Jangan lupa tap love!
&
Komen
.
.
.
Selamat membaca gais ???
?M E M O R I E S ?
Pagi itu Ben meregangkan tubuh di atas kasur ternyaman dalam indekos. Badannya masih terasa remuk redam setelah kejadian kemarin. Cowok itu menggaruk perutnya yang rata, bahkan sedikit cekung mirip orang kurang gizi. Kemudian merambat turun ke bawah menggaruk sesuatu yang sangat sakral bagi setiap cowok.
Lagi-lagi ia menguap dengan mata terpejam, seharian penuh berkutat dengan Dara benar-benar membuat seluruh tubuhnya kelelahan. Luka lebam di wajah juga belum hilang sepenuhnya. Bahkan Ben masih saja takjub dengan ucapan terakhir dari Dara saat berpisah di depan rumah cewek tersebut kemarin sore.
Ia memeluk bantal, matanya masih enggan untuk terbuka. Namun, pikirannya sudah menjalar ke mana-mana. "Wah, gila-gila," gumamnya dengan suara parau.
"Setelah apa yang dia lakuin ke gue, dia bahkan nggak bilang maaf dan makasih, loh." Ia melanjutkan dengan perasaan bersungut. Ben membuka matanya sedetik, kemudian kembali terpejam setelah menyelesaikan kalimatnya disela kegiatan menguap.
Ia membetulkan letak bantal di bawah kepala. "It's okey! Seenggaknya dia nggak akan gangguin gue lagi, 'kan? He-he," sambungnya masih bermonolog
Sejujurnya Ben kelaparan sejak kemarin sore. Perutnya hanya diisi satu botol kopi kemasan juga sepotong donat yang sudah mengering di dalam kulkas. Untuk ukuran mahasiswa semester akhir seperti Ben, kehidupan cowok bertubuh tinggi itu terbilang cukup monoton.
Pagi dan malam di hari tertentu ia pergi kuliah, siang ia memiliki pekerjaan sampingan di bengkel. Sisanya, ia hanya makan, dan berhibernasi di indekos. Ben bahkan bisa seharian penuh nggak keluar dari kamar, kecuali Bu Denok mengetuk pintu secara membabi-buta, atau Kunti yang seringkali menerobos masuk tanpa permisi.
Ponsel yang sejak tadi berdenting juga hanya berisi tentang obrolan non-sesnse bersama dua kampret yaitu Riki dan Hanif. Meskipun k*****t naudzubillah itu kadang kelewat batas, tetapi harus Ben akui tanpa Riki dan Han, Ben memang nggak akan pernah punya teman. Karena Ben bukan tipe orang yang mudah berbaur dengan orang lain.
Dengan mata terpejam hidungnya kembang-kempis. Mendadak cowok itu membuka mata seperti orang terkejut. Lambung gembelnya benar-benar sudah berada dalam tingkat akut. Perut Ben berbunyi nyaring setelah menghirup aroma mie goreng yang sangat khas dan kuat. Jiwa kelaparan Ben memberontak hebat. Cowok itu mendadak menegakkan tubuh di atas kasur sambil memegangi perut yang lapar.
Namun, di pagi yang tenang itu Ben seperti sedang bermimpi. Ia menepuk pipi kanannya sekali cukup kencang.
"Sakit anjir!" ucapnya mengeluh sendiri.
Berkali-kali matanya berkedip untuk menghilangkan bayangan menyebalkan yang sedang berada di depan matanya. Sedangkan tangannya sibuk mengusap pipi.
"Gue halusinasi apa gimana, ya?" ucapnya lagi bermonolog.
Mendadak sosok menyebalkan di depannya itu bersuara.
"Selamat Pagi, Selat Benggala!"
Dia, Dara. Setan bogel yang seharian kemarin membuatnya sangat menderita. Ben tertawa kecil nggak percaya. Ia masih menganggap dirinya tersesat di alam mimpi. Setelah Kunti yang kerap menyelinap masuk, sekarang cewek berkaki pendek ini juga ikut-ikutan?
Ayolah, cuk!
"Bay the way, lo nggak lagi mimpi."
Dara membolak-balikkan kaus berukuran besar milik Ben di tangannya. Beberapa pakaian yang acak-acakan milik cowok itu juga ada di sebelah Dara. Ben terkesima. Cowok yang belum sepenuhnya sadar dari tidur panjang itu masih setengah tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Buruan mandi, abis itu lo makan! Jadwal kita padet hari ini. "
Nada perintah jelas terdengar pada ucapan Dara. Beberapa pakaiannya sudah dilipat dengan rapi oleh cewek itu. Kali ini ia membentangkan sebuah celana dalam abu-abu yang bolong di bagian b****g. Dara mengercutkan bibir sambil menggelengkan kepala. Ia lemparkan celana dalam bolong tersebut ke dalam kardus mie yang kosong. Di atas kasur Ben bergegas bangkit, rahangnya baru saja jatuh melihat apa yang sedang dilakukan Dara.
"Stooop!"
Ia berteriak mendekat. Cowok itu menindih semua pakaian yang masih berantakan di sebelah Dara. Kedua tangannya memeluk pakaian tersebut di bawah tubuhnya. Sedangkan kepalanya menoleh, melempar tatapan laser pada cewek yang sama sekali nggak memedulikan Ben.
"Gue tau kehidupan anak kos emang menyedihkan. Harus super ngirit. Bahkan ada slogan yang selalu dijunjung tinggi sama spesies serupa kayak elo." Dara menarik sehelai pakaian Ben yang tidak sepenuhnya ditindih. Lalu melipatnya dengan rapi.
"Ngirit atau mati," ucap Dara menoleh membalas tatapan protes Ben dengan jarak yang sengaja dipangkas tanpa Ben ketahui gerakan Dara yang selalu tiba-tiba.
"Menyedihkan lo bilang?" Ben menajamkan alisnya.
Dara melengos, ia mengendikkan bahu tak acuh sambil menyelipkan anak rambutnya yang jatuh ke belakang telinga.
"Gue salah ngomong? Buktinya sempak lo aja sampe bolong segede gajah. Lo kalau miskin jangan kebangetan dong, sempak itu juga penting—."
Ucapan Dara terpotong karena Ben sudah lebih dulu membekap mulut Dara dengan tangannya. Cewek itu jelas berontak, mengeplaki lengan juga punggung Ben dengan garang. Apa pun, sekenanya.
Dan berhasil. Harus Ben akui bahwa meskipun memiliki tubuh yang kecil, tetapi kekuatan Dara setara dengan seekor gajah. Cowok itu mundur sedikit menjauh dari Dara.
"Ck, lo apaan, sih? Minggir, gue belum kelar!" Tangannya mengelap bibir yang terasa engap karena ulah Ben. Sedang cowok itu mengusap-usapkan telapak tangannya pada bokser yang ia pakai.
Ben menggeleng. "Elo yang ngapain di kosan gue, dasar cewek aneh. Udah melanggar peraturan. Apa lagi, lo itu udah mengancam kehidupan gue. Minggat dari sini, cepet!"
Napasnya naik-turun, ia masih nggak bisa menerima dengan akal sehat atas apa yang barusan Dara lakukan. Cewek asing yang bukan siapa-siapanya itu berani mengeluarkan seluruh isi lemarinya. Bahkan menyentuh celana dalam milik Ben? Asli, Ben merasa sedang dilecehkan. Akan tetapi, Dara justru tertawa mendengus.
"Elo yang aneh. Sempak bolong kayak gitu masih aja, lo simpen. Jorok banget lo jadi cowok."
Ben terperangah mendengar ucapan Dara yang justru memakinya. Demi apa pun, baru kali ini Ben bertemu dengan spesies manusia semacam Dara.
"Lo ...," ucapan Ben menggantung. Ia menajamkan mata gemas kepada cewek di depannya itu.
"Apa?!"
"Bisa nggak berhenti bahas sempak?" sentak Ben nggak terima.
"Udah sana mandi lo kebo! Keburu mekar mie-nya, Dodol!"
"Kok jadi elo yang nyolot, sih?" Dahi Ben mengkerut berlipat-lipat. Di tatap Dara yang juga menatapnya dengan pandangan membunuh.
"Selagi gue bisa ngomong secara baik-baik. Mending lo nurut, mandi sekarang!" titahya.
Cowok itu berdecih sambil tertawa kecil. Masih dengan posisi tengkurap melindungi pakaiannya yang berantakan, kemudian menatap Dara seolah olah sedang menantang.
"Kenapa gue mesti nurut sama cewek bogel kayak elo?"
Dara mengangguk mengerti. Ia meregangkan tangan ke atas sampai mengeluarkan bunyi.
Kratak!
Lalu berdiri dari posisinya dan menjauhi Ben. Cowok itu tersenyum puas. "Gitu dong. Harusnya lo yang pergi dari sini."
Namun, nggak bertahan satu menit senyum di bibir Ben sudah berubah menjadi teriakan mengaduh yang amat keras. Bagaimana tidak? Saat ini Dara sudah duduk di atas punggung Ben sambil menggigit leher cowok itu dengan kuat.
"Aa-njiir!"
Teriakan Ben menggema sampai menghentikan aktifitas Bu Denok yang sedang menyapu halaman rumah. Tukang pipa air yang sedang membetulkan saluran bocor. Tukang sedot WC yang sedang memasang selang penyedot. Juga Kunti yang sudah berdiri hampir menyentuh knop pintu kamar Ben.
Cowok itu mengaduh memegangi lehernya yang merah parah.
"Gue nggak bogel b******k!" Dara membungkuk demi membisikkan kalimat tersebut tepat di telinga Ben.
Sedetik kemudian cewek itu mengibaskan rambutnya ke belakang dengan lega. Ia menatap Ben yang masih memegang leher dengan seulas senyum puas.
?M E M O R I E S ?
Dengan ekspresi datar cowok itu mengunyah mie goreng yang sudah setengah mengembang. Meskipun nggak senikmat saat disajikan panas-panas, tetapi ini sudah sangat amat cukup buat Ben. Sarapan yang mewah yaitu dua bungkus mie instan dengan sebuah telur ceplok.
Cowok itu bahkan sudah selesai mandi dan berpakaian rapi. Celana panjang denim dan kaos hitam sudah ia kenakan, meski rambutnya masih setengah acak-acakan nyatanya Ben malah terlihat tampan. Untuk saat ini biar saja ia turuti segala perintah Dara. Cewek yang sejak tadi menyuruhnya ini dan itu. Cewek yang sejak tadi pula nggak bosan membahas soal sempak bolong, yang membuat telinga Ben hampir saja menebal dan tuli. Ben hanya ingin segera menghabiskan makanannya dan pergi ke kampus untuk kelas pagi yang sudah dijadwalkan. Namun, suara ketukan pintu yang menggelegar membuat Ben tersedak makanannya sendiri.
Buru-buru ia meneguk air putih dalam botol akua berukuran besar, lalu segera beranjak dari sofa mini untuk mendahului Dara yang hampir membuka pintu kamarnya.
Ben melotot pada Dara, meski ia tau hal tersebut nggak mempan. Akan tetapi, Ben masih saja terus mengulanginya. Cowok itu membelakangi pintu sambil meletakkan telunjuknya di depan bibir.
Kemudian segera berbalik untuk membuka pintu. Tak pelak, kelakuan Ben justru membuat Dara mengulum senyum geli. Cewek itu berdiri di balik punggung Ben untuk mengintip siapa yang bertamu pagi-pagi.
"Mampus Bu Denok!" umpat Ben tak ketara.
Cowok itu membuka pintu seukuran tubuhnya dan berdiri di sana untuk berbicara dengan Bu Denok. Ia memasang senyum selebar mungkin untuk membuat wanita berdarah Jawa dengan tubuh tambun yang terkenal garang itu supaya terlihat natural.
"Lagi ngapain kamu?" tanya ibu pemilik indekos tersebut. "Saya denger dari pagi ribut banget kamarmu?"
Pertanyaan penuh selidik itu membuat Ben menelan saliva kasar. Sebelah tangan cowok itu sibuk menyingkirkan tubuh Dara yang mencoba mendekat ke belakang pintu. Sebelah tangannya lagi berusaha bersikap natural sambil mengusap rambutnya ke belakang.
"Eh, saya ... lagi sarapan, Buk. Sebentar lagi mau ke Kampus," ucap Ben, "ada apa, Buk?"
Bu Denok nggak segera menjawab, ia mencoba mengintip isi kamar Ben dari celah lengan cowok itu dengan tatapan curiga. Membuat jantung Ben berdetak seperti sedang lari marathon di dalam sana.
"Kemarin lusa kamu ke mana aja? Nggak lihat saya, kamu pulang jam berapa?"
Kedua bola mata Ben berputar random. Namun, terus mempertahankan senyum di bibir supaya Bu Denok nggak curiga.
"Saya ada kegiatan tambahan di Kampus, he-he."
Ucapan itu hanya dibalas anggukan tak meyakinkan dari Bu Denok. Ben mencoba tetap bertahan di depan pintu saat Bu Denok mencoba menerobos masuk ke kamarnya dengan mata yang mengelilingi seantero kamar Ben. Dengan gerakan cepat ia mendorong Dara di balik pintu hingga cewek itu tersudut di antara lemari plastik dan daun pintu.
"Eh ... ad-ada apa ini, Buk?" tanya Ben panik. Akan tetapi, tak membuat cowok itu berpindah posisi dari dekat pintu. Tentu saja karena keberadaan Ben di saja berfungsi untuk menutupi tubuh boncel Dara yang sedang ia sembunyikan. Hal itu tentu saja membuat Dara menatap punggung Ben dengan gemas. Perasaan ingin mengeplak kepala Ben menjadi dua kali lipat lebih banyak. Tetapi, Dara menahannya demi menyelamatkan Ben dari Bu Denok.
Setelah puas melihat seisi kamar yang memang cukup rapi untuk ukuran seorang cowok. Bu Denok kembali memutar tubuh menghadap ke arah Ben sambil berkacak pinggang. Matanya masih menelisik curiga ke arah anak cowok tersebut.
"Jangan macam-macam, apa lagi berani bawa cewek masuk ke kamar, ya!" tegas wanita itu diangguki dengan cepat oleh Ben.
"Nggak akan, Buk." kedua tangan cowok itu bergerak melambai ke kanan dan kiri untuk meyakinkan si pemilik indekos bahwa ia nggak akan pernah macam-macam kalau nggak ada spesies cewek macam Dara.
"Mana berani saya, he-he," balasnya tertawa kikuk. Kalau ketahuan bisa saja ia disembelih detik itu juga oleh Bu Denok.
"Ya, bagus kalau gitu. Saya nggak akan segan-segan kasih hukuman atau ngusir kamu kalau macam-macam di kosan saya."
Wanita bertubuh tambun itu akhirnya melangkah menuju pintu untuk keluar setelah yakin tidak ada hal yang mencurigakan di kamar kos tersebut.
"Tadi pagi, ngapain kamu teriak-teriak?" tanya Bu Denok tiba-tiba berbalik arah menatap Ben.
Mampus!
Ben membeku sejenak mendengar pertanyaan Bu Denok. Untuk sesaat ia ingin pingsan detik itu juga. Paginya benar-benar kacau karena cewek bertubuh pendek yang sejak dua hari lalu mengganggu kehidupannya yang sebelumnya selalu aman dan damai.
Syalan!
B e r s a m b u n g!
Jangan lupa komen dan tap love gaes :)