Pagi-pagi sekali aku berangkat ke Bandara dengan menyewa taksi. Sangat tidak mungkin untuk meminta tolong kepada Benny yang mabok parah semalam. Apalagi dengan Reno, kelakuan dan niat busuknya. Tadi malam adalah malam terakhir aku bertatap muka dengan Reno, bibirku bisa memberikan maaf tapi hatiku tidak segampang itu terbebas dari perasaan terluka. Sepanjang perjalanan, banyak pikiran terlintas di benakku, mulai dari alasanku kepada Ayah. Padahal seminggu lagi pekerjaan selesai. Tapi apa alasan, aku harus balik secepatnya. Aku memikirkan untuk menyembunyikan keberadaanku kepada Ayah sementara, misalnya tinggal sementara di apartemen. Terlebih lagi Marcell sementara ini menetap di rumah Mama. Sejak pembicaraan yang kuputuskan tiba-tiba, Marcell tidak mencoba menghubungiku kembali. Ada ra
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


