-4. The Secret of Busan (비밀의 부산)-

1115 Words
            “Kenapa lo nggak bilang sih, kalau Louis Kim itu nama aslinya si Seo In-Hyuk tukang nguntit?” Ryn masih merasa bingung. Bagaimana bisa seseorang yang bermasalah sejak awal kedatangannya di Busan adalah penyanyi favoritnya “Nggak mungkin dia Louis Kim yang terkenal warm-hearted, punya suara merdu” Ryn menggeleng tak percaya sambil menatap hujan yang datang di malam yang gelap “Pantesan mukanya nggak asing”.           Sambil berbaring memainkan ponselnya, Lily menyempatkan diri untuk menjawab “Gue udah mau bilang kemaren, tapi lo ngacir gitu aja” Lily meletakkan ponselnya “Trus lo mau minta maaf ke dia?”.           Ryn tersentak “Ngapain juga gue minta maaf? Seenggaknya dia tau kalau gue kesini bukan berniat jahat”.           “Tapi kan dia udah baik hati ngasih tempat tinggal buat lo. Setidaknya sebagai penghormatan. Aishh! Pemanis lah maksudnya” Tukas Lily.           Ryn menghempaskan punggungnya ke sofa “Iya juga sih. Gue jadi paham kenapa orang-orang yang tinggal disini adalah orang-orang pilihan. Tapi gue masih nggak paham kenapa dia ngotot pengen jabat tangan”.           Lily melempar bantal ke wajah imut Ryn yang disambut rengekannya “Ngapain dipikirin, sih? Dari kemaren ngomongin itu mulu. Yang namanya jabatan kan hal biasa, jadi dia pikir lo itu aneh karena nggak mau jabat tangan ama dia”.           “Bisa jadi. Tapi kan nggak harus maksa” Hal itu terus menghantui Ryn, karena hal ini sangat tidak biasa “Mana dia main ganti nama gue. Ryn?” Ia terkekeh lagi.           “Etdah.. itu mah bukan ganti nama, oncom! Itu nyingkat nama lo!” Semprot Lily.           “Tapi.. kenapa ejaannya, R-Y-N? Kan harusn---”.           “Berisik! Tidur sono! Matiin lampunya!” Pekik Lily langsung membungkus badannya dengan selimut.           Ryn mengangkat kedua sudut bibirnya, tertawa tanpa suara saat menyadari omongannya terlalu panjang dan tak berbobot. Mematikan lampu dan segera mengambil tempat disamping Lily.           Keduanya menempati kamar nomor satu. Sebuah kamar yang tak terlalu luas namun tidak sempit juga. Dinding berwarna coklat s**u, serta ranjang king size yang cukup untuk ditempati dua orang, tepat disamping perbatasan antara kamar laki-laki dan perempuan. Di sudut ruangan ada pintu yang menghubungkan kamar mandi beserta tempat untuk menjemur baju. Semua kamar memiliki model yang sama. Tak lupa ada televisi di setiap kamarnya.           Kamar sewa seperti ini cukup bagus dan layak bahkan terlalu layak untuk harga yang terjangkau dan harga yang tetap stabil tiap tahunnya. Seo In-Hyuk memang sengaja ingin memberikan tempat sedemikian untuk para wisatawan asing ataupun pelajar asing yang datang ke Busan, tempat kelahirannya. Ia ingin sekali melihat para warga asing bisa nyaman menjelajahi Kota Pelabuhan, Busan sekaligus mempelajari banyak budaya asing juga.           Rasa lega dan nyaman saat bertautan dengan ranjang super empuk sedang membelenggu Ryn. Masih bebalut kerudung bergo, ia menikmati momen pertama bermalam di Dongki global house. Menatap langit-langit dan sekeliling kamar sembari rebahan. Ryn menarik satu napas cukup dalam dan mengeluarkannya perlahan. Ini sangat nyaman.           Namun tiba-tiba, ia mendengar sayup-sayup suara dentingan gitar yang cukup menggelitik telinga. Ryn bangkit. Menerka dari mana sumber suara itu? Berjalan menuju dinding. Mengarahkan telinga disana.           “Oh dari kamar sebelah” Ryn tertarik mendengarnya lebih lama “Wah.. Love Story, lagunya Louis Kim! Versi akustik, nih” Kejutnya masih terus menyimak. Setelah intro terhenti, masuklah vokal untuk bait pertama lagu tersebut. Seketika Ryn terbelalak “Kaya kenal suaranya” Matanya menyipit berusaha menepis suara-suara yang bermunculan di kepala “Hah?! Louis Kim maja[1]?”.           Tiba-tiba melodinya terhenti “Wae?[2] Aku dengar, tau! Ryn-ssi”           Sontak Ryn melebarkan mata seraya menjauhkan telinga dari dinding. Menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangan sekaligus. Jadi, ia bersebelahan dengan kamar Louis Kim?.           “Astaghfirullah, dia denger omongan gue dong?” Ryn tak bisa berkata-kata lagi, meskipun ketika membicarakannya tadi menggunakan Bahasa Indonesia, tapi ia merasa tidak enak menyebut-nyebut nama Louis Kim. Lantas ia merutuk diri sendiri sembari membenturkan kepala ke dinding beberapa kali. ^^^           Seo In-Hyuk adalah seorang penyanyi kondang dan aktor yang memiliki nama panggung Louis Kim. Ia sengaja menginvestasikan sebagian hartanya untuk membangun sebuah global house yang layak. Jika lelah akan harinya, ia akan datang ke Busan, karena hidupnya sudah cukup penat di keramaian Kota Seoul.           Seo In-Hyuk yang sudah berbalutkan piama sedang membuat kopi di dapur. Lalu membawanya lagi ke ruang tamu. Lampunyapun ia biarkan mati. Suasana gelap mungkin lebih menenangkan.           “Hyung[3]!” Song Wu menghampiri Seo In-Hyuk, mengambil tempat disampingnya “Sampai kapan kau akan rehat? Lalu kau akan tetap tinggal disini?”.           In-Hyuk meletakkan cangkirnya “Entah. Aku tidak tau kapan akan kembali. Yang jelas aku ingin mengosongkan pikiran sejenak”.           Song Wu mengangguk paham akan keadaan sahabatnya “Ngomong-ngomong, kenapa kau akhirnya memberi izin tinggal perempuan cantik berpenampilan berbeda itu?”.           Mata In-Hyuk melebar “Cantik?”.           Kemudian disambut anggukan kepala Song Wu antusias “Bukankah dia sempurna meski tidak tinggi dan berpenampilan berbeda dengan kain yang menutupi rambutnya?” Song Wu menarik napas sejenak “Mata yang tidak terlalu sipit, namun tidak besar dengan bulu mata yang lentik. Ku rasa kecantikan itu---”.           “Aissh! Tidak usah repot-repot menilai. Aku juga punya mata!” Gertak In-Hyuk memotong kalimat sahabatnya itu.           Song Wu mengulum bibir sejenak “Jadi, apa alasan kau menerimanya tinggal disini?”.           “Kau tau kan, aku ini seorang selebriti? Jadi, aku selalu memilih tamu yang bisa bekerja sama dengan baik. Melihat berkas yang dikirimkan padaku melalui pesan surel saja sudah cukup meyakinkan, jika dia bukan orang yang macam-macam, tapi untuk memastikannya, aku harus menatap matanya sambil berjabat tangan, ku rasa secara ilmu psikologi hal itu cukup membantuku meyakinkan setiap tamu yang datang” Jelas In-Hyuk panjang lebar sambil memahami kalimatnya sendiri “Sekarang aku cukup mengerti kenapa dia tak ingin berjabat tangan dan bertatapan denganku. Ku rasa aku tak punya hak untuk memaksa lebih karena semua itu bagian penting dalam agamanya”.           “Aah~ begitu rupanya” Balas Song Wu mulai mengert. “Aku kira kau ingin mempraktikkan kekuatan psychometry-mu padanya” Dilanjutkan dengan gelak tawanya.           Bug!           “Aduh aduh!!”.           Teriakan beserta suara benda jatuh itu mengejutkan dua pria rupawan yang sedang berbincang diruang tamu. Apalagi In-Hyuk yang terlihat sangat panik, takut hal-hal yang tak kasat mata terjadi.           “Siapa itu?!” Teriak In-Hyuk panik.           Perlahan dan sangat hati-hati, seseorang berbalut setelan hoodie abu-abu itu menampakkan diri berjalan mundur. In-Hyuk tak perlu lagi menebak, ia sudah tau sosok tersebut saat kain berwarna hitam yang membalut kepalanya itu sudah nampak.           “Ryn-ssi?!”.           Pun gadis mungil berpipi chubby itu berbalik dengan sebuah senyum innocent-nya sambil menampakkan barisan giginya yang rapi. [1] Maja?: Benar? [2] Wae? : Kenapa? [3] Hyung : Panggilan adik laki-laki pada kakak laki-laki
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD