#AwasNarasi!
Sebelum baca, jangan lupa tekan love & komen!
Happy reading, Guys!
~M e m o r i e s~
Ben menghela napas berat, cowo itu terbangun dengan mata menyipit menatap sekeliling ruangan yang masih terang benderang karena lampu ruangannya masih menyala. Kepalanya masih terasa nyeri dan pening, sehingga tangannya terulur menekan pelipisnya yang terasa pening. Ben menyerang pelan, kemudian perlahan bangkit dari posisi rebahan di atas lantai itu sejak lima menit yang lalu.
"Aish, sialaaan."
Kemudian matanya kembali menatap kembali kotak yang entah siapa pengirimnya itu dengan perasaan kalut. Benda beserta foto-foto yang berada di dalam sana itu untuk beberapa saat membuat kepala Ben seperti ditimpa batu. Ada sekelebat memori yang sangat samar, dan tak bisa didefinisikan oleh cowok itu. Yang jelas, semua itu menyisakan perasaan kalut dalam hati Ben.
'Punya Benggala!'
Sekali lagi kalimat itu terbaca di mata Ben. Dengan segala kalimat tanya yang menggantung, pikiran yang bercabang tak menentu karena sekelebat bayangan samar itu. Ben menarik napas dalam-dalam, ia kembali menyentuh isi kotak tersebut.
Sebuah setelan jas hitam beserta kemeja putih itu benar-benar sangat pas di tubuh Ben. Cowok itu menelan salivanya kasar, ada beberapa kaos oblong, dan celana training. Ada beberapa topi, dan juga jaket jeans yang semua ukuran itu sangat cocok dengan Ben. Di bagian paling bawah itu, sebuah album foto tergeletak di sana. Ben segera menyisihkan semua pakaian itu ke sembarang arah, kemudian ia memutari meja dan duduk di sofa mini setelah menyingkirkan tasnya pula.
Dengan helaan napas berat, Ben memberanikan diri untuk membuka cover album berwarna hitam metalik dengan hiasan yang sederhana. Tepat di bagian paling atas cover itu, ada bekas sobekan cover yang sengaja dihilangkan. Jemari Ben menyentuh bagian yang hilang dari cover itu, sebelum kemudian kembali memberanikan diri membuka cover tersebut.
"Hah, sinting ... ii-ini nggak mungkin, 'kan?" gumam Ben dengan susah payah menelan salivanya sendiri.
Jantung Ben berdetak nggak karuan saat sepasang netranya menangkap sebuah foto pernikahan yang menampakkan dirinya dengan seorang gadis. Dalam foto itu Ben tampak sangat bahagia, cowok itu bahkan mengernyitkan dahinya heran saat memandang lebih jelas foto yang menampakkan dirinya memeluk seorang gadis kecil yang mengenakan gaun putih panjang tersebut. Sangat disayangkan karena gadis itu hanya tampak bagian belakangnya sehingga Ben nggak tau siapa seseorang yang kini berada dalam satu frame foto bersamanya itu.
Hanya saja, ia jelas ingat tinggi badan dan postur tubuh gadis dalam foto tersebut sangat mirip dengan seseorang yang belakangan ini selalu mendatanginya setiap saat.
"Dara?" sepotong nama itu terucap begitu saja dari bibir Ben.
Matanya masih memicing, namun tangannya membuka lebih banyak halaman foto dalam album tersebut. Pada halaman-halaman berikutnya, tak ada lagi foto pernikahan yang menampakkan dirinya dan gadis nggak dikenal itu. Yang ada hanya foto Ben sendirian dalam berbagai pose. Mengenakan pakaian-pakaian yang serupa dengan baju yang berada dalam kotak besar tersebut. Foto cowok itu berada di sebuah kamar sambil membaca buku. Salah satu fotonya berada di dekat motor besar berwarna hitam sambil meenggendong seekor kucing hitam.
Cowok itu menyentuh kepalanya lagi, matanya memejam sambil mengerang pelan saat lagi dan lagi sekelebat bayangan abstrak itu melintas di kepalanya secepat kilat. Mendadak telinga Ben mendengar suara tawanya dan tawa seorang gadis yang terdengar asing. Suara-suara yang muncul itu mendadak menjadi bising. Menjadi dengungan panjang yang membuat kepalanya semakin pening. Saat itu juga album foto dalam pangkuan Ben terjatuh ke lantai.
Cowok itu tau kapan harus berhenti untuk mencari lebih dalam. Sebab rasa sakit di kepalanya semakin menjadi, Ben meraih tas dan mengambil obat dalam tabung kemudian menelannya tanpa air. Napasnya masih menderu panjang, berusaha menghitung lebih banyak untuk meredakan rasa sakit seperti apa yang diperintahkan oleh dokter yang selama ini ia kunjungi.
Meninggalkan perasaan tak keruan yang kini mengisi hatinya. Terlebih sosok Dara yang kedatangannya belakangan ini selalu memaksa Ben untuk menggantikan posisi suaminya yang hilang ingatan. Dan mendadak kotak ini datang tanpa diketahui siapa pengirimnya.
Ben tak tau, Ben juga tak bisa memaksakan diri untuk mengingat kejadian yang barusan melintas dalam sekelebat yang terasa nyata lewat beberapa lembar foto yang tertera di sana.
Hanya saja perasaan itu sedikit ... terasa menyesakkan di dadaanya untuk saat ini.
Sebenarnya Ben ini kenapa?
Sebenranya dari mana datangnya kotak dan semua benda-benda ini?
Selama ini juga semua obat dan dokter yang ia kunjungi ini, apakah benar hanya sekedar pil antidepresan?
Semua itu mendadak muncul dalam benak Ben seperti sebuah pertanyaan yang sudah berjejer sejak lama di dalam sana.
~M e m o r i e s~
Suasana malam itu masih sangat sunyi di kediaman indekos tempat Ben beristirahat selama hampir satu tahun lebih ini. Tak banyak penerangan di sekitar lorong menuju setiap kamar, sengaja Bu Denok melakukan itu untuk menjaga agar para penghuni kos tak berani melanggar kebijakan yang sudah ditetapkan. Termasuk pulang melewati jam malam.
Kos khusus pria itu berisi sebanyak lima belas kamar, yang masing-masing dihuni satu orang, kadang ada beberapa kamar yang dihuni oleh dua orang dengan ketentuan yang berbeda pula. Bayar sewa kos juga ditentukan sejak awal penghuni akan masuk ke sana, seperti akan mengambil setoran bulanan atau tahunan. Namun, tentu saja untuk anak kos kalangan menengah ke bawah pasti memilih membayar bulanan karena uang mereka juga harus dibagi dengan banyak hal.
Seperti namanya, kamar kos pria itu hanya boleh didatangi oleh laki-laki, pria, pemuda dan seorang cowok tulen. Nggak ada satu pun wanita yang boleh menginjakkan kaki di sana selain Bu Denok dan juga ... Kunti.
Eum, bay The way ... kalian masih ingat sama Kunti, 'kan?
Di depan pintu kamar kos yang tertutup rapat itu, Gadis berambut hitam panjang sepunggung itu menunduk, membuat wajah itu sepenuhnya tertutup oleh gerai rambut yang indah tersebut. Seperti biasa, dress biasa berwarna putih sepanjang bawah lutut ia kenakan. Di sana Kunti berdiri.
Tepat di depan kamar kos Benggala. Setelah belakangan ini ia jarang mungcul sejak kali terakhir ia menikmati indomie buatan Ben. Selepas hari itu Kunti belum menemui Ben lagi. Tangannya sudah bergerak memgangi sebuah jepit rambut hitam yang biasa ia gunakan untuk membobol pintu kamar cowok itu.
Namun, Kunti tak melakukannya kali ini. Gadis itu mendongak menatap daun pintu, meski ia masih mendengar suara kemrusuk di dalam, yang berarti Ben belum tertidur, tapi ia memutuskan untuk duduk meringkuk di depan pintu kamar Ben.
"Besok aja," gumamnya pelan dan sangat datar, "biar jadi kejutan buat Ben."
Gadis itu kemudian mengukir senyum di wajahnya yang masih tertutup dengan helaian rambut panjangnya sendiri.
"Ben harus sembuh, Ben harus inget semuanya," imbuhnya lagi.
-B e r s a m b u n g-
Hayolo, sebenernya Kunti itu saha sih? ??
Semoga nggak membosankan, meskipun komedinya garing dan bahkan nggak masuk sama sekali.
Makin nge-drama juga yah, wkwk. Intinya sankyu dah baca.
Jangan sungkan buat komen gais, gratis :')
Aku terima semua komen berupa kritik dan saran dari kalian kok, muehehe