10. Ketemu Mama

1335 Words
Selamat membaca Jangan lupa tekan love & Komen . . . ~M e m o r i e s~ Tepat di depan pagar rumah Dara motor matic milik Ben berhenti di sana. Cewek bertubuh mungil itu segera turun dan melepaskan helm di kepalanya. Ditatap Ben yang semenjak berada di dalam tenda bakso tadi menjadi sosok yang lebih tenang dengan kerutan berlipat-lipat di dahi Dara. Sehingga tak pelak hal itu malah membuat Dara merasa khawatir dengan sikap Ben yang mendadak tenang. Dara melangkah lebih dekat untuk mengamati wajah Ben yang begitu datar kali ini. Cowok itu malah mengulurkan tangan, memberikan isyarat pada Dara untuk segera mengembalikan helm yang masih dipeluknya. "Cepet ah, gue mau balik." Ben berusaha meraih helm tersebut, tetapi Dara lebih dulu mundur selangkah sehingga ia dapat menghindari tangan Ben yang hampir saja merampas helm dalam pelukannya. Dan tentunya hal itu membuat Ben berdecak menatap Dara. "Lo sakit?" Keduanya saling tatap sebentar, Dara masih mengharapkan Ben menjawab ucapannya. Tapi, cowok itu juga nggak menunjukkan tanda-tanda ia akan membalas ucapan Dara. "Gue liat lo minum obat di kampus tadi. Sakit apa lo?" "Bukan urusan lo," balas Ben pendek, "siniin helmnya. Gue capek, ya debat sama elo." "Jawab dulu, baru gue balikin, nih helm. Lo kenapa mendadak diem gini?" cecar Dara masih nggak menyerah. Namun, sialnya Ben malah memutar kunci motor. Tapi, sebelum kuda besi itu melaju, dengan kelebihan Dara yang memiliki ke-gesitan luarbiasa itu. Ia sudah berhasil menarik kunci motor Ben dan membawanya masuk ke dalam pagar. Tentu saja hal itu membuat sepasang mata Ben membola sempurna. Untuk beberapa saat Ben menghela napas di atas jok motor sambil menahan umpatan di kerongkongan. Cowok itu kemudian berdiri dari motornya dan mendekati Dara yang masih stay di balik pagar membawa serta helm beserta kunci motor miliknya. "Mau lo apa sih, Ra?" tanya Ben di balik pagar yang hanya sebatas dadanya itu. Ia menatap Dara yang kini juga tengah membalas tatapannya. Hanya saja cewek itu diam tak bersuara, dan entah kenapa menatap sepasang mata bulat Dara senja itu membuat kepala Ben sedikit nut-nutan. "Cerita. Lo kenapa? Kalau sakit bilang, Ben." "Kita nggak sedeket itu buat saling cerita," bantah Ben cepat, cowok itu memutar tubuh memunggungi Dara yang tengah menggigit pipi bagian dalamnya. Matanya secara alami memanas mendengar ucapan itu, tapi sebisa mungkin Dara menahan air matanya agar nggak jatuh. Hari ini Ben sudah melihatnya menangis, jadi Dara nggak mau membuat Ben melihatnya kalah lagi. Lagipula, Dara kuat, dia bukan cewek lemah yang sedikit-sedikit nangis. "Kalau gitu mulai detik ini kita harus lebih deket, biar lo bisa cerita masalah lo sama gue." Mendengar penuturan gamblang dari seorang Dara, kontan Ben tertawa tanpa suara. Ia kembali memutar tubuh menghadap Dara yang masih bersembunyi di balik pagar. Dan, jika dilihat dari kejauhan hanya kepala Dara yang terlihat dari luar pagar. Kedua tangan Ben mencengkeram teralis pagar dengan erat, gemas sekali dengan cewek di depannya itu. "Gue nggak mau." "Dan gue nggak menerima penolakan," balas Dara santai. Cewek itu mengembangkan segaris senyum miring di bibir. Setelah beberapa detik saling pandang, Dara memutar tubuh dan berlalu masuk ke dalam rumah tanpa memberikan barang-barang milik Ben. Kontan melihat kelakuan cewek boncel bin bogel itu membuat Ben kembali mengelus d**a. Cowok itu mengeram di sana, menghentakkan sebelah kaki sebelum ia menendang motornya sendiri. "Heh, balikin kunci gue, bogel!" Ben masih berharap cewek sableng itu memutar tubuh dan memberikan kunci motornya. Masa bodoh sudah dengan helm cargloss yang berhasil ia dapatkan saat flash sale di online shop sopia. "Ambil kalau lo butuh," teriak Dara tepat di depan teras pintu rumahnya. Setelah mengucapkan kalimat itu, Dara bergegas masuk. Mengabaikan Ben yang menatapnya penuh harap dan juga kekesalan. "Anjriiit!" iblis di pundak kiri Ben bersorak senang saat cowok itu akhirnya melepaskan sebuah umpatan. Mengabaikan malaikat di pundak kanan Ben yang mengelus d**a sambil mengetuk kepala cowok itu dengan tongkat tak kasat mata. 'Dasar manusia,' gumam malaikat tersebut menggelengkan kepala. ~M e m o r i e s~ Kedua kaum hawa berbeda usia itu saling komat-kamit di depan pintu. Meski salah satu dari mereka sudah mengusap air matanya berulang kali, tapi tetap saja tangis itu nggak bisa ditahan lebih lama. Namanya juga orang tua, sensitif dengan hal-hal berbau jodoh yang lama nggak terlihat. Dara mengusap punggung mamanya dengan pelan, kemudian memberikan pelukan hangat sebentar. "Jangan nangis lagi. Dara nggak tau harus gimana kalau Mama gini," ucap cewek itu bimbang. "Nggak. Mama cuma kangen aja sama dia." Sedetik berlalu melegakan sesak yang menghimpit d**a. Mama melepaskan pelukannya. Ia menatap putri bungsunya dengan nelangsa, diusap pelan puncak kepala anak perempuannya itu penuh kasih sayang. Sudah terlalu banyak rasa sakit yang di simpan Dara atas panjangnya penantian ini. "Yaudah, sesuai rencana, 'kan?" tanya Mama. Cewek itu tersenyum lebar sambil mengangguk. Diberikan kunci motor milik Ben dan juga helm yang ia sita dari cowok itu kepada mamanya. Lantas Dara bergegas pergi ke lantai atas untuk mengganti mandi dan mengganti pakaian. "Udah di depan?" "Bentar lagi pasti dateng," jawab Dara dari ujung anak tangga. Tok... tok... tok... Tepat saat Dara menyelesaikan kalimatnya pintu diketuk dengan pelan. Mama segera menyuruh Dara naik kemudian ia bersiap untuk menemui Ben. "Ra, Dara?" panggil Ben dari luar. Hanya dalam sekali ketuk dan sekali memanggil, pintu rumah bercat cokelat tua itu terbuka. Otomatis Ben mundur selangkah, meski ia cukup terkejut dengan kehadiran wanita paruh baya yang muncul dari balik pintu tersebut. "Pacarnya Dara, 'kan?" Mama lebih dulu menginterupsi. Dengan gerakan cepat, Ben spontan melambaikan kedua telapak tangannya sambil menggelengkan kepala. Berusaha menunjukkan gestur bahwa apa yang diucapkan oleh mama Dara barusan tidak benar. "Bukan, ss-ssa-saya ...," ucapan Ben yang belum diselesaikan itu menggantung di kerongkongan. Cowok itu kesulitan mencari istilah hubungan antara dirinya dan Dara saat ini. Teman? Ben nggak yakin ia bisa berteman dengan cewek ajaib macam Dara. Membayangkan beberapa hari belakangan ini bersama Dara saja, sudah membuat Ben merasa pusing. Cowok itu bahkan kekurangan waktu tidur dan kehilangan konsentrasi setelah kedatangan Dara yang seringkali muncul di depannya bahkan di kamar kos seperti Kunti. "Sini, Nak." wanita paruh baya yang masih cantik itu melambaikan tangannya kepada Ben. Ia menunjuk kursi yang berada di sebelahnya agar Ben duduk di sana. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Ben menurut. Ia segera duduk di dekat wanita itu dan mengurungkan niat untuk membicarakan perihal kunci motornya yang disita oleh Dara. "Belakangan ini kamu pasti kaget, ya karena Dara suka datang tiba-tiba?" Sontak kerutan itu tercipta dengan jelas di dahi Ben. Heran bagaimana bisa wanita di depannya menebak hal itu dengan benar. "Dara emang gitu anaknya. Dia suka kejutan," imbuh mama. Wanita itu kemudian terkekeh kecil melihat ekspresi bingung di wajah Ben. Kini tangannya terulur menyentuh lengan Ben dan menahan tangan cowok itu di sana. Dengan tatapan rindu sepasang mata mama berkabut lagi. Senyum mendadak lenyap dari bibirnya, sebelum kemudian ia mendongak dan menyentuh wajah Ben. "Ini mama," bisik wanita itu, "Mamanya Dara." Kerutan di dahi Ben semakin jelas berlipat-lipat. Cowok itu nggak tau lagi arah pembicaraan ini. Sejak pertama kali melihat wanita itu, Ben yakin kalau tante di depannya adalah mama Dara karena keduanya punya tinggi badan yang serupa dan sepasang bentuk mata yang mirip. Tt-ttap-tapi ... sifatnya ini. "Mama tau kamu bingung. Tapi, hari ini Mama akan jelasin semuanya ke kamu. Siapa Dara sebenarnya." "A-annu, Tan. Sebenarnya saya kemari cuma mau ambil kunci motor." Wanita itu mengangguk cepat. Ia menepuk lengan Ben dengan pelan. Lantas kembali menatap cowok itu lekat-lekat. "Dengerin cerita mama, jangan potong. Ini penting buat masa depan kamu dan Dara." "Maksudnya, Tan?" Sedetik kemudian mama menghela napas panjang sambil memejamkan mata. Lantas wanita itu kembali membuka mata dan menatap Ben dalam-dalam. "Sebenarnya Dara itu ...." ~M e m o r i e s~ -B E R S A M B U N G- . HALLO HAI! APA KABAR GAIS? SEHAT SELALU YAA, STAY SAFE DI MANA PUN KALIAN BERADA. Btw, dapet nggak sih feelnya? Karena ini pertama kali nulis Genre komedi romantis ha-ha Sejauh ini kalian paham kan alurnya? Semoga nggak membingungkan, ya. Makasih udah baca, makasih udah tekan love, makasih banyak udah komen. Sayang kalian banyak banyak :*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD