18. Kulacino

1336 Words
Jangan lupa, sebelum baca tekan love dan komen, yaw. Happy, reading! ~M e m o r i e s~ Sudah hampir sepuluh menit Dara berdiri di parkiran seperti bebek idioot. Tengok ke kanan dan kiri mencari keberadaan Ben yang belum nampak batangg hidungnya. Cewek itu menendang daun kering yang berada tepat di bawahnya dengan hentakan kecil, sedetik kemudian mendongak menatap rimbun daun pohon akasia yang menjulang tinggi. Sinar matahari menjelang sore itu menyoroti wajahnya lewat celah-celah daun bersamaan dengan tiupan angin sepoi yang membuat rambut sebahu Dara terombang-ambing. Dara menghela napas lagi, tangannya kini dilipat di depan d**a. Saat cewek itu mengembalikan tatapannya lurus ke depan, ia sudah mendapati Ben berdiri dengan jarak satu meter di depannya. Hanya dengan menatap sekilas manik hitam Benggala, Dara tau ada sesuatu yang mengganggu pikiran cowok itu. Tapi, mengingat kondisi hubungan mereka, Dara akhirnya memilih untuk tetap diam. "Hallo! Lo udah niat mau pulang besok subuh, ya?" sentak Dara membuat Ben kembali pada fokusnya. Melihat Ben yang berjalan mendekat padanya, Dara melemparkan helm milik Ben agar cowok itu segera memasang pengaman di kepala dan bergegas pulang. Pulang? Tentu saja nggak semudah itu. Mana mungkin Dara menyia-nyiakan kesempatannya jalan berdua bareng Ben. Mumpung cowok itu sedang berada dalam mode anteng, maka Dara harus memanfaatkan hal itu dengan baik. "Langsung balik, 'kan?" tanya Ben yang kini sudah menduduki jok kemudi. Ia bahkan memasangkan pengait helm milik Dara tanpa diminta. Padahal kemarin cowok itu mati-matian menolak saat Dara meminta padanya. Cewek manis itu meremas tali tas selempang yang ia kenakan mendapat perlakuan manis dari Ben. "Heh! Ngelamun lagi, kebiasaan lo." Akhirnya Dara tergugah juga oleh sentakan pelan dari Benggala. Cewek itu mengedipkan matanya sebanyak tiga kali, sebelum kemudian mengukir segaris senyum manis di depan Ben. "Apaan?" tanya Dara bodoh. "Elo yang apaan? Kebiasaan ngelamun bogel." Cowok itu mendumel sambil melengos ke depan memutar kunci motor. "Gue nggak bogel!" Dara menekan setiap kata yang ia ucapkan dari bibirnya itu. "Tapi, pendek." Tawa Ben menyembur keluar setelah mengucapkan kalimat itu. Sedangkan cewek yang kini sudah duduk di jok penumpang tersebut menatap wajah bahagia Ben dari balik spion kaca. Tanpa banyak bicara lagi Dara mengadu kepalanya dengan kepala Ben yang sama-sama terbungkus helm dengan sangat kuat. Sehingga cowok itu mengerang dengan pelototan tajam yang diarahkan kepada Dara. "Sekali lagi lo panggil gue kayak gitu, nggak ada ampun buat lo, Benjol!" Giliran Ben yang kini mendelik kesal ke arah Dara. Tapi ... "Apa?!" Dara membentak sebelum Ben mengeluarkan suara. "Jalan cepetan!" Tanpa banyak membantah lagi, Ben menjalankan motornya hingga keluar dari area kampus setelah melewati gerbang utama. Meski sesungguhnya ia kesal karena perlakuan Dara barusan, setidaknya Ben bersyukur karena Dara tipikal cewek yang sangat ceria. Ben bahkan bisa menjamin bahwa semua orang yang menemui cewek itu nggak akan pernah menyangka bahwa Dara memiliki kisah rumit yang pelik. Bahwa kenyataannya cewek itu menyembunyikan luka bernanah di balik semua tawanya yang menipu. Bagaimanapun juga Ben yang sebenarnya merasa kurang nyaman dengan kedatangan Dara. Cowok itu kini sepenuhnya bersedia membantu Dara untuk menjalani harinya yang sudah banyak dihapus oleh orang terkasih yang ia miliki. Meski Ben nggak bisa mengembalikan Dara untuk bersama suaminya itu. Setidaknya, nggak ada yang salah kalau Ben bisa menghibur cewek yang sedang berpura-pura untuk selalu bahagia itu. ~M e m o r i e s~ Singgalang masih duduk di kursi yang menghadap ke arah jendela. Kedua sikunya berada di atas meja panjang, dan kini sepenuhnya cowok itu menghadap ke depan. Namun, tatapan Galang nggak beralih dari kulacino¹ yang tercipta dari jejak gelas cangkir Sandara. Ia bahkan duduk di kursi yang sebelumnya di duduki oleh Dara. Karena seperginya cewek itu, Galang bahkan nggak beranjak dari posisinya. Matanya masih setia mengamati air yang membentuk jejak cangkir dari si pemiliknya. Karena bagi Galang jejak itu sama persis dengan hati manusia. Cowok itu tersenyum mengingat bahwa sosok Dara yang sudah menikah dengan lelaki lain itu masih meninggalkan jejak di hatinya. Dua puluh tahun tumbuh bersama menghadapi tawa dan air mata, rasanya mustahil untuk seorang lelaki dan wanita untuk nggak saling menyimpan rasa. Atau minimal salah satu dari mereka. Dan kini, Galang merasakan hal tersebut. "Ra, gue suka sama elo. Kita jadian, ya!" Berulang kali kalimat yang sama itu selalu dilontarkan oleh Galang kepada Dara lewat sepasang matanya. Tapi, cewek yang terlalu aktif dan lebih banyak tertawa itu nggak pernah menangkap radar yang sengaja ditunjukkan oleh Galang. Sehingga sampai detik ini cowok itu nggak bisa mengungkapkan perasaannya kepada Dara. Apalagi setelah cewek bertubuh mungil itu menikah dengan cowok yang baru saja dikenalnya di bangku SMA. Kini Galang mengarahkan telapak tangannya pada genangan air yang hampir berbentuk lingkaran sempurna itu. Kemudian dengan cepat menghapusnya dengan telapak tangan, berharap jejak cintanya pada Dara yang masih membekas di hati ikut hilang serta. "Perasaan gue masih sama, tapi itu nggak akan jadi alasan buat gue bertingkah picik dengan ngambil jalan yang rusak, 'kan?" ucap Galang bermonolog. Bagi Galang kulacino itu ibarat jejak yang sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya. Seolah menandai bahwa ia pernah tinggal di sana meski belum tentu akan kembali ke tempat yang sama. Pada hati manusia yang rapuh dan sejujurnya juga paling rentan. Dara adalah cewek yang ia sayang untuk bermain bersama. Meski Galang sadar bahwa sayangnya hanya untuk bermain-main semata. "Mas Galang?" Tepukan dipundak itu membuat Galang menoleh. Ia mendapati Hanif sudah berdiri di sana sambil menyandang tas ransel pada sebelah bahu. Pertanda bahwa kelas cowok itu baru saja usai. "Eh, udah kelar?" Kini Galang berdiri dari posisinya. "Udah, barusan." "Kayak biasanya, ya. Kalau jam sembilan gue belum balik, lo aja yang tutup." Cowok itu melepaskan celemek dan memberikannya kepada Hanif. Seperti biasa, saat kelas Hanif selesai maka Galang akan pamit untuk pergi ke tempat lain. Ia memasrahkan kafe tersebut pada Hanif yang posisinya hanya sebagai waiters. Meski demikian, Galang jelas punya alasan yang sangat masuk akal. Selain Hanif adalah cowok yang nggak neko-neko², Hanif juga sangat disiplin dan bertanggung jawab. Buktinya selama ini Hanif nggak pernah mencuri-curi waktu untuk memegang mesin pembuat kopi saat Galang pergi. Padahal Galang tau betul Hanif sangat ingin menjadi seorang barista. Selepas mengenakan jaketnya, Galang menepuk lengan Hanif membuat cowok itu menoleh. "Semalem lo ke sana, 'kan?" Mengerti arah pembicaraan ini Hanif mengangguk, "Ben dapet bingkisan dari cewek kecil itu, Mas." Kedua alis Galang menyatu, menciptakan lipatan heran yang menghiasi dahi cowok itu. "Lo tau isinya apaan?" ~M e m o r i e s~ "Sempak!" Dara tertawa kencang setelah mengucapkan satu kata tersebut dengan lantang. Cewek itu terlihat sangat senang melihat raut wajah Ben yang memerah menahan malu. Cowok itu bahkan mengenakan tudung hoodie hitamnya dan menarik talinya hingga wajah Ben nggak sepenuhnya kelihatan. Sumpah demi Alex yang nggak dikenali Ben, cowok itu ingin menghilang dari sana sekarang juga. Masa bodoh jika niat baiknya nggak sampai dan mendapatkan pahala. Pasalnya, sejak duduk di salah satu restoran yang berada di pusat perbelanjaan itu, Dara nggak berhenti membahas soal sempak baru darinya, dan sempak bolong punya Ben. Sehingga beberapa orang yang melintas sudah pasti melirik Ben dan Dara dengan tatapan aneh. Yah, meskipun sepertinya Dara sama-sekali nggak mempermasalahkan hal tersebut. "Serius lo masih mau bahas soal ini?" tanya Ben menghela napas kesal. Namun, saat itu juga tawa Dara mereda. Cewek itu mengangkat kedua jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf 'V' lambang peace ke arah Ben. "Oke, gue diem. Tapi, lo juga harus janji buat nge-buang nganu yang nggak layak pakai itu." Dara mengangkat jari kelingkingnya ke atas, menunggu Ben menyambutnya. Setelah cukup lama menatap kelingking Dara. Ben akhirnya menautkan kelingkingnya dengan milik Dara disusul dengan helaan napas panjang yang amat berat. Ben hanya nggak menyangka bahwa ia akan berjanji pada cewek itu karena perihal yang sangat sepele seperti ini. Siyalaaan! ~M e m o r i e s~ -B e r s a m b u n g- ¹ = Kulacino adalah nama ketika seseorang melihat di atas meja terdapat bekas air dari gelas yang dingin atau basah. ² = neko-neko dalam bahasa Jawa berarti macam-macam. Jadi, nggak neko-neko = nggak macam-macam. Uhuuy, jangan lupa tekan love dan komen tak pembaca budimin ^^ Sankyu and luv U!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD