20. Minta Tolong

1661 Words
Jangan lupa tekan love dan komen! . . . ~m e m o r i e s~ "Bisa nggak tiap hari lo bikin gue bahagia, Ben?" 'Please bilang iya, Ben. Please ....' Setelah cukup lama diam, Benggala tersenyum. Ia menarik lengannya yang sedari tadi dipeluk Dara hingga terlepas, membuat doa dan harapan yang sejak tadi dirapal oleh cewek itu musnah seketika. Namun, demikian Dara masih mempertahankan tatapannya untuk nggak beralih dari Ben yang masih belum bersuara. "Kebahagiaan orang itu ada di dalam dirinya masing-masing. Bukan orang lain." Batin Dara yang tadinya masih komat-kamit merapalkan doa semoga setidaknya cowok tinggi di depannya itu menganggukkan kepala untuk menyetujui ucapannya barusan. Tapi, mendengar jawaban Ben barusan sudah cukup membuat jantung Dara mencelos. Seperti nggak berada di tempat yang tepat, hatinya juga mendadak terasa nyeri. Bayangkan saja kalau kalian jadi Dara, memang kalian nggak sakit hati? Putus sama pacar aja nangis-nangis apalagi mendadak asing dengan suami sendiri? Iya sih, Dara tau kalau setiap hati manusia mempunyai kapasitas yang berbeda buat menampung masalahnya. Tapi, Dara sendiri nggak yakin kalau ia termasuk dari salah satu orang yang memiliki hati begitu lapang untuk menampung semua luka-lukanya. Hanya saja realita nggak mengizinkan Dara untuk berhenti begitu saja. Begituan dengan hatinya yang nggak bisa dipaksa untuk acuh kepada sosok Benggala. Cewek itu perlahan mengalihkan tatapannya ke dalam toko buku yang tak begitu ramai pengunjungnya. Kapan ia bisa menemui lelaki seperti pada kebanyakan cerita romansa yang pernah ia baca dalam kehidupan nyata? Dara nggak mau yang lain kok, Tuhan. Cukup Ben aja, kembalikan Ben seperti sediakala sebelum memori tentang dirinya dan Dara hilang nggak berbekas seperti ini. Ben ikut menunduk secara alamiah untuk memerhatikan lebih dalam ekspresi Dara. Cewek itu masih tersenyum, meski begitu samar Ben dapat melihatnya. Kepalanya kini berperang dengan segala kemungkinan yang mendadak muncul menjadi satu dengan kekhawatiran akan keadaan Dara yang sedang mengalami masa sulit. "Tapi, sebagai manusia kita juga wajib saling bantu sama sesama." Sayangnya Ben juga belum selesai mengucapkan kalimatnya, cowok itu mendadak mengulurkan tangannya ke atas dan mengancak puncak kepala Dara dengan usapan pelan yang ... eum, masya Allah, Ya Tuhan, Oh MY GoD! Bikin jantung Dara kelojotan setengah mampus. Cewek itu bahkan menahan napasnya sejenak, menatap Ben yang detik itu tersenyum tulus. Benar-benar tulus lewat sepasang matanya, dan Dara bisa merasakan hal itu. Seolah Ben yang dulu sudah kembali dan mengenalinya seperti sedia kala. Seolah Ben yang berdiri di hadapannya itu adalah lelaki yang nggak pernah melupakan dirinya bak sedetik. Meskipun semua itu bukan realita, Dara jelas tau. Hanya saja, mengkhayal menang sangat menyenangkan. Ia menahan setengah mati agar nggak menangis di sana dengan melempar tatapan ke tempat lain. "Gimana caranya gue bisa bikin lo bahagia, Ra?" tanya Ben saat itu juga. Tentu saja Ben bersungguh-sungguh dengan ucapannya barusan. Ia paham, sebagaimana sulitnya berada di posisi Dara yang ditinggalkan begitu saja. Dan sekarang cowok itu bisa melihat dengan jelas bahwa sepasang mata cokelat Dara berbinar dengan sangat indah. Cewek yang baru maju selangkah untuk memasuki toko buku itu kembali berhenti tepat di depan pintu masuk. Telinganya menangkap dengan jelas pertanyaan gamblang yang dilontarkan oleh Ben. Seperti sebuah keajaiban yang datang kepada Dara hari itu, dan tentu saja Dara nggak akan membuang waktunya lebih lama lagi. "Lo beneran mau bantuin gue 'kan, nggak bohong?" ulang Dara agak curiga. Cowok itu mengangguk sekali lagi, kemudian menjawab, "yaudah cepet, sebelum gue berubah pikiran." Dara mengulum senyum bahagia, kemudian ia segera mengatakan hal yang sangat ia inginkan kepada Ben sore itu juga di depan toko buku sebuah mall besar. "Tolong jadi suami gue, Ben!" ucapnya gamblang. Lagi, dan lagi keduanya saling tatap dalam kebisuan, mengabulkan setiap orang-orang yang melintas di sekitar mereka bagaikan para figuran dalam kisah keduanya. 'Kalaupun, lo nggak bisa inget tentang gue dan masa lalu kita. Lo harus siap buat jatuh cinta lagi sama gue, Selat Benggala.' Dara membisikkan hal itu kepada hatinya agar tak goyah dan semakin tegar menghadapi cowok berkaki panjang tersebut. ~M e m o r i e s~ Satu tahun yang lalu, tepat saat Ben dan Dara sama-sama sudah menjadi anak kuliahan. Kedua manusia berbeda tinggi badan itu memutuskan untuk mengakhiri hubungan friendshit yang selama ini membuat mereka dekat, berganti dengan sebuah ikatan suci alias pernikahan. Waktu itu Ben masih berusia dua puluh satu tahun, tapi cowok itu penuh dengan kedewasaan dan sikap tanggung jawab karena didikan dari kedua orang tuanya yang memang termasuk ke dalam orang-orang berpengaruh di lingkungannya. Untuk seorang anak laki-laki tunggal, Ben bukan anak yang manja kepada orang tuanya. Cowok itu anak yang sangat penurut dan nggak neko-neko seperti pemuda mleyot yang kerap dijumpai di zaman sekarang ini. Karena hal itu juga, sewaktu Ben dengan gamblang melamarnya tanpa adegan romantis sekalipun. Dara nggak banyak berpikir dan langsung mengiyakan ajakan Ben untuk menikah. Toh, Dara juga sudah sejak lama menyukai Ben secara diam-diam, jadi kenapa harus ditunda jika kedua tangan itu bisa saling menggenggam untuk melindungi. Sehingga kedua keluarga sepakat untuk menikahkan kedua anak adam itu di usia yang masih terbilang belia. Dalam status mereka yang masih menjadi mahasiswa aktif. Dengan catatan, nggak boleh ada kehadiran orang ketiga—momongan, di antara mereka sebelum keduanya sama-sama lulus dan menyabet gelar sarjana. Tentu saja keduanya setuju dengan hal itu. Pernikahan berjalan dengan sangat sederhana, hanya ada sekitar lima puluh orang yang datang, itu pun hanya teman dekat dari kerabat dan beberapa kenalan Dara juga Ben. Seperti para pengantin baru pada umumnya, mereka berdua tampak begitu bahagia dengan acara ikatan janji suci tersebut. Apalagi perasaan cinta dari kedua muda-mudi yang jelas masih sangat menggebu-gebu itu jelas ketara hanya dengan menatap mata mereka. Baik keluarga Ben maupun Dara sama-sama saling merestui hubungan anak mereka tanpa membedakan status seperti kebanyakan para orang tua. "Janji, Ra?" pinta Ben mengangkat jari kelingkingnya tepat di depan wajah Dara yang dirias dengan sederhana. Mata bulat dengan manik hazel itu terlihat menawan beradu dengan bulu mata lentik alami Dara yang ditambah dengan sedikit polesan maskara. Bibir ranum merah jambu cewek itu juga hanya dioles dengan lipglouse aroma cherry seperti biasanya, ditambah pipi yang tak begitu tirus serta hidungnya yang bangir. Dara benar-benar cantik mengenakan gaun putih tersebut bersanding dengan Benggala. "Janji, jangan main-main lagi berduaan sama Galang. Kalau lo mau nongkrong, harus sama gue juga." Kekehan Dara menyembur keluar detik itu juga setelah mendengar permintaan panjang dari Ben. Dengan buru-buru cewek itu menutup bibir dengan kedua tangannya sendiri. Ia sungguh nggak menyangka bahwa seorang Selat Benggala akan mengatakan permintaan seperti ini kepadanya. "Emang kenapa? Kan gue udah lama temenan sama Galang," balas Dara kini kembali menegakkan tubuh menatap Ben di depannya. Mengabaikan para tamu yang sibuk dengan jamuan dan berbincang ringan sebelum acara Ijab qobul dimulai. Pada sepasang mata kelam yang begitu teduh itu, Dara menjumpai ketulusan dalam tatap mata Ben. Cowok itu masih belum menjawab, melainkan menyentuh kedua tangannya dan menggenggamnya cukup lama. "Dengerin gue, Ra. Cowok sama cewek itu nggak bisa temenan. Kalaupun ada, salah satu dari kalian pasti saling jatuh cinta." "Buktinya gue sama Galang cuma temenan, Ben." Dara masih membela diri. Yah, bagaimana pun juga Galang itu satu-satunya teman masa kecil Dara yang masih bertahan sampai detik ini. Galang pula yang selalu ada selama ini di sebelah Dara apapun yang terjadi. Makannya, untuk satu permintaan Benggala kali ini, sepertinya Dara nggak bisa menyetujuinya. "Tapi, lo nggak perlu khawatir Ben. Kan gue cuma cinta sama elo doang," bisik Dara kini balik menggenggam tangan Ben dengan erat. Yang tak pelak melihat ekspresi tawa dari wajah Dara berhasil membuat Ben ikut menyunggingkan segaris senyum simpul. "Sandara, untuk hari ini, besok, dan seterusnya. Tolong jangan tinggalin gue dengan alasan apapun." Ben mengucapkan kalimat itu dengan gamblang di depan semua para hadirin yang hadir menatap keduanya dengan tatapan haru juga kagum. 'Tapi, kenyataannya elo yang pergi ninggalin gue selama ini, Ben,' batin Dara. Tepat sehari setelah pernikahan mereka. Saat Ben mengendarai motornya dalam perjalanan menuju ke kampus sendirian. Cowok itu mengalami kecelakaan yang membuatnya harus koma selama lima bulan. Kepalanya cedera parah, membuat seluruh pihak keluarganya maupun Dara khawatir setengah mati. Di saat Ben berjuang melawan masa kritis itu pula ayahnya terkena serangan jantung karena shock berat, kemudian meninggal di hari yang sama saat Ben mengalami kecelakaan. Selang satu bulan kemudian, ibu Ben yang sangat terpukul karena kehilangan dua lelaki yang begitu berharga dalam hidupnya, ikut serta menyusul ayah Ben untuk beristirahat dalam damai bersama. Hal itu tak pelak membuat Dara semakin stress setelah kehilangan dua orang yang ia hargai selama ini. Belum lagi Ben yang sampai detik itu tak menunjukkan tanda-tanda akan sadar dari tidur panjangnya. Dara bahkan sempat mengalami gangguan tidur yang cukup parah, gadis itu mengidap gangguan stres dan gejala depresi saat menghadapi semua kejadian ini. Jika saja mama, kakaknya dan juga Galang nggak hadir untuk tetap sabar dan telaten menemani cewek itu dalam kejatuhannya. Saat itu nggak ada yang bisa Dara lakukan selain duduk menemani Ben sambil menggenggam telapak tangan cowok itu dengan harapan, hari esok ia terbangun dari semua mimpi buruk yang begitu mengerikan ini. Hari esok, Ben-nya akan bangun, memeluk Dara dan mengatakan bahwa senyanya pasti baik-baik saja. Dara nggak peduli dengan hal yang lain selain Ben. Hingga ia sempat cuti kuliah selama satu semester, sebelum kemudian kembali ke kampus dengan kondisi yang sedikit lebih baik. Dan hari di mana Ben bangun itu akhirnya datang juga. Namun, semua pelik luka yang Dara lalui seolah belum cukup untuk membuat Dara terjatuh. Kenyataan bahwa Ben sadar tanpa mengingat sosok Dara sedikitpun dalam hidupnya, membuat cewek itu benar-benar sangat terpukul dengan kenyataan ini. Seolah semesta sedang menghukum Dara atas dosa besar yang telah cewek itu lakukan. Tapi, apa? Dara bahkan nggak tau apa kesalahan yang sudah ia perbuat sehingga Tuhan memberikan kisah tragis ini dalam hidupnya. Apakah ia terlalu salah jika mencintai Ben begitu dalam? Sampai cowok itu benar-benar kehilangan seluruh memorinya tentang sosok Sandara. "Elo yang ninggalin gue, Selat Benggala," bisik Dara sangat pelan. ~M e m o r i e s~ -B e r s a m b u n g- Hayyo, jangan lupa tekan love dan komen ya ^^ Sankyu gais!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD