-10. Menolak Lupa (잊을 수 없다)-

1856 Words
Ryn dan Lily sengaja memilih tempat paling ujung di kafe kecil. Keduanya duduk saling berhadapan satu sama lain. Ryn belum sempat bercerita apapun tentang kondisi keluarganya di Indonesia karena Lily terlalu sibuk mempersiapkan ujian akhir. “Gue pengen banget semuanya kembali normal. Jadi, nggak ada ketakutan lagi untuk gue balik ke Indonesia”. “Lo mungkin udah memakai segala cara untuk melupakan kenangan menyakitkan. Tapi, yang namanya bekas luka akan tetap ada dan akan menjadi ingatan yang sulit dihapuskan. Bisa dibilang menolak lupa akan kejadian pahit. Maka dari itu butuh waktu yang lama agar kenangan menyakitkan itu pudar” Lily mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tangan Ryn, memberi sebuah usapan lembut disana “Mungkin ini adalah jawaban dari do’a lo. Mudah-mudahan semuanya bisa kembali normal”. Air mata itu terus berjatuhan. Kini bukan tangisan menyedihkan, tapi tangisan haru atas kalimat yang tersemat dari bibir Lily yang membuatnya terasa bangkit kembali dari keterpurukan. “Ya Allah.. makasih banget Ly. Lo selalu bantu gue walaupun kadang nyebelin” Celoteh Ryn di sela tangisnya, lalu tertawa bersama. “Blegug sia” Balas Lily menggunakan Bahasa Sunda yang bisa diartikan sebagai ‘kurang asem’ sambil tertawa “Hidup buat apa sih Ryn, kalau nggak saling membantu. Kita kan nggak bisa hidup sendiri”. Setelah banyak berbincang, kedua gadis itu melanjutkan aktifitas memakan kue yang dipesannya sambil membual satu sama lain. Ryn dan Lily memang tak bisa serius, ada saja yang membuat keduanya tertawa. Meskipun begitu, awal pertemanan mereka juga tak semulus sekarang. Selalu ada kerikil yang berhamburan, tapi mereka bisa mengatasinya dengan baik seiring bertambanhya usia. Tiba-tiba Lily menengok jam yang bersarang di tangannya “Eh ayo, katanya lo mau beliin gue tas”. “Gue nggak bilang beliin, tapi nganter doang”. “Dih! Pelit amat sih lo! Katanya lo mau ambil gaji dari youtube, masa iya cuma mau anterin gue doang” Protes Lily super bawel. “Ah elah. Kalo soal belanja mah, lo paling rewel, ya” Pungkas Ryn setelah menghabiskan kopinya “Ayo! Ambil apa yang lo mau!” Lily langsung girang menepuk tangannya. Keduanya bergegas meninggalkan kafe untuk hangout seperti yang dijanjikan Ryn. Tepat sampai di depan pintu, mata Ryn terbelalak, begitu juga dengan sosoknya. Ia buru-buru membungkukkan setengah badan “Annyeong haseyo, Dokter Seo In-Jae”. “Oh, Annyeong haseyo” Dokter berkulit putih bak s**u itu juga membalas sapaannya dengan sangat ramah. “Sudah lama tak bertemu, bagaimana kabar anda?” Tanya Ryn yang begitu tak menyangka bisa bertemu dengan dokternya di Busan. “Aku baik. Bagaimana denganmu? Apa hiperventilasi-mu masih kambuh?”. “Ah, kemarin sempat kambuh, tapi hanya sekali itu saja. Aku juga terus meminum obat”. “Syukurlah tidak ada yang serius. Kalau kau butuh bantuanku, kau bisa hubungi aku. Jangan sungkan-sungkan. Lagi pula aku sudah menanganimu selama bertahun-tahun” Tukas sang dokter nan cantik tersebut. Pun Lily yang ada disamping Ryn hanya bisa melongo akan kecantikan tak biasa dari sang dokter. Ryn merekahkan senyumnya “Baik, dok. Saya bahkan akan menghubungi anda, meski hanya untuk memastikan kabar” Kalimat gombal itupun disambut dengan tawa lembut sang dokter “Ngomong-ngomong apa dokter sedang ada tugas disini?” Tanya Ryn saat menyadari Dokter Seo In-Jae datang dengan snelli yang notabenenya seragam seorang dokter. “Ah tidak. Aku baru saja ada perkumpulan di Daegu dan langsung kemari untuk menemui seseorang” Jawabnya. Seperti biasa, Ryn selalu menggoda orang-orang di sekitarnya “Hmm.. kekasih anda?”. “Eyy, bukan!” Dokter buru-buru mengelak sambil tertawa tanpa suara “Aku ingin menemui adikku”. “Ah~ begitu rupanya. Kalau begitu, semoga hari anda menyenangkan!” Ryn kembali membungkukkan setengah badannya, disusul dengan Lily yang melakukan hal yang sama. Semua itu juga dibalas dengan ramah oleh dokter maha dewi itu. Ryn dan Lily keluar dari kafe tersebut, lalu berbelok ke arah kiri menuju halte, semua itu bertepatan dengan datangnya sebuah mobil jaguar berwarna biru dongker dari arah berlawanan. Seo In-Hyuk. Pria yang biasa disapa Pangeran Bari oleh para penggemarnya ini berbalutkan jaket cordoray coklat tua yang membungkus kaos hitam polos didalamnya. Tak lupa dengan masker yang menutupi setengah ketampanan yang haqiqi dari wajahnya. Ia keluar dari mobil mewahnya tersebut dan mendorong pintu kaca di kafe. Matanya langsung membidik seorang dewi nan ayu di samping jendela. Dengan berat hati ia mendekat dan menarik satu kursi dihadapannya. Pun ia juga membuka maskernya, karena suasana di kafe nampak sepi—mungkinkah karena jam kerja?. Ada bahagia, ada ragu dan ketakutan yang tergambar dalam raut wajah cantik Dokter Seo In-Jae saat sudah berhadapan dengan sosok Louis Kim, Seo In-Hyuk. Alih-alih menyapa atau menatap wanita 38 tahun itu, In-Hyuk justru terus memandangi jendela, seolah wajah cantik sang kakak hanyalah benda mati yang menutupi jarak pandangnya. “Hyuk-ah” Panggil Dokter Seo lembut, penuh dengan keraguan saat menyadari sikap sang adik. “Cepat bicaralah! Aku tak ingin berlama-lama!” Sarkas In-Hyuk sangat dingin bersamaan dengan seorang pramusaji yang datang “Oh, americano dengan gula yang banyak” Pintanya. Pria berbalutkan celemek itu sempat mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa kopi americano ditaburi banyak gula? Bukankah itu akan mengubah cita rasa aslinya yang terkenal hitam dan pahit?. “Berikan banyak gula pada kopi americano-nya agar tak sepahit orang yang ada dihadapanku!” Lanjutnya terdengar ketus “Aku ingin tau seperti apa iblis memalsukan wujudnya” Sepertinya ia terbawa suasana yang gelap, kemudian dibalas dengan hembusan napas nan berat dari Dokter Seo. Pun pramusaji itu hanya bisa mengiyakan keinginan pelanggannya dan langsung berbalik. Dokter Seo In-Jae nan jelita itu mengangguk pasrah, memahami siatuasi yang selalu tak bersahabat ini setiap kali bertemu dengan adik kandungnya sendiri “Ok langsung saja pada intinya. Aku ingin meminta maaf atas segala kesalahanku yang lalu ataupun yang sekarang. Aku benar-benar mengucapkan semua ini tulus dari hatiku yang terdalam sebagai kakakmu”. In-Hyuk memicing licik, memutar bola matanya mengarah pada sang kakak “Kenapa meminta maaf itu begitu mudah bagimu? Sedangkan aku harus menanggung kesakitan seumur hidpku? Apa sebegitu bahagianya kau bisa menjadi kebanggaan abeoji sehingga kau selalu merendahkanku sepanjang hidupku?” Ia menekankan setiap kalimatnya sebagai pedang untuk menusuknya. “Hyuk-ah! Dengarkan aku!” Sahut Dokter Seo ingin meluruskan kesalahpahaman “Aku tau aku salah, maka dari itu aku minta maaf. Aku sudah berusaha berkali-kali ingin menemuimu, tapi semua tak mudah karena profesimu, apalagi kau tak menganggapku sebagai kakak”. Dokter Seo memejam sesaat untuk menetralisirkan ngilu di d**a “Semua kesombonganku pada waktu itu karena sikap kekanakanku. Semakin usiaku bertambah, pemikiranku semakin terbuka. Apa kau tak bisa memaafkanku sekali ini saja?” Perlahan air mata itu mengalir lambat melewati pipinya “Belakangan ini aku selalu mendukung karirmu melalui beberapa hal yang bisa kulakukan sebagai kakak yang tak pernah kau anggap. Tolong maafkan aku, Hyuk-ah! Aku tak berharap apapun selain balasan darimu atas permintaan maafku”. Hati In-Hyuk terasa berguncang hebat. Pria itu menghadap jendela sambil menyembunyikan matanya yang mulai memerah. Selanjutnya ia berusaha menatap sang kakak “Sebenarnya aku sangat ingin memaafkanmu. Tapi aku sudah cukup tersiksa seumur hidupku! Kau tak pernah merasakan betapa sengsaranya aku hidup di tengah samudera seorang diri. Kau tak pernah tau betapa susahnya aku menghadapi gulungan ombak yang terus mengguncang tubuhku?!” In-Hyuk agak mengeraskan suaranya dikalimat akhir bersama cairan bening yang mengalir cepat dari matanya. “Ketika eomma masih ada, aku masih bisa bertahan meski terkadang aku terluka. Tapi setelah eomma pergi, aku seakan hidup sebatang kara. Aku berusaha keras melakukan semua yang kubisa demi membuat pola pikir abeoji tentangku berubah. T-tapi---” In-Hyuk menggeleng sejenak saat merasa tangannya mulai gatal. Ia berusaha keras menahannya “Tapi kenapa abeoji sama sekali tak pernah berubah? Lalu, untuk siapa kesuksesanku sebagai penyanyi?!!!” In-Hyuk tak lagi bisa menahan tangisnya yang kini pecah “Aku hanya ingin menjadi anak yang berbakti”. Pun Dokter Seo juga membiarkan air matanya mengalir deras “Maka dari itu maafkan aku. Aku akan membantumu, aku akan mendukungmu. Tolonglah gunakan matamu untuk melihat masa depan”. In-Hyuk mengusap air matanya dan meneguk segelas americano ‘manis’ yang di pesannya. Ia menyeringai ngeri setelah merasakan rasa aneh yang tercipta dari kopi americano itu. In-Hyuk bergegas berdiri “Maaf. Aku butuh waktu untuk memaafkanmu. Kau bisa memahaminya, kan?” Dengan perasaan bimbang tak mengenal arah, In-Hyuk meninggalkan kakak perempuannya yang memecahkan tangis seorang diri. Tergurat kecewa dan pedih lantaran niat baiknya belum bisa disambut baik oleh sang adik. Di dalam mobil, In-Hyuk menggaruk pergelangan tangannya sembari menangis tak karuan seperti orang yang benar-benar kehilangan arah. Meluapkan semua yang sedang dirasakannya. Ia bingung, sedih bercampur emosi. Disisi lain, ia masih memiliki hati untuk memaafkan kakaknya, tapi noradrenalin di otak merubah emosi buruk menjadi kenangan. Itu sebanya orang lebih mengingat kenangan buruk lebih lama daripada kenangan baik, yang sama artinya dengan menolak lupa. In-Hyuk terus menyiksa diri, hingga akhirnya pergelangan tangannya berdarah. Kemudian berteriak memukul-mukul roda kemudi dengan sangat kencang, membuat kenangan menyakitkan itu terekam ulang. Wajahnya memerah, air mata berjatuhan. Saat In-Hyuk duduk dibangku sekolah dasar. “Ya! Seo In-Hyuk! Apa kau sebodoh itu? Kenapa kau tak bisa mendapatkan peringkat satu”. “Ini tidak ada urusannya dengan noona”. “Kenapa tidak ada? Kau ini memalukan keluarga profesor hebat seperti abeoji. Apa kau tak bosan ketika stick golf abeoji terus melayang ke badanmu!”. In-Hyuk kecil tak henti-hentinya terkena baku hantam stick golf milik ayahnya lantaran nilai yang tak sempurna. In-Hyuk selalu bekerja keras meski tak pernah meraih peringkat satu, ia sudah bisa berhasil berada di lima besar, hanya sang ibu yang mau menghargai kerja kerasnya. Saat In-Hyuk SMP “Penyanyi? Wah?! Kau seperti tak punya tujuan hidup. Bagaimana harkat dan martabat keluarga ini? Ayahmu seorang profesor, mendiang ibumu seorang ahli meteorologi, kenapa kau ingin mendustai keturunan yang sudah berkembang dengan sangat baik? Ah benar, kau hanya akan terus menggaruk tanganmu itu”. Ketika In-Hyuk berhasil debut sebagai penyanyi. “Entah aku bisa mengucapkan selamat atau tidak, yang jelas abeoji tidak pernah berubah pikiran. Ia tak peduli dengan popularitas dan hartamu. Bagaimana bisa seorang laki-laki membanggakan diri di atas panggung dengan otak bodoh itu? It’s not a gantleman. Lantas apa yang ingin kau banggakan dengan bernyanyi?”. Seo In-Jae selalu memakinya, tapi pria yang kini tumbuh sebagai orang sukses itu tak pernah sekalipun membalas kalimat pedas atau bahkan memberikan balasan lain—berupa serangan fisik misalnya. In-Hyuk selalu menuruti kalimat ibunya agar tak gegabah. “Aaaaaaa!!!” Teriaknya frustrasi. Napas itu tersengal-sengal. Jantungnya berdetak diatas rata-rata. In-Hyuk hanya manusia biasa yang kesabarannya bisa berakhir kapan saja jika yang diusahakannya sia-sia. Selama ini, ia terus menahan diri agar terus tenang, menjalani karirnya sebagai seorang idola dengan harta yang berlimang, popularitas yang tak bisa dipungkiri lagi, hingga menjadi panutan banyak penyanyi idola pendatang baru, tapi semakin lama ia berkarir, kehampaan itu nyata. Terkadang ia bertanya pada dirinya sendiri, kapan semua ini akan berakhir? Setidaknya ayah mau menghargai dan menganggapnya sebagai anak kandung dan tidak membandingkan dengan Dokter Seo In-Jae. Terkadang aku ingin menangis dengan keras. Aku ingin seseorang mendengar aku menangis dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Aku ingin seseorang menepuk punggungku dan memberitahuku bahwa itu bukan salahku—Seo In-Hyuk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD