Jangan lupa di tap love, dan komen!
.
.
.
Selamat membaca, guys!
*M e m o r i e s*
"Tadi pagi, ngapain kamu teriak-teriak?"
Mampus!
Ben mematung di tempat mendengar pertanyaan Bu Denok. Punggungnya mendadak tegak, lehernya kaku, lidahnya kelu, cowok ini seperti kehilangan kata-kata untuk sekedar menjawab. Pasalnya, Ben itu cowok yang super kalem, read ... dingin, anyep, seperti kutub es di utara sana. Jarang sekali mengeluarkan umpatan, teriakan kalau nggak dipancing sama duo kunyuk macam Riki dan Hanif.
"Eng ... nganu, itu—"
"Nganu-nganu! Kalau ngomong yang jelas. Kamu nyembunyiin sesuatu dari saya?" potong Bu Denok galak.
Spontan Ben mengangkat kedua tangannya di depan d**a, sambil melambai ke kanan dan kiri kepalanya menggeleng cepat.
"Eng-enggak, Buk. Nggak ada apa-apa," sanggah Ben masih berusaha meyakinkan wanita paruh baya berdarah Jawa yang memiliki bodi layaknya beduk masjid tersebut.
Astagfirullah! Bercanda, asli, Ben nggak bermaksud body shamming ke Bu Denok, kok. Cowok itu cukup waras untuk nggak menambah masalah hidup seperti membuat Bu Denok marah, kemudian keesokan harinya sewa indekos khusus dirinya naik menjadi dua kali lipat.
No. Demi apa pun, akhir bulan seperti ini, Ben harus lebih banyak berhemat tanpa debat.
Sialnya, Bu Denok masih menatap Ben dengan sebelah alis terangkat. Penuh dengan tatapan intimidasi yang membuat Ben tak pelak menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
"Itu, tadi pagi ada cicak yang jatuh di kepala saya. Makannya saya teriak." Ben berhasil beralibi hari itu.
Sukses untuk yang pertama kalinya sejak Ben menjadi penghuni kos di tempat Bu Denok. Untungnya pula wanita paruh baya itu manggut-manggut, menular pada Ben yang entah sadar atau tidak ikut mengangguk sambil mengukir segaris senyum canggung.
"Cepet keluar, kek. Malah manggut-manggut di sini, lagi." Ben membatin.
Pasalnya cewek bogel di belakangnya itu sudah menggerayangi punggungnya. Sangatlah nggak mungkin kalau Ben menepis tangan kotor itu sekarang juga, bisa-bisa ia ketahuan menyembunyikan kurcaci di kamar. Ben yakin, detik itu juga ia sudah pasti akan diusir oleh Bu Denok.
"Ya, sudah kalau begitu." Akhirnya Bu Denok bersuara.
Kakinya maju selangkah mendekati pintu, membuat Ben semakin melebarkan senyum di bibir agar wanita tersebut tak menaruh curiga padanya. Sedangkan di belakang punggungnya, Ben dengan sangat jelas bisa merasakan Dara mulai melingkarkan tangannya di perut. Tentu dengan posisi tangan yang berada di dalam kaus kebesaran yang Ben kenakan hari itu.
"Inget, ya. Saya selalu awasi kalian semua, kalau nggak mau diusir. Tetap patuhi peraturan yang ada!" peringat Bu Denok sebelum kemudian benar-benar keluar dari kamarnya.
Ben hanya mengangguk dengan semangat, agar Bu Denok yakin bahwa ia tak akan mungkin membawa masuk seorang gadis normal ke dalam kamarnya. Kecuali makhluk-makhluk abnormal macam Kunti dan juga Si Bogel m***m yang saat ini semakin mengeratkan pelukan di pinggangnya dari belakang.
Tepat saat Bu Denok sudah menjauh, Ben segera menutup pintu secepat cahaya. Ia mundur dan melepaskan kaitan kedua lengan Dara yang melingkar di perutnya.
"Lepasin anjir!" sentak Ben dengan suara tertahan. Takut jika Bu Denok kembali mendengarnya dan kembali untuk melakukan sesi interogasi.
"Gila lo, beneran gila! Sinting, ya, lo?!" Ben masih nggak habis pikir.
Cowok itu berdiri menyadarkan diri pada daun pintu yang tertutup sambil memeluk dirinya sendiri. Sedangkan Dara mencebik dengan jarak satu meter dari Ben. Gadis itu menatap Ben kecewa.
"Apa sih? Gue kangen sama lo, tau!" balas Dara dengan suara lantang.
Hal tersebut sontak saja sukses membuat Ben membulatkan mata. Ia mengambil langkah lebar-lebar dan segera membekap mulut Dara dengan tangannya. Nggak bisa, nggak bisa dibiarkan ini, mah. Bahaya!
"Nggak usah teriak!" bisik Ben, "sekarang lo mending pergi dari sini, cepet. Gue mau kuliah."
Selang sedetik berikutnya, Ben menatap Dara sebentar. Cewek itu pasrah nggak melakukan perlawanan sedikit pun. Membuat Ben semakin nggak yakin untuk melepaskan tangannya dari mulut Dara.
"Gue lepasin, janji jangan teriak?"
Untuk sesaat Dara tampak berpikir, cewek itu kemudian menggeleng beberapa detik kemudian. Berhasil membuat Ben naik darah pagi ini.
"Terus lo mau apa? Nggak usah cari gara-gara kenapa, sih?"
Mendengar itu, Dara menarik tangan Ben yang mengendur di bibirnya. Kemudian ia berjinjit dan membisikkan sesuatu ke telinga Ben. Nggak, ke d**a Ben. Soalnya kaki Dara nggak cukup panjang mencapai telinga Ben yang tingginya abnormal.
"Cium dulu!"
Ben melongo, sebelum kemudian menatap Dara tak percaya. Cowok itu mendorong Dara agar menjauh darinya. Ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajah yang sudah kusam karena kejadian pagi ini, dan segera mempersiapkan diri untuk pergi ke kampus. Meninggalkan Dara yang cekikikan di tempatnya mengamati punggung Ben dengan puas. Cewek itu menjatuhkan diri di atas sofa sambil kembali menyedot yogurt rasa stroberi kesukaannya.
"You are so cute babby!" kekeh Dara masih tak bisa menahan tawanya mengingat ekspresi yang tercipta di wajah Ben barusan.
Ternyata mengusili seorang Ben rasanya semenyenangkan ini. Meski kenyataannya juga terasa sedikit menyesatkan.
*M e m o r i e s*
Baik Riki maupun Hanif masih saling pandang. Keduanya mengamati Ben dan Dara secara bergantian dari kejauhan. Tatapan bingung dan penasaran jelas terlihat dari sorot mata kedua cowok yang sering menempel satu sama lain itu. Eum, maksudnya karena Riki dan Hanif terlalu sering bersama ke mana pun mereka pergi. Bahkan mereka itu adalah pasangan roommate. Sekamar berdua untuk menghemat biaya bulanan. Iya, begitulah kehidupan di tanah rantau.
"Si Ben punya pacar sekarang?" Hanif menyenggol lengan Riki dengan baunya, sambil menyedot cokelat stik seharga seribuan.
Akhir bulan.
Membuatnya harus pintar-pintar mencari camilan yang murah dan enak. Kalau saja di dalam kulkas Ben masih ada stok cokelat pemberian junior mereka, sudah pasti Hanif akan menjadi salah satu orang paling cepat yang akan menggasak isi kulkas Ben. Setelah Riki tentunya.
Cowok cungkring di sebelahnya itu cuma menggeleng, kemudian menyilangkan tangan di depan d**a dengan tatapan yang terus tertuju pada kedua insan di depan sana.
"Kayaknya sih, iya," jawab Riki, sambil menggaruk janggutnya, "tapi, kayaknya juga bukan." Kembali Riki mengimbuhi tanpa menatap lawan bicaranya.
Hanif spontan menoleh cepat. Menatap teman sekamarnya itu dengan alis bertaut heran seraya menyedot kembali camilan murahan di tangan.
"Apaan sih, lo? Ambigu anjir."
"Kemarin gue liat cewek itu di Bengkel, dia buntutin Si Ben kayaknya."
"Anak SMA bukan?" tanya Hanif masih ingin tahu.
"Kayaknya sih iya," balas Riki masih mengelus-elus dagunya.
"Tapi, kayaknya juga bukan." Sekali lagi Hanif menghentikan aktifitas mengemil cokelat murahan tersebut lalu melirik Riki yang pandangannya fokus pada Ben dan Dara.
Hanif menghela napas kesal, lalu kembali memutar kepala menatap Ben dan Dara yang duduk berdampingan di bawah pohon akasia yang rimbun membentuk kanopi alami.
"Atau, salah satu junior yang kesengsem sama Ben?"
Soalnya, bukan sekali dua kali Hanif mencuri cokelat batangan di kulkas mini saat berkunjung ke kosan Ben. Dan, cokelat-cokelat itu seluruhnya adalah pemberian dari para dedek emesh yang dengan gamblang menyatakan suka pada cowok berkaki panjang tersebut. Hanif menoleh pada Riki yang masih menggaruk janggutnya absurd. Berlagak mempunyai janggut padahal sehelai bulu pun nggak tumbuh di sana.
"Kayaknya, sih, iya. Tapi, kayaknya juga bukan."
Cowok yang nggak lebih tinggi dari Riki itu menggigit cokelat stik dengan gemas. Ia menempeleng kepala Riki sesaat sebelum pergi menjauh dari sohibnya itu.
"Kebiasaan g****k!"
"Eh, b******k, sia! Berani nge-goblokin gue lagi. Ngajak ribut, lo?"
Langkah panjang kaki Riki memangsa jarak dengan cepat. Ia menarik tas punggung Hanif dan menyeret cowok tersebut. Sehingga pertikaian kedua cowok itu nggak bisa lagi terelakkan. Melupakan dua insan yang sedari tadi menjadi objek pembicaraan bahkan sumber pentengkaran mereka.
Ben masih duduk di salah satu bangku menyumpal telinganya dengan ear phone. Kedua tangan menyilang di depan d**a sambil sesekali mengikuti lagu yang mengalun di telinga. Dosbing yang harusnya sudah datang, mendadak memberi kabar akan telat sekitar lima belas menit karena istrinya yang sedang ngidam ingin dibelikan rujak bebek.
Alhasil beberapa mahasiswa yang sudah seharusnya masuk ke kelas justru terlantar di kampus menanti dosennya datang. Beberapa dari mereka pergi ke perpustakaan, kantin sekolah, dan juga geloyoran di aula, bahkan di bawah pohon seperti Ben.
"Ayo dong, Ben. Lo susah banget, sih cuma bantuin gitu doang," ucap Dara masih menempel di sebelah Ben.
Cewek itu menyatukan kedua tangan di depan d**a sambil menatap Ben melas. Berharap cowok dingin dan nggak berperasaan itu merasa setidaknya kasihan padanya.
"Benggala!" rengek Dara menggoyangkan lengan Ben kuat.
Tak ayal tubuh cowok itu ikut bergerak. Namun, masih nggak mendapatkan respon dari Ben, Dara pun berinisiatif menarik earphone Ben. Tangannya gesit telah menyentuh kabel berwarna putih tersebut, tetapi sial Ben sudah menahannya lebih dulu.
"Pergi, boncel m***m!"
Ia bahkan nggak membuka matanya. Dara tertawa mendengus. Ia melompat dari kursi sambil menenteng tas, memerhatikan Ben yang tak acuh padanya. Hanya sedetik kemudian Dara menginjak kaki Ben kuat membuat cowok tersebut mengaduh. Di saat itu juga, Dara menggunakan kesempatan tersebut untuk merampas ponsel Ben dan segera berlari menjauh.
"GUE BALIKIN SETELAH LO BANTUIN GUE!" teriaknya tersenyum penuh kemenangan.
Sedangkan Ben masih merasakan kakinya yang nyut-nyutan karena ulah Dara. Cowok itu mengatupkan rahangnya kesal sambil menatap punggung Dara yang makin menjauh.
"Jangan misuh, jangan misuh, jangan misuh ...," bisik malaikat di pundak kanan Ben sambil mengetuk-ngetuk tongkatnya di kepala cowok itu.
"Jancook!"
"Astagfirullah, nah yo a*u kon iku."
Iblis di sebelah kiri terkekeh lebar menyaksikan perdebatan batin sisi baik Ben. Tanpa harus bersusah payah hari ini, iblis berhasil menang satu kosong dari lawannya.
"Makasih, Mbak Dara boncel!"
*M e m o r i e s*
-B E R S A M B U N G!
Terima kasih sudah baca.
Jangan lupa tekan love, ya!