bc

Misteri Janda Miskin Pemikat CEO

book_age18+
48
FOLLOW
1K
READ
contract marriage
HE
confident
boss
blue collar
drama
bxg
city
like
intro-logo
Blurb

Jangan mimpi aku akan dapat melabuhkan hatiku padamu"_ Kaivan" Hanya Yang Maha Kuasa dapat membolak-balik hati insan manusia, kuharap ada secercah celah untukku dihatimu"_RaniaRania seorang wanita berusia kisaran 21 tahun, memiliki paras cantik jelita dengan hijabnya, . memiliki badan yang proporsional. Tak pelak lagi dia menjadi gadis incaran banyak lelaki didesanya.Rania sudah menikah sebanyak tiga kali, tapi nasib malang selalu menimpanya.Ketiga suaminya meninggal dunia sebelum mereka sempat melakukan malam pertama, sehingga Rania walaupun menjadi janda tetap seorang gadis perawan.Hal itu membuat Rania menjadi bahan pergunjingan didesanya, sehingga warga setempat sepakat mengusir gadis malang itu keluar dari desa Kebonsari bersama ibunya.Akhirnya Rania memutuskan merantau ke kota untuk mencari pekerjaan dan takdir mempertemukan dirinya dengan seorang CEO kaya raya bernama Kaivan Suryadarma.Ibunda Kaivan memaksa putranya menikahi Rania.Akhirnya Kaivan terpaksa memenuhi desakan ibunya menikah dengan Rania, karena wanita yang telah melahirkannya itu sedang sakit.Akankah Rania mendapatkan kebahagiaan setelah berumah tangga dengan Kaivan sang CEO tampan

chap-preview
Free preview
01. Kehilangan untuk ketiga kalinya
Sore itu di lokasi pemakaman di suatu desa, sejumlah warga baru saja pulang dari situ. Hujan rintik-rintik membasahi tubuh ringkih Rania yang sedang duduk disisi makam, dia baru saja menaburi bunga diatas pusara yang baru saja ditutup. " Mas Elang, kenapa kamu secepat ini ninggalin aku" desisnya lirih penuh kepedihan lalu isak tangis keluar dari bibir yang tampak pucat sembari melihat pilu pada batu nisan. Suaminya baru saja dimakamkan, lelaki itu meninggal karena kecelakaan lalulintas saat mengendarai sepeda motor ada truk yang menabraknya. Disamping Rania duduk wanita paruh baya yang juga terlihat bersedih. Rombongan warga yang lain, sebagian besarnya sudah beranjak pergi dari situ, tapi masih ada sekitar dua atau tiga orang yang tetap tinggal. Mereka saling berbisik-bisik pelan, takut ketahuan Rania dan ibunya. " Eh, si Rania itu sepertinya wanita pembawa sial, sudah tiga kali menikah dan suaminya meninggal semua, aku heran padanya" ujar wanita yang memakai baju rok coklat tua, bernama Mirna. Paras wanita itu tampak sinis dan geram memandangi Rania. " Iya Mir, keponakan aku yang menjadi korban kesialan perempuan itu" balas Sumi dengan raut muka penuh emosi, yang berdiri di sebelah Mirna. " Sudahlah, mendingan kita pulang sekarang hari sudah sore dan hujan semakin deras" desak Sumi pada tetangganya. Sementara itu beralih pada Rania dan ibunya. " Rania, ayo nduk kita pulang, nanti badan kamu kebasahan, ibu juga sudah mulai kedinginan" ajak Bu Retno pada putrinya, karena dia melihat hujan turun semakin deras dan awan mendung menggelayut di angkasa. Rania akhirnya dengan berat hati berdiri dan mengikuti kemauan sang ibu, perempuan malang yang baru saja kehilangan suami untuk yang ketiga kalinya itu berjalan dengan langkah gontai. Mereka berdua meninggalkan area pemakaman. Sesampainya di rumah, Rania segera bergegas ke dapur hendak membuat pisang goreng dan tahu isi untuk dibawa ke rumah ibunya Elang, karena nanti malam diadakan acara tahlilan hari pertama. " Oh ternyata tepung terigunya sudah habis, aku ke warung di seberang jalan dulu sebentar mau belanja bahan yang kurang" gumamnya Rania berjalan ke kamar dan mengambil dompet kecil yang warnanya sudah kusam lalu membukanya. "Uangku hanya tinggal dua ratus ribu lagi, ini adalah upah jadi buruh cuci setrika minggu kemarin" Rania melamun sejurus lamanya, wanita cantik itu menempatkan tubuhnya diatas ranjang kecil yang sudah tak layak pakai. " Ya Allah, cobaan tak hentinya padaku, baru saja kebahagiaan akan kurasa karena pinangan mas Elang, Ijab kabul pun sudah rampung dengan lancar, hanya tinggal berlanjut dengan acara pesta pernikahan yang sudah kita rencanakan" " Tapi takdir berkata lain dan sekarang kita tak dapat lagi bersatu didunia ini untuk selamanya..,semoga engkau sudah tenang di alam sana" isaknya pilu. Bulir air mata kembali menggenangi wajah cantiknya. " Andai saja tadi kau tidak memaksakan pergi mungkin saja tragedi itu takkan pernah terjadi, dan malam ini adalah waktunya bagi kita untuk memadu kasih" gumam Rania lirih dan tatap getir. Dia kembali membayangkan peristiwa yang mengakibatkan terenggutnya nyawa pria yang baru saja menikahinya beberapa jam yang lalu. " Aku tidak boleh terlalu berlarut-larut dalam kesedihan, sebaiknya segera membuat camilan untuk kubawa ke acara tahlilan nanti" Rania bangkit berdiri lantas berganti pakaian dan memakai kerudungnya, sebelum pergi dia melihat ibunya dikamar. " Bu..Rania mau ke warung dulu mau beli bahan buat bikin gorengan" " Iya nduk..yang sabar ya, ini semua sudah suratan takdir" ucap Retno lirih sambil terbaring letih di pembaringannya, kakinya terasa sakit mungkin akibat tekanan darahnya naik lagi. " Rania sudah ikhlaskan semuanya kok Bu, hanya saja terkadang hati ingin bertanya kepada yang Maha Kuasa, apa salahku hingga harus berulang kali menerima kejadian seperti ini" " Ini sudah ke-tiga kalinya Nia ditinggalkan selamanya oleh suami pada waktu baru saja menikah" " Bahkan..., aku belum pernah sempat merasakan apa yang dinamakan 'malam pertama' hingga kondisiku sampai saat ini masih perawan" Rania mengatakan semua itu dengan hati pilu sembari mengusap kasar sudut matanya yang basah oleh air mata. Retno tertegun sesaat dan menatap nanar pada putrinya yang berparas elok. " Sudah ibu bilang tadi tak ada yang salah dalam hal ini, semua adalah jalan takdir yang harus kau tempuh nduk, bersabarlah" tutur Bu Retno dengan lemah lembut. Rania menegakkan badannya dan memaksakan mengulas senyum tipis dibibir pucat. " Rania pergi dulu sebentar Bu" Wanita malang itu lantas mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari dalam dompetnya dan keluar dari rumah kemudian mulai membawa langkah kakinya menuju warung di depan jalan, ternyata nampak ramai warga yang sedang membeli. " Bu saya mau beli terigu, telur dan gula" ujar Rania sembari mengulurkan uangnya. Sang ibu pemilik warung bernama Lastri menatap sinis lalu cepat mengambil uang itu dan menyiapkan apa yang diminta Rania. Sementara itu terlihat juga sedang berkumpul tiga orang ibu-ibu yang berusia tidak muda lagi didepan warung. Mereka menghentikan obrolannya saat melihat kedatangan Rania. " Hei..lihat si wanita pembawa sial itu sungguh tidak tahu malu,baru saja suaminya meninggal udah keluyuran keluar rumah" para wanita itu berbisik pelan sambil menatap Rania dengan pandangan tak suka. " Ini pesanan yang kamu beli, sudah pergi sana" ucap Lastri dari dalam warung berseru pada Rania seraya menyerahkan bungkusan plastik berisi belanjaan. " Iya Bu, terima kasih" balas Rania dan gegas melangkah pergi dengan hati yang merasa tidak nyaman dengan sikap Lastri tadi. Rania bisa merasakan aura ketidak sukaan Lastri padanya ditambah tatapan sinis dari ibu-ibu yang sedang berkumpul disitu. Tak lama kemudian Rania sudah berada didapur sederhana dirumah kecilnya, wanita itu akan membuat camilan berupa pisang dan tahu goreng berbumbu. *** Tak terasa hari menjelang malam dan tiba saatnya acara tahlilan dimulai. Rania menjalankan ibadah shalat isya dulu lalu tak lama kemudian sudah bersiap pergi dengan berbalut baju rok serta blouse lengan panjang sederhana dan terakhir mengenakan kerudung. Rania mengemas penganan buatannya didalam dus, lalu dibawanya serta saat menuju rumah ibunya Elang. Didepan rumah besar yang tampak terawat dan asri itu langkah kaki Rania terhenti, warga sudah ramai berdatangan. Akhirnya wanita cantik itu memberanikan diri masuk kedalam rumah dan mengucap salam dipintu masuk. " Assalamualaikum Bu" sapa Rania pada ibunda Elang yang sedang berdiri di depan pintu. " Saya mau ikut tahlil dan ini ada sedikit makanan untuk camilan, bisa disajikan pada warga yang datang dan berdo'a" tutur Rania sembari menyodorkan dus yang dia bawa dari rumah. Sriana, ibunya Elang sontak menatap geram pada Rania dan memaki wanita didepannya, wajahnya terlihat pucat dan matanya sembab karena seharian menangisi kepergian anak lelaki tersayang satu-satunya. " Ehh..kamu dasar wanita miskin pembawa sial, aku sungguh menyesal telah menyetujui permintaan anakku untuk melamar dan menikahkan kalian" " Kalau saja Elang tidak menikah denganmu, pastinya dia masih hidup sampai sekarang ini, kau membawa kesialan beruntun dan juga telah menyebabkan anakku meninggal..wanita sialan!" " Pergi kau dari sini!" Sriana berseru lantang lalu dia mengambil dus yang dipegang Rania kemudian melemparkannya ke tanah hingga isinya berhamburan kemana-mana. Wajah Rania langsung pucat pasi mendapati perlakuan buruk dari sang mertua. " Ibu kenapa berkata seperti itu padaku, aku bukanlah penyebab kematian mas Elang, takdir yang telah memisahkan kami berdua" Rania berkata dengan bibir bergetar dan nafas terengah, hatinya terasa sangat perih apalagi ditambah tatapan mencemooh dari warga desa yang menonton kejadian barusan. " Ahh..jangan banyak omong kamu, cepat pergi dari rumahku..aku nggak sudi bicara dan ketemu kamu lagi" Rania hanya bisa diam dan menahan diri untuk tidak membalas ucapan Sriana, pelupuk matanya sudah menggenang. " Baiklah, aku pulang dulu Bu, tapi doaku untuk mas Elang takkan pernah berhenti" Rania membalikkan badannya dan berjalan cepat kembali menuju rumahnya dengan perasaan kecewa dan sedih. *** Setelah kepergian Rania, semua orang kembali masuk kedalam untuk meneruskan berdoa tahlil. Menjelang jam setengah sembilan malam, acara doa selesai dan semua yang hadir tengah menikmati hidangan yang disajikan oleh tuan rumah. Sriana dan suaminya berdiskusi berdua dan mereka bicara pelan. " Pak, kita harus hasut warga disini untuk mengusir perempuan miskin itu dari kampung kita, dia yang telah membuat Elang meninggal" " Ibu nggak bisa terima bila melihatnya masih ada disini." Ucap Sriana disertai isak tangis saat mendesak suaminya agar dapat mengabulkan permintaannya. Karena pria itu berstatus sebagai orang yang cukup terpandang didesa, pastinya warga akan menuruti ucapannya. " Iya.. iya akan aku usahakan, sekarang aku bicara pada mereka, kau tenanglah dulu" Lantas pa Huda berdehem dan mulai membuka pembicaraan didepan semua warga, termasuk disitu ada Kepala Desa yang sedang duduk di pojok. " Bapak dan ibu sekalian, sepertinya keberadaan Rania disini cukup meresahkan, bukan sekali ini saja dia menikahi pemuda di kampung kita, tapi ini sudah ketiga kalinya" " Dan sangat disayangkan setiap pemuda yang menjalin hubungan dengan wanita itu lalu menikahinya, mereka meninggal di hari pernikahan." " Jadi saya minta dukungan para bapak dan ibu untuk mengusir Rania dari kampung kita" " Bagaimana apakah kalian setuju" Tanpa menunggu lama, terdengar suara orang menjawab serentak. " Setujuu!" " Baiklah, kalau begitu saya mohon bantuan pak kades untuk mengurusnya" pungkas Huda tegas. Kepala desa bernama Burhan yang ditunjuk hanya mengangguk dan mengiyakan saja, dia mengusap kumisnya dan tersenyum tipis. ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Tentang Cinta Kita

read
230.0K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
168.7K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
212.4K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Serpihan Hati Yang Utuh

read
2.5K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
6.5K
bc

Perfect Man and Stupid Women

read
157.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook