-5. Is He Psychometric? (사이코메트리 그 놈?) -

1752 Words
            Selama beberapa jam, ia terus terjaga karena tak bisa tidur meskipun ia sedang dalam keadaan lelah. Sejak tadi, bahkan sejak kemarin pikirannya terus melanglang buana. Bukan hanya karena pria itu saja, Ryn juga memikirkan nasibnya setelah masa visa-nya habis. Semua menumpuk di otak yang tak pernah berhenti beristirahat. Andai otak bisa bersuara, mungkin ia akan menjerit karena terlalu banyak tugas yang diembannya.           Ryn terbangun dan mengambil kotak obat di nakas. Ia lupa belum meminum obat. Takut-takut gangguan yang dideritanya kembali mengusik. Ia memeriksa botol air di kamar, tapi sudah habis. Lantas ia ingin mengisinya ke dapur.           Belum sampai di dapur langkahnya terhenti saat mendengar suara-suara dari ruang tamu. Ryn sempat menyipit, selanjutnya ia berusaha tak peduli, untuk apa mengurus kehidupan orang lain. Namun satu kalimat mengejutkannya dan membuat gadis itu melambatkan langkah dan berhenti dibalik dinding sembari menyimak.           “Aah.. begitu rupanya. Aku kira kau ingin mempraktikkan kekuatan psychometry-mu padanya”.           “Kekuatan? Emangnya power ranger?” Bisik Ryn heran.           Ryn kembali ternganga saat menyadari bagian tidak biasa dari kalimat itu, keningnya terus berkerut sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal “Psycho? Psychopat? Eh, apaan sih?” Ryn menjauhkan telinganya dari dinding, menggigit jari sambil melongo tak percaya. Ia seperti sedang masuk ke dalam sebuah adegan film.           “Aneh banget sih. Gue nggak mimpi, kan?” Ia bertanya-tanya pada diri sendiri. Menggeleng keras dan berbalik untuk membangunkan Lily, namun naas, saking antusiasnya ia tak sengaja menabrak rak buku, pun botol yang digenggaman jatuh mengenai kakinya.           Bug!           “Aduh! Aduhh!!!” Rengeknya.           “Siapa itu?”.           Teriakan In-Hyuk lantas membuat Ryn menyerah dan memaki dirinya sendiri “Aduh, mati gue!”.           Kembali pada topik dimana hidup itu pilihan dan disertai tanggung jawab. Ryn sudah melakukan kesalahan, dia harus menampakkan diri dan menanggung resikonya. Entah itu dimaki, atau mungkin di keluarkan dari global house yang baru disinggahinya. Perlahan dan sangat hati-hati, bahkan penuh keraguan.           “Ryn-ssi?!”.           Pun gadis mungil berpipi chubby itu berbalik dengan sebuah senyum innocent-nya sambil menampakkan barisan giginya yang rapi.           “Sedang apa kau disini? Kau menguping?” Selidik In-Hyuk agak panik.           Ryn buru-buru menggeleng “Aniyo[1] ! Awalnya aku hanya ingin mengambil air putih”.           “Pada awalnya” In-Hyuk melipat kedua tangannya ke depan d**a “Lalu tak sengaja mendengarkan? Itu kan yang ingin kau katakan?”.           Seketika gadis 23 tahun itu melebarkan senyumnya. Sebuah senyum pasrah. Ryn memang tak bisa mengatur ekspresi wajah. Jadi, situasi apapun dapat dengan mudah terbaca. Ia buru-buru mencari alibi “T-tapi memang benar adanya. Aku tak berniat menguping dan aku tidak yakin dengan apa yang kudengar”.           In-Hyuk mendengus kasar “Apapun yang kau dengar itu tak penting. Aku hanya kasihan padamu dan menerimamu di penginapan ini, puas?” Ia mengajak Song Wu itu kembali ke kamar.           “Psychometry?” Ceplos Ryn berhasil membuat In-Hyuk dan kawannya mengerem langkah dan perlahan berbalik lagi. Pun Ryn juga ikut menoleh, menatap kedua pria yang jaraknya tak begitu jauh darinya “J-jadi, kau ingin berjabat tangan denganku dan membacaku dengan psychometry-mu?”.           In-Hyuk dan Song Wu saling menatap satu sama lain, detik selanjutnya Song Wu tertawa terpingkal-pingkal. Ryn yang sejak tadi memperhatikan tingkah kedua pria itu hanya bisa membeku sambil meringis, menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Kemudian gadis itu berpura-pura ikut tertawa.           “Kenapa kau tertawa?” Tanya In-Hyuk memecah suasana. Pria bermarga Seo ini, sejak tadi hanya diam dan mengamati. Ryn langsung melunturkan aksi sandiwaranya yang kelewat basi.           “Ternyata gadis itu tak hanya cantik, tapi tablo juga rupanya” Cerocos Song Wu ditengah tawanya.           Itu lantas membuat Ryn membelalakkan mata Gue? Tablo?. Batinnya terus bertanya-tanya. Bagaimana bisa seorang gadis yang berhasil mendapatkan gelar sarjana melalui jalur beasiswa sepertinya dianggap bodoh? Perlahan rangnya mulai mengeras “Apa maksud kalian?”.           “Psychometry yang kumaksud adalah kemampuan yang dimiliki In-Hyuk didalam karakter dramanya, bukan di dunia nyata! Kau tau? Aku hanya membual dan mengaitkannya dengan topik pembicaraan tadi” Tukas Song Wu sambil sesekali tertawa. Ya, pria satu ini memang suka sekali membual dan terus-terusan membuat kekonyolan.           Dengan tenangnya, In-Hyuk menatap Ryn sekilas dengan tatapan yang tak bisa diartikan “Maka dari itu jangan suka menguping, okey?”.           Malam ini harga diri seorang Aireen Zhafira seperti terinjak-injak bak bilangan pasir di Gurun Sahara. Ia mengutuk dirinya sendiri yang berkhayal terlalu jauh mengenai psychometry. Ryn berteriak kecil sambil berjalan lunglai menuju dapur.           Psychometry sendiri merupakan bentuk kemampuan psikis yang agak berbeda, terutama kemampuan melihat objek dengan memanfaatkan suatu benda tertentu. Beberapa orang dapat ‘melihat’ menggunakan perantara seperti kaca mata hitam atau bahkan permukaan air. Tapi, orang yang memiliki kemampuan psychometry, mendapatkan visi yang luar biasa ini hanya dengan melalui sentuhan. Psychometry juga bisa disebut sebagai seni merasakan energi-energi yang terpancar dari benda mati.           Seseorang yang sudah mengembangkan anugerah kemampuan tersebut dapat merasakan energi dari benda yang dipegangnya dan membaca energi tersebut untuk memperoleh informasi.           Menurut ilmu psychometry setiap benda baik hidup atau mati mempunyai energi yang bersumber objek atau benda itu sendiri, dalam dunia psikis hal ini bisa disebut Aura atau Prana. Prinsipnya adalah setipa molekul benda mati dan hidup bergetar, begitu juga elektron-elektron dari atom-atomnya berputar dan memancarkan energi.           Pengaruh gaya tarik-menarik antar molekul dua atom menyebabkan energi yang memancar dari orang atau benda disekitar objek dapat diserap oleh objek dan disimpan sebagai rekaman kejadian. Rekaman kejadian itu bisa mengendap sampai puluhan tahun, bahkan jika memiliki energi yang kuat, maka ia bisa mengendap selama ratusan tahun. ^^^           Cahaya emas semu merah telur itu mulai merambah celah gordyn kamar. Burung-burung senantiasa bernyanyi ria sambil beterbangan melintasi cakrawala. Bunga-bunga di musim semi yang setiap waktunya mulai berwarna.           Setelah sholat subuh dan mengaji, Ryn sudah menyempatkan diri untuk bersih-bersih. Seiring waktu bergulir, suasana Dongki global house masih sama sepinya seperti tengah malam. Lily yang tadi sholat berjamaah dengannya sudah kembali membungkus diri dengan selimut.           Tak punya pilihan, Ryn beranjak ke dapur, membuat sarapan untuk seisi rumah, sekaligus ingin menyapa para tamu lainnya, mengingat ia adalah tamu baru di rumah tersebut.           Ia mengiris daun bawang, bombay. Merebus bihun. Memecahkan sepuluh butir telur—walaupun total ada empat belas kamar disini, tapi yang terpakai tak sampai setengahnya, hanya ada lima kamar yang terisi—In Hyuk sangat pemilih.           Ryn mencampurkan telur dengan toping daun bawang dan bombay beserta bumbu-bumbu dapur lainnya, dari garam, lada, kecap ikan dan saus tiram. Terakhir, masukkan bihun yang sudah direbus matang, lalu digoreng menjadi pangsit telur atau dalam bahasa koreanya ‘Dal-gyal Mandu (달걀 만두)’ Tak ketinggalan dengan saus orientalnya.           Sebenarnya Ryn tidak jago memasak, tapi karena sudah terbiasa hidup mandiri di negeri orang membuatnya banyak mendapatkan pelajaran berharga, tak terkecuali memasak. Hitung-hitung, kemampuan masaknya bisa digunakan saat sudah menikah nanti.           “Hmm..” Seru Ryn saat aroma lezat itu sudah menyebar. ^^^           Sepenggal harapan dan keinginan In-Hyuk sama pentingnya dengan semenit waktu bagi orang sekarat. Tak ada yang tau jika sejak subuh, pria pemilik mata monolid ini sudah bersemedi diatap rumah. Jika datang ke Busan, rooftop adalah tempat favoritnya selain pantai.           Belakangan ini In-Hyuk lebih sering berlama-lama di rooftop, sekedar mengedarkan padangan pada sekeliling yang menampilkan lukisan indah Sang kuasa. Ya, dari atas atap, siapa saja bisa melihat pantai bersama suara debur ombak kecil yang meneduhkan.           Berdiam diri sembari menghirup udara segar musim gugur itu menyejukkan hati dan pikiran In-Hyuk yang sangat pengap dan jauh dari sirkulasi. Namun, siluet pepohonan dalam pejaman mata itu mengingatkannya akan sebuah kisah usang yang tak pernah berakhir di hidupnya.           Meskipun Seo In-Hyuk atau yang dikenal dengan Dani Lee adalah penyanyi solo dan aktor yang amat sangat populer, harta yang bergelimang, selalu mengadakan tour concert di berbagai belahan dunia, tapi siapa sangka hidupnya terasa sangat hampa dan sesak.           “Bagaimana kau hanya bisa mendapatkan peringkat lima? dasar bodoh!” Ayah melempar rapor sembarang hingga mengenai kepala In-Hyuk. Anak itu hanya diam, bahkan menangispun tak bisa.           “Yeobo[2], In-Hyuk sudah berusaha keras setiap tahun, dia sudah menaikkan peringkat. Bahkan peringkat lima dari seratus lima puluh orang, bukankah dia sudah membuktikannya?” Bela ibu.           “Tidak! Anakku harus mendapatkan peringkat satu. Noona[3]-mu saja bisa mendapatkan peringkat satu tiap tahun, bahkan sudah diterima di kedokteran Universitas Negri Seoul, kenapa kau tak bisa? Dasar anak pembawa sial!” Ayah melayangkan tamparan keras pada wajah imut In-Hyuk.           “Hhh?!!” Kaget In-Hyuk langsung membuka mata. Ia seolah baru terbangun dari mimpi buruk yang seketika membuat dadanya terasa sangat sesak. Kecemasan itu semakin mengiringinya.           “Abeoji[4], aku berhasil debut sebagai penyanyi solo!” Seru In-Hyuk yang mulai beranjak dewasa itu girang.           Ayah hanya fokus pada laptopnya dan menyuruh In-Hyuk keluar dari ruang kerjanya dan memaki putra tunggalnya itu tanpa mengucapkan selamat atas prestasinya.           Air mata tak berarti itupun mengalir. Ia tak bisa memenuhi keinginan ayahnya untuk menjadi seorang dokter lulusan Universitas Negri Seoul, tapi ia ingin membuktikan dengan cara lain, dengan kemampuan dan keahliannya di bidang seni, In-Hyuk berharap agar ayahnya bisa mengerti, namun semuanya tak berarti.           Mata sipit In-Hyuk sudah terasa perih menahan cairan bening itu agar tak terjatuh, itu justru semakin membuat dadanya menjadi ngilu tak karuan.           “Aku sukses menjadi penyanyi, tapi aku merasa semuanya sia-sia. Tak ada orang yang mau mendukungku. Semua orang menjauh dariku. Lantas untuk siapa aku bekerja keras dan melakukan semua ini, jika orang yang ingin kupersembahkan tak memalingkan wajahnya sedikitpun padaku?!” Ungkapnya sambil sedikit berteriak, tak bisa lagi menahan air mata yang mulai berjatuhan. Mengalir cepat melewati pipinya. In-Hyuk memukul dadanya untuk memudarkan rasa sesaknya.           “Andai eomma[5] masih hidup, aku tau untuk siapa semua ini kupersembahkan” Lanjutnya dengan nada serak.           Semua pikiran kelabu serta tekanan hebat pada otak dan hatinya merangsang Neurodermatitis yang dideritanya. Itu semacam penyakit kulit kronis yang dimulai dengan bercak kulit yang terasa gatal. Bercak gatal itu bisa muncul dimana saja, tapi In-Hyuk selalu mendapatkannya di tempat yang sama, yakni di pergelangan tangan kanannya. Tanpa disadari, sejak tadi dirinya sudah menggaruk pergelangan tangan kanannya hebat.           Penyakit ini tidak berbahaya dan tidak menular. Tapi rasa gatalnya sangat biasa mengganggu saat penderita merasa tertekan.             “Ah!” Sadar In-Hyuk kesakitan. Ia mengangkat tangan kanannya yang berbintik serta ada darah akibat ulahnya menggaruk terlalu kencang. Ia memejam dan berteriak sembari menendang pot bunga.           Prang! [1] Aniyo : Tidak. [2] Yeobo : sayang (biasanya seorang istri memanggil suaminya dengan sebutan ‘yeobo’) [3] Noona : Panggilan kakak perempuan untuk adik laki-laki. [4] Abeoji : Ayah (Formal) konteksnya jadi ibarat seorang anak yang tidak terlalu akrab dengan ayah. [5] Eomma: Ibu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD