Part 12

1366 Words
Hari sudah pagi, ruangan yang dirombak pun sudah jadi, kini Bella juga sudah rapi untuk mengawali pagi hari. Kamar yang dirombak kemarin kini sudah beralih fungsi menjadi ruang ganti dan kamar mandi yang menyatu dengan kamar Alaric, agar pria itu tidak mempunyai alasan lagi untuk dibantu mandi oleh para pelayan modus. Telihat imposible jika dikerjakan dalam waktu sehari semalam tapi ingat dia memperkerjakan banyak sekali pekerja. Hari ini Bella sangat senang, bukan karena dia bisa bersantai karena projek yang ingin dia buat telah selesai semua, tapi juga karena suaminya akan pulang hari ini. Dia senang tapi juga khawatir, khawatir jika Alaric membawa Merry dan dia akan tersingkirkan. Sedang asik asiknya melamun ada seorang pelayan yang menghampirinya. "Maaf jika saya mengganggu anda,Putri. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa Pangeran sudah tiba" ucap pelayan tersebut, baru saja dibicaran orangnya malah sudah muncul. Bella berlari turun kebawah dengan wajah cerianya, didepan pintu dia melihat Alaric dan langsung menghampirinya. "Sayaaaang" ucap Bella riang sambil merentangkan tangannya, tapi saat dia ingin memeluk Alaric, pria itu malah mendorongnya. "Perkenalkan dia Merry, dia akan tinggal disini bersama kita" ucap Alaric memperkenalkan wanita disampingnya. Bella menatap wanita yang ada disamping Alaric dengan menelisik, sama hal nya dengan apa yang dilakukan Bella, Merry juga memandang Bella dengan tatapan menilai. Aneh sekali pakaian yang dia kenakan Batin Merry. Terlihat seperti rakjat Ucap Bella dalam hati. "Perkenalkan Putri, nama saya Merry" ucap Merry sambil tersenyum manis. "Tak usah terlalu formal, panggil saja Bella" ucap Alaric. Bella melongo mendengar perkataan Alaric, apa? Bella? Dia mengizinkan orang asing memanggilnya Bella? Bukankah kemarin dia memarahi Aurora ketika Aurora memanggilnya dengan nama saja. "Bella?" tanya Bella kepada Alaric. "Iya, namamu kan memang Bella" jawab Alaric santai. "Hahaha Bella ya?" ucap Bella sambil terkekeh sinis. Bella beralih menatap Merry sambil mengulurkan tangannya yang disambut dengan Merry. "Perkenalkan namaku Bella Margareta panggil saja BELLA" ucap Bella memeperkenalkan diri dengan penekanan diakhir kalimat. "Ya Bella senang berkenalan denganmu" ucap Merry riang. "Ayo Merry akan ku tunjukan kamarmu, kamu harus istirahat setelah melakukan perjalanan panjang" ucap Alaric sambil mengelus rambut Merry, membuat wanita itu tersipu. Bella yang melihat itu menjadi geram dan ingin mengacak ngacak wajah sok imut Merry, ini juga suaminya kenapa perhatian sekali dengan wanita itu? Alaric dan Merry pergi ke kamar tamu, meninggalkan Bella yang sedang mencak mencak dan mengumpati dua manusia titisan dajal yang membuat moodnya turun drastis. "Dasar suami sialan" "Kenapa juga bibit dajal itu harus muncul, pengen gue ubek ubek tuh muka sok polosnya. Anjing lah!!" Bella kembali kekamarnya sambil menyebutkan semua nama nama binatang yang dia tau. "Siapa wanita yang dibawa Pangeran Alaric?" tanya Aurora pada Demian yang duduk disampingnya. Mereka berdua sedari tadi berada diruang tamu memperhatikan kenelangsaan Bella yang dicampakkan oleh Alaric. "Saat perjalanan pulang kami dihadang oleh wanita itu, dia menangis dan berkata bahwa dia dirampok dan mau diperkosa, jadi Alaric memutuskan untuk membawanya kesini" jelas Demian. "Apakah dia akan tinggal disini?" tanya Aurora. "Mungkin, daripada memikirkan mereka lebih baik kita jalan jalan, kamu rindu denganku bukan?" ucap Demian merangkul bahu Aurora membuat gadis itu tersenyum malu. Sepasang kekasih itu pergi dari mansion besar Alaric menuju taman kota untuk melepas rindu setalah 3 hari tidak bersua. ------------- Malam telah tiba tapi Alaric belum juga kembali ke kamar, entah apa yang dilakukannya dengan Merry hingga melupakan istrinya. Bella yang sudah lelah menunggu Alaric memilih tidur dengan memeluk guling. Hingga pagi datang pun Bella tak menemukan Alaric disampingnya, membuat pikirannya berkeliaran kemana mana. Apakah Alaric tidur dengan bibit dajal itu? Jika iya akan ku potong burunganya Maki Bella dalam hati. Dengan perasaan dongkol Bella memasuki kamar mandi, setelah selasai mandi dia masuk ke ruang ganti dan berdiri didepan cermin besar. "Gue bakal tunjukin siapa itu Raina, bicth" ucap Bella penuh tekad. Bella mengambil sebuah dress berwarna putih lalu memakainya, berjalan menuju meja rias untuk memoles sedikit wajah cantiknya. Kemudian Bella pergi keruang makan untuk melaksanakan sarapan paginya, tapi setelah sampai diruang makan dia melihat pemandangan yang tidak enak dipandang, yaitu pemandangan Merry yang sedang menyuapi Alaric. Bella mengembuskan nafas, rasanya hatinya sesak sekali melihat pemandangan itu tapi dia harus kuat, Bella mendekati Alaric lalu mengecup pipi pria tersebut membuat mereka berdua memandang Bella. "Pagi Al" sapa Bella sambil mengambil roti dan mengolesinya dengan selai coklat. "Kau tidur dimana semalam? Aku menunggumu padahal" ucap Bella. "Pangeran menemaniku karena aku takut tidur sendiri" jawab Merry, padahal yang ditanya Alaric. Bella menghentikan kunyahanya, bagai ditimpa batu besar dadanya terasa sakit, tapi dia memilih kembali memasang senyum manisnya seolah dirinya baik baik saja. "Ohh, jadi hari ini apa yang akan kau lakukan Al?" tanya Bella kembali. "Pangeran akan menemaniku membeli pakaian dipasar" Merry kembali menjawab petanyaan yang dilontarkan untuk Alaric. Bella mulai kesal tapi dia tahan. "Apakah kita bisa berbicara berdua?" tanya Bella kepada pria yang sedari tadi hanya diam memperhatikan kedua wanita dihadapannya. "Tidak bisa, kita harus pergi sekarang" Oke kesabaran Bella sudah habis, Bella menatap tajam wanita dihadapannya. "Aku berbicara dengan suamiku kenapa malah kau yang menjawab? apakah kau tidak punya sopan santun dan rasa malu? Haha w************n sepertimu mana punya rasa malu" ucap Bella sinis. "M-maafkan a-aku, a-aku bukan w************n" Merry menundukan wajahnya seperti akan menangis. Alaric berdiri menatap Bella dengan tajam. "Jaga ucapanmu Bella!! Jangan menyebutnya w************n. Kau ini seorang Putri jadi tolong jaga tata krama mu, memalukan" bentak Alaric sambil menunjuk Bella dengan jarinya. Bella berdiri sambil mengebrak meja , hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Dia menepis jari Alaric dengan kasar. "Tata krama? Apakah membentak saat dimeja makan termasuk tata krama? Kau pun tidak mempunyai tata krama TUAN" ucap Bella meninggalkan mereka, tapi sebelum ia pergi, Bella menyempatkan melempar sendal kepada Alaric. Alaric memandangi kepergian Bella, lalu beralih kepada Merry yang masih menundukkan wajahnya. "Apa kau baik baik saja? M-maafkan aku membuat kalian bertengkar" ucap Merry. Alaric mengangkat wajah Merry dan berujar "Tidak perlu minta maaf ini bukan salahmu, ayo kita membeli pakaian untukmu" "T-tapi -" "Tidak usah tapi tapi, kereta kudanya sudah siap" Alaric menarik tangan Merry dengan lembut. Ditaman belakang, Bella sedang menggerutu sendiri. Paginya hancur karena kedua makhluk astral itu. "Ya tuhan apakah alur ceritanya tidak dapat dirubah? Bukannya saat ini pemeran utamanya adalah aku, tapi kenapa wanita itu muncul?" Bella menatap langit, seolah sedang berbicara dengan tuhan. Bella menghembuskan nafas, matanya kini berubah memandang kedepan dengan penuh tekad. "Gue ga boleh nyerah, gue harus berusaha membuat Alaric mencintai gue dan lepas dari bibit dajal sialan itu, Semangat Raina lu pasti bisa menaklukan es batu itu lagi" ucap Bella. Bella beranjak dari duduknya, sepertinya dia harus membuat sesuatu untuk menghilangkan beban pikirannya saat ini. Bella memilih ruangan kerjanya sebagai pelarian, kali ini dia akan mencoba membuat handphone, kali saja dia bisa kembali melihat oppa oppa korea kesayangannya, ahh memikirkan itu membuatnya sangat rindu dengan kehidupannya dulu. Bella mengambil solder listrik untuk menyambungkan komponen komponen mesinnya, lalu beralih membuat kerangka handphone. Setelah selesai, Bella menggabungkan mesin dan kerangka tersebut. Oke kini tinggal mencoba menghidupkannya, Bella menekan lama tombol yang ada disamping handphone itu tapi tidak terjadi sesuatu, hingga tiba tiba. Duar Bella melempar handphone yang meledak itu kesembarang arah, lalu dia melihat tangannya yang terkena luka bakar. "Aishh s**t" ringis Bella kesakitan. "Bella, mengapa ruanganmu bau gosong? apakah ada yang terbakar?" ucap Aurora menghampiri Bella yang masih kesakitan. "Astaga Bella apa yang terjadi? Tanganmu kenapa bisa terbakar seperti ini? Ayo biar ku obati dulu" Aurora menuntun Bella kesofa, lalu pergi untuk mengambil obat obatan. Aurora kembali dengan beberapa ramuan dan sebuah kain putih, dia segera mengolesi luka Bella dengan ramuan yang dia bawa membuat Bella sesekali meringis, kemudian Aurora membalut luka itu dengan kain putih. "Selesai, apa yang terjadi hingga tanganmu bisa terluka seperti ini?" tanya Autora setelah mengobati Bella. Bella menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa lalu memejamkan matanya. "Aku sedang membuat sesuatu, tapi gagal dan meledak" balas Bella santai. "Ck hati hatilah kalau bekerja, aku tidak suka kau terluka seperti ini" ucap Aurora marah. Bella tersenyum mendengar kekhawatiran Aurora, asisten setianya ini sangat lucu ketika marah. "Uluulu baiklah lain kali aku akan hati hati" Bella mencubit pipi Aurora membuat gadis itu semakin cemberut. "Sakitt" ucap Aurora menyingkirkan tangan Bella dari pipinya. "Temani aku makan yuk" ajak Bella. "Kamu belum makan?" "Belum, makannya ayo" Bella menarik Aurora menuju ruang makan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD