seperti semakin terbakar, ia membuka paksa mata nya dan melihat sebuah ukiran di lantai, tepat di bawah kaki mereka tiba tiba saja terbentuk dan bercahaya seolah ada bara api di dalam nya.             Elisa mengangkat kepala nya yang tertunduk, betapa terkejut nya Elisa saat melihat wajah Geri yang begitu menyeram kan dengan mata sepenuh nya hitam dan kulit yang pucat di sertai dengan urat urat di bertimbul an di wajah Geri.             “Geri,” ujar Elisa namun entah kenapa ia tidak dapat mendengar suara nya, hanya suara Geri lah yang terdengar saat ini.             Elisa menatap ke arah belakang Geri, banyak sekali sosok yang tidak jelas terlihat berdiri disana seolah menyaksikan pernikahan mereka.             Elisa mengenggam cawan itu begitu kuat karena rasa sakit yang ia rasa kan, mau sampai kapan Geri mengucap kan mantra mantra itu?             Seketika kesadaran Elisa terenggut dan ia pun terjatuh di hadapan Geri. Dengan sigap Geri menangkap tubuh Elisa dan membawa istri nya itu menuju kamar untuk melakukan ritual selanjut nya.             ***   “Kita mau kemana Cok?” ucap Soraya yang sudah naik ke atas motor Ucok.             Soraya melihat ke arah belakang, sudah banyak sekali mobil yang mengejar mereka, sebenarnya siapa orang-orang ini? Yang Soraya tau tadi dia keluar bersama Geri untuk berobat tapi sekarang kenapa diri nya malah tiba tiba ingin di nikah kan sama se seorang yang tidak ia kenal?             “Mereka masih ngejar?” tanya Ucok.             “Iya, cepetan dikit Cok, aku takut,” ujar Soraya ketakutan, kenapa sekarang semua orang itu mengejar nya seolah dia adalah seorang buronan yang selama ini di incar oleh orang orang tersebut.             “Pegangan yang kuat,” ujar Ucok.             “Oke,” balas Soraya langsung mengulur kan tangan nya untuk memeluk Ucok dengan erat.             Dengan cepat Ucok langsung membelok kan motor nya menuju hutan belantara, mulut nya lantas tertawa karena melihat mobil mobil yang sebelum nya mengejar mereka berhenti tak tau harus kemana.             “Cok badan ku lemes banget,”             “Kenapa?”             “Gak tau, rasa nya dingin sekali,”             “Jangan pingsan Ray,”             “Mana tau aku ini mau pingsan apa enggak, hihihi” ujar Soraya lalu tertawa melengking tiba tiba. Saat itu juga Ucok sadar, kalau perempuan yang di belakang nya ini bukan lagi Soraya, melain kan Annelise, hantu perempuan yang menjadi akar dari segala permasalahan yang terjadi saat ini.             “Halo Ucok,” ujar Annelise yang sudah menguasai kesadaran Soraya untuk saat ini.             “Sedang apa kau! Keluar dari tubuh nya sekarang,”             “Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti anak ini, aku hanya akan meminjam tubuh nya sebentar sampai dendam ku terbalas kan,”             “Ayah mu lah yang ingin menghancur kan Soraya bukan aku,” ujar Annelise pada Ucok yang masih fokus membawa motor nya.             “Diam,”             “Kalau kau membantu ku, urusan ku akan lebih cepat selesai, dan aku akan meninggal kan tubuh ini untuk pergi dengan tenang,” ujar Annelise yang membuat Ucok tergiur untuk membantu nya.             Apa pun akan di lakukan Ucok kalau itu untuk kebaikan Soraya.             “Apa yang kau mau?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD