-8. Sunset Hour (황혼의 시간)-

2053 Words
            In-Hyuk mengajak Ryn untuk mengisi perut di salah satu restoran seafood yang ada di sekitar observatorium sembari menikmati warna jingga di ufuk barat. Terpaan angin beserta daun yang bergesek itu terasa begitu menyejukkan. Gemuruh gelombang air laut mengisi keheningan di suatu senja.             “Selamat makan!” Seru Ryn bersemangat saat makanan sudah siap dihadapannya.             In-Hyuk melepas masker yang sedari tadi menutupi tiga perempat wajahnya, sebagai gantinya, ia melakukan penyamaran dengan mengenakan hoodie dikepalanya.             “Kau sangat lapar, ya?” Tanya In-Hyuk melihat Ryn yang terlihat bahagia berhadapan dengan para biota laut yang sudah berlumur saus merah asam manis.             “Tentu saja” Balasnya tak menoleh sedikitpun pada sang empu. Ia seolah memiliki dunia sendiri.             Alih-alih makan, In-Hyuk justru terus memandangi wajah gemas Ryn yang sedang asyik mengunyah dengan tatapan penuh arti. Sesekali ia kembali tersenyum dalam hati. Ada getaran tak biasa yang membuatnya tak ingin sedetikpun membuang pandangannya.             “Pelan-pelan saja makannya!” Tukas In-Hyuk             Ryn menghentikan aktifitas menyendok makanannya, lalu tertawa yang sempat membuat Jin Yeon heran “Bfft.. Kenapa kau tiba-tiba jadi sok peduli padaku?”.             “Memangnya kenapa? Kau juga bagian dari tanggung jawabku sebagai tamu di rumahku” Elak In-Hyuk sok tangguh, nyatanya Ryn jauh lebih tangguh.             Ryn mengangguk sambil tersenyum sok manis berusaha menggoda In-Hyuk yang pipinya mulai memerah “Ngomong-ngomong, apa ini yang dimaksud kencan buta?”.             Uhuk..uhuk.. Gadis satu ini bukan main. Ia selalu mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat In-Hyuk kehilangan akal. Pria pemilik blank spot di bagian bawah matanya itu memukul-mukul dadanya, bergegas meneguk air mineral.             “Gwenchana-yo[1]?” Tanya Ryn agak cuek, ia masih asyik mengadu mulutnya dengan makanan.             “Ya! K-kau---” Pekik In-Hyuk kehilangan akal. Ia menarik satu nafas yang terasa sesak “Kau gila?”.             “Kenapa?!” Kagetnya. Lantas menghentikan aktifitas makan “Aku kan hanya bertanya dan kau hanya perlu menjawab. Kenapa harus kesal jika bukan karena suatu alasan?” Imbuh Ryn yang diakhiri dengan ejekan, menjulurkan lidah sekilas padanya.             “Benar, sepertinya aku mulai gila karena terus-terusan bertemu dengamu” In-Hyuk memijat kepalanya yang berdenyut “Aku mengajakmu kemari untuk membalas kebaikanmu karena sudah mengobati luka ditanganku, puas?!”.             Hahaha...Rynpun tertawa puas, sepertinya ia sangat senang bisa membuat In-Hyuk kesal “Ok, ok.. aku tau itu. Mari, dilanjutkan makannya, sajangnim!” Semua itu dihadiahi wajah super kesal pria tampan bermata tajam tersebut.             Ryn kembali menempatkan sendoknya lagi ke atas mangkuk “Tapi, ada hal yang membuatku penas---”.             “Ah wae?!” Gertak In-Hyuk langsung memotong kalimat gadis itu. Ia meletakkan sumpitnya kesal.             “Kenapa kau marah-marah sih? Kau mau aku meneriaki identitasmu?”.             In-Hyuk menarik satu napas berat “Aku tidak marah, tapi kau membuatku kesal.. Aishh! Lantas apa yang membuatmu penasaran?” Lanjutnya pasrah.             Ryn tersenyum geli sambil mengedipkan kedua matanya berkali-kali. Gadis ini gemar membual dengan sikap imutnya “Bukan apa-apa, aku hanya penasaran, apa tanganmu sudah membaik?”.             Alih-alih langsung menjawab, pria bersuara merdu itu menatap pergelangan tangannya yang sudah tak berlapis perban. Ia sengaja melepasnya setelah insiden pagi tadi.             “Luka ini tak akan pernah hilang. Sekali diobati akan baik pada waktu itu saja, selanjutnya jika keadaanku tak stabil, maka ia akan kembali menyiksaku” Jelas In-Hyuk sembari membayang banyak hal.             Ryn terlihat mengangguk setelah menyimak penjelasan tersebut. Ia seperti sedang mengais beberapa hipotesa.             “Ada apa? Kau hanya pura-pura memahami kalimatku, kan?” Selidik In-Hyuk.             “Neurodermatitis?” Timpa Ryn “Benar, kan?”.             Seo In-Hyuk terkekeh berusaha menutupinya “Kau tau apa tentang itu?”.             Ryn yang notabenenya jarang bersikap serius, kini berhasil menampakkan pada wajahnya “Itu semacam gangguan pada kulit yang terasa gatal saat kau sedang dalam keadaan depresi”.             Suasana terjadi sekonyong hening. Saling menatap satu sama lain dalam beberapa waktu. Menekuri pikiran masing-masing. Detik selanjutnya In-Hyuk langsung tertawa “Kau pikir aku sedang depresi?” Ia kembali terkekeh. “Dengar, kau bahkan tak pernah tau dimana aku meletakkan sikat gigi”.             “Lagi pula dunia ini sudah menjadi milikku, lantas apa yang harus kupikirkan?” Sambungnya.             “Benar juga” Balas Ryn tak mau memperpanjang, gadis itu langsung melanjutkan aktifitas makannya yang dihadiahi rasa lega dari dalam hati In-Hyuk. Rasanya hidup pria itu terlalu hina jika orang lain tau. Kurasa semua orang mempunyai rahasia yang senilai dengan nyawanya. ^^^             Di dalam mobil, In-Hyuk menyalakan tape recorder yang sedang memainkan intro dari sebuah lagu. Sementara Ryn masih saja fokus ke jalanan malam yang indah penuh kelap-kelip lampu bergulir bersatu padu dengan indahnya bunga-bunga bermekaran. Langit hitam itu tak sendiri. Musim semi yang dijuluki sebagai ratu musim di Korea, merupakan salah satu musim terindah. Sinar matahari yang hangat, langit cerah dan berbagai macam bunga menyelimuti kota. Busan tak kalah gemerlap dari Kota Seoul. Musim semi             Hmm.. In-Hyuk berdeham sambil sesekali melirik sebagai isyarat agar gadis itu mendengarkan lagu tersebut. ~Untukmu, hanya untuk dirimu Mungkin aku memang tak bisa memberikan seisi dunia ini kepadamu Tapi sekarang aku akan berjanji kepadamu Aku akan menjadi seseorang yang hanya untukmu             Suara itu terdengar husky, namun lembut dan manis. Sebuah lagu ber-genre RnB soul. Ryn sudah bisa menebak pasti siapa pemilik suara nan indah ini. Pun ia juga sudah sering mendengarkan lagu berjudul ‘All For You’ yang dinyanyikan Louis Kim bersama Jung Eun-Ji, sesekali ia juga ikut bernyanyi. Lagu ini cocok sekali sebagai teman di musim semi. ~Hanya untukmu, ini hanya untuk dirimu Yang perlu kau lakukan hanyalah terus berada di sisiku seperti selama ini Jika aku dilahirkan kembali Selamanya, aku hanya akan melihatmu             “Wow.. Louis Kim memang yang terbaik!” Ryn memberikan kedua ibu jarinya ke udara tanpa menatap sosok disampingnya.             “Kau tak pernah membayangkan sosok dibalik itu ada disampingmu, makan malam denganmu, bahkan satu lingkungan denganmu” Kata In-Hyuk membanggakan diri sambil fokus pada roda kemudi dan jalanan. Ia juga sibuk menahan pipinya yang memanas.             Ryn menoleh “Kau pikir aku sedang memujimu?” Kemudian ia terkekeh “Aku memuji Louis Kim, bukan Seo In-Hyuk”.             “Terserah. Bicara padamu itu memang susah. Sudah tau Louis Kim itu aku, kenapa dipersulit sih jika kau ingin memujiku?” Ungkapnya tak bisa membohongi diri yang begitu senang mendapatkan suatu pujian dari gadis antik yang tak pernah bersikap histeris dihadapannya.             “Tapi aku penasaran” Lanjut In-Hyuk “Kenapa kau tak histeris sama sekali ketika kau tau jika aku adalah pemilik global house? Padahal semua tamu global house pasti histeris saat pertama tau hal itu, tak terkecuali Lily”.             Ryn membentuk bibirnya seperi kerucut dalam beberapa detik “Hanya tidak ingin saja” Ia memutar bola matanya. “Terkejut iya, tapi semua itu mengalir seperti biasa saja meski aku tau faktanya”.             “Kenapa bisa seperti itu?” In-Hyuk menoleh sejenak “Aku ini superstar”.             Ryn mendengus kasar. Nampak jengah “Sudah kubilang aku tidak ingin. Aku ini berbeda”.             In-Hyuk tersenyum tipis. Dalam hati mengakui bahwa Ryn memang berbeda dari kebanyakan gadis di luaran sana. Ryn menyebalkan. Ryn sangatlah apa adanya. Ryn aneh, bahkan sering bertindak semaunya. Tapi entah mengapa, In-Hyuk sama sekali tak pernah merasa terganggu             “Kau sendiri kenapa memutuskan untuk rehat?” Pertanyaan Ryn yang sederhana itu nyatanya begitu menohok, tapi itu merupakan pertanyaan lumrah yang sudah pasti ditanyakan banyak orang disekitarnya. Belum sempat dijawabnya, gadis berbalut tudung islami itu sudah terlebih dahulu menyela karena menyadari hal itu bukan haknya untuk tau. “Ah, pasti kau ingin istirahat sejenak, bukan?”.             Pria berkulit putih itu hanya bisa mengangguk. Jika bisa istirahat selamanya, itu lebih baik.             “Ah~ aku penasaran, kenapa nama panggungmu Louis Kim, sedangkan nama keluargamu Seo?”.             Alih-alih menjawab, In-Hyuk justru terkekeh sambil menatap jalanan “Kau ingin aku menjawab seadanya atau secara jujur?” Ia melirik sekilas pada Ryn yang sedang mengerutkan kening dan tertawa sekilas “Kalau kau ingin aku menjawab sekarang, maka aku akan menjawab seadanya. Tapi kalau kau ingin jawaban secara jujur, aku akan menjawabnya saat kita sudah cukup dekat”.             “Hah?” Ryn memijat keningnya yang berdenyut “Ternyata hidupmu sulit sekali, ya”.             “Ok. Anggap saja kau ingin jawaban jujurku dan ingin kita semakin akrab”.             Ryn membulatkan mata kecilnya “Kenapa sih orang ini?” Pun In-Hyuk hanya tertawa sendirian. Sebab hanya dia yang memahaminya.             Drrt..Drttt..             “Sebentar, aku angkat telepon, ya” Ryn meminta izin. Bagaimanapun juga In-Hyuk ini tetap bosnya.             Ryn bergegas mengambil ponsel, mengusap ikon warna hijau saat melihat sebuah panggilan dari neneknya.             “Wa’alaikumussalam”.Jawabnya, kemudian mendengarkan setiap kalimat yang disematkan oleh wanita tersebut. Detik itu juga, ia seolah kehilangan tenaga. Dadanya terasa sangat sesak tak karuan. Ponselnya bahkan terlepas begitu saja dari tangannya karena getaran hebat yang dirasakannya. Perlahan keringat mulai meluncur, meski di suhu yang rendah.             Dari kejauhan, In-Hyuk sempat meliriknya beberapa kali. Ia bisa menilai sesuatu tak beres terjadi “Apa ada masalah?”.             “Berhenti. Tolong berhenti!” Pinta Ryn dengan nada yang bergetar. Napasnya juga mulai tersengal-sengal.             In-Hyuk tak punya pilihan lagi selain menepi di pinggir jembatan layang, Gwangan bridge. Setelah mobil berhasil berhenti sempurna, Ryn bergegas keluar dari mobil dan berlari keluar. Ia mencari tempat yang agak jauh dari mobil agar In-Hyuk tak melihat.             Dalam keadaan seperti ini, bukankah wajar bilamana In-Hyuk ikut terbawa suasana? Merasakan ketegangan dan khawatir. Pria itu keluar dari mobil ingin mengejar Ryn yang berada di pojokan pembatas jembatan. Gadis itu sedang memposisikan diri setengah duduk.             “Ryn-ssi!” Teriak In-Hyuk agak panik. Belum berhasil mendekat, gadis itu sudah memberikan isyarat dengan tangan kanannya agar berhenti dan tak melanjutkan langkah untuk mendekat. Itu bagai sebuah alarm, membuat Pria pemilik tinggi 1,8 meter itu hanya bisa berdiri agak jauh darinya sembari memperhatikan Ryn yang berjongkok membelakanginya.             Ryn sedang menangani gangguannya. Gangguan yang nyaris hilang dari dalam dirinya kembali datang mengganggu suasana. Hiperventilasi yang dideritanya tiba-tiba kambuh setelah mendapatkan panggilan suara dari sang nenek yang membuatnya panik dan syok.             Di dalam tasnya selalu tersedia kantong kertas untuk persiapan bilamana hiperventilasi itu kambuh. Di saat gangguan itu datang, ia bernapas ke dalam kantung kertas untuk menghirup kembali karbon dioksida dengan cara seperti itu sampai deru napasnya mulai bekerja normal.            Setelah keadaan membaik, keduanya duduk di pinggiran pembatas bahu jembatan. Ryn masih bergeming, penuh kesedihan, tapi ia tidak menangis. Ia sedang membayang dunianya. Sementara mata tajam penuh pesona milik Seo In-Hyuk masih terus terpaku pada gadis berhijab disampingnya. Membiarkan Ryn membuat ketenangan sejenak.             In-Hyuk menghela napas sejenak “Ini, minumlah!” Ia memberikan sebotol air mineral yang tutupnya sengaja sudah di bukakan. Tadi pria itu sempat mengambilnya dari dalam mobil.             Ryn menerimanya “Gomawo-yo[2]” Dengan sisa tenaga, ia meneguknya.             “Tadi itu apa?” Tanya In-Hyuk penasaran akan keadaan yang tak biasa.             Ryn menarik kedua sudut bibirnya “Bukan apa-apa. Tadi hanya sedikit gangguan hiperventilasi yang terjadi setiap ada hal yang mengejutkanku”.             In-Hyuk mengangguk paham. Tapi hatinya seperti kurang puas dengan jawaban singkat Ryn mengenai gangguan tersebut. Ada banyak hal yang ingin ditanya, tapi itu tak mungkin, karena mereka belum sedekat itu.             “Ayo pulang! Sudah malam, aku mengantuk” Sargah Ryn bangkit dari duduknya, kembali ceria seolah tak ada hal yang terjadi sebelumnya.             Hal seperti itu justru semakin membuat In-Hyuk penasaran. Bahkan pria itu masih terduduk diatas bangku sambil terus menatap nayanika yang sempat terpoles oleh ketakutan dan kesedihan dengan intens. Bagaimana bisa gadis satu ini merubah ekspresi wajah sebegitu cepat? Sebenarnya apa yang sedang dialaminya?.             “Aishh!” Gerutu Ryn saat tak ada respon dari In-Hyuk “Kau ini! Aku masuk mobil duluan, ya!”.             Seketika langkah Ryn terhenti saat merasakan sebuah tangan melingkar dipergelangan tangannya. Perlahan, iapun menoleh, menatap mata sipit yang kini juga sedang menatapnya sendu. Detik-detik hening itu ditemani oleh suara mesin mobil yang lewat dijalanan, beserta angin malam yang menerpa sebagian rambut In-Hyuk. Kedua mata itu saling beradu tatap.             “Apa kau benar baik-baik saja?” Tanyanya dari dalam hati. Kerlingan matanya menampakkan sebuah getaran “Aku memang bukan siapa-siapa bagimu, tapi bolehkah aku mengkhawatirkanmu, Ryn-ssi?”.             Gadis berparas imut itu tak tau harus bereaksi seperti apa. Lidahnya seperti bertulang, tak mampu mengucap sepatah katapun, hingga pada akhirnya Seo In-Hyuk berdiri melepas jaket denim dan mengaitkannya di bahu gadis mungil tersebut.   [1] Gwenchana-yo? : Apa kau baik-baik saja?. [2] Gomawo-yo : Terima kasih dalam bahasa Korea informal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD