11. Dititipi Anak

1017 Words
Jangan lupa tap love! & Komen . . . Selamat Membaca, gais. ~m e m o r i e s~ Pintu kamar mandi di kamar kos yang sempit itu terbuka, menampakkan Ben yang muncul dari sana menggosok rambut yang basah dengan handuk kecil berwarna putih. Untuk beberapa saat cowok itu berdiri di depan pintu, menghentikan aktifitas menggosok rambut kemudian menghela napas bersamaan dengan kedua tangan yang jatuh ke sisi tubuh. Sedetik kemudian Ben memutar tubuh, sehingga ia menghadap ke arah sofa mini beserta meja bundar kecil yang ada di sudut ruangan berhadapan dengan kasur lantai kesayangannya. Di meja itu sudah ada sebakul nasi, satu rantang sup ayam, tahu dan telur goreng, serta sambal yang dibungkus dalam wadah terpisah. Ben lagi-lagi menghela napas melihat itu semua. Cowok itu meraup wajahnya karena bimbang, ia nggak ngerti bagaimana harus bersikap sekarang. Karena satu sisi ia merasa terganggu dengan kehadiran Dara. Sedangkan di sisi lain mama Dara malah mengatakan hal yang membuat Ben terkejut setengah mampus. Terlebih cerita wanita itu tentang anak perempuannya, dan lagi sekarang ... Ben juga nggak bisa menolak berbagai jenis makanan rumagan lengkap dengan lauk pauknya. Gila saja akhir bulan begini Ben menolak rezeki. Apalagi gaji dari bengkel tempat ia bekerja belum juga turun. Cowok itu bergegas duduk di dekat meja dan menyantap sepotong tahu goreng. Seperti biasa, lambung gembel Ben memang sudah tingkat akut. Karena biasanya cowok itu hanya makan dua kali sehari, tak jarang sehari satu kali saat ia benar-benar berada dalam kondisi keuangan yang kritis. Tanpa banyak bicara lagi Ben melahap sebuah tahu goreng dengan khidmat. Saat itu juga Ben mengingat kembali obrolannya dengan mama Dara sore tadi. "Sebenernya Dara itu baru aja kehilangan suaminya," ucap mama Dara sambil menatap Ben penuh harap. Mendengar itu kontan sepasang mata Ben menyipit menciptakan kernyitan di dahi, "Dara udah menikah Tante?" Mama Dara menganggur, tapi kini tatapannya berpaling ke arah lain. Tak lagi menatap Ben seperti sebelumnya meski kedua tangan wanita itu masih menahan tangan Ben di sana. "Satu tahun yang lalu tepatnya, satu tahun itu juga Dara kehilangan suaminya." "Mm-maksud Tante?" "Suami Dara mengalami kecelakaan, dan dia cedera kepala cukup parah sampai sekarang suaminya nggak ingat sama sekali kenangannya sama Dara. Bahkan status pernikahan mereka," jelas wanita itu dengan wajah sendu. Ben nggak tau harus menjawab apa. Mendadak lidahnya kelu harus bereaksi seperti apa mendengar cerita barusan. Lamunannya buyar saat ia merasakan kembali tangannya disentuh dengan hangat oleh wanita itu. Ia bahkan membahayakan 'mama' kepada Ben, yang notabenenya masih orang asing dan baru pertama kali bertemu. "Dia ... mirip banget sama kamu, Nak." Pada akhirnya tangis wanita itu pecah juga. "Mama lihat, belakangan ini dia lebih ceria dari biasanya. Dan kemarin Dara cerita banyak sama Mama soal kamu." Jujur saja Ben benar-benar seperti orang kikuk menanggapi ucapan mama Dara barusan. Cowok itu merasa nggak nyaman, tapi sungguh mendengar tangis serta ceritanya Ben nggak bisa memotong ucapan wanita paruh baya itu untuk pamit pulang. Meski ia sendiri merasa nggak nyaman dengan kehadiran Dara, tapi Ben nggak se-tega itu sama orang tua. Tangannya perlahan terulur menepuk pelan pundak wanita tersebut. Sedetik kemudian giliran wanita itu yang mendongak dan menatap wajah Ben dalam-dalam. Tangan mama Dara perlahan terulur juga menyentuh pipi Benggala dan mengusapnya pelan. Sehingga bulir air mata itu lagi-lagi jatuh tanpa diminta. 'Kamu suaminya Dara, Ben. Kamu anak Mama.' Hanya dalam bantin kalimat itu mampu terucap. "Tolong, jagain Dara. Sebentar aja. Seenggaknya, sampai rasa kehilangan itu sembuh, ya, Nak." Seperti kerbau yang dicucuk hidung ya entah karena angin dari mana Ben malah mengangguk dengan mantap. Pasalnya saat sepasang matanya bersirobok dengan tatapan mama Dara, ada sesuatu yang hangat menelusup di hati Ben. Setelah sekian lama. Setelah Ben nggak pernah merasakan kehangatan kasih sayang itu. Entah sejak kapan, Ben bahkan nggak ingat. Namun, saat itu pula kepalanya terasa nyeri. Cowok itu menahannya sebisa mungkin saat mendadak terasa pusing. Sampai wanita tersebut memeluknya dan memberikan senyum sumringah karena Ben bersedia menerima permintaannya. "Mimpi apa sih gue bisa ketemu sama skenario absurd kayak gini?" desis Ben begitu ia mengingat momen di mana ia secara resmi dititipi anak orang tersebut. Cowok itu mengendikkan pundak acuh, ia bersiap untuk mengisi perut yang kelaparan sebelum hari semakin larut. Ada beberapa tugas pula yang harus ia selesaikan malam ini. Toh, ini nggak akan lama. Mungkin hanya dua sampai tiga minggu untuk memulihkan perasaan Dara. Pikir Ben. Tepat di saat Ben tengah menyentuh centong nasi, ponselnya berdering panjang menandakan sebuah panggilan masuk. Satu nomor nggak dikenal tertera di layar, tapi Ben tetap menjawab panggilan tersebut. "Paper bag cokelat yang gue bawain tadi, jangan lupa dibuka." Sebuah suara familiar dari seberang telepon menyambut pendengaran Ben. Cowok itu sempat menjauhkan benda pipih yang ia pegang dari telinga untuk sesaat. Tentu saja nggak percaya, sejak kapan Dara punya nomor teleponnya? "Ini Dara?" "Iya bego," balas Dara dari telepon, "besok jangan lupa jemput gue!" Pip ... Sambung telepon terputus secara sepihak, tentu saja Dara yang mematikannya lebih dulu. Bahkan saat Ben belum sembuh dari keterkejutan itu. Ia tertawa kecil, meletakkan ponsel hitam di sebelahnya sambil menggeleng nggak percaya. Tadinya sih, Ben mau ikhlas membantu mama Dara bahkan cewek itu. Tapi, intonasi bicara Dara yang nggak pernah santai beneran membuat Ben jadi dongkol sendiri. Syalaaan. Cowok itu mencoba acuh, kemudian ia menyentuh sendok dan bersiap melanjutkan acara makan yang sempat tertunda bahkan sebelum ia mulai. Mengabaikan pesan dari Dara tentang Paper bag yang ia letakkan di dekat kasur. Ben sudah membuka mulut, sendok terisi penuh dengan nasi, sayur beserta pauk. Akan tetapi .... Tok ... tok ... tok ... "Jancoook!" Sepertinya Ben memang nggak ditakdirkan untuk memiliki hari tenang dalam hidupnya. Kehidupan monoton Ben, mahasiswa yang sebentar lagi menghadapi skripsi itu sudah pasti akan berubah total. ~M e m o r i e s~ -B E R S A M B U N G- . HALLO HAI! APA KABAR GAIS? SEHAT SELALU YAA, STAY SAFE DI MANA PUN KALIAN BERADA. Btw, dapet nggak sih feelnya? Karena ini pertama kali nulis Genre komedi romantis ha-ha Sejauh ini kalian paham kan alurnya? Semoga nggak membingungkan, ya. Makasih udah baca, makasih udah tekan love, makasih banyak udah komen. Sayang kalian banyak banyak :*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD