Andre berlalu meninggalkan Faye begitu saja. Andre melangkahkan kakinya menuju ruang direktur rumah sakit ini. Ia mengetuk pintu dan terdengar suara dari dalam menyuruhnya masuk. Dengan segera Andre membuka pintu. Dan terlihat seorang lelaki paruh baya tersenyum padanya.
"Bagaimana Andre?"
"Aku sudah menuruti semua perintah Papa!"
"Daripada kamu di Singapura, lebih baik kamu di Indonesia. Lagipula rumah sakit ini juga kekurangan dokter," ucap Hendra.
Hendra Gevariel merupakan ayah kandung Andre. Ia seorang profesor di salah satu universitas terbaik di Indonesia.
"Dulu Papa menyuruhku untuk bekerja di rumah sakit Singapura dan sekarang Papa menyuruhku bekerja di rumah sakit Indonesia."
Andre berkuliah fakultas kedokteran di Inggris, ia telah menempuh pendidikan untuk menjadi dokter spesialis bedah selama empat belas tahun lamanya. Saat ini Andre berumur 32 tahun.
Setelah menyelesaikan masa pendidikannya, Andre lalu bekerja di rumah sakit besar di Singapura selama enam bulan. Sebenarnya Andre ingin sekali bekerja di rumah sakit Indonesia. Namun, Hendra menyuruhnya untuk di Singapura. Andre menurutinya, dan sekarang ia harus menuruti kemauan Hendra yang menyuruhnya kembali ke Indonesia dan bekerja di rumah sakit Renjana Kasih.
Menjadi dokter bukanlah keinginannya, dari kecil Andre selalu dituntut sempurna dan menjalankan apa yang Hendra perintahkan. Seperti sekarang, ia harus menjadi dokter sesuai permintaan Hendra. Padahal, Andre berkeinginan menjadi lawyer. Andre merasa tidak bebas karena kehidupannya selalu diatur oleh Hendra. Namun, ia bisa apa karena Hendra merupakan Ayahnya. Ibunya ikut prihatin tapi juga tidak bisa membelanya karena apa yang telah dikatakan oleh Hendra adalah mutlak dan tidak bisa ditolak.
Hendra terkekeh. "Maafkan Papamu ini, tapi sepertinya kamu akan lama bekerja di sini."
"Saya harap anda betah bekerja di sini dokter Andre," ucap Mario-selaku direktur rumah sakit Renjana Kasih.
"Terima kasih dokter Mario. Saya juga tidak keberatan bekerja disini, lagipula rumah sakit ini memang kekurangan dokter bedah," ucap Andre.
Hendra dan Mario adalah kerabat dekat. Hendra juga termasuk salah satu pemegang saham terbesar di rumah sakit ini.
"Anda bisa bekerja mulai besok dokter Andre," ucap Mario.
"Baik, terima kasih dokter Mario."
***
"Dokter baru itu kemarin diam saja waktu aku minta maaf," kesal Faye.
Faye baru saja menceritakan kejadian yang dialaminya kemarin, ia merasa kesal dengan respon dokter baru tersebut setelah Faye meminta maaf. Walaupun Faye tahu ia salah karena menabraknya dulu.
Sherly terkekeh geli mendengar cerita Faye. "Apa aku bilang, dia itu kan dokter dingin," ucap Sherly sambil menyeruput pop ice nya.
Faye dan Sherly sedang berada di kantin rumah sakit. Karena sedang istirahat mereka pun bersantai menikmati makan siang.
Sherly menyipitkan matanya. Kemudian menepuk keras bahu Faye yang di sebelahnya.
"Apaan sih?" kesal Faye karena terkejut dengan tepukan keras di pundaknya.
Sherly menunjuk seseorang, dari kejauhan terlihat dua orang sedang berjalan berdampingan.
"Lihat tuh!"
Faye melihat apa yang ditunjuk oleh Sherly. Ia memicingkan matanya. "Dokter Andre kah itu?"
Sherly menggebrak meja histeris. "Tidak salah lagi, mereka itu memang sepasang kekasih."
Karena teriakan Sherly beberapa orang yang berada di kantin sempat melirik meja yang ditempati Faye dan Sherly. Faye sampai malu dibuatnya karena temannya ini sering heboh dan memang tidak tahu tempat kalau bergosip.
Faye menghela nafas kesal. "Nggak usah gebrak-gebrak juga kali," bisik Faye.
Sherly nyengir bersalah, ia mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Refleks."
"Lagian heboh amat sih kaya nggak pernah lihat orang pacaran aja."
Sherly menatap dua orang yang sedang berjalan berdampingan tanpa berkedip sedikitpun. "Beruntungnya dokter Lettysia."
Faye mencebikkan bibirnya. "Biasa aja."
Sherly melirik Faye sekilas, kemudian kembali menyeruput pop ice nya.
Andre berjalan berdampingan dengan dokter muda dan cantik bernama Lettysia. Mereka berjalan menuju parkiran yang ada di rumah sakit. Parkiran di rumah sakit ini dekat dengan kantin. Kemudian Andre dan Lettysia segera masuk ke mobil berwarna hitam.
"Sayang, mereka itu seperti lihat hantu aja ya," ucap Lettysia setelah masuk ke bangku samping kemudi.
Andre tidak menjawab, ia fokus memasang seat belt-nya.
Lettysia tersenyum. Ia sudah tidak terkejut dengan respon Andre. Bagi Andre jika tidak terlalu penting untuk di bicarakan, ia lebih memilih diam. "Aku senang banget lho kamu kerja di sini. Jadi kita nggak LDR lagi."
Andre hanya tersenyum tipis menanggapi. Kemudian segera melajukan mobilnya.
"Kamu mau mampir ke apartemen aku?" tawar Lettysia.
"Boleh."
"Tapi katanya kamu di suruh langsung pulang sama Papa."
"Mampir sebentar."
Lettysia menganggukkan kepalanya. "Aku juga masih rindu sama kamu."
Andre mengelus rambut Lettysia pelan. "Aku juga."
Lettysia, dokter muda berambut panjang, berkulit putih dengan tinggi badan yang semampai. Banyak orang yang bilang jika Lettysia lebih cocok menjadi model daripada dokter. Lettysia merupakan dokter spesialis radiologi. Saat ini berumur 30 tahun.
Andre dan Lettysia adalah sepasang kekasih. Mereka telah berpacaran dari SMA. Andre dan Lettysia juga pernah beberapa kali putus namun akhirnya balikan kembali. Andre merupakan kakak kelas Lettysia pada saat itu.
Sebenarnya menjadi dokter bukanlah keinginan Lettysia. Ia ingin menjadi model, namun karena ingin menemani Andre. Lettysia pun akhirnya berkuliah di kedokteran. Lagipula menurut Lettysia dunia kedokteran tidak seburuk itu. Ia juga senang dapat membantu banyak orang.
Orang tua Lettysia tinggal di Bandung. Lettysia bekerja di rumah sakit swasta di Jakarta, maka dari itu ia membeli apartemen di Jakarta untuk ditempatinya. Setiap akhir pekan Lettysia selalu meluangkan waktunya untuk pulang ke Bandung menemui orang tuanya.
Kurang lebih dua puluh menit akhirnya mereka sampai di apartemen. Dengan tidak tergesa-gesa Lettysia membuka pintu apartemen.
Begitu mereka masuk ke dalam, Lettysia menutup pintu itu. Dan tak menunggu sedetik tiba-tiba Andre menyambar bibir Lettysia.
Lettysia terkejut, namun akhirnya membalas ciuman Andre. Andre memegang tengkuk Lettysia dan merengkuh pinggangnya erat. Lettysia melingkarkan tangannya pada tubuh Andre, deru nafas mereka saling bersahutan.
Andre terus menggigit dan mengabsen deretan gigi Lettysia, hingga mereka kehabisan nafas dan saling melepaskan.
Beberapa detik mereka saling pandang, seperti tak cukup melepaskan rasa rindu. Andre kembali melumat bibir Lettysia.
Andre tak bisa menahan diri lagi, ia melepaskan ciumannya. Lettysia terkekeh geli kemudian menarik tangan Andre untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar.
Begitu sampai di kamar, Andre mendorong Lettysia dan menjatuhkannya di atas ranjang.
Andre kembali menciumnya, Andre tak bisa berhenti mencium bibir wanita yang kini terbaring di bawahnya. Bibir mereka saling mencecap rasa satu sama lain.
Kemudian tanpa menunggu lama keduanya pun melepaskan pakaiannya masing-masing. Dengan segera Andre menyatukan tubuhnya dengan tubuh Lettysia. Desahan bersahutan memenuhi ruangan. Mereka sudah biasa melakukan kenikmatan ini sejak berada di bangku kuliah.
Desahan demi desahan sudah tak tertahankan lagi, Andre semakin cepat menghujam milik Lettysia. Lettysia mendesah tak karuan, sampai kemudian mereka berdua mendapatkan pelepasan.
***
Andre melajukan mobilnya dengan santai. Ia tersenyum dan seperti mendapatkan semangatnya kembali karena baru saja b******a dengan Lettysia. Malam ini ia kembali ke rumah orang tuanya. Sebenarnya sore tadi selepas pulang dari rumah sakit harusnya Andre langsung pulang dan menemui Hendra karena ada hal penting yang ingin dibicarakan. Namun karena rindunya dengan Lettysia, Andre lebih memilih mengantar Lettysia pulang dan melepas rindu dengannya.
Beberapa menit kemudian Andre sampai di kediaman mewah milik Hendra. Ia segera turun dari mobil dan masuk ke rumah mewah itu.
"Andre!" panggilnya.
Andre tersenyum kemudian memeluk wanita yang telah melahirkannya.
Arumi Gevariel merupakan Ibu kandung Andre. Andre adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Kakaknya bernama Arsya Gevariel. Namun, Arsya meninggal saat berusia 25 tahun. Andre dan Arsya hanya selisih tiga tahun.
Andre melepaskan pelukannya kemudian memandang wajah Ibunya yang semakin menua namun tetap terlihat cantik.
"Iya, Ma."
"Bukannya harusnya sore sudah sampai rumah?"
"Tadi Andre ketemu teman lama, jadi ngobrol sebentar."
"Kamu sudah makan belum?"
Andre menggelengkan kepalanya.
"Papa mana Ma?"
"Akhirnya kamu pulang Andre," sahut Hendra dari belakang.
"Papa sudah menunggumu dari sore," ucap Arumi tersenyum lembut.
"Tadi ada urusan sebentar."
"Sebenarnya apa yang ingin Papa bicarakan?"
"Lebih baik kamu mandi dulu, setelah itu kita makan malam bersama," sahut Arumi.
Andre mengangguk dan segera membersihkan dirinya. Setelah menyelesaikan mandinya, Andre menuruni anak tangga menuju ruang makan. Mereka bertiga lalu makan malam bersama.
Andre makan dengan lahap, ia sangat merindukan masakan Arumi. Sejak tinggal di Singapura, Andre menjadi jarang memakan masakan Indonesia.
"Apa kamu sudah melihat gadis itu?" tanya Hendra setelah mereka bertiga menyelesaikan makan malamnya.
Saat ini mereka sedang duduk santai diruang keluarga.
Andre menghela nafas berat. Kemudian menganggukkan kepalanya pelan.
"Bagaimana menurutmu? Apakah dia cantik?"
Andre tidak menjawab, pikirannya menerawang entah kemana, ia hanya memandang televisi di depannya.
"Kamu harus ingat, perjodohan itu tidak bisa dibatalkan," ucap Hendra.
"Andre seperti tidak memiliki kebebasan, harus menuruti apa yang Papa katakan," lirih Andre.
"Dia lebih baik daripada kekasihmu itu!"
"Apa yang membuat Papa yakin?"
"Papa adalah orang tuamu dan Papa tahu apa yang terbaik untuk anaknya."
Andre tersenyum getir. "Selalu seperti itu."
"Papa harap kamu menuruti apa yang Papa katakan, tinggalkan Lettysia dan dekati gadis itu!"
Hendra berdiri kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Andre di ruang keluarga. Meninggalkan Andre dengan segala kekalutan di hatinya.
Arumi mendekati Andre dan mengelus punggungnya pelan.
"Andre," panggilnya lembut.
"Andre lagi nggak mau bahas itu Ma!"
Arumi menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Sebenarnya ia kasihan dengan Andre, namun karena ini menyangkut wasiat seseorang yang sudah meninggal. Arumi pun pasrah, lagipula orang tersebut sangat berjasa dengan keluarganya.