12. Pernah Menikah

1208 Words
Jangan lupa tekan love & Komen . . . Happy reading, guys! ~M e m o r i e s~ Pintu kamar indekos Ben akhirnya terbuka, cowok itu bahkan sampai mundur selangkah ke belakang saat kedua cecunguk syalaaan dalam hidupnya masuk tanpa permisi. Ben memejamkan mata sejenak, sebelum kemudian menutup pintu kamarnya kembali dengan gemas. Cowok itu menoleh, menatap dua orang serupa gender dengannya yang sedang duduk dengan mata berbinar menatap makanan yang tersaji di atas meja. Dan kalian tau apa yang lebih menyebalkan? Riki dan Hanif sudah menyantap makanan yang tersedia di atas meja tanpa permisi. Iya, tentu saja mereka berdua cecunguk menyebalkan itu, siapa lagi memang teman yang membuat kehidupan Ben semakin mengerikan selain kedua cowok itu. Spontan Ben melebarkan langkah untuk menghentikan aksi terlaknat kedua manusia paling menyusahkan dirinya tersebut. Kedua tangan Ben dengan sangat aktif mengeplak tangan Riki dan Hanif secara bersamaan. Membuat kedua cowok yang tinggal dalam satu kamar itu menatap Ben melas. "Gue belum makan seharian, Ben." Riki berceletuk dengan pandangan melasnya. "Gue juga," imbuh Hanif, "mana duit gajian yang kemarin udah abis, adek gue minta transferan buat biaya piknik sekolah." Lagu-lagu melankolis seolah itu berputar mengisi seantero kamar Ben. Riki adalah adalah rekan satu bengkelnya yang belum juga mendapatkan gaji di bulan ini. Cowok ceking yang tingginya beda tipis sama Ben itu adalah anak bungsu dari empat saudara, semua abang dan kakaknya sudah menikah, kini giliran ia yang harus memperjuangkan mimpinya sebagai lolosan sarjana untuk membanggakan kedua orang tuanya. Sedangkan Hanif, cowok paling pendek di antara mereka bertiga itu adalah seorang pegawai kafe. Cita-citanya ingin menjadi seorang barista, tapi apa daya nasib Hanif hanya sampai sebagai pramusaji. Ben sebenarnya nggak punya rasa eman¹ berbagi dengan teman se-indeks macam ini. Apalagi kalau dia sedang punya lebih, nggak masalah. Cuma mengingat kejadian di hari ulang tahunnya yang kemarin masih cukup membuat Ben muak. Apalagi tentang sepatu baru yang dimasukkan ke dalam comberan oleh curut Riki. Pada akhirnya cowok itu mengalah, ia menghela napas dan mempersilahkan kedua temannya untuk ikut makan. Yang sontak hal itu membuat kedua pasang mata mereka berbinar indah. "Masya Allah, Alhamdulillah, Allahu Akbar! Makasih banyak Benjol!" teriak Riki histeris, sambil memasukkan sepotong tahu goreng ke dalam mulut. Demikian halnya dengan Hanif yang tanpa banyak bicara lagi sudah menciduk nasi lengkap dengan sayur dan pauknya, cowok itu makan dengan sangat lahap. "Ngapain lo berdua bisa sampai di kosan gue?" tanya Ben menatap kedua temannya bergantian. Baik Riki maupun Hanif masih asik makan, mereka memberikan isyarat no-comment kepada Ben dan melanjutkan acara makan dengan khidmat. Sehingga tak pelak hal itu malah membuat Ben merasa was-was. Pasalnya, di mana ada dua makhluk ini akan selalu ada kejadian yang nggak diharapkan. Tapi, bagaimana? Ben juga nggak tega mengusir mereka keluar. Apalagi cuaca malam ini sedang gerimis tipis-tipis. Bukan apa-apa, Ben hanya ingat bagaimana rasanya saat ia butuh dan nggak ada satupun orang yang mau menolongnya. Karena itu, Ben nggak mau jadi orang seperti mereka. Seenggaknya meskipun sedikit Ben ingin membantu orang lain. Meski endingnya tetap saja pait jika berurusan dengan Riki dan Hanif. ~M e m o r i e s~ Dara menatap album foto yang kini berada di atas pangkuannya. Cewek itu tersenyum samar, tangannya bergerak mengusap sampul album berwarna hitam metalik tersebut dengan pelan. Seolah-olah apa yang ia sentuh adalah benda hidup yang begitu rapuh. Mata Dara berbinar, lebih tepatnya berkaca-kaca menahan air mata agar tak turun malam ini. Karena sejak hari itu sudah terlalu banyak tangis yang ia keluarkan untuk seseorang yang ia cintai. Dara nggak mau lemah lagi, ia hanya ingin memperbaiki semua keadaan yang selama ini menekan batinnya untuk tetap diam. Membiarkan rindunya menumpuk tanpa bisa dilepaskan. Dara nggak mau, karena itu ia bertekad untuk membuat Ben mengingat semua kenangan tentang mereka. Karena satu tahun yang merenggut kebahagiaan Dara itu nggak akan bisa membunuh semua rasa cinta dan sayang yang sudah lama mereka pupuk bersama. Apapun kata Dokter, Dara hanya ingin meyakini bahwa ia bisa mengembalikan ingatan Ben tentang dirinya. Meskipun itu cuma perihal betapa Dara sangat mencintai cowok itu. Dibuka sampul tebal album foto tersebut, menampakkan sebuah foto tak bernyawa yang masih menyisakan tawa bahagia untuk Dara. Di dalam foto itu Dara tampak manis dengan gaun putih, begitupun dengan Ben yang tampak menawan dengan setelan jas hitam miliknya. Pernikahan itu sakral, janji sudah terikat di antara mereka, bukan sekedar komitmen atau hubungan tanpa ujung yang jelas. Tapi, satu tahun yang lalu Ben yang masih berusia dua puluh satu tahun melamar Dara untuk menjadi istrinya. "Emang pacaran itu penting banget ya?" tanya Ben saat itu. Keduanya duduk di bangku panjang di tepi taman. Menatap air mancur di depan mereka dengan sepasang mata yang menyipit karena sorot matahari sore memancar dengan begitu terang. Masing-masing dari kedua insan itu tengah menikmati ea krim cokelat yang dibeli sebelum masuk ke area taman. Mendengar pertanyaan Ben, Dara kontan menoleh pada cowok itu. "Ya ... tergantung," balas Dara ambigu. "Tergantung gimana?" "Tergantung orangnya," balasnya. Cewek itu melirik Ben yang menatapnya dari samping, kemudian berpaling pada cup es krim yang ia genggam. Empat tahun saling mengenal sejak di bangku SMA, nggak memungkiri bahwa status pertemanan Dara dan Benggala memang luarbiasa, bahkan nggak jarang keduanya dikira sepasang kekasih oleh orang lain. Padahal sebenarnya nggak ada cewek dan cowok yang berteman selama itu. Kalaupun ada tanpa salah satu dari mereka merasakan jatuh cinta, itu cuma bullshit. Dan sialnya, Dara sedang dilema merasakan itu semua. Ia jatuh cinta dengan Ben, cowok berkaki jerapah yang punya tinggi badan seratus delapan puluh lima senti, mata setengah sipit, hidung bangir dan bibirnya yang nggak pernah mencium tembakau membuatnya berwarna pink, apalagi kulitnya yang pucat. Sungguh nggak ada keburikan yang terdeteksi dalam sosok Selat Benggala, selain kebiasaannya tebar senyum kepada setiap orang yang ditemui. Kan Dara jadi kesal. Benar-benar di zaman sekarang ini, mana ada paket komplit macam Ben yang mau dekat dengan Dara (?) 'Dara nggak seburuk itu kok.' Meakipun pendek, tapi Dara manis. Matanya bulat, hidungnya minimalis tapi membuatnya terlihat cantik, bibir tipis membuat Dara semakin menawan saat ia tersenyum. Kurang apa? Iya, kurang tinggi doang. Tapi, seratus lima puluh senti sudah cukup bagi seorang cewek, 'kan? Harusnya. Mendadak lamunan Dara buyar saat cewek itu merasakan lengannya disenggol oleh Ben secara tiba-tiba. "Heh?" "Kaget bego!" sentak Dara. "Gue nanya elo, Ra." Keduanya menoleh menatap satu sama lain, membuat sepasang mata itu saling bersirobok dalam diam. Ben menghela napas pendek sambil menarik ujung bibirnya dan tersenyum samar. Perlahan jemari tangan Ben terulur menyeka es krim yang seenak udel menempel di sudut bibir Dara. "Kebiasaan, kayak anak kecil tau nggak," kata Ben menyeka noda es krim tersebut. Dara yang mendapat perlakuan seperti itu, terpaku beberapa saat menatap Ben yang masih tepat pada posisinya dengan tangan di dekat bibir Dara. Demi apa saat ini pula Dara ingin mengumpati Ben yang seenak jidat membuat jantungnya berdecak dua kali lebih cepat. Kampreeeet! "Kolot!" sentak Dara sewot sambil menepis tangan Ben dari wajahnya, "kayak orang tua aja, nggak betah liat noda dikit." Bukannya marah Ben malah tertawa, membuat Dara melengos dan melanjutkan acara makan es krim yang tertunda. "Jadi, Ra ... menurut lo pacaran itu penting?" ~M e m o r i e s~ -B e r s a m b u n g- Hayyeo, jangan lupa tekan love ya ^^ Gratis kok, makasih banyak gais.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD