27. Harapan (?)

1690 Words
-Payung Teduh : Kita Adalah Sisa-Sisa Keikhlasan- Kita tak semestinya berpijak Di antara ragu yang tak berbatas Seperti berdiri di tengah kehampaan Mencoba untuk membuat pertemuan cinta Ketika surya tenggelam Bersama kisah yang tak terungkapkan Mungkin bukan waktunya berbagi pada nestapa Atau mungkin kita yang tidak kunjung siap Kita pernah mencoba berjuang Berjuang terlepas dari kehampaan ini Meski hanyalah dua cinta Yang tak tahu entah akan dibawa ke mana Kita adalah sisa-sisa keikhlasan Yang tak diikhlaskan Bertiup tak berarah Berarah ke ketiadaan Akankah bisa bertemu Kelak di dalam perjumpaan abadi Kita pernah mencoba berjuang Berjuang terlepas dari kehampaan ini Meski hanyalah dua cinta Yang tak tahu entah akan dibawa ke mana Kita adalah sisa-sisa keikhlasan Yang tak diikhlaskan Bertiup tak berarah Berarah ke ketiadaan Akankah bisa bertemu Kelak di dalam perjumpaan abadi • Kepada Selat Benggala, satu-satunya bentala tempat Dara bernapas. • Dalam sunyi yang makin menyepi, tawamu masih kukenang dalam kerinduan abadi Dalam gelap malam yang kelam, sayangmu masih senantiasa kurindui setiap hari Sunyi ini mencekik, karena tak ada tawamu yang menghibur sedihku Gelap ini menyiksa, sebab tak ada kamu untukku berbagi rasa takut seperti dulu kala Aku tak pernah tau kalau ternyata cinta memang perihal yang sangat rumit seperti ini. Setelah sekian lama menunggu, nyatanya tak ada kisah manis yang kutemui, melainkan tragedi yang justru terulang kembali Padahal, Ben Pada masa-masa itu, aku pun nyaris saja menyerah dengan keadaan ini Keadaan di mana kamu tak pernah mengingatku lagi Kenyataan bahwa memori tentangku tak sedikitpun tersisa dalam jejak ingatanmu Sesak ini tak kunjung pulang ke tempatnya Ia masih bersarang dan senantiasa memenuhi rongga dadda Seperti perasaanku yang tak kunjung mereda pada sosokmu yang sederhana Seperti kesabaranku menantimu untuk kembali seperti sedia kala Mencintaiku tanpa tapi, mengingatku dalam hati Meski hanya setitik saja ~M e m o r i e s~ Dara masih berharap hari-hari panjang yang ia lewati dengan penuh sesak dan rasa sakit ini, kelak akan meninggalkan ending yang membahagiakan. Meski tak untuknya, setidaknya untuk Ben. Satu-satunya lelaki yang membuat Dara jatuh hati, dan terlanjur mati pada laki-laki itu pula. Tak banyak yang Dara minta, jika saja sanggup semua rasa sakit itu ingin ia enyahkan dari Ben. Bahkan jika sanggup, Dara ingin merubah kejadian di masa lalu. Ia tak akan membuat Ben mengalami kecelakaan sehingga ia tak perlu menjalani kehidupan pelik seperti ini. Namun, Dara hanya manusia yang kodratnya menjalani semua takdir yang telah digariskan oleh Tuhan. Yang saat ini bisa Dara lakukan hanya meminta dan terus meminta pada Sang Kuasa. Dara harap, Tuhan benar-benar menunjukkan keadilannya kepada seorang pendosa macam dirinya. Setidaknya, untuk kesembuhan dan kebahagiaan Selat Benggala. 'Karena cinta selalu mengajarkan kita untuk mencintai rasa sakit.' Sandara. Di depan pintu ruang ICU itu Dara masih mondar-mandir sambil menggigit kuku jarinya sendiri. Wajahnya sudah basah, mata sembab dan sarat akan sorot ketakutan itu jelas terpancar pada sepasang manik hazel Dara. Ia sudah menghubungi Anggar dan juga mamanya, berharap kedua orang itu segera datang untuk menemaninya di sini. Karena Dara sangat takut sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu kembali terulang, dan membuat dirinya begitu terpukul atas kejadian yang sama. Kejadian yang bahkan belum bisa sepenuhnya Dara lupakan sampai detik ini. Dara takut, demi apa pun Dara tak melakukan hal yang membuat Ben harus mengingatnya dengan keras. Ia tak melakukan upaya bodoh yang kemudianembuat lelaki yang ia cintai tumbang sampai seperti ini. "Dara?" Suara milik mama terdengar jelas di telinga cewek itu. Mama dan Anggar tampak berlari kecil ke arah Dara dengan raut wajah penuh kekhawatiran tersebut. Wanita paruh baya itu segera memegang kedua tangan anak perempuannya dengan tatapan penuh kekhawatiran. "Kamu nggak apa-apa, 'kan?" Dara hanya menggeleng sejenak, kemudian air mata itu kembali menetes hanya karena satu kalimat tanya dari mama. "Ben, Ma?" isaknya dengan suara bergetar. "Nggak apa, dia pasti baik-baik, aja. Hmm, jangan nyalahin diri sendiri, Ra. Semua yang terjadi sudah jadi ketentuan Tuhan, Nak." Di dekap erat putri sulungnya itu, membiarkan Dara menangis dalam dekapannya sambil menunggu kabar dari Ben. Sedangkan Anggar hanya menghela napas berat menyaksikan kedua wanita di depannya yang sedang sama-sama terluka. Lelaki yang kini bekerja sebagai seorang manajer di sebuah perusahaan surat kabar itu sebenarnya juga merasa sukar melihat kehidupan adiknya. Anggar bahkan sudah beberapa kali memperkenalkan temannya kepada Dara, berharap adiknya itu mencoba untuk membuka hati dan melupakan sosok Ben yang bahkan tak mengingatnya sama-sekali. Tapi, gadis itu juga selalu saja menolak. Ia masih bersikukuh memperjuangkan Ben, dan berharap laki-laki yang bahkan tak mengenalinya lagi itu akan kembali seperti sedia kala. Keceriaan Dara yang kembali beberapa saat lalu jelas membuat Anggar merasa khawatir sekaligus waspada. Ia takut kebahagiaan yang ditunjukkan oleh Dara justru menjadi bomerang yang kelak malah berbalik menyerang Dara seperti dulu. Bahkan sejak awal mendengar rencana konyol yang dituturkan oleh Dara, Anggar tak pernah menyetujui keinginan Dara untuk mendekati Ben lagi dengan cara seperti ini. Jika sudah begini, Anggar bahkan tak tau harus melakukan apa selain menenangkan Dara sebisanya. ~M E M O R I E S~ Pintu ruangan terbuka menampakkan Seorang pria paruh baya yang keluar dari sama diikuti seorang perawat wanita. Pria yang mengenakan setelan jas dokternya tersebut nampak memasukkan stetoskop ke dalam saku jas putih yang dikenakan. Di saat yang bersamaan Dara, mama, juga Anggar. Mereka segera menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan keadaan Ben. "Gimana Dok?" Pria paruh baya itu tersenyum samar. Ia sudah mengenal keluarga ini sejak dua tahun yang lalu, karena memang ia pula lah yang menangani kasus Ben sejak awal, mulai dari operasi sampai terapi yang sempat diupayakan untuk lelaki itu. "Jadi, siapa yang mau ikut ke ruangan bersama saya?" tanya Dokter tersebut. "Saya, Dok!" Dara mengajukan diri dengan gamblang secepat mungkin. "Boleh, ayo ikut saya. Ibu juga ikut, buat mendampingi Nak Dara, ya," pinta pria itu dengan pembawaan yang lembut dan hangat seperti biasanya. Kini ketiga orang itu sudah berada di ruang kerja Dokter Gito, spesialis bedah saraf yang sudah selama dua puluh dua tahun berkarir di dunia kedokteran ini. Beliau duduk di kursinya, menatap Dara dan ibunya secara bergantian sebelum kemudian menghela napas. Karena kasus amnesia retrograde yang diderita Ben pasca kecelakaan itu bukan perihal sepele. Amnesia retrograde adalah adalah hilangnya akses memori ke peristiwa yang terjadi atau informasi yang dipelajari di masa lalu. Ini disebabkan oleh cedera berat atau timbulnya penyakit. Retrograde amnesia ini cenderung berdampak negatif pada memori episodik , otobiografi , dan deklaratif , sambil menjaga memori prosedural tetap utuh tanpa meningkatkan kesulitan untuk mempelajari informasi baru. Retrograde amnesia / amnesia retrograde dapat di nilai sementara, atau lebih permanen berdasarkan tingkat keparahan penyebabnya. Biasanya konsisten dengan hukum Ribot . Hukum menyatakan bahwa subjek lebih mungkin untuk kehilangan ingatan lebih dekat dengan kejadian traumatis daripada lebih banyak ingatan yang terjadi lebih jauh dari kejadian tersebut. Jenis informasi yang dilupakan dapat berkisar dari memori tertentu, seperti peristiwa tunggal, atau memori yang lebih umum. Ini akan menyerupai amnesia generik. Amnesia anterograde adalah kondisi serupa yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk membentuk ingatan baru setelah timbulnya cedera atau penyakit. Dan inilah kasus yang selama dua tahun menimpa Ben. Meskipun usianya masih terbilang muda, cowok itu pernah mengalami cedera otak yang cukup berat. Ben kehilangan seluruh memorinya tentang Dara, hanya tentang gadis yang pernah ia cintai sepenuh hati. Sehingga Dara yang saat ini tengah mencintai Ben seorang diri, sudah pasti merasa bahwa dunia memang tempat yang tak adil. Tak ada lagi tempat bagi Dara untuk pulang ke pelukan hangat yang mengusir segala penat. Pada umumnya hasil dari kerusakan pada daerah otak yang berhubungan dengan memori episodik dan deklaratif, termasuk informasi otobiografi. Dalam kasus ekstrim, individu mungkin benar-benar lupa siapa mereka. Umumnya, ini adalah jenis amnesia yang lebih parah yang dikenal sebagai amnesia global atau umum. Namun, kehilangan memori juga bisa selektif atau kategoris, dimanifestasikan oleh ketidakmampuan seseorang untuk mengingat peristiwa yang berkaitan dengan insiden atau topik tertentu. Seperti kasus Ben. Pasien juga berbeda dalam durasi RA berapa lama mereka tidak dapat mengingat informasi dan durasi dari apa yang dilupakan kerangka waktu terakhir yang informasinya tidak tersedia. "Saya pernah bilang kalau kerusakan yang terjadi di otak Ben cukup parah, bisa jadi amnesia yang diderita Ben ini hanya sementara atau bahkan permanen. Tapi," ucap dokter itu menghentikan kalimatnya. Sedangkan Dara dan mama di depannya masih menyimak dengan tetes air mata yang tak dapat dihentikan. "Tapi, dalam kasus ini saya baru menemui pasien seperti Ben." "Maksud Dokter apa? Ben bisa sembuh, 'kan?" Dara menginterupsi. Sehingga secara alamiah, mama yang berada di samping Dara mengelus punggung putrinya. Berharap Dara bisa lebih tenang untuk menghadapi semua ini. Kedua tangan mama juga tak berhenti menggenggam jemari putrinya dengan erat. "Waktu dan semua usaha yang kita kerahkan sudah maksimal, bahkan nggak ada cara yang belum kita coba untuk mengembalikan ingatan Ben." "Dokter nggak akan bilang mau nyerah, 'kan? Dokter bilang mau bantu sampai Ben bener-bener pulih waktu itu?" potong Dara lagi. Matanya nyalang memohon pada pria paruh baya di depannya agar tak mengucapkan kalimat yang akan keluar dari bibirnya. Tapi ..., "Kita harus berhenti." Pernyataan yang baru saja tertangkap indera pendengaran Dara itu, seperti telah mematikan seluruh syaraf yang ada pada diri Dara. Gadis itu tak bergerak, bungkam, membiarkan tetes air mata menjadi saksi betapa ia hancur mendengar keputusan ini setelah sekian lama berjuang. "Ini pilihan terbaik, kalau terus dipaksa justru sangat membahayakan buat Ben. Jadi, kita cuma perlu menunggu mukjizat dan keajaiban dari Tuhan." Mukjizat? Keajaiban? Dara hampir saja tertawa mendengarnya, jika kepalanya tak mendadak di serang pusing yang seketika membuat pandangannya menggelap total. ~M E M O R I E S~ -B e r s a m b u n g- Attention Please!!! Halo hai! Semoga kalian baik di sana ya, buat semua pembaca saya yang nggak berwujud ini ? makasih banyak udah mampir, meskipun nggak mau menampakkan diri. So di sini saya cuma mau bilang kalau aplikasi saya agak bermasalah. Eung ... lebih tepatnya hape saya yang agak nganu ? Jadi suka ke double up tanpa sadar, gais. Maaf banget. Jadinya saya kasih saran, kalau misalkan hari ini ada pemberitahuan up cerita dari saya. Di skip dulu, bacanya pas besoknya lagi, dijamin udah aman kok buat di baca T_T Sekali lagi maaf ya gais, dan makasih banyak pula yang udah kasih love-nya. Jangan lupa mampir ke cerita saya yang lain bay The way, makasih banyak banyak
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD