Selesai mengaduk isi cangkir yang masih mengepul, Dara memainkan sendok kecil di sebelahnya setelah menambahkan sedikit gula ke dalam teh. Isi kepalanya saat ini sama seperti cangkir di depannya. Panas dan rumit, terlalu pelik untuk dinikmati. Cewek itu menopang dagu kemudian membuang pandangan ke luar jendela kaca persegi panjang yang seolah membingkai dirinya dari luar. Menatap kendaraan yang berlalu-lalang tanpa henti seraya menghela napas pendek.
Jujur saja ia sangat bersyukur atas kuasa Tuhan. Bahwa kecelakaan satu tahun silam itu tak sepenuhnya merenggut Ben dari Dara. Namun, ternyata berada dalam situasi seperti ini juga tak mudah untuk cewek itu. Rasanya seperti dipaksa untuk tetap berlari meski Dara lelah, nggak ada tapi ataupun nanti. Seperti sosok Ben yang begitu dekat dengannya, nyata tapi tak tergapai sebab nyatanya cowok itu tak sedikitpun mengingat momen bersama Dara. Tentu saja Dara nggak akan menyerah, hanya saja untuk beberapa alasan ia juga bingung dan butuh istirahat.
Bagaimana caranya ia mengembalikan ingatan Ben tanpa membuat cowok itu kesakitan? Ia nggak mungkin bertindak bodoh dengan mengatakan semuanya lantas memaksa Ben mengingat segalanya sampai cowok itu tumbang dan berakhir di rumah sakit.
Sudah pasti itu lebih menyakitkan buat Dara.
"Ngelamun aja." Sebuah suara itu datang bersama chese cake yang nggak pernah dipesan oleh Dara.
Sontak tatapan Dara tertuju pada sepotong kue di atas meja, kemudian menoleh ke arah sumber datangnya suara. Ia menatap cowok yang duduk di sana sambil menyuguhkan senyum padanya. Seperti biasa, cowok itu mengenakan topi baret hitam dan celemek cokelat sebatas pinggang. Tiga kancing teratas kemeja biru muda itu sengaja dibuka menampakkan dalaman kaus putih polos. Sedangkan lengannya digulung sebatas siku. Cowok itu menopang sebelah sikunya pada meja sambil mengamati Dara yang sejak sepuluh menit tadi masih diam di meja panjang yang berhadapan dengan jendela kaca.
Pada setiap bingkai jendela itu terdapat tanaman hias merambat, sementara di pelatarannya ada banyak jenis bunga yang tersusun dengan rapi.
"Kebiasaan."
Cowok itu malah tertawa renyah, ia menyodorkan chese cake itu di dekat Dara. Agar cewek itu segera menikmatinya.
"Biar elo nggak sedih lagi," balasnya tanpa melenyapkan senyum.
"Emang gue keliatan lagi sedih?"
Ia mengendikkan bahu sambil mengangkat kedua alis, membuat Dara ikut terkekeh.
"Gimana hari ini? Dia udah inget sama lo?" tanya cowok bernama Singgalang tersebut.
Senyum itu mendadak terbit dari bibir Dara. Segaris kurva simetris yang nggak berarti dan nggak terbaca di mata Galang. Cewek itu kini mencolek krim chese dengan garpu dan memasukkannya ke dalam mulut. Hanya dengan melihat ekspresi itu, Galang yang notabenenya sudah sangat lama mengenal Dara jelas paham sebelum cewek itu menjawab pertanyaannya.
"Ayolah! Masa Sandara yang gue kenal mleyot kayak gini?" ucap Galang lagi. Sepenuhnya perhatian cowok itu masih tertuju pada Dara.
"Yee, lo pikir gue robot nggak bisa mleyot," protes Dara, "capek, serius. Tapi, gue nggak bisa nyerah gitu aja, 'kan?"
Sepasang mata Dara yang sejak tadi mengamati kue di depannya kini beralih menatap Galang dalam-dalam. Sorot matanya memberikan isyarat bahwa cowok itu harus mengangguk untuk menyetujui ucapannya. Meskipun Galang sebenarnya nggak yakin, karena sejak satu tahun lalu semua usaha itu sudah dicoba oleh Dara. Sampai detik ini nggak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Ben mengingat cewek itu.
Tapi, Galang teman yang baik. Sangat baik untuk Dara sehingga cowok itu akhirnya mengangguk mengiyakan ucapan Dara.
"Yang penting lo juga inget, kapan pun lo butuh tempat istirahat. Gue nggak akan pernah tutup pintu." Tangan Galang kiki terulur dan menepuk lengan Dara pelan.
Cewek itu tertawa kecil menatap ke luar jendela. Ia kemudian memasukkan kembali potongan chese cake ke dalam mulut dengan helaan napas pendek. Menikmati sensasi rasa manis yang membuatnya merasa lebih baik. Seharusnya.
"Pait, tapi ... gue suka," gumam Dara menatap kue yang tinggal setengah tersebut dengan segaris senyum hampa.
~M e m o r i e s~
Di dalam kelas sejarah itu Ben sudah menopang dagu, menguap dan mencoba untuk nggak mengeluarkan suara. Sementara beberapa temannya yang lain sudah teller di atas meja dengan mulut terbuka membuat aliran sungai kecil alias iler.
Ben memainkan pulpen di tangan menatap dosen di depannya yang masih aktif bercerita. Bukan tentang materi sejarah yang harusnya ia pelajari di jam siang ini, melainkan kisah tentangnya di masa lalu.
"Zaman dulu gebetan bapak itu ada tiga, tapi meskipun begitu bapak tetap menikahnya sama pacar bapak yang pertama." Pria paruh baya yang mengenakan kacamata melorot di ujung hidung itu berceloteh lagi.
Persetaaan sama mantan bapak, toh cerita dosen itu juga nggak akan berfaedah kepada nilai-nilai Ben nanti, 'kan? Tapi, cowok itu kasihan juga melihat orang tua yang bercerita tanpa ada yang menanggapi. Tapi, rebahan di kamar kos juga lebih nyaman ketimbang harus mendengarkan ceramah panjang yang nggak jelas ujungnya ke mana.
"Hari ini tepat dua puluh tahun hari ulang tahun pernikahan Bapak. Dan tiga tahun tepat setelah kepergian mending istri bapak," tuturnya.
Sebagian mahasiswa yang tadinya geleyoran di atas meja dengan malas, mendadak duduk dengan sikap tegak. Termasuk Ben yang kini menatap pria berusia empat puluh dua tahun yang tersenyum memegang spidol hitam di depan kelas. Seluruh mata kini tertuju pada lelaki tua itu, bersiap mendengar kelanjutan kisah meski sebenarnya nggak begitu tertarik. Itulah yang dinamakan manusia yang memanusiakan.
Ya, kali mahasiswa nggak punya rasa kemanusiaan apalagi kepada dosennya sendiri.
Namun, nggak buat Ben. Selain rasa kemanusiaan dan iba itu Ben juga serius ingin tau apa yang terjadi dengan pernikahan keduanya karena hal itu membuatnya teringat pada seseorang.
"Kalian kelihatannya tertarik, ya?" ia tertawa pendek.
"Tiga tahun yang lalu, istri bapak meninggal karena sakit keras. Padahal dulu, bapak selalu minta buat dipanggil duluan, karena ditinggalkan sama orang yang paling kita cintai itu rasa sakitnya seperti nggak ada obat," imbuhnya lagi panjang.
"Kehidupan jadi seperti sebuah paksaan. Kita seperti dipaksa untuk terus hidup meskipun enggan. Dipaksa untuk terus berjalan meski berat. Dipaksa untuk terus melewati takdir yang nggak tau ujungnya bagaimana, tanpa teman yang sebelumnya selalu ada. Dan itu adalah sebuah siksaan paling mutlak sakitnya."
Kalimat itu terus terngiang di telinga Ben, bahkan mengisi seluruh kepalanya saat ini. Menggantikan tempat untuk tugas, pekerjaan paruh waktu, dan juga uang kos yang belum terbayar. Seluruh pikirannya tertuju pada sosok Dara yang telah kehilangan suaminya.
Dalam langkahnya menuju ke tempat parkir itu, Ben lebih banyak diam. Kelas sudah usai sejak lima menit lalu meninggalkan banyak makna buat sosok Benggala.
"Karena ditinggalkan sama orang yang paling kita cintai itu, rasa sakitnya seperti nggak ada obat. Kita dipaksa untuk melewati takdir yang nggak tau ujungnya bagaimana tanpa teman yang sebelumnya selalu ada. Seperti siksaan paling mutlak rasa sakitnya."
Kalimat dari dosen sejarah itu terulang sekali lagi dalam benak Ben. Bersamaan dengan sepasang matanya yang menangkap sosok Dara yang sudah berdiri di samping sepeda motornya sambil bersedekap dadaaaa.
~M e m o r i e s~
-B e r s a m b u n g