4. Sekolah baru Nadia

1114 Words
Bram memperketat penjagaan mansionnya setelah pulang dari Pontianak. Dia yakin jika Mira tidak akan mampu mengusik kehidupan keluarganya jika dia memperketat penjagaannya.  Nadia dan Sandra sedang berenang. Istrinya sedang mengajari putrinya berenang sepertinya. Kemudian Bram mendekat ke kolam renang dan duduk dipinggir kolam. Sandra dan Nadia nampak belum menyadari kedatangan pria itu. Mereka masih asik bercanda didalam kolam.  Kemudian Bram menyipratkan air ke arah Sandra dan Nadia. Nadia terkejut menoleh ke arah kirinya.  "Papah?!"  Bram hanya tersenyum tipis melihat reaksi terkejut putrinya. Sementara Sandra hanya tersenyum tipis mengetahui suaminya lah yang menggoda mereka.  "Kayaknya kalian asik banget." "Iya Pah, Nadia tadi udah bisa berenang gaya batu."  Sandra tertawa mendengarnya, "Renang gaya batu Nad?"  Nadia menganggukan kepalanya, "Iya kan tadi Nadia tenggelam pas mau renang, kata orang itu renang gaya batu Mamah.." Bram tertawa mendengar ucapan putrinya. Dia menggelengkan kepalanya heran.  "Itu bukan gaya, tapi emang kamu tenggelam. Aneh - aneh aja kamu." Tari datang membawa minuman. Wanita itu menata dimeja.  "Nyonya, Non Nadia, istirahat dulu. Silahkan diminum." "Makasih Bibi Tari!!" teriak Nadia.  "Sama - sama, Tari ijin ke belakang kembali Tuan, Nyonya.." Kemudian diangguki oleh Bram. Sandra dan Nadia mengambil handuk dan naik ke atas. Bram membantu Nadia naik, karena putrinya tidak sampai ke atas.  Kemudian mereka duduk dimeja dan meminum minuman yang Tari bawakan.  "Mah, Nanad mau coba punya Mamah.." "Boleh nih," kata Sandra sambil memberikan gelasnya pada putrinya.  Nadia kemudian menyedot minuman Sandra. Raut wajahnya berubah setelah mencicipi minuman Sandra.  "Mamah pahit, nggak enak wlek.." Bram tertawa dan mencubit pipi Nadia.  "Mamah itu minumnya teh herbal. Siapa suruh main icip tapi nggak tau. Rasain sendiri." "Lain kali Nanad nggak mau lagi!" kata Nadia sambil menutup mulutnya dengan tangan mungilnya.  **** Setelah berenang, Nadia ternyata sudah terlelap tidur. Bram menutup pintu kamar putrinya, dan turun menghampiri Sandra yang sedang memasak. "San.." Sandra menoleh, "Ada apa Mas?" "Apa Nadia aku pindahkan menjadi home schooling saja?" Sandra mendengus menatap suaminya tak suka.  "Nadia masih sekolah disekolah dasar Mas.. Kalau kamu pindahin dia home schooling, dari mana dia bisa berkembang dan memiliki teman sebayanya?" "Iya aku tau, tapi keamanan Nadia lebih utama." "Yayaya aku sangat tau maksud kamu. Tapi, bukannya kamu sendiri yang bilang Nadia akan aman karena kamu memperketat keamanan untuknya?" "Memang aku bicara seperti itu. Tapi, untuk sekolah kita terbatas mengawasi Nadia San.." "Aku sebagai ibunya tidak mempermasalahkan apapun selagi itu memang yang terbaik untuk anak kita. Tapi aku kembalikan semuanya ke Nadia, karena yang menjalaninya adalah anak kita bukan?" Bram menganggukan kepalanya, "Hm, biar nanti aku akan tanyakan Nadia kembali." "Terimakasih," kata Sandra lembut. Bram menaikan sebelah alisnya, "Untuk?" "Mempertimbangkan pendapat anak kita." Bram memeluk bahu Sandra dan mengusapnya.  "Aku bekerja siang malam untuk masa depan Nadia. Jika aku memaksa dia untuk suatu yang tak disukai oleh dia. Aku akan gagal menjadi seorang Ayah yang baik. Aku tidak mau Nadia membenci orang tuanya." Sandra mengecup pipi suaminya sekilas, "Karena memaksakan kehendak pada anak sangatlah buruk. Terimakasih Mas, kamu sudah menjadi orang tua yang hebat." "Itu tidak lepas dorongan dari istriku yang manis ini. Sekarang aku lapar, apa masakannya belum juga matang?" Sandra mengusap bahu suaminya, "Tunggulah dimeja makan, sebentar lagi akan matang." "Baiklah." Bram kemudian meninggalkan Sandra didapur sendirian dan menuju meja makan sesuai intruksi istrinya. Kemudian Sandra melanjutkan masaknya. Setelah rasa sudah matang, Sandra mematikan kompor dan memindahkan masakannya ke piring.  Dia kemudian membawa masakannya menuju meja makan. Suaminya sudah menunggunya duduk disana.  "Harum sekali masakan istriku ini.. aku jadi lapar sekali.." "Bisa saja, aku mau panggil Nadia dulu." Saat Sandra mau naik keatas tangannya dicekal oleh suaminya.  "Biarkan Nadia tidur, aku tadi habis mengecek kamarnya. Dia nampak lelah habis berenang." "Dia tidur?" tanya Sandra.  "Iya, yasudah kita berdua saja yang sarapan. Nanti Nadia bisa makan habis bangun." "Baiklah," kata Sandra.  Kemudian Sandra mengambilkan nasi untuk suaminya begitu juga dengan lauknya.  "Terimakasih." Sandra hanya membalasnya tersenyum, "Makan yang banyak." "Sudah cukup, nanti aku menjadi pria tua yang buncit dan tidak tampan lagi." "Pria buncit ini juga suamiku. Jadi, aku tidak masalah memiliki pria buncit," kata Sandra dengan nada humoris.  "Kalau aku buncit aku tidak akan kuat untuk membuat Nadia adik adik lagi, aku tidak mau," kata Bram santai.  Sandra tersedak mendengarnya. Entah ada apa dengan suaminya ini, begitu frontal sekali pagi ini.  "Minum." Bram menyodorkan segelas air dengan Sandra. Kemudian Sandra meminum dan memukul dadanya supaya lega.  "Mas, omongannya ya. Belum pernah aku cabein ya?" "Istriku kenapa galak sekali pagi - pagi. Apa kamu hamil lagi San?" Sandra memelotot mendengar ucapan Bram.  "Ngawur, udah ah lama - lama sama kamu nanti aku jadi ikutan ngawur!" Sandra membawa piringnya ke wastafel dan mencucinya. Bram dari jauh tertawa memperhatikan istrinya.  "Sangat lucu sekali menggodanya pagi - pagi.." *** Bram menjabat tangan pria dihadapannya dengan tegas.  "Semoga kerjasama kita terus berlangsung Pak Liong." "Ah, jangan bicara formal kepada kita Pak Bram. Kita sudah seperti keluarga bersama haha." "Tentu, tentu Pak Liong," kata Bram tertawa.  "Bagaiman kabar istri dan anak Pak Bram? Saya dengar Nadia kecil sudah masuk sekolah sekarang." "Mereka baik, Nadia juga sangat semangat disekolah barunya ini. Ah iya, saya juga dengar anak Pak Liong juga baru masuk sekolah juga kan?" "Bruce sangat susah sekali untuk diarahkan. Saya harus berusaha keras membujuk itu anak untuk mau sekolah." "Namanya anak - anak, kalau dikasari semakin susah. Apalagi Bruce anak laki - laki. Jadi, kita yang harus memahami anak." "Benar benar sekali, saya titip Bruce pada Nadia Pak Bram. Karena mereka satu kelas nampaknya." "Tentu, tentu, mereka bisa menjadi teman akrab seperti kita haha." "Benar, benar, kalau begitu saya langsung pamit untuk meeting dengan klien dari Jepang. Saya pamit, terimakasih jamuannya Pak Bram." "Mari saya antar keluar." *** Nadia duduk disekolah dengan tenang, hari ini hari pertama disekolah barunya. Teman - temannya pun juga sangat banyak sekali.  Tiba - tiba seorang anak laki - laki duduk disampingnya. Nadia menoleh ke samping dan menatap penasaran siapa yang duduk bersamanya.  "Hai," sapa Nadia ramah.  Laki - laki disampingnya melirik sekilas namun kembali menatap ke depan tanpa mau menjawab sapaan Nadia. Nadia cemberut melihat anak laki - laki disampingnya ini.  "Dia nampaknya anak nakal, jadi aku harus menjauhinya," gumam Nadia.  Kemudian Ibu guru datang dan duduk didepan meja depan.  "Good morning class." "Morning Miss!" jawab semua serentak.  "Hari ini adalah hari pertama kalian masuk sekolah dan saling mengenal satu sama lainnya. Jadi, kita akan melakukan sesi perkenalan terlebih dahulu." Ibu guru didepan kemudian menunjuk murid dari pojok kanan untuk maju dan memperkenalkan diri mereka.  "Izzata, can you intro yourself?"  "Yes Miss." "Hai, my name Izzata, seven years old, and i like drawing." "Thankyou Izzata, next Nadia!" Giliran Nadia, kemudian semua orang bertepuk tangan.  "My name Nadia Nazila Bramantyo, i am seven years old. And, i like barbie and sweet candy. It so yummy!" kata Nadia dengan percaya dirinya.  "Wow, Nadia suka permen?" tanya ibu guru.  "Ya Ibu guru, Mamah suka ngasih permen tapi kalau Nadia sakit gigi Mamah berhenti ngasih permen." "So sweet, sekarang Nadia boleh duduk. Dan giliran Bruce memperkenalkan diri." Bruce, bocah wajah Cina ini dengan jutek maju kedepan.  "Bruce Long Liam, seven years old, thanks!"  Nadia mengerutkan keningnya melihat perkenalan Bruce. Aneh. "Oke Bruce kamu bisa duduk, dan kita akan memasuki materi pelajaran pertama kita." Nadia memperhatikan pelajaran sesekali melirik kesampingnya.  "Itu bukan seperti ini Bruce, kamu salah membuat garisnya.."  Bruce menatap tak suka Nadia, "Jangan pedulikan aku, pedulikan saja pelajaran kamu." "Yaudah, dasar anak nakal."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD