Sebelum baca jangan lupa tekan love, komen juga ya ^^°
Happy reading, guys!
~M e m o r i e s~
Seandainya manusia bisa memilih untuk terus bahagia di jalan yang ditentukan oleh masing-masing dari kita. Apakah mungkin akan tetap ada yang namanya keadilan? Apakah mungkin akan tetap ada yang namanya keburukan? Apakah mungkin juga kehidupan kita akan selalu seimbang?
Pada dasarnya manusia hanya ingin melihat sebuah kebaikan tanpa cela. Memandang taman penuh hamparan bunga yang indah tanpa peduli proses menuju indah itu sendiri. Seperti bagaimana caranya memilih bibit yang baik, menanam yang benar, telaten menyiram dan segala jenis perawatan lainnya. Manusia tidak demikian.
Termasuk dalam kehidupan yang mereka jalani, sejatinya kita hanya ingin bahagia setiap saat tanpa peduli dengan semua dosa yang pernah kita lakukan di masa silam. Sekalinya kita terluka, lantas Tuhan yang disalahkan. Lucu bukan?
Dara seperti demikian, tapi ia sadar bahwa kebodohannya dengan berpikir seperti demikian tak akan merubah keadaan dan kenyataan. Bahwa Ben tak lagi tergapai untuk dirinya. Untuk beberapa saat dalam kejatuhan yang membuat Dara bosan untuk sekedar kembali bangun di hari esok. Sejak beberapa bulan lalu sampai detik ini, Dara selalu bersyukur atas segala kejadian yang ia lewati. Meski kerap kali cewek itu juga mengeluh dan merasa lelah.
Tapi, semua itu wajar, 'kan?
Semua itu biasa, 'kan?
Karena Dara juga manusia biasa yang punya banyak rasa. Hanya saja untuk persoalan cinta, baginya cuma Ben yang berhak memiliki seluruh hati dan perasaannya. Ia bahkan tak banyak peduli seberapa banyak Ben melupa padanya, bahkan memintanya pergi di hari-hari perjuangan Dara.
Lihat saja, sekarang waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Namun, cewek mungil yang hari ini mengenakan celana kulit hitam di atas mata kaki, kaos pendek putih polos, dan outer berupa blazer hitam itu, kini sudah berdiri di depan pintu kamar kos Ben. Beberapa kali cewek yang rambutnya di ikat separuh ke atas itu mengetuk pintu, tapi tak ada respon. Hingga sedetik kemudian Dara acuh, dan memilih untuk membuka pintu kamar Ben seperti biasa.
Dara merogoh tas selempang kecil berwarna cokelat, dan mendapatkan kunci duplikat dari sana. Kunci kamar kos Ben yang berhasil ia dapatkan dengan segala usaha dan jerih payah yang luar biasa. Sehingga hal itu membuat Dara lebih mudah untuk keluar masuk ke kamar Ben.
Kepalanya melongok ke dalam, ia bergegas masuk kemudian menutup kembali pintu kamar. Ruangan itu gelap, jendela kecil berbentuk persegi panjang yang menghadap ke lorong indekos yang biasanya memancarkan cahaya itu bahkan masih tertutup tirainya. Dan lihat saja ... kamar Ben hari ini sangat berantakan. Parah.
Melihat itu Dara secara alamiah menghela napas dengan gelengan kepala yang seirama.
"Emang dasar cowok! Sama-sekali nggak punya jiwa kerapian," gumamnya.
Dara sudah mengelilingi seantero kamar Ben dan tak mendapati cowok itu ada di sana. Namun, suara kecipak air dari dalam kamar mandi membuat cewek itu segera mengerti bahwa Ben-nya sedang berada di kamar kecil. Dara menggantungkan tasnya pada gantungan baju yang berada di balik pintu. Ia segera mengambil keranjang kecil yang berguna sebagai tempat pakaian kotor, memasukkan beberapa pakaian yang berserakan dan menjadikannya ke dalam satu tempat. Selanjutnya ia meraih sebuah kantung kresek hitam yang ada di tempat sampah kering, Dara dengan cekatan juga memungut sampah yang berserakan di sana. Botol kopi, kaleng minuman berkarbonasi, dan beberapa bungkus makanan ringan serta rematan kertas.
Dara nggak tau apa yang sedang terjadi pada Ben, sehingga kamarnya sampai berantakan seperti ini. Sedangkan cewek itu sangat paham bahwa sosok Ben yang ia kenal, sedikitpun tak akan tahan melihat kekacauan di tempatnya rebahan. Sambil merapikan kasur dan almari mini Ben, pikiran Dara terus bertanya-tanya.
"Ada apa dengan Ben?"
Semoga saja tak ada sesuatu yang serius sampai membuat cowok itu kembali merasa kesakitan seperti dulu-dulu.
Derit suara pintu kamar mandi yang terbuka, membuat fokus Dara terbagi dua. Antara tumpukan buku Ben yang berantakan, dan cowok tinggi yang sudah memakai celana panjang dan kaus panjang yang baru saja keluar dari kamar mandi. Cewek itu melempar senyum, tangannya terangkat melambai pada Ben yang menatapnya tanpa ekspresi.
"Gue nggak lama, kok. Setelah lo pergi, gue juga bakalan ke kampus." Dara mengoceh sendirian. Ia bahkan tak mempedulikan raut wajah Ben yang tanpa ia sadari sudah mengeras menatap Dara.
Ingatan cowok itu melayang pada kejadian semalam. Saat rasanya kepala Ben hampir saja meledak karena suara tawa dan kilas kejadian singkat nan samar yang menghantuinya. Perlahan tangannya mengepal erat, menggenggam sebuah handuk kecil setengah basah di tangan kanan sampai buku tangannya memutih saat itu juga.
"Keluar dari kamar gue sekarang," desis Ben pelan, tapi sarat akan penekanan.
Nada itu seperti tak terbantah, dan Dara paham betul bahwa cowok tinggi yang berdiri dengan jarak tak jauh darinya itu tak sedang bercanda. Kedua alis Dara menyatu menatap Ben, sehingga perlahan ia berdiri untuk menatap wajah Ben lebih dekat.
'Ada yang salah dengan lelakinya, dan Dara harus mencari tau apa hal itu.'
Wajah tampan Ben tampak lebih pucat dari pada biasanya. Sepasang mata cowok itu juga terlihat lelah dan sedikit merah, sehingga Dara sedikit berjinjit untuk menyentuh dahi Ben, sebelum cowok itu menepisnya.
"Lo demam, Benjol. Istirahat aja, nggak usah kerja, kalau perlu biar gue yang minta izin ke bos elo buat istirahat hari ini," ucap Dara, "gue bawain bubur ayam. Lo sarapan dulu, gih abis itu minum obat. Gue pergi ke luar sebentar, yak!"
Setelah selesai mengucapkan kalimat panjang kali lebar itu, Dara berbalik untuk mengambil tasnya. Namun, saat itu juga cewek itu berbalik dan kembali berdiri di posisinya. Tepat saat Ben menarik lengan Dara dengan sentakan keras. Dara bahkan sampai terkejut akan hal itu. Tapi, cewek itu mencoba untuk bersikap tenang dan menatap Ben dengan hangat. Terus menyoroti sepasang mata di depannya berusaha mendapatkan jawaban atas tanya yang menggantung akan sikap Ben pagi ini.
Padahal kemarin mereka baru saja jalan bersama, dan meskipun rasanya ironi, tapi Dara menyukainya. Dara suka menghabiskan waktu bersama Ben.
"Kenapa?" tanya Dara polos.
Sepasang mata sipit itu menajam setelah sekian lama Dara tak menemui tatapan itu. Kini sosok asing di depannya tampak berkali-kali menghela napas pendek dan membuang muka, rahangnya mengeras saat kedua mata mereka kembali bersirobok dalam keheningan.
"Elo yang kenapa?" Mendengar pertanyaan itu, sepasang manik hazel Dara menyipit sehingga dahinya menciptakan kerutan heran.
"Kenapa lo ke sini lagi? Kenapa lo peduli sama gue? Kenapa lo ngasih makan gue? Kenapa juga, sih lo harus dateng ke kehidupan gue, Ra?" tanya Ben mengucapkan itu semua hanya dengan satu tarikan napas.
"Gue emang menyedihkan, tapi gimanapun juga. Lo nggak berhak ngatur kehidupan gue, termasuk kasih lo izin masuk ke sini tanpa permisi, Dara!"
Gadis itu berdiri mematung mendengar semua pertanyaan serta pernyataan tersebut, hampir saja ia meneteskan air mata jika Dara tak buru-buru memalingkan wajah dan mendongakkan kepala serta mengedipkan mata beberapa kali dengan cepat. Sehingga air mata itu tak jadi turun.
Tolonglah, Dara nggak boleh nangis sekarang di depan Ben. Lagi.
Tapi, kalimat itu barusan ... cukup menusuk jantung Dara begitu dalam. Benarkah dulu Ben mencintainya tanpa tapi? Kalau pun iya, kenapa cowok itu bahkan sangat tega mengucapkan semua kalimat tadi? Rasanya Dara hampir saja lupa caranya bernapas.
Gadis itu kembali menoleh, menatap Ben yang masih menyorotnya dengan tajam.
"Karena kita ... kita, temenan, 'kan?" balas Dara tergugu.
Ia tekan rasa sakitnya sampai ke dasar hati paling dalam. Ia telan tangisnya di depan lelaki itu demi kebaikannya pula. Namun, Ben malah memutar tubuh sambil meremat rambutnya sendiri, cowok itu mendadak berjongkok dengan mata terpejam. Dan Dara dapat dengan jelas mendengar suara rintihan dari bibir Benggala. Gadis itu spontan membulatkan mata, ia ikut berjongkok dan berusaha menatap wajah Ben yang tertunduk.
"Ben, lo kenapa?" tanya Dara khawatir.
Kedua tangan Dara meraih kedua pipi Ben, gadis itu menatap raut kesakitan dari wajah lelaki di depannya. Sebelum sedetik kemudian Ben benar-benar kehilangan kesadarannya, tepat setelah ia mengerang sakit dan terjatuh tepat di pundak Dara yang sempit.
"Bangun Bego! Gue nggak mau elo kenapa-kenapa," teriak Dara dengan tangis yang sudah tak bisa dibendung lagi.
Peduli setaan jika beberapa penghuni indekos mendengarnya, yang Dara butuhkan saat ini hanyalah Ben-nya kembali bangun dan membuatnya merasa kesal lagi.
Tanpa banyak bicara lagi, Dara mengeluarkan ponselnya dan bergegas menghubungi rumah sakit dengan isak tangis yang belum mereda.
'Tuhan tolong, demi apa pun gue nggak rela Ben kenapa-kenapa.' Dara terus memohon hal tersebut dalam hatinya sambil memeluk Ben dengan erat.
~M e m o r i e s~
-B e r s a m b u n g! -
Sambil denger ini gais, enak deh :) Gak bohong
-Yura Yunita - Tenang-
Dialog dini hari
Kepada diriku sendiri
Tak bisa ku tertidur lagi
Melayang pikirku tak pasti
Dialog dini hari
Resah gelisah mengiringi
Berharap ada yang mengerti
Berharap kau ada di sini
Tenang, tenang yang tak kunjung datang
Menanti-nanti cahaya-Mu, beri aku petunjuk-Mu
Tenang, tenang, oh, datanglah tenang hari ini
Dialog dini hari
Resah gelisah mengiringi
Berharap ada yang mengerti
Berharap kau ada di sini
Tenang, tenang yang tak kunjung datang
Menanti-nanti cahaya-Mu, beri aku petunjuk-Mu
Kadang-kadang kelam ini datang menghampiri, oh-oh
Tenang, tenang yang tak kunjung datang
Menanti-nanti cahaya-Mu, beri aku petunjuk-Mu
Tenang, tenang, oh, datanglah tenang hari ini
Tenang, tenang yang tak kunjung datang
Menanti-nanti cahaya-Mu, beri aku petunjuk-Mu
Kadang-kadang kelam ini datang menghampiri, oh-oh
Tenang, tenang yang tak kunjung datang
Menanti-nanti cahaya-Mu, beri aku petunjuk-Mu
Tenang, tenang, oh, datanglah tenang hari ini
Jauhkanku dari sedih itu
Aku merindu padamu
Jauhkanku dari gelap itu
Aku kembali pada-Mu