3. Wanita itu kembali?

1243 Words
Bram beserta istri dan juga anaknya terbang menggunakan pesawat pribadinya menuju Pontianak. Hari ini, rencana mereka untuk merayakan ulang tahun Irene, Mamahnya Bram. Setelah sampai di kota kelahiran pria itu, mereka langsung menuju mansion Mamahnya. Perjalanan dari bandara ditempuh kurang lebih satu jam. Anaknya, Nadia tertidur dimobil karena tak bisa menahan kantuknya. Begitu juga dengan Sandra istrinya. Hanya Bram dan juga supir yang terjaga. Mungkin wajar, mengingat penerbangan mereka diambil malam harinya. Penerbangan dilakukan kurang lebih satu jam, tiga puluh menit. Maka, sekarang masih tengah malam. Rencananya, sebelum pukul dua belas, mereka sudah sampai dan memberikan kejutan untuk Irene. Bram terus terjaga sambil mengusap surai putrinya. Menepuk bahu putrinya supaya tertidur dengan nyaman. Sementara sang Ibu, duduk bersandarkan sofa dan juga berselimut. Mobil mereka akhirnya sampai dimansion Irene. Kemudian Bram mencoba pelan membangunkan putri dan juga istrinya. "Nadia.. bangun sayang," kata Bram sambil mengusap pelan pipi Nadia. Bocah kecil itu mengolet dan terbangun. Walau masih setengah sadar. Kemudian beralih kepada Sandra. Bram menggoncang pelan bahu istrinya. "Sudah sampai Mas?" "Ayo turun," ajak Bram. Bram menggendong Nadia menuju mansion. Sementara Sandra yang membawa kue untuk Irene. Untung mereka belum terlambat, ini masih pukul dua belas kurang sepuluh menit. Bram langsung masuk karena dia sudah memiliki kunci cadangan. Kemudian mereka langsung naik ke kamar Irene. Irene sedang tertidur, wanita yang tak muda lagi itu terkejut saat mendengar suara terompet yang Nadia bunyikan. "Happy birthday Nenek!!" seru Nadia. Irene bangun dan terkejut melihat kedatangan putra, menantu dan cucunya. "Astaga, kalian kenapa bisa kemari?" Mereka mendekat dan duduk diranjang Irene. Nadia memeluk Irene erat dan mencium pipi wanita itu. "Nek, selamat ulang tahun ya.. Nadia punya hadiah buat Nenek." "Mana coba hadiah buat Nenek?" tanya Irene. Kemudian Nadia menyodorkan sebuah kotak yang sudah dia siapkan jauh - jauh hari saat mendengar rencana untuk kemari. Irene membuka kotak yang diberikan cucunya. Ternyata, didalam kotak ada sebuah kertas gambar yang mungkin saja seorang wanita yang digambar adalah dirinya yang menggendong Nadia. Walau tak terlalu hebat dalam menggambar, tapi Irene mengapresiasi untuk Nadia karena sudah berusaha menyenangkannya. Irene mencium kening Nadia lembut karena merasa bahagia. "Terimakasih Nad, Nenek senang sekali. Kado yang diberikan kamu sangat hebat," puji Irene. "Sama - sama Nenek!" seru Nadia. "Mah, selamat ulang tahun," kata Sandra sambil memajukan kue yang bertuliskan 55 sebagai lilinnya. Kemudian Irene meniup lilinya, dan tersenyum senang. Dia memeluk menantunya. "Terimakasih, kalian repot sekali dari Jakarta terbang kemari? Kalian pasti lelah sekali. Sekarang istirahat dulu sana," suruh Irene. "San, kamu bawa Nadia ke kamarnya dulu ya.. aku mau bicara sama Mamah dulu." Sandra mengangguk dan menggendong Nadia menuju kamarnya. "Mah, Mamah nggak mau ikut Bram ke Jakarta?" tanya Bram lembut. "Ada hal yang tidak bisa Mamah tinggalkan Bram.. termasuk rumah ini." Bram menghela nafasnya, "Tapi Mamah tidak muda lagi, Bram khawatir jika terjadi sesuatu dengan Mamah. Kita jauh, Bram ingin Mamah ke Jakarta karena kita bisa mengurus Mamah sama - sama." "Bram, kamu tenang saja. Disini Mamah bisa menjadi diri Mamah, lagipula El selalu rutin menjenguk Mamah disini," kata Irene. "El?" Irene mengangguk, "Iya, setelah Diandra dipenjara. El mulai rutin mengunjungi Mamah, bahkan mulai merawat Mamah sekarang semenjak kamu pergi ke Jakarta. Dia anak yang baik, hanya saja karena perempuan dia menjadi berubah." "Bram ikut senang jika mendengarnya." "Kita lanjutkan besok perbincangannya, sekarang kamu istirahat. Mamah yakin Jakarta Pontianak sangat melelahkan." "Yasudah, Bram ke kamar dulu Mah.." Bram pergi ke kamar menyusul istrinya. Sampai dikamarnya dulu, Sandra masih terjaga sambil menonton televisi. Kemudian Bram menyusul wanita itu ke ranjang. Sandra yang merasa ranjangnya bergerak menoleh ke samping, ternyata itu adalah suaminya. "Kamu kenapa belum tertidur?" tanya Bram. "Aku sudah cukup tertidur Mas.. Sekarang kamu lebih baik tidur, aku yakin sepanjang perjalanan kamu selalu terjaga." "Kamu benar, aku akan tertidur," kata Bram akhirnya. Bram bukan menidurkan dirinya diranjang melainkan dipaha istrinya. Sandra tersenyum tipis melihat suaminya yang kembali bermanja - manja kepadanya. "Ahh, sangat nyaman sekali." Sandra sambil mengusap surai suaminya membuat mata Bram terpejam nyaman. "San.." suara parau Bram membuat Sandra menoleh. "Ada apa?" tanya Sandra lembut. "Apa kamu tidak ingin memberikan Nadia adik?" tanya Bram tiba - tiba. "Maksud kamu, kamu ingin memiliki anak lagi?" Kepala Bram mengangguk, "Iya, lagi pula Nadia sudah lumayan besar. Bagaimana?" "Eumm.. tapi aku rasa belum sekarang. Mungkin kita bisa bicarakan dilain waktu," kata Sandra lembut. "Baiklah, aku akan menurut dan menjadi suami idaman sepanjang masa." Sandra terkekeh menatap suaminya yang seperti anak kecil. Dia terus mengelus surai suaminya hingga suara dengkuran terdengar dimulut suaminya. "Sleep tight, my husband.." *** Esokan harinya, Sandra bangun dan melaksanakan shalat shubuh berjamaah dengan Nadia, Irene dan juga Bram sebagai imamnya. Setelah shalat, Nadia kembali tidur bersama Bram, sementara Sandra dan Irene memasak. Sandra begitu cekatan dalam hal dapur, sehingga Irene yang menjadi asisten wanita itu. "Mah, bisa tolong potong ini? Sandra mau angkat panci dulu." "Serahin sama Mamah San.." Kemudian Sandra mengangkat panci yang ada dikompor dipindah ke wadah yang lumayan besar. Setelah sayur dipindah, Sandra menaruh pancinya diwastafel. Kemudian beralih mengambil wajan dan memasukan bawang dan cabai yang sudah dipotong ke minyak yang sudah panas. Kemudian wanita itu memasukan ayam yang tadi dia potong menjadi kecil, dan memasukan ke dalam wajan. Terakhir, wanita itu menuang kecap manis dan menunggu hingga bumbu ayam menjadi meresap. "Wah baunya mantap sekali, Mamah jarang makan masakan kamu sekarang." "Iya Mah, ini juga mau matang." "San, Mamah bangunin Nadia sama suami kamu dulu ya.." "Iya, makasih ya Mah.." Sandra yang berada didapur sendirian kemudian mengangkat ayam yang dia masak karena sudah matang. Dia menatanya dipiring lonjong, dan membawanya dimeja makan. Selesai tertata rapi, kemudian Sandra mencuci semua peralatan yang dia gunakan untuk memasak sebelumnya. "Wah, harum sekali Mamah!!" kata Nadia girang. Nadia duduk dimeja makan dan mencium bau masakan Mamahnya yang membuat perut mungilnya pada berdemo. "Tunggu Papah dulu ya," teriak Sandra. Sandra menaruh peralatan yang sudah dia cuci dirak, kemudian membuatkan s**u putih untuk putrinya. Dia membawa s**u itu dimeja makan dan menyerahkan kepada putrinya. "Diminum dulu, masih hangat," kata Sandra sambil tersenyum. Nadia mengangguk dan mengambil s**u buatan Mamahnya. Dia menghembus ke arah gelasnya supaya s**u cepat dingin. Kemudian Bram datang bersama dengan Irene. Mereka mengambil duduknya masing - masing. Sandra melayani mereka semua mengambil makanan, terutama suaminya terlebih dahulu. "Terimakasih," kata Bram hangat. "Nadia makan sayur ya.." "Iya Mamah, biar jadi dokter," kata Nadia menyengir. Setelah dia melayani semuanya, dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri. "Nadia sudah kelas berapa sekarang?" tanya Irene. "Mau naik kelas dua Nek.." "Wah pintar sekali cucuku.. Nanti Nenek berikan hadiah kalau kamu mau pulang." "Wahhh, makasih Nenek!!" Mereka makan dengan tenang, walau terkadang Nadia membuat suasana menghangat dengan tingkah lucunya. "Nadia ke kamar dulu ya Mah, Pah, Nek, mau liat yutub nonton drama korea.." Setelah Nadia pergi, baru Irene mulai berbicara serius. Dia menatap Bram dan juga Sandra. "Bram, San.. kamu ingat dengan Miranti?" Sandra menoleh ke arah Bram sekilas, kemudian menatap Irene kembali, "Miranti, mantan kekasih Mas Bram Mah?" "Iya." "Ada apa dengan wanita ular itu?" tanya Bram jengah. "Selama ini, Mamahmu Victoria memberi pelajaran perempuan itu dengan menyekapnya. Namun, sebulan yang lalu Mamah mendapat kabar dari Victoria bahwa perempuan itu kabur." "Lantas, hubungannya dengan kami apa Mah?" tanya Bram heran. "Tentu ada! Sebelum perempuan itu kabur, dia meninggalkan secarik pesan, dia akan kembali menghantui keluarga kecil kalian, terutama Nadia!" ucap Irene serius. "Astagfirullah.. bagaimana ini Mas?" tanya Sandra bingung. "Kamu tenang saja, tidak mungkin Mira kembali. Lagi pula, keamanan mansion dan juga penjagaan ketat Nadia sudah cukup aman. Aku akan memperketat lagi, jadi kalian tidak usah khawatir." "Mamah mohon, kalian tidak boleh lengah menjaga Nadia. Sudah cukup tenang Mamah melihat kalian kembali bahagia. Mamah tidak mau terjadi kembali seperti dahulu Bram.." "Bram akan menjaga Nadia.. Mamah tenang saja," kata Bram mencoba menenangkan Mamahnya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD