-11. Malam itu (그 밤)-

3451 Words
Busan memang tak mendunia seperti Seoul, tapi pilihan obyek wisata ataupun tempat belanja di kota ini tak kalah dari Seoul—hitung-hitung, Ryn sudah biasa keliling Seoul. Meskipun harus diakui dari sisi kuantitas jumlah obyek wisata dan pusat perbelanjaan di Seoul pasti jauh lebih banyak dari pada Busan. Sama-sama menyandang predikat kota metropolitan, tapi suasana di Busan terasa lebih santai. Ryn dan Lily mengunjungi Gwangbokro fashion street yang bisa disebut juga sebagai Myeongdong-nya Busan. Kalian pasti sudah sering mendengar Myeondong, bukan? Myeongdong bisa juga dibilang sebagai Malioboro jika di Indonesia. Terletak di Gwangbok-dong, jalan ini membentang mulai dari eskalator menuju Yongdusan Park sampai ke Gukje Market. Sekitar seratus toko berjajar di area ini dan menjual berbagi macam barang, mulai dari pakaian, kamera, elektronik, kerajinan rakyat dan barang-barang mewah. Kebanyakan toko-toko di daerah ini beroperasi pukul 10.00-21.00 waktu Korea Selatan. Setiap akhir pekan diadakan festival budaya di sepanjang jalan ini, sehingga tidak ada mobil yang melewatinya. Tempat ini menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi saat berada di Busan. “Oh? Aku mau itu!” Lily menarik satu pergelangan tangan Ryn. Gadis mungil itu terperanjat seolah tertiup angin yang menerbangkan tubuhnya, membawanya ke sebuah toko tas sebuah brand lokal Korea, Marhen J. “Ih yang ini gemes!” Seru Ryn saat menemukan tas slempang mini berwarna pastel, warnanya nampak sangat lembut “Gue ambil ini aja”. Lily masih asyik mengitari setiap lorongnya, sementara ditangannya sudah menenteng beberapa tas. Ryn hanya bisa menggeleng heran melihat sahabatnya yang bisa dibilang super rempong. Lily—gadis berambut sebahu itu membawa tas-tas tersebut ke depan cermin dan mencocokkan dengan style-nya. “Gimana-gimana?” Tanya Lily sambil fokus ke depan cermin yang juga memantulkan sosok Ryn disana. “Hmm.. Norak deh yang itu” Tukas Ryn sambil menimbang banyak hal “Coba yang lain!”. “Yang ini?” Tanyanya lagi membawa tas berwarna oranye yang dihadiahi gelengan kepala dari Ryn. Terus seperti itu, mengganti tas berkali-kali. Ryn menarik satu napas panjang “Kenapa pilihan warna lo selalu heboh, sih?”. “Emangnya kenapa? Gue pengen mentereng, biar berkilau dilihat orang!” Ceplos Lily tak peduli. Dia memang nyentrik. Ryn bersandar di samping etalase sambil mengangguk mengiyakannya, lalu menutup mulutnya lantaran menguap. Baru mengunjungi satu toko saja sudah membuatnya bosan. Selanjutnya, Ryn mengikat lengan Lily dengan tangannya agar ia tak berlarian menuju toko sembarangan. Takut membuang waktu dan membeli barang yang tidak penting. Tujuan selanjutnya adalah Jalgachi Market. Tempat tersebut merupakan pasar ikan terbesar di Korea Selatan yang penjualnya di d******i oleh wanita paruh baya atau biasa disebut Jalgachi Ahjumma[1]. Selain berbelanja ikan segar, di depan pasar terdapat kedai-kedai makanan yang menjual seafood yang masih mentah atau sashimi. Alih-alih makan diluar, kedua gadis indo itu memilih membeli bahan makanannya saja dan memasaknya di rumah. Yah, semenjak Ryn tinggal di global house, ia selalu mengambil alih kegiatan masak-memasak jika sempat, tapi sejauh ini ia melakukannya dengan baik. Itu dilakukannya demi menjaga kehalalan makanan yang di konsumsinya. Sebelumnya Hamdan adalah master chef Dongki Global House, dengan tujuan yang sama. Meskipun hidup di negeri minoritas, itu bukan halangan untuk mencari makanan halal, contohnya makanan laut seperti ini. ^^^ “Surprise!!!” Seru Ryn dan Lily bersamaan mengangkat tas belanjaannya saat sampai di Dongki global house. Song Wu dan Jackson yang sedang asyik bermain video game langsung melongo, menghentikan aktifitasnya. “Wah?! Ulang tahun siapa hari ini?” Tanya Song Wu berbinar sambil terus memandangi pergerakan dua gadis yang beranjak menuju dapur meletakkan belanjaannya. “Sepertinya kita akan makan malam enak!” Tambah Jackson girang membayangkan makan enak. Lily mengeluarkan makanan laut dari plastik, lalu mencucinya “Hari ini Ryn baru saja mendapatkan gaji dari youtube” Song Wu dan Jackson bersorak gembira. Tak sampai lima detik, Song Wu langsung melunturkan tawanya “Ya! Jackson-ah, Kau juga youtuber tapi kenapa tak pernah mengadakan pesta seperti ini?”. “Aku pernah mentraktirmu minum soju, membawakan seluruh penghuni global house kopi setelah aku pulang bekerja. Kau tak ingat?” Sergah Jackson tak terima “Kau juga tiap bulan mendapatkan gaji dari hasil iklan pakaian mode, kenapa tak mentraktirku? Jjaeb-jjaeb[2] Ong!”. “Ya! Apa maksudmu? Aku juga mentrakti---”. Ryn menggeleng heran mendengarkan perdebatan mereka yang tak ada habisnya, menghentikan aktifitas memotong ikan tanpa menyingkirkan pisau dari tangan, sontak itu membuat Song Wu dan Jackson ngeri dan menurut untuk diam “Sudah.. sudah. Tidak usah membahas kebaikan apa yang pernah kalian lakukan, ayo sekarang kita bagi tugas”. Karena sore ini tak banyak orang yang tinggal di global house, jadi pekerjaan terasa lebih banyak. Hanya tersisa empat orang. Maka dari itu, Jackson dan Lily bertugas untuk membereskan tempat makan, bukan di ruang makan, melainkan di rooftop sambil menikmati angin malam yang dingin. Keduanya membersihkan tempat hingga menghiasnya dengan lampu-lampu cantik. Di dapur ada Ryn dan Song Wu. Awalnya Song Wu sedikit protes karena tak mahir dalam memasak, tapi karena ia tersanjung dengan kebaikan gadis mungil itu hari ini, ia memilih untuk menenggelamkan egonya. Hitung-hitung ia bisa belajar memasak. “Seladanya hanya kucuci biasa, kan?” Tanya Song Wu takut ia membuat kesalahan. “Ah, kau celupkan saja ke dalam baskom yang airnya sudah diteteskan antiseptik oleh Lily tadi”. Jawab Aya sambil mengaduk-aduk saus asam manis diatas kompor. Song Wu tampak memeriksa setiap sudut dapur mencari baskom yang dimaksud. Semakin lama, anak ini terlihat seperti orang linglung, pun Ryn tertawa saat menyadarinya. Hahah.. “Kau ini! Itu baskomnya ada di depanmu, kau tak melihatnya?”. “Ah! Benar. Kenapa aku tak melihatnya?!” Ceplosnya menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum innocent tak berdosa. Ryn menggeleng sambil tertawa “Sekarang aku tau kenapa kau dijuluki Ong-cheongi[3]”. Benar. Aku juga tidak tau kalau aku akan terlihat sebodoh itu”. Pungkas Song Wu merasa aneh pada dirinya sendiri, sembari masih membersihkan sayuran “Aku juga tidak tau kenapa aku sering tidak fokus sehingga tidak bisa menangkap pembicaraan dengan baik, orang-orang harus berungkali jika bertanya padaku. Maaf, ya”. Ryn menuangkan saus asam manis ke mangkuk “Kenapa minta maaf? Bagiku itu lucu, kok”. “Benarkah?” Mata Song Wu berbinar. Ryn mengangguk sembari mengukir senyuman manis “Ngomong-ngomong, kemana perginya Hyuk Hyung?” Itu adalah sebuah pertanyaan yang ingin ditanyanya sejak tadi. Song Wu menaruh sayuran ke wadah, lalu bola matanya berputar sejenak, membidik pintu kamar In-Hyuk diatas yang tertutup rapat “Entahlah. Sepertinya dia masih banyak pekerjaan meski dalam keadaan hiatus. Tempo hari saja, ia pergi ke Seoul untuk menemui manager-nya”. “Ah~ Mungkin ada perjanjian dibalik hiatusnya” Ryn menata daging-daging ikan mentah (sashimi) di piring “Maksudku, untuk mendapatkan keringanan beristirahat sejenak dari dunia hiburan tidak semudah yang kita kira, bukan? Pasti ada perjanjian untuk mendapatkan itu. Semacam golden ticket”. “Benar” Song Wu menangguk paham. Kemudian ia berbalik mengambilkan piring-piring lain untuk menyajikan makanan dari lemari. “Song Wu-ssi. Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan?”. “Katakan saja!”. Ryn meletakkan beberapa masakannya ke meja makan yang nantinya akan dibawa ke rooftop. Ia lantas mencuci tangannya “Aku mencurigai sesuatu. Kau tau luka di pergelangan tangan kanannya?”. “Tangan In-Hyuk?” Selidik Song Wu menghampiri Ryn, bergantian mencuci tangan. Pertanyaan itu disambut anggukan kepala gadis berhijab itu “Aku tau ada luka sejak lama di tangannya. Memangya kenapa?”. “Aku yakin itu sejenis gangguan atau semacam penyakit kulit yang menimpa seseorang jika depresi” Jelas Ryn. Song Wu melebarkan matanya semakin tertarik dengan topik ini “Maksudmu dia depresi?”. Ryn buru-buru menggeleng “Bukan-bukan. Itu hanya dugaanku saja. Aku tau ini bukan hakku untuk mengetahui kehidupan pribadinya, tapi aku sangat khawatir bila hal buruk terjadi”. Song Wu menopang dagunya dengan tangan sembari mengais hipotesa “Mana mungkin? Tapi dia juga tak pernah berbicara apapun mengenai hal sulitnya. Yang ku tau hidupanya sangat menyenangkan. Jika sudah memiliki banyak uang, untuk apa depresi?” Song Wu mengendus kasar “Tak seperti aku yang harus bekerja setiap hari dengan melakukan pemotretan kesana kemari. Aku bukan model bintang lima”. “Uang tidak juga membahagiakan seseorang” Sargah Ryn menjelaskan “Kau tau? Banyak orang kaya yang terserang penyakit. Banyak orang kaya yang terlibat kasus. Intinya uang bukan inti dari kebahagiaan”. “Benar juga katamu. Tapi, aku hanya heran apa yang perlu dijadikan bahan depresi seorang penyanyi dan aktor papan atas, Louis Kim?” Celoteh Song Wu bingung mencari jalan keluar. “Entahlah ini hanya perasaanku saja atau bagaimana. Setelah dia tanpa sadar menjelaskan luka itu tempo hari, aku jadi terus berpikir panjang. Jaman sekarang banyak sekali artis papan atas yang mengalami depresi dan mengakhiri hidupnya. Aku hanya takut itu terjadi padanya” Ungkapnya sambil membayangkan akhir terburuk dari situasi ini. “Jangan khawatir! In-Hyuk bukanlah artis seperti itu. Dia pekerja keras dan perfeksionis, walaupun terkadang dia sangat konyol. Kurasa depresi jauh dari sosoknya. Hidupnya bahkan sangat menyenangkan” Song Wu tertawa, mengambil satu mangkuk paling besar “Ayo kita ke atas! Yang lain pasti sudah menunggu”. “Benar. Tapi kita tak bisa melihat situasi mental seseorang hanya dengan kedua mata. Orang bisa berpura-pura bahagia untuk menutup lukanya, berusaha agar luka itu memudar” Gumam Ryn dengan suara seraknya. ^^^ Seluruh pasang mata begitu berbinar bak bintang sirus saat melihat makanan yang begitu banyak tersaji diatas meja. Ditemani kelap-kelip bintang di angkasa, langit hitam dan warna-warni dari lampu-lampu yang dipasang disekitar rooftop, serta pohon bunga sakura yang bermekaran cantik menghiasi malam semi ini. “Aku tidak tau harus makan yang mana dulu” Bola mata Jacskon terus mengikuti arah piring-piring “Aromanya juga tak biasa. Aku belum pernah mencium aroma makanan setajam ini”. Song Wu memukul satu bahu Jackson yang dihadiahi teriakannya “Suruh siapa kau selalu sibuk di luar sana? Belakangan ini Ryn adalah koki kita”. Jackson membulatkan matanya tak percaya. Dalam pikirannya sibuk merangkai kata, pada akhirnya ia hanya membisu dengan mulut yang terbuka. Ryn mengangkat kedua sudut bibirnya manis “Biar kuperkenalkan dulu makanannya” Ia menunjuk satu persatu masakannya “Seperti yang kalian tau, ini sashimi dan saus oriental. Kemudian ini adalah kerang hijau saus padang”. “A-apa katamu?”. “Saus padang?” Jackson dan Song Wu kompak melongo. Ryn menahan tawa, itu lantas membuat pipinya menggembung gemas “Selama ini aku selalu memasak masakan Korea, tapi kali ini aku ingin memperkenalkan cita rasa masakan negriku juga. Kalian harus coba”. “Ok. Akan ku masak masakan Kanada juga!” Seru Jackson semangat. Song Wu memundurkan wajahnya sejenak “Apa aku tidak salah dengar? Membuat telur saja gosong, bagaimana dengan masakan yang lain?”. “Ong Song Wu!” Teriak Jackson geram. “Cukup tuan-tuan! Ayo kita makan!” Sarkas Lily yang sudah menahan rahangnya yang mengeras. Teriakan itu sekaligus membuat Jackson dan Song Wu terdiam dan langsung mengambil makannya masing-masing. Tak berselang lama, Hamdan bergabung bersama. Pria pemilik brewok tipis itu membuat tos pada Jackson dan Song Wu bergantian, dilanjutkan dengan melambaikan tangan pada dua dara di seberangnya. “Ini apa?” Tanya Hamdan menunjuk sebuah menu berwarna merah bata. Ryn menghentikan aktifitas mengunyah sejenak “Itu cumi saus tomat”. “Oh aku tau rasa ini!” Seru Song Wu heboh, mulutnya bahkan masih dipenuhi makanan “Ini rasa lada hitam!”. “Bingo!” Balas Ryn memberikan satu ibu jari padanya. “Jelas saja kau tau. Bukankah kau ikut memasak dengan Ryn?” Jackson menimpali. “Aku hanya membantunya memotong dan mencuci bahan saja. Aku juga tidak tau apa yang dibuatnya”. Sebelum kedua pria tampan ini kembali beradu mulut, Lily sudah memberi kode dengan menepuk-nepuk meja. Itu lantas membuat keduanya terdiam dan melanjutkan makan dengan tenang. Jackson bahkan tak tahan bila hanya makan dua porsi. Kelima orang tersebut saling berbagi cerita dan tertawa bersama, terutama celotehan Song Wu—si bodoh yang tampan itu selalu mengocok perut. Terkadang ia menunjukkan ekspresi anehnya yang jauh dari ketampanan seorang model berdarah campuran sepertinya. “Oh, Hyuk-ah!” Teriak Jackson melambaikan tangan pada In-Hyuk yang langsung mendatangi rooftop lantaran suara bising yang mereka ciptakan. Kedatangan pria berwajah tegas dengan mata tajamnya itu langsung disambut dengan tatapan serius Ryn. Dari air wajahnya terlihat gurat kekhawatiran dan rasa peduli, apalagi air muka In-Hyuk terlihat kusut dan tak bersemangat. “Ppali[4]! Sebelum Jack-rakus ini menghabiskannya!” Tambah Song Wu melambaikan tangan. Detik-detik itu berlalu sekonyong hening. Kesiur angin itu menerpa poni rambut In-Hyuk bersama mata Ryn yang terus menatapnya tajam. “Ayo, siapa takut!” Sorak In-Hyuk berlarik kecil menghampiri meja lesehan itu dengan raut wajah yang berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sangat bersemangat. Senyumnya nampak sangat manis. Pun Ryn sempat mengerutkan keningnya, tak percaya akan keadaan. In-Hyuk mengambil berbagai lauk di hadapannya sambil tertawa ceria dan banyak bicara pada teman-temannya. Mata Ryn juga tak bosannya untuk terus mengawasi gerak-gerik pria bermarga Seo itu. Ryn menghela napas perlahan “Benar. Mungkin gue aja yang lebay. Dia keliatan baik-baik aja”. “Woy!” Lily menyenggol bahu Ryn yang membuatnya tersentak “Ngomong apa lo?”. “E-nggak” Elak Ryn kembali menyantap makanannya. “Masakanmu enak sekali, Aireen” Seru Hamdan bersemangat “Pasti nanti suamimu akan selalu bahagia” Tawanya. “Betul. Aku sangat bahagia” Celoteh Song-Wu sambil tersenyum manis menatap gadis bertudung islami, pemilik bulu mata lentik yang langsung disambut tawa dari Ryn sendiri, Jackson dan Lily. “Kau pikir kau suaminya?” Tambah Jackson di sela tawa. Bug! Bantalan yang digunakan untuk duduk itu terlempar dan mendarat tepat di wajah manis Song-Wu yang dihadiahi rengekannya. “Tidak usah banyak bicara! Makan!” Ketus In-Hyuk tiba-tiba kesal. Pun Ryn sempat terperangah dengan sikap itu. “Wah! Makan-makan seperti ini tak lengkap tanpa soju” Jackson bangkit dari duduknya “Aku akan mengambil stok soju di kulkas. Siapa saja yang mau?” Pun pria berdarah Kanada itu sempat membelalak kala hanya ada Song Wu yang mengangkat tangan “Ada apa ini? Hamdan?”. “Aku sudah pernah menjelaskannya padamu. Aku tak bisa minum” Jawabnya santai. “Ah~ benar!” Jackson baru ingat “Hyuk? Kau juga tidak?”. “Aku tidak berselera”. “Kalian berdua, para gadis?” Tanya Jackson. “Kami juga sama seperti Hamdan” Jelas Ryn. Jackson menggaruk samping kepalanya yang tak gatal “Jadi, kalian bertiga bukan hanya tak ingin minum, melainkan memang dilarang oleh ajaran kalian?”. “Jackson-ah” Panggil In-Hyuk sebelum ada yang menjawab “Ambil saja soju untukmu dan Song Wu. Mereka bertiga beragama islam yang punya aturan dalam makan dan minum. Mereka hanya bisa makan dan minum yang halal” Jelasnya, sontak membuat Ryn terperangah. “Halal?”. “Halal adalah segala sesuatu yang diperbolehkan oleh agama islam untuk dikonsumsi” In-Hyuk memperjelas dengan sangat baik. “Mashaa Allah” Aya melebarkan mata bersama pori-pori kulitnya yang terbuka. Ia menutup mulutnya dengan tangan setelah mendengar penuturan singkat In-Hyuk namun jelas dan bisa dipahami sambil sesekali melirik Hamdan dan Lily. “Wah!!” Jackson juga terkejut “Kau tau hal itu?”. Alih-alih menjawab, Hamdan lebih dulu menyambung “Tentu saja. Sajangnim banyak bertanya padaku tentang islam setiap hari. Hmm.. buku-bukuku tentang islam juga dipinjamnya”. Takut disalah artikan oleh gadis mungil berpipi gemas di dekatnya, In-Hyuk jadi salah tingkah, menggaruk berakang kepalanya yang tak gatal “O-oh iya, benar” Selanjutnya ia menemukan mata Ryn yang sedang memperhatikannya. “Tentu saja karena penasaran. Benar, bukan? Agaknya banyak hal yang sangat unik dari islam” Celotehnya berusaha meyakinkan semua orang. Setelah itu, In-Hyuk mengutuk habis-habisan dirinya lantaran terlalu terpancing dengan tatapan Ryn “Tidak bisakah aku bersikap biasa saja? Bukankah alasanku mencari tau tentang islam, memang atas dasar rasa penasaran?”. Waktu berlalu begitu cepat, hari semakin gelap dan malam semakin dingin. Seluruh penghuni Dongki global house kembali bergotong royong untuk mengakhiri pesta. Hamdan dan Lily mencuci piring di bawah. Ryn, In-Hyuk dan Song-Wu membawa piring ke dapur, sisanya membereskan rooftop. “Wah?! Terima kasih banyak atas makan malam menyenangkan ini, Ryn-ah” Celoteh Song-Wu dengan gaya bercandanya yang menyenangkan sambil membawa piring menuruni tangga. Ryn mengulas senyum gemas. Pipinya menggembung “Sama-sama. Tadi itu bukan apa-apa. Aku juga berterima kasih padamu karena sudah mau berteman baik denganku”. Kalimat itu disambut dengan tawa Song-Wu “Tentu saja. Kita sudah akrab, bukan?”. Hmm..hmm.. Suara dehaman nyaring itu memecah tawa Ryn dan Song-Wu. Tanpa mereka sadari ada sosok yang sedari tadi menyimak dengan baik obrolan seru keduanya. Itu lantas membuat keduanya saling bersitatap saat bahu lebar In-Hyuk sengaja membelah barisan diantara keduanya dengan wajah yang dingin. “Akrab apanya?” Sergah In-Hyuk kesal nyaris tanpa suara. Ryn, Song-Wu dan In-Hyuk meletakkan piring di dekat wastafel pencuci piring bersamaan. “Hyuk-ah, bagaimana kabar wanita idamanmu yang kau ceritakan tempo hari?” Goda Jackson tiba-tiba datang untuk mengambil air di dapur. Itu lantas membuat Ryn penasaran. In-Hyuk langsung memejam sejenak untuk menetralkan emosinya sekaligus menginjak sebelah kaki Jackson yang disambut dengan teriakan pria bule tersebut.“Dasar! Kau benar-benar ember!”. Pun Jacskon tersenyum innocent sambil meringis kesakitan. Ia memilih melambaikan tangan pada Ryn saat hendak kembali ke kamar yang langsung di hadiahi senyuman manis nan meneduhkan dari Ryn sembari menghentikan aktifitas merapikan piring yang sudah dicuci. “Aireen!” Teriakan Song Wu dari pintu kamarnya “Terima kasih untuk semuanya! Selamat malam, have a nice dream!”. “Iya, sampai bertemu besok, oppa[5]!”. Sorak Ryn melambaikan tangan padanya dengan gembira. In-Hyuk menghentikan aktifitas merapikan piring “O-oppa?!” Pria 34 tahun itu nampak kesal, pun ia sendiri tak mengerti apa yang membuatnya kesal. Mengapa hanya dengan sebuah kalimat-kalimat sederhana itu membuat hatinya bergejolak. Sebab, panggilan oppa seperti melambangkan sebuah keakraban tersendiri dalam sebuah hubungan. “Kenapa? Aku sudah hampir satu bulan disini dan sudah memutuskan untuk berteman baik dengan seluruh penghuni disini” Jelas Ryn tak memperhatikan lawan bicaranya. Ia fokus membereskan piring-piring ke dalam laci. Berteman baik? Kenapa aku selalu canggung dan tak bisa berkomunikasi dengan baik jika aku benar-benar sudah berteman dengannya? Kenapa aku tak pernah bersikap santai pada Ryn seperti Jackson, apalagi Song Wu?—Tanya In-Hyuk pada hati kecilnya. Ryn menepuk kedua telapak tangannya tepat dihadapan mata In-Hyuk yang membeku tak berkedip. Sontak itu mengejutkannya “Ada apa? Apa yang kau pikirkan? Jangan terlalu banyak melamun!”. In-Hyuk mengerjapkan matanya berkali-kali “T-tidak. Aku sedang tidak memikirkan apa-apa”. Ryn mengagguk dan tak mau mengulur waktu, ia harus segera beristirahat lantaran kakinya meronta-ronta ingin diberikan koyo. Maklum saja seharian ini banyak berjalan jauh menemani Lily belanja. “Dan lagi---”. Ryn mengerem langkah saat sudah menaiki beberapa anak tangga, kemudian ia menoleh ke arah sang empu menanti kelanjutan kalimatnya. “Aku membaca-baca buku tentang islam, mencari tau tentang islam bukan karenamu, tapi karena aku penasaran” Lanjutnya memperjelas perlahan supaya Ryn tak salah paham. Sebab normalnya, Ryn akan menggoda In-Hyuk dengan kalimat candaan berbisa yang tak hanya sekali membuat pria tampan nan manis itu mati gaya. Sebenarnya In-Hyuk memulai rasa penasarannya saat awal mula pertemuannya dengan Ryn. Ia juga sudah tau jika Hamdan menganut ajaran yang sama dengan gadis berhijab itu, tapi sekilas dia nampak biasa, tidak seperti Ryn yang dari penampilannya saja sudah berbeda. Dalam detik-detik yang begitu sunyi, Ryn termenung. Sementara In-Hyuk terpaku ditempat menantikan respon dari Ryn. Sampai pada akhirnya gadis pemilik bulu mata indah itu memutar bola matanya menatap pria yang membeku di seberang. Alih-alih membuka mulut dan membalas dengan candaan menyebalkannya, lantas hanya seulas senyum yang tak dapat di terjemahkan. Manis dan sangat manis. Pipi putih Ryn bersemu merah bak buah persik. Baginya ia tak perlu menimpali kalimat In-Hyuk, karena urusan agama adalah urusan masing-masing individu. Ryn tak mau banyak ikut campur dan tak ingin memaksa. Untukmu agamaku dan untukmu agamamu. Jika ingin mempelajari apa yang diyakininya, silakan. Jika ingin memperdalam atau bahkan acuh dengan keyakinannya, silakan. Semua itu pilihan. Ada sesuatu yang menghantam ulu hati In-Hyuk saat melihat senyuman indah bak rembulan yang tergambar di wajah Ryn. Ini baru kali pertamanya ia menyaksikan senyum menenangkan nan menghangatkan darinya. Sebab selama ini Ryn selalu menunjukkan sikap semaunya. Perlahan tangan kanan In-Hyuk menyentuh sisi kiri dadanya, merasakan degup jantungnya yang tak beraturan. “Tadi itu senyuman apa?” Katanya bergetar. [1] Ahjumma : Emak-emak (Bibi). [2] Jjaeb-jjaeb : Dari kata Jjaeb yang artinya pelit. [3] Cheongi : Julukan ‘Bodoh.’ [4] Ppali : Cepat [5] Oppa : Panggilan adik perempuan pada kakak laki-laki
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD