19. Siapakah kau tuk jatuh cinta lagi?

1238 Words
HIVI - SIAPKAH KAU TUK JATUH CINTA LAGI. Ketika 'ku mendengar bahwa Kini kau tak lagi dengannya Dalam benakku timbul tanya Masihkah ada dia di hatimu bertahta? Atau ini saat bagiku untuk singgah di hatimu? Namun siapkah kau 'tuk jatuh cinta lagi? Meski bibir ini tak berkata Bukan berarti 'ku tak merasa Ada yang berbeda di antara kita Dan tak mungkin 'ku melewatkanmu hanya karena Diriku tak mampu untuk bicara Bahwa aku inginkan kau ada di hidupku Kini 'ku tak lagi dengannya Sudah tak ada lagi rasa Antara aku dengan dia Siapkah kau bertahta di hatiku hai cinta Karena ini saat yang tepat untuk singgah di hatiku Namun siapkah kau 'tuk jatuh cinta lagi? Meski bibir ini tak berkata Bukan berarti 'ku tak merasa Ada yang berbeda di antara kita Dan tak mungkin 'ku melewatkanmu hanya karena Diriku tak mampu untuk bicara Bahwa aku inginkan kau ada di hidupku Pikirlah saja dulu Hingga tiada ragu Agar mulus jalanku Melangkah menuju ke hatimu Pikirlah saja dulu Hingga tiada ragu Agar mulus jalanku Melangkah menuju ke hatimu Siapkah kau 'tuk jatuh cinta lagi? Meski bibir ini tak berkata Bukan berarti 'ku tak merasa Ada yang berbeda di antara kita Dan tak mungkin 'ku melewatkanmu hanya karena Diriku tak mampu untuk bicara Bahwa aku inginkan kau ada Meski bibir ini tak berkata Bukan berarti 'ku tak merasa Ada yang berbeda di antara kita Dan tak mungkin 'ku melewatkanmu hanya karena Diriku tak mampu untuk bicara Bahwa aku inginkan kau ada di hidupku Bila kau jatuh cinta katakanlah jangan buat sia-sia Bila kau jatuh cinta katakanlah jangan buat sia-sia Bila kau jatuh cinta katakanlah jangan buat sia-sia Siapkah kau 'tuk jatuh cinta lagi? ~M e m o r i e s~ Kedua kelingking itu masih saling bertaut mengunci, membuat kedua pasang mata mereka bersirobok dalam satu garis lurus yang tak kasat mata. Untuk kali pertamanya, Ben menatap Dara sedalam ini, cewek itu juga diam dan tak banyak bicara ataupun bertingkah seperti biasanya. Dan hal itu membuat Ben semakin yakin kalau Dara ini sebenarnya memang sedang menyimpan masalahnya sendiri. Mungkin saja di balik keceriaan yang Dara ciptakan, cewek itu sedang berusaha untuk menghibur dirinya sendiri yang sedang nggak baik-baik aja. Untuk beberapa saat kemudian Ben menghela napas, ia menarik tangannya hingga kelingking keduanya terlepas. Berbeda dengan Ben yang terlihat tenang dan banyak berpikir di dalam. Dara justru amat sangat senang meski dalam hati ia merasa begitu miris. Menautkan kelingking satu sama lain seperti ini adalah salah satu kebiasaan yang pernah Dara lakukan saat bersama Ben dulu, sebelum ingatan cowok itu hilang karena kecelakaan sialan yang membuat memori Ben tentang dirinya hilang. Namun di sisi lain, Dara juga merasa nyalang. Bagaimana bisa seseorang yang amat ia cintai menjadi begitu asing saat keduanya bahkan sedang saling pandang. 'Nggak apa-apa, Ra. Lo percaya 'kan, takdir Tuhan nggak pernah salah.' Malaikat baik di pundak kanan Dara berbisik pelan. Berusaha meyakinkan Dara bahwa semua hal yang ia lewati ini nggak mungkin cuma sekedar kilas peristiwa yang kemudian akan membuat hubungan keduanya menjadi lebih baik. 'Tapi, kapaaaan?' batin Dara bosan. Jujur saja ia sudah capek menunggu, namun nggak bisa melepaskan Ben begitu saja. 'Nanti, Ra. Semuanya udah diatur sama Tuhan, santai aja.' lagi-lagi malaikat di sisi kanan Dara bergumam sambil mengetuk tongkatnya pelan di kepala Dara. Cewek itu menggigit pipi bagian dalamnnya, lalu menatap Ben yang sibuk menikmati kopi hitam di depannya. Segaris senyum paksa muncul di bibir Dara, ia ingat Ben itu maniak kopi parah sekali. Sampai mereka pernah bertengkar cuma karena kopi. "Lo ngajakin gue ke sini bukan cuma mau bahas soal sempaaak, 'kan?" Ben yang tadinya menumpahkan segala fokus kepada secangkir kopi, kini mengangkat kepalanya hingga pandangannya fokus mengunci Dara yang juga masih menatapnya. "Ngapain lagi? Belanjalah," balas cewek itu pendek. Kemudian Dara bergerak mengaduk milkshake stroberi yang tinggal setengah. Membiarkan Ben mengerutkan dahi dan menatapnya dengan tanda tanya yang jelas tergambar pada sepasang mata. "Harus banget lo ngajakin gue?" Pertanyaan itu secara antusias diangguki oleh Dara. Mendadak Dara menyedot jusnya hingga tandas, dan menyandang tas selempang miliknya sebelum kemudian bergegas dari kursi. "Wajib," balasnya, "ayo cepet, gue nggak menerima penolakan Benjol!" Nggak lupa, seperti biasa. Sebelum Ben menndesaah malas seperti sebelumnya, Dara menarik lengan Ben seperti anak kecil yang merajuk pada orang tuanya. Sehingga mau nggak mau Ben berdiri dari kursinya, memasukkan tangan ke dalam saku hoodie, membiarkan Dara melakukan hal semaunya. Keduanya kini berjalan bersandingan melewati beberapa store. Dara masih bergelayut di sebelah lengan Ben yang pasrah. Sehingga perbedaan tinggi badan keduanya terlihat begitu mencolok, apalagi hari ini Dara hanya mengenakan flat shoes berwarna putih. Cewek itu seperti deodorant berjalan yang membuntuti tuannya. Padahal aslinya sih cowok itu memilih untuk rebahan di kamar kos saja. Dari pada keluyuran seperti ini, lagi pula Ben juga nggak pegang banyak uang. Tapi, mengingat pesan dari mamanya Dara waktu itu. Ben benar-benar nggak bisa mengabaikan fakta bahwa kini Dara resmi dititipkan kepadanya. "Tumben lo nggak banyak ngeluh." "Karena kerjaan gue lagi free hari ini, jadi nggak apa-apa. Biar lo bahagia," Jawab Ben nggak sepenuhnya jujur. Namun, hal itu berhasil membuat Dara tersenyum lebar. Cowok tinggi yang mendapati ekspresi senang dari Dara itu tertawa pendek melihatnya. Sejauh ini ia mengenal Dara, cewek bogel bin boncel ini sangat sederhana. Sejujurnya. Meskipun banyak sisi menyebalkan yang nggak bisa lagi Ben sebutkan secara detil. Karena mengingatnya saja sudah cukup membuat cowok itu merasa ngeri. "Emang gue kelihatan nggak bahagia, ya?" Ia menatap Dara yang sesekali berhenti di depan store pakaian bermerek. Cewek itu hanya menatap ya sekilas kemudian pergi, tanpa melepaskan lengan Ben. Tanpa menghentikan langkah setelah menanyakan sesuatu padanya. Hening, jujur saja Ben nggak tau harus menjawab apa. Kalau ia mengatakan sebuah kejujuran kepada Dara saat itu juga, mungkin saja cewek itu merasa tersinggung karena ucapannya. Tepat di depan sebuah toko buku, Dara menghentikan langkahnya yang kontan juga membuat Ben berhenti. Cewek itu mendadak terlihat sumringah menatap tumpukan buku-buku yang ada di dalam tokoh tersebut. "Lo suka baca?" tanya Ben yang menangkap ekspresi bahagia Dara sekilas. Cewek itu belum menjawab, tapi belum juga melangkah masuk. Mendadak ia memutar tubuhnya ke arah Ben sehingga cowok itu bisa dengan jelas menatap wajah Dara kali ini. "Lo bener-bener jeli," kata Dara tiba-tiba. "Maksud lo? "Gue emang nggak se-bahagia kelihatannya. Makannya, gue mau minta tolong sama elo, Ben." Sekali lagi, ucapan Dara seperti menyihir Benggala untuk nggak mengalihkan pandangannya dari cewek itu. Ben masih memaku Dara yang kali ini nggak menyuguhkan senyum kepadanya. "Bisa nggak tiap hari lo bikin gue bahagia, Ben?" "Apaan sih, lo? Nggak usah ngelantur. Udah sana masuk keburu sore," potong cowok itu enggan menanggapi pertanyaan Dara. Langkah kaki Ben yang hendak masuk ke dalan toko terhenti saat Dara menarik lengannya, dan hal itu tentu saja membuat Ben kembali diam di tempat dan melemparkan pandangannya kepada Dara. "Jawab dulu," kata Dara, "bisa, 'kan?" Sepasang mata hazel itu kini nggak beralih sedetikpun dari Benggala. Keduanya kembali fokus mengunci dalan satu objek pandang. Dara masih berdoa agar setidaknya Ben menganggukkan kepala atas permintaannya. Sedangkan cowok itu juga belum menunjukkan tanda-tanda akan menjawab pertanyaan Dara. 'Please bilang iya, Ben. Please ....' Setelah cukup lama diam, Benggala tersenyum. Ia menarik lengannya yang sedari tadi dipeluk Dara hingga terlepas, membuat doa dan harapan yang sejak tadi dirapal oleh cewek itu musnah seketika. "Kebahagiaan orang itu ada di dalam dirinya masing-masing. Bukan orang lain." ~M e m o r i e s~ -B e r s a m b u n g- Jangan lupa tekan love, lur ^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD