Di tengah malam, In-Hyuk yang sudah berbalutkan setelan piama masih terjaga. Sosoknya duduk di bibir ranjang di bawah lampu yang mati, hanya bermandikan cahaya remang-remang dari sinar rembulan yang masuk dari celah jendela.
Ia nampak diam, tapi hati dan otaknya tak bisa diam sama sekali. Pikirannya terus malayang tak karuan. Kejadian beberapa jam yang lalu membuatnya semakin penasaran dan penuh kekhawatiran. Ada apa dengannya? Apa yang sebenarnya terjadi? Sekali lagi, pria itu hanya butuh kejelasan akan sikap Ryn yang normalnya terlihat tangguh dan santai, tiba-tiba berubah rapuh dalam sekejap. Apa dia juga punya rahasia yang senilai nyawanya?.
Sebuah pikiran konyol membawanya untuk mendekat ke dinding. Mengarahkan telinga untuk memeriksa keadaan Ryn lewat suara-suara yang mungkin bisa sayup-sayup terdengar. Sesekali matanya menyipit. Namun usahanya nihil, tak ada hal lain selain suara dengkuran yang menggelitik.
“Kamjagiya!” In-Hyuk menjauh dari dinding penuh kejut “Siapa itu? Ryn? Lily?~ ya.. Aku sudah lebih dahulu bersebelahan dengan Lily tapi tidak pernah menemukan suara menggelikan ini” Ia kembali bersandar ke punggung ranjangnya, sedetik kemudian ia terhenyak lagi “Kenapa bisa dia tidur nyenyak setelah mengalami kesulitan?”.
“Akh!!” In-Hyuk mengacak-acak rambutnya frustasi “Cukup! Hidupku sudah terlalu gelap seperti terjebak dalam terowongan. Mari kita pikirkan hal yang menyenangkan” Lanjutnya sambil membuat relaksasi dengan menghembusakn napas perlahan, lalu membuangnya perlahan juga. Dalam pejaman matanya, beberapa hal yang sudah di lewati hari ini, menyapa ingatannya. Waktu dimana In-Hyuk memutarkan lagunya di mobil.
~Untukmu, hanya untuk dirimu
Mungkin aku memang tak bisa memberikan seisi dunia ini kepadamu
Tapi sekarang aku akan berjanji kepadamu
Aku akan menjadi seseorang yang hanya untukmu
Suara itu terdengar husky, namun lembut dan manis. Sebuah lagu ber-genre RnB soul. Ryn sudah bisa menebak pasti siapa pemilik suara nan indah ini. Pun ia juga sudah sering mendengarkan lagu berjudul ‘All For You’ yang dinyanyikan Louis Kim bersama Jung Eun-Ji, sesekali ia juga ikut bernyanyi. Lagu ini cocok sekali sebagai teman di musim semi.
~Hanya untukmu, ini hanya untuk dirimu
Yang perlu kau lakukan hanyalah terus berada di sisiku seperti selama ini
Jika aku dilahirkan kembali
Selamanya, aku hanya akan melihatmu
“Wow.. Louis Kim memang yang terbaik!” Ryn memberikan kedua ibu jarinya ke udara tanpa menatap sosok disampingnya.
“Kau tak pernah membayangkan sosok dibalik itu ada disampingmu, makan malam denganmu, bahkan satu lingkungan denganmu” Kata In-Hyuk membanggakan diri sambil fokus pada roda kemudi dan jalanan. Ia juga sibuk menahan pipinya yang memanas.
Ryn menoleh “Kau pikir aku sedang memujimu?” Kemudian ia terkekeh “Aku memuji Louis Kim, bukan Seo In-Hyuk”.
“Terserah. Bicara padamu itu memang susah. Sudah tau Louis Kim itu aku, kenapa dipersulit sih jika kau ingin memujiku?” Ungkapnya tak bisa membohongi diri yang begitu senang mendapatkan suatu pujian dari gadis antik yang tak pernah bersikap histeris dihadapannya.
“Bukankah dia benar-benar memujiku? Kenapa wanita harus berbelit panjang untuk memuji seorang pria?” In-Hyuk berdiri dari ranjangnya sambil berbicara pada dirinya sendiri di depan cermin yang menampakkan seluruh tubuhnya dengan ekspresi layaknya sedang bercengkrama dengan orang lain.
“Tidak.. tidak” Ia menggeleng, merubah prespektifnya “Seharusnya jika seorang wanita menyukai seorang pria, bukankah dia terlihat berbelit dan jual mahal, bahkan untuk memberikan pujian pada pria tersebut?” Keheningan terjadi begitu saja, In-Hyuk masih terus berpikir sampai menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri. Hahaha.. “Ketahuan kau, Ryn. Sudah pasti dia menyukaiku. Bagus.. bagus!” Ia tersenyum sendiri, mendekati cermin agar bisa melihat wajahnya lebih jelas. “Bukankah aku tampan? Banyak orang di luar sana yang menyukaiku”.
“Ngomong-ngomong, apa ini yang dimaksud kencan buta?”.
“Aiisshh!” Hardik In-Hyuk saat sepenggal kalimat dan ekpresi wajah menyebalkan Ryn terngiang di pikirannya “Tapi dia menyebalkan. Bagaimana dia dengan percaya dirinya bisa mengatakan hal yang tidak semestinya wanita katakan saat bersama seorang pria yang belum lama dikenalnya. Wah! Ini gila!” Ia terheran-heran, lalu mengusap wajahnya berkali-kali.
Cklek!
“Astaga dragon!” Ia sedikit melompat lantaran terkejut saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka di tengah malam.
“Hehe... aku boleh masuk?” Pinta Jackson.
In-Hyuk menyalakan lampu kamar. Keduanya duduk diatas tempat tidur nan empuk sembari banyak mengobrol. Jackson juga tak bisa tidur lantaran sudah menghabiskan dua gelas kopi pada malam ini. Ia harus terjaga untuk mengedit beberapa konten youtube yang dibuatnya tadi.
“Aku sudah melakukan banyak hal tapi tak kunjung mengantuk” Cerocos Jackson “Tapi ada apa denganmu? Kenapa kau belum tidur?”.
In-Hyuk menghela napas kasar “Entahlah” Ia lalu menghempaskan punggungnya ke ranjang.
“Yah, aku baru saja diputuskan Vallery, mungkin itu yang membuatku tidak bisa tidur selain karena kopi” Lanjut Jackson terkesan putus asa dan tak bertenaga.
In-Hyuk langsung terbangun. Ia seperti antusias dengan topik ini “Putus?”.
Jackson mengangguk lesu “Dia tidak ingin hubungan jarak jauh. Tapi aku harus bagaimana? pekerjaanku disini. Aku menjadi terkenal sebagai youtuber Kanada yang memberikan informasi tentang Korea, memasuki acara variety show disini, menjadi guru bahasa Inggris disini. Apa aku haru merelakan semua itu, jika belum saatnya untuk kembali ke Kanada?” Pria berambut blond itupun menangis, membuat In-Hyuk kebingugan “Aku juga masih mencintainya”.
“Benar.. itu berarti belum jodoh” Ungkap In-Hyuk “Tapi setidaknya kau bisa merasakan bagaimana menjalin sebuah hubungan”.
Kalimat itu membuat Jackson menghentikan tangisnya “Memangnya kenapa? Kau tidak pernah jatuh cinta?” Ia menepuk kedua tangannya “Ah benar. Kau seorang idola yang sulit untuk meluangkan waktu demi urursan pribadi, apalagi berkencan”.
In-Hyuk mengangguk sambil mengingat apa yang terjadi, bahkan sebelum ia menjadi seorang penyanyi idola. Ia pernah merasakan yang namanya menyukai seorang gadis pada masa SMP, tapi semua itu tak bisa diperjuangkan karena setiap kali melihat wajah gadis yang disukainya, In-Hyuk selalu terbayang wajah horor sang ayah beserta stik golf—untuk memukulnnya ketika peringkatnya tak pernah beranjak naik.
Setelah itu, pria pemilik tatapan tajam itu tak pernah sempat melirik gadis manapun. Sebab, tak ada waktu untuk hal semacam itu. Pikirannya sudah dipenuhi oleh ketakutan terhadap sang ayah. Pada intinya, bukan karena tidak pernah jatuh cinta, melainkan ia tak sempat untuk menyukai seorang gadis.
“Jackson!” Panggil In-Hyuk setelah beberapa saat merenung. Matanya nampak berbinar. Pun pria bule itu siap mendengarkan “Mungkin ada banyak hal yang membuatku tak bisa menyukai atau bahkan menjalin hubungan dengan sorang gadis. Tapi aku ingin bertanya padamu dengan sejuta pengalamanmu sebagai pengembara cinta”.
“Apa itu?”.
“Apakah seorang gadis akan jual mahal ketika ingin memberikan pujian seorang pria yang disukainya? Misal saja dengan mengubah inisial seolah itu orang lain, kisah orang lain ataupun hal lainnya yang berbelit?” Tambah In-Hyuk menggebu-gebu.
“Tentu saja. Wanita adalah makhluk yang terkenal dengan sikap jual mahal. Ketika kau menyatakan cinta padanya, dia akan berpura-pura dulu untuk menutupi perasaannya” Celoteh sang pengembara cinta yang disimak baik-baik oleh In-Hyuk “Begitu pula dengan memberikan pujian. Ketika kau menanyakan pendapatnya tentang suaramu yang indah, dia akan bilang ‘Tidak, suaramu tidak bagus’ wajahnya juga akan berseri. Jika dia tidak tertarik padamu, ‘Oh bagus’ dan wajah beserta kalimatnya tampak datar”.
“Okey.. okey.. Tapi bagaimana jika wanita itu berkata pada hari pertama mereka makan bersama ‘Apa ini yang dimaksud kencan buta?’ itu terlihat sangat terus terang dan tanpa filter, bukan? Ataukah dia sepercaya diri itu untuk bersanding dengan sang pria? Padahal itu hanya ajakan makan biasa” Tambah In-Hyuk lagi masih penasaran.
“Wah?!” Jackson menepuk tangannya beberapa kali dengan lambat “Bravo! Maka itu adalah daya tariknya” In-Hyuk menaikkan sebelah alis “Benar. Kau harus tau, wanita ada dua macam. Ada yang pura-pura lembut dan pemalu dihadapan pria, menjaga image-nya. Ada pula yang apa adanya dengan sikap dan perkataan yang selalu berterus terang, maka dia adalah wanita berjati diri kuat. Dia tidak malu akan dirinya, dia selalu menunjukkan sisi asli dirinya”.
“Aah~ Begitu rupanya”.
Jackson menyipitkan matanya. Ia sedang menyelidik “Siapa gadis itu?”.
“Hah?!” Kaget In-Hyuk “B-bukan aku. Itu cerita temanku. So-Hyun! Ya, kau tau aktor Kwon So-Hyun?” Dia mulai tergagap-gagap “D-dia pernah bercerita padaku”.
“Hmmm... Aku mencium aroma-aroma kasmaran disekitar sini” Jackson terus mengganggunya, layaknya mengendus sesuatu disekitar kawannya itu.
In-Hyuk perlahan menjauh ngeri “Kau ini kenapa sih?”
Jackson menghentikan aksi anehnya tadi “Kau berhak merahasiakannya. Setiap orang memang mempunyai rahasia yang berharga dalam hidupnya. Tapi, aku hanya ingin memberikanmu saran” In-Hyuk menyatukan kedua alisnya “Cepat katakan saja padanya bagaimana perasaanmu. Lupakan profesimu. Kau sudah berkarir lama sekali di industri hiburan, mau sampai kapan kau terus hidup berdasarkan standar orang lain? Sudah saatnya kau hidup dengan standarmu, bro! Aku mengatakan seperti ini bukan berarti aku menyuruhmu untuk keluar dari duniamu, hanya saja kau manusia yang juga butuh cinta dari orang yang kau sayangi dan kau berhak bahagia”.
In-Hyuk terlihat sedang menunduk, mencerna seluruh kalimat yang baru saja tersemat dari seseorang yang sudah mempunyai pengalaman dalam memberikan cinta dan merelakan cinta. Semua kata-kata itu begitu menohok hidup pria berwajah tegas itu.
“Tapi aku juga masih bimbang oleh perasaanku sendiri. Apa aku benar-benar menyukainya atau tidak. Aku juga belum lama mengenalnya, aku juga belum tau banyak tentang dia” Tegas In-Hyuk.
“Yes!” Seru Jackson, In-Hyuk menaikkan satu alisnya, bingung “Aku berbicara panjang lebar ini untuk memancingmu mengatakan apa yang sebenarnya kau rasakan”. Lanjutnya, lalu tertawa puas.
In-Hyuk menaikkan satu sudut bibirnya. Tatapan matanya bagai samurai. Melepar bantal ke hadapan Jacskon, pasrah “Dasar! Lalu bagaimana jawaban atas pertanyaanku tadi?”.
Perlahan Jackson menghentikan tawanya “Kenapa harus bimbang? Cinta bukan seberapa lama kau mengenal, tapi seberapa nyaman kau bersamanya. Ku rasa garis besarnya hanya itu. Jika kau nyaman, tenang dan merasa semuanya lebih baik, itu adalah cinta” Jackson menepuk bahunya lagi “Selamat malam, fighting!” Ia melambaikan tangan sebelum akhirnya menutup pintu kamar In-Hyuk pelan.
Tubuh In-Hyuk langsung tumbang ke atas ranjang. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Mengusap wajahnya kasar. Berguling-guling diatas ranjang. Pipinya bersemu kemerahan sembari berteriak kecil, hingga ia tersadar akan sesuatu.
Matanya membesar “Tapi dia berbeda. Dia bukan wanita biasa” Kemudian ia bangun, kembali mengacak-acak rambutnya yang kini menjadi super berantakan “Rasanya aku seperti jatuh cinta pada alien atau dewa?” Selanjutnya mata sipit itu membulat bersama mulut yang ternganga “Hah?! Atau myeolmang[1] versi perempuan? Seperti drama yang pernah kumainkan?
Pria pemilik tinggi 180 sentimeter itu bergegas mencari udara segar untuk me-refresh pikirannya yang semakin bercabang. Ia juga memaki dirinya sendiri atas benih-benih merah jambu yang mulai merasuk hatinya. In-Hyuk kelaur kamar hendak mencapai lantai tiga atau rooftop dari Dongki global house. Setelah pintu kamar tertutup sempurna, bola matanya mengarah pada sebuah nomor di depan pintu ‘No. 2’ tempat dimana gadis bernama lengkap Aireen Zhafira menetap. Semua itu terjadi bagaikan tarikan magnet.
“Aissh!” Ia memaki dirinya lagi, kemudian menggeleng “Kenapa harus mengingatnya terus sih?!” In-Hyuk melanjutkan langkahnya lagi sampai di atap gedung. Seketika langkahnya terhenti bersamaan dengan jantungnya yang nyaris menggelinding saat menemukan lagi sosok dibalik kain berwarna frosted mint. Semua pergerakan yang dilakukannya semakin membuat In-Hyuk penasaran. Ini bukan pertama kalinya melihat gadis itu melaksanakan sholat, tapi ia selalu saja tertarik dengan apa yang dilakukannya. Semua terasa begitu berbeda dengan dunianya. Semuanya terasa antik.
“Allahu akbar!” Ryn berucap sambil mengangkat tangan, membuat takbir. Bibirnya terus bergerak mengucap do’a iftitah yang dilanjutkan dengan surah Al-fatihah beserta surah pendek. Rukuk kemudian i’tidal, lalu sujud.
Semua pergerakan yang dilakukan gadis itu terlihat begitu serius dan khusyu. Meskipun hanya melalui sebuah gerakan, ketenangan itu perlahan menyapa In-Hyu yang tak sedetikpun memalingkan pandangannya melalui kesiur angin yang b******u mesra di langit Busan.
Tak berhenti di situ saja, pria pemilik telur naga di bawah mata kirinya itu masih membeku di tempat sampai Ryn menengadahkan kedua tangan, berdo’a. Pria itu sama sekali tidak mendengar satu katapun yang terucap, tapi keseriusan dalam hal itu sungguh terlihat, hingga untuk kali pertamanya seorang Seo In-Hyuk mendapati Ryn yang meneteskan air matanya. Gadis itu nampak memohon segalanya, lalu mengusap wajahnya yang teduh. Apa dia sedang berdo’a? Aku baru melihat cara berdo’a seperti itu. Aku juga tidak percaya, gadis yang tampak tangguh sepertinya bisa menangis.
Ryn meraih sajadahnya seusai puas meminta segalanya pada yang Maha Kuasa. Tanpa sengaja, mata kecilnya membidik sosok di pojok pintu. Ia buru-buru berbalik menyeka sisa air matanya. Kemudian berjalan penuh percaya diri melewati In-Hyuk.
Ryn menunduk sebagai rasa hormatnya “Selamat malam, sajangnim”.
“Jadi, apa yang kau lakukan?” Pertanyaan itu menghentikan langkah Ryn “Apa kau juga diharuskan melakukan sholat di tengah malam?”.
Ryn berbalik “Sholat di waktu seperti ini adalah sholat tahajjud yang mana itu bukan kewajiban. Apabila tak dilakukan tidak apa-apa, apabila dilakukan maka akan jauh lebih baik, karena do’a yang kita panjatkan di waktu orang lain sedang asyik bermimpi, maka do’a itu seperti anak panah yang memelesat tepat pada sasarannya”.
“Sederhananya, do’a kita akan lebih mudah dikabulkan oleh yang Maha Kuasa” Lanjutnya.
“Apa dengan semua itu hatimu terasa tenang?” Tanya In-Hyuk dengan tetap mempertahankan image elegan berbalut gengsi demi mendapat jawaban dari rasa penasaran.
Ryn mengangguk “Alhamdulillah. Setiap ada keganjalan dalam hatiku, aku selalu kembali pada ibadah”.
“Wah! Jadi, ini adalah obat penenangmu setelah mengalami hiperventilasi karena hal yang mengejutkanmu terjadi?”.
Masih memeluk sajadah beserta bawahan mukenah, Ryn menjawab dengan tenang “Iya. Setelah berdo’a dan menumpahkan segala resahku pada yang Maha Kuasa, semua jadi lebih baik”.
In-Hyuk masih sibuk mencerna kata demi kata yang dilontarkan gadis mungil itu terkait kepercayaannya yang dirasa aneh, namun masuk akal.
“Kau sendiri sedang apa disini?” Selidik Ryn. Detik selanjutnya gadis itu menampakkan senyum menyebalkannya “Hmm... Kau menguntitku lagi?”.
“A-apa maksudmu?” In-Hyuk mulai kehilangan akal.
Ryn mendengus kasar, sambil sesekali mengangguk “Ya ya.. Kau tidak perlu bertingkah sejauh itu, Tuan Seo! Kau ini bukan tipeku. Jangan mentang-mentang kau seorang idol, sehingga kau merasa banyak diminati gadis-gadis jelita. Tipeku adalah pria yang---”.
“Ya!!” Teriak In-Hyuk kesal, pun Ryn terkesiap bukan main. Jantungnya seolah menggelinding. Sejak gadis itu mengoceh, wajahnya sudah mulai berapi-api akibat kalimat penuh percaya diri yang diucap gadis itu “Kau ini jangan salah paham! Aku ke sini untuk mencari angin, aku juga tidak menyangka jika akan bertemu denganmu, bahkan di waktu ini”.
“Ya ya ya.. terserah apa maumu. Kalau begitu, selamat malam dan tolong rapikan penampilanmu” Ucapnya tak mau memperpanjang. Ryn berbalik sambil terus mengoceh.
In-Hyuk buru-buru bercermin di depan pintu kaca seraya terkejut bukan main akan rambutnya yang terangkat bak tersengat listrik “Sial! Ada apa denganku. Bukankah aku seorang perfeksionis yang selalu mengutamakan kerapian dan kebersihan?”.
“Sepertinya ia lupa jika dirinya seorang idol. Penampilannya sangat berantakan, untung saja hanya aku yang melihat, bagaimana jika fans-nya tau----”.
Kemudian fokusnya kembali terpecah saat mendengar sayup-sayup suara Ryn yang tengah mengomentarinya, semakin lama suara itu semakin menghilang lantaran gadis itu sudah semakin jauh menuruni tangga.
“Akhh!” Ia memejam untuk seperkian detik saat menyadari kesalahannya tadi, karena berulang kali mengacak-acak rambut lantaran terus berusaha mendustai dirinya akan perasaannya pada Ryn “Ah benar! itu hanya delusiku sebagai seorang idola yang selalu diganderungi banyak wanita. Ryn hanyalah myeol-mang yang terus berkeliaran di sekitarku”.
“Awas kau, Ryn! Aku tak akan membiarkanmu mengucapkan kalimat-kalimat berbisa seperti itu lagi!!!” Geram In-Hyuk tak mau menciut lagi setiap gadis itu melontarkan kalimat mengerikan yang sejatinya hanya bercanda, namun membuat harga dirinya sebagai seorang pria tertekan.
^^^
Seo In-Hyuk menutup laptopnya dengan kasar. Rahangya nampak mengeras, matanya yang tajam menjadi semakin tajam bak belati. Saat ini sudah mencapai pertengahan musim semi yang mana selalu ada perubahan suhu hal itu memicu emosi In-Hyuk yang tak stabil.
Pagi yang masih terbilang cukup dingin semakin mengikat emosi In-Hyuk apalagi setelah membaca sebuah pesan surel dari seseorang yang paling dibencinya seumur hidup, sebuah surel dari dr.inin@g*******m. Ini bukan kali pertamanya ia mendapatkan sebuah pesan surel dari alamat tersebut, mungkin ini sudah yang ke ratusan kalinya. Karena hal itu sering terjadi, pria tampan pemilik dimple menggemaskan di sudut bibirnya satu ini akhirnya membuka pesan teratas dari alamat tersebut. Dengan berat hati, ia meresponnya untuk kali pertama.
[1] Myeol-Mang : Kehancuran (dalam karakter sebuah drama, Myeolmang adalah dewa kehancuran).