-Payung Teduh : Kita Adalah Sisa-Sisa Keikhlasan-
Kita tak semestinya berpijak
Di antara ragu yang tak berbatas
Seperti berdiri di tengah kehampaan
Mencoba untuk membuat pertemuan cinta
Ketika surya tenggelam
Bersama kisah yang tak terungkapkan
Mungkin bukan waktunya berbagi pada nestapa
Atau mungkin kita yang tidak kunjung siap
Kita pernah mencoba berjuang
Berjuang terlepas dari kehampaan ini
Meski hanyalah dua cinta
Yang tak tahu entah akan dibawa ke mana
Kita adalah sisa-sisa keikhlasan
Yang tak diikhlaskan
Bertiup tak berarah
Berarah ke ketiadaan
Akankah bisa bertemu
Kelak di dalam perjumpaan abadi
Kita pernah mencoba berjuang
Berjuang terlepas dari kehampaan ini
Meski hanyalah dua cinta
Yang tak tahu entah akan dibawa ke mana
Kita adalah sisa-sisa keikhlasan
Yang tak diikhlaskan
Bertiup tak berarah
Berarah ke ketiadaan
Akankah bisa bertemu
Kelak di dalam perjumpaan abadi
• Kepada Selat Benggala, satu-satunya bentala tempat Dara bernapas. •
Dalam sunyi yang makin menyepi, tawamu masih kukenang dalam kerinduan abadi
Dalam gelap malam yang kelam, sayangmu masih senantiasa kurindui setiap hari
Sunyi ini mencekik, karena tak ada tawamu yang menghibur sedihku
Gelap ini menyiksa, sebab tak ada kamu untukku berbagi rasa takut seperti dulu kala
Aku tak pernah tau kalau ternyata cinta memang perihal yang sangat rumit seperti ini. Setelah sekian lama menunggu, nyatanya tak ada kisah manis yang kutemui, melainkan tragedi yang justru terulang kembali
Padahal, Ben
Pada masa-masa itu, aku pun nyaris saja menyerah dengan keadaan ini Keadaan di mana kamu tak pernah mengingatku lagi
Kenyataan bahwa memori tentangku tak sedikitpun tersisa dalam jejak ingatanmu
Sesak ini tak kunjung pulang ke tempatnya
Ia masih bersarang dan senantiasa memenuhi rongga dadda
Seperti perasaanku yang tak kunjung mereda pada sosokmu yang sederhana
Seperti kesabaranku menantimu untuk kembali seperti sedia kala
Mencintaiku tanpa tapi, mengingatku dalam hati
Meski hanya setitik saja
~M e m o r i e s~
Dara masih berharap hari-hari panjang yang ia lewati dengan penuh sesak dan rasa sakit ini, kelak akan meninggalkan ending yang membahagiakan. Meski tak untuknya, setidaknya untuk Ben. Satu-satunya lelaki yang membuat Dara jatuh hati, dan terlanjur mati pada laki-laki itu pula.
Tak banyak yang Dara minta, jika saja sanggup semua rasa sakit itu ingin ia enyahkan dari Ben. Bahkan jika sanggup, Dara ingin merubah kejadian di masa lalu. Ia tak akan membuat Ben mengalami kecelakaan sehingga ia tak perlu menjalani kehidupan pelik seperti ini. Namun, Dara hanya manusia yang kodratnya menjalani semua takdir yang telah digariskan oleh Tuhan.
Yang saat ini bisa Dara lakukan hanya meminta dan terus meminta pada Sang Kuasa.
Dara harap, Tuhan benar-benar menunjukkan keadilannya kepada seorang pendosa macam dirinya.
Setidaknya, untuk kesembuhan dan kebahagiaan Selat Benggala.
'Karena cinta selalu mengajarkan kita untuk mencintai rasa sakit.' Sandara.
~m e m o r i e s~
-B e r s a m b u n g-
Attention Please!!!
Halo hai!
Semoga kalian baik di sana ya, buat semua pembaca saya yang nggak berwujud ini ? makasih banyak udah mampir, meskipun nggak mau menampakkan diri.
So di sini saya cuma mau bilang kalau aplikasi saya agak bermasalah. Eung ... lebih tepatnya hape saya yang agak nganu ?
Jadi suka ke double up tanpa sadar, gais. Maaf banget.
Jadinya saya kasih saran, kalau misalkan hari ini ada pemberitahuan up cerita dari saya. Di skip dulu, bacanya pas besoknya lagi, dijamin udah aman kok buat di baca T_T
Sekali lagi maaf ya gais, dan makasih banyak pula yang udah kasih love-nya.
Jangan lupa mampir ke cerita saya yang lain bay The way, makasih banyak banyak