Part 11

1338 Words
Matahari sedang terik membakar bumi, sebagian orang memilih berteduh dibawah pohon atau tetap berada didalam rumah, tapi beda dengan beberapa prajurit yang sedang berada diatas genteng, mereka disuruh memasang panel surya oleh sang Putri yang tidak lain adalah Bella, sedangkan wanita itu hanya duduk memperhatikan mereka dari bawah dengan pelayan yang memayunginya. "Seperti ini Putri?" teriak salah satu prajurit yang berada diatas genteng. "Sejajarin saja, disebelah kiri lima dan disebelah kanan juga lima" jawab Bella dengan berteriak. Para prajurit itu melaksanakan perintah Bella. "Sudah Putri" teriak prajurit lain. "Yasudah turun" ucap Bella. Merekapun turun satu persatu menggunakan tangga yang tadi membantu mereka naik. "Ikut aku" ucap Bella berjalan kesamping rumah tersebut. Didinding samping rumah itu sudah terpasang kabel kabel yang menyambung dengan panel surya, batrai, dan sebuah kotak besi yang berisi mesin untuk menyalakan listrik. Bella berdiri didepan kotak tersebut dengan pelayan dan prajurit dibelakangnya. Bella menarik nafas lalu menghembuskannya, menekan saklar yang terdapat didalam kotak itu, dan sebuah lampu merah menyala terang. "YES BERHASIL!!" teriak Bella sambil loncat loncat kesenangan. Bella berbalik memegang bahu salah satu prajurit dan menggoyang goyangkannya sambil berujar "Yes berhasil berhasil hore!!" "Maaf Putri jika saya lancang, tapi apanya yang berhasil ya?" tanya sang prajurit tersebut memberanikan diri, walau badannya masih digoyang goyangkan oleh Bella. Bella berhenti dan menatap mereka semua dengan senyum lebarnya. "Tidak perlu banyak tanya, sekarang kalian ikut aku, ada banyak tugas yang harus kalian kerjakan" balas Bella masih dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Dia sangat senang usahanya selama berhari hari ini berhasil, bekerja seperti yang dia mau. Bella mematikan saklar lalu pergi dengan senyum lebarnya. Para prajurit dan satu pelayan itu saling pandang, heran melihat sang Putri amat sangat senang ketika menekan benda yang ada didalam kotak itu, mereka berpikir apakah sang Putri sudah gila karena ditinggal pangeran Alaric. Mereka mengedikkan bahu acuh dan memilih mengikuti Bella. Setelah memberikan tugas pada para prajurit itu, Bella merebahkan dirinya disofa yang ada diruangannya. Menghembusakan nafas lalu tersenyum lebar. Bella masih merasa sangat senang karena pembangkit listrik tenaga suryanya berhasil, tidak sia sia usahanya selama ini. Kenapa dia memilih membuat plts? Karena lebih mudah dan ramah lingkungan, lagi pula bisa meminimalisir pemanasan global. Beda lagi jika dia membuat pembangkit listrik tenaga air, dia harus membuat aliran sungai didekat masion ini dan itu sangat ribet dan membutuhkan waktu yang lama. Pekerjaannya telah selesai, tinggal menunggu tukang bangunan dan para prajurit itu selesai, Bella memutuskan untuk tidur terlebih dahulu karena dicuaca yang sedang panas ini sangat cocok untuk menjelajahi alam mimpi dan sepertinya malam ini dia juga akan tidur disini karena kamarnya pasti belum selesai. ---------- "Apa kau tidak merindukan istrimu?" tanya Demian. Kini mereka sedang duduk disalah satu bangku yang ada ditaman istana kerajaan Nuvoleon. Ternyata taman diistana ini sangat indah dan sejuk, mungkin dikarenakan daerah ini berada diperbukitan tinggi. "Rindu" jawab Alaric singkat. "Tapi kau terlihat biasa saja" "Apakah aku harus menunjukannya padamu?" jawab Alaric sinis. "Em hehehe tidak sih" ringis Demian. Susah sekali memang berbicara dengan es batu seperti Alaric, Demian berpikir bagaimana bisa Bella tahan dengan suaminya yang dingin ini. "Karena dia mencintaiku" ucap Alaric, sakan dia tau isi pikiran Demian. Demian mengerutkan dahinya bingung. "Kau dukun?" tanya Demian. Alaric melihat seorang prajurit berjalan kearah mereka. "Memang. Ku ramal sebentar lagi akan ada orang yang menghampirimu" ucap Alaric lalu pergi meninggalkan Demian dengan bingung. Tak berapa lama setelah Alaric pergi ada seorang prajurit Nuvoleon yang menghampiri Demian. "Maaf Tuan, Yang Mulia Raja meminta anda dan Pangeran untuk makan bersama" ucap prajurit itu. "Baiklah, aku akan segera kesana. Terimakasih" balas Demian pergi dari taman tersebut. Sesampainya diruang makan dia melihat Raja, Ratu, dan Alaric sedang menunggunya. Dia meminta maaf dan segera duduk disamping Alaric. "Wahh aku tak tau bahwa kau memang seorang dukun" bisik Demian sambil mendekatkan tubuhnya pada Alaric. Alaric hanya terkekeh pelan tanpa membalas perkataan Demian. "Silahkan" ucap Raja mempersilahkan. Mereka makan dengan hening, hanya ada suara sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring. Dikerajaan ini sangat menjunjung tinggi tata krama berbanding terbalik dengan kerajaan Honorius. Setelah makan, Alaric memilih kembali kekamarnya dan berdiri dipembatas balkon memandangi sekitar yang penuh pepohonan, udara yang sejuk membuatnya memejamkan mata, tapi tiba tiba sebuah anak panah meluncur kearah kepalanya, dengan cepat Alaric memiringkan kepalanya masih dengan mata yang tertutup dan tanpa rasa panik. Kemudian Alaric membuka matanya dan melihat seseorang yang berpakaian serbah hitam berada diatas pohon memperhatikannya. Alaric tersenyum miring lalu berbalik mengambil anak panah yang menancap pada dinding dibelakangnya. Dia membuka kertas kecil yang ada di anak panah tersebut dan membacanya. -../../.-/--/./-./--./../-./-.-./.-/.-./..././.../..-/.-/-/..-/-.--/.-/-./--./-..././.-../..-/--/-.././-/./--/..-/-.-/.-/-.// Alaric tersenyum miring setelah membaca tulisan tersebut. Oke, let's do it Batin Alaric. Alaric kembali kebalkon dan orang itu masih berada diatas pohon dengan posisi tiduran dibatang pohon yang cukup kuat. Alaric melempar anak panah yang ada ditangannya dan dengan sigap orang itu menangkapnya dengan tangan kosong, orang yang berpakaian serba hitam itu langsung pergi dengan melompat dari satu pohon kepohon lain. Alaric kembali menatap sekitar dengan pikiran yang terpusat pada Bella, istri cantiknya. ----------- Matahari telah menguning yang menandakan bahwa hari sudah sore, tapi sepertinya Bella masih asik dialam mimpinya sehingga membuat para prajurit itu tidak berani membangunkannya "Bangunkan cepat" ucap salah satu prajurit menyenggol lengan temannya. "Kamu saja lah" "Kau saja" "Kamu" "Kau" "Kamu" Kedua prajurit itu saling dorong mendorong hingga sebuah suara mengintrupsi mereka. "Aku saja" ucap Bella sudah berdiri dihadapan mereka. "Maaf Putri" ucap kedua prajurit itu berbarengan dengan kepala yang menunduk takut. "Iya, apakah pekerjaan kalian sudah selesai?" "Sudah Putri" jawab mereka serempak. "Kamu tolong tekan saklar yang disamping mansion ini, dan kalian semua ikut aku keruang tengah, ada sesuatu yang harus aku tunjukkan" prajutrit yang ditunjuk Bella langsung lari tanpa pamit, membuat prajurit lainnya melotot. "Santai saja, ayo keruang tengah" ucap Bella berjalan lebih dulu dan diikuti mereka semua. Bella berdiri ditengah tengah ruang tamu, menatap lampu besar yang baru saja dipasang. "Matikan semua obornya" ucap Bella tanpa mengalihkan pandangannya. Para prajurit itu saling pandang dengan bingung, bekerja dengan Bella sepertinya akan membuat mereka memiliki banyak kerutan didahinya. Pasalnya hari sudah mau malam membuat ruangan ini menjadi gelap jika semua obor dimatikan, tapi karena ini perintah dari sang Putri, mereka hanya bisa menurutinya tanpa berani membantah. Para prajurit itu mulai mencar untuk mematikan setiap obor yang berada diruangan itu, gelap pun mulai menyapa membuat mereka tidak bisa melihat dan alhasil mereka kembali ketempat semula dengan saling menabrak, ada yang menabrak barang dan ada pula yang nyungseb mencium kaki temannya. Suasana begitu keos dan membuat Bella terkekeh pelan. Setelah melewati banyak rintangan, para prajurit itu kembali ketempat semula dan tiba tiba ruangan itu menjadi sangat terang, lebih terang dari saat memakai obor. Para prajurit yang melihat hal itu menatap takjub pada lampu besar yang tergantung diatap. "Wow" "Matahari" "Sungguh menakjubkan" Bella tersenyum mendengar celotehan mereka. Berbeda dengan prajurit, Bella malah menatap lampu tersebut dengan senyum bangganya, dia sangat bangga dengan dirinya karena jujur ini kali pertamannya membuat listrik dengan memanfaatkan sinar matahari sebagai energinya. Tak tak Gedebak gedebuk Suara gaduh itu berasal dari para pelayan, prajurit dan tukang bangunan yang berlari menuju ruang tamu dengan wajah panik. "Ada apa?" tanya Bella. "Sepertinya ada penyihir yang masuk kemasion ini, Putri" ucap seorang pelayan perumpuan dengan wajah panik. "Penyihir?" "Iya Putri, tiba tiba setiap ruangan dimasion ini sangat terang seperti siang hari" Bella terkekeh lalu mejawab "Tidak perlu takut itu bukan sihir, itu namanya lampu" "Lampu?" tanya mereka. "Ya" ucap Bella, dia berjalan menuju saklar yang ada didinding, menekannya dan membuat ruang tamu itu kembali gelap gulita. "Lampu itu bisa dihidupkan dan dimatikan menggunakan saklar ini, kalian hanya tinggal menekannya saja. Tapi kita juga harus mempunyai listrik agar lampu ini menyala, apa itu listrik? Listrik merupakan aliran elektron dari atom ke atom pada sebuah penghantar atau suatu energi yang berpengaruh terhadap kehidupan manusia sehari-hari. Bukan hanya untuk lampu saja tapi juga barang barang elektronik lainnya" jelas Bella, menghidupkan kembali lampu tersebut. Mereka yang mendengarkan penjelasan Bella hanya bisa mengerutkan dahi bingung, karena banyak kata kata yang sangat asing bagi mereka. "Tak usah dipikirkan, aku hanya menjelaskan. Sekarang kembali kepekerjaan kalian" ucap Bella meninggalkan mereka semua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD