3.Arranged Marriage

1409 Words
Seperti biasa, Faye segera menuju loker dan mengganti pakaiannya lalu melangkahkan kakinya menuju IGD. Hari ini Faye sedikit terlambat, Faye dengan segera menangani pasien gawat darurat. Ia bersama dengan Sherly, Xena, dan suster lainnya. Faye melihat beberapa mobil ambulance datang membawa pasien dengan luka tembak dan luka senjata tajam. Pasien masih sangat muda, mereka masih memakai seragam di bangku sekolah menengah ke atas. "Apa yang terjadi?" tanya Faye. "Suster Faye tolong bantu saya. Pasien ini mengalami luka tembak," pinta Xena. Dengan segera Faye membatu Xena untuk memeriksa pasien tersebut. Suasana di IGD terasa mencekam. "Bagian mana yang adik rasakan?" tanya Faye. "Perut sus," ucap pasien tersebut. "Sepertinya harus segera dioperasi untuk pengangkatan karena peluru masuk di perut sebelah kiri pasien," jelas Faye. "Bagaimana bisa melakukan operasi sedangkan dokter Liam saja masih memeriksa pasien yang lain. Jumlah korban bertambah banyak," ucap Xena. "Sebenarnya apa yang terjadi?" Suara tegas dari belakang membuat Faye dan Xena menoleh. "Mereka tawuran, beberapa ada yang terkena luka tembak dan senjata tajam dokter," jelas Xena. Pasien yang sedang diperiksa Faye meringis kesakitan. Andre mendekat ke korban luka tembak tersebut. "Kita harus melakukan operasi darurat sekarang!" "Siapkan alat-alat untuk membedah perutnya sekarang juga!" perintah Andre. Xena pun segera mempersiapkan alat untuk melakukan operasi darurat. "Kamu bantu saya!" seru Andre menatap Faye. "Baik, Dok,"' ucap Faye. Faye mengoleskan kapas yang telah diberikan cairan ke atas perut pasien. Andre segera menekan pisau bedahnya. Tanpa menunggu lama operasi pengangkatan peluru dilakukan. Andre kemudian membersihkan pendarahan, dan menutup luka pasien lalu menjahitnya dengan cepat. Faye sampai terkejut dengan keahlian Andre, ia bisa melakukan operasi itu dengan sangat cepat dan tenang. Suasana di IGD sudah tidak mencekam seperti tadi, pasien telah banyak yang tertolong. Itu semua karena tenaga medis segera melakukan tindakan. Andre pun tak segan untuk berkali-kali melakukan operasi demi menyelamatkan pasien. *** "Fay, kenapa tadi terlambat?" tanya Sherly. Saat ini Faye dan Sherly sedang beristirahat menikmati makan siang di ruangan khusus suster. "Tadi bangunnya kesiangan." "Kamu hari ini lembur kan? Aku pulang duluan ya," pamit Faye. "Habisin dulu itu makanannya." "Sudah kenyang." "Tumben buru-buru pulang." "Sore ini aku mau ziarah ke makam Papa." "Oh, ya, udah deh. Hati-hati ya!" Kemudian Faye segera mengambil tas di loker dan melangkahkan kakinya keluar. "Suster Faye!" panggilnya. "Dokter Liam, ada apa?" "Suster Faye mau pulang?" tanya Liam. "Iya." "Kalau gitu bareng sama saya saja. Kebetulan rumah kita kan jalannya searah." "Tidak perlu dokter Liam, saya bisa naik taxi," tolaknya. Liam adalah dokter umum IGD, Liam juga penanggung jawab atas pengelolaan ruangan IGD karena ia merupakan kepala IGD. Umurnya sekitar 32 tahun, namun belum menikah. Berbadan kekar dan berwajah tampan, banyak yang tidak percaya jika Liam umurnya telah menginjak kepala tiga. Liam tersenyum lembut. "Tidak apa-apa suster Faye, saya tidak keberatan." Akhirnya Faye menyetujui ajakan Liam yang ingin memberikannya tumpangan. Mereka segera naik ke mobil, Liam lalu melajukan mobilnya dengan santai. "Suster Faye apa telah memiliki kekasih?" tanya Liam berusaha mencairkan suasana. "Saya tidak memiliki kekasih dokter," jawab Faye. Karena memang Faye tidak memiliki kekasih. Jujur saja, Faye belum pernah berpacaran dengan siapapun. Menurut Faye itu hanya buang-buang waktu. Beberapa menit kemudian mobil Liam sampai di rumah Faye. "Terima kasih atas tumpangannya dokter Liam, kalau begitu saya permisi." Faye segera keluar dari mobil, namun tiba-tiba Liam ikut keluar dari mobil. "Ehh, tunggu!" seru Liam. Faye menghentikan langkahnya. "Ada apa dokter Liam?" Liam pun mendekati Faye. "Suster Faye, bagaimana kalau sedang tidak dirumah sakit tidak perlu memanggil dokter. Cukup panggil dengan nama saja." "Tidak perlu terlalu formal denganku," jelas Liam. Faye terkekeh, ia kira ada apa Liam memanggilnya. Faye pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kalau begitu dokter juga tidak perlu memanggil saya dengan embel-embel suster." Liam pun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Iya, Faye," ucap Liam yang mengundang gelak tawa Faye karena terdengar lucu saat memanggilnya tanpa embel-embel suster. *** Sore hari ini Faye dan Kinasih mengunjungi makam Panji. Sudah tiga belas tahun lamanya Panji meninggalkan mereka berdua. Kinasih menaburkan bunga mawar di atas makam Panji. Walau sudah sangat lama, namun Faye yakin jika Ibunya masih sangat mencintai Ayahnya. Terbukti selama tiga belas tahun ini Kinasih tidak mau menikah lagi. Padahal, Faye setuju jika Ibunya akan menikah lagi. Namun, Kinasih selalu menolaknya. Ia hanya ingin fokus merawat Faye. Faye tersenyum lembut, suasana cerah di sore hari ini mengingatkan saat ia dan kedua orang tuanya bermain di taman kota. Bermain gelembung dan berlari-larian di taman yang menyejukkan. Sampai saat ini ketika Faye merindukan Panji, ia selalu mendatangi taman kota tempat dimana ia dan kedua orang tuanya terakhir kali bermain. Tempat terakhir Panji sebelum ia kecelakaan mobil tunggal di jalan tol. Faye menghela nafas kemudian mengelus punggung Kinasih. "Papa sudah tenang di sana Ma." Kinasih menganggukkan kepalanya. "Faye, ada yang ingin Mama bicarakan sama kamu." "Apa Ma?" Kinasih tersenyum kemudian menggenggam tangan Faye. "Sebenarnya ada beberapa hal dari Papa yang belum sempat Mama katakan." Faye mengernyitkan dahinya. "Apa itu Ma?" "Mama ingin mengatakan ini jika kamu sudah siap." "Siap?" Faye memastikan. Siap apa maksudnya? Faye bingung dengan arah pembicaraan Kinasih. Faye menduga jika ia sebenarnya bukan anak kandungnya. Tidak, Faye tidak mau mendengarnya jika itu yang akan Kinasih katakan. Lagipula ini tidak mungkin karena Kinasih memperlakukannya dengan sangat baik, merawat dan selalu menjaga selayaknya kasih seorang Ibu kepada anaknya. "Ma, aku anak kandung Mama kan? Jangan bilang kalau aku bukan anak kandung Mama!" Jantung Faye berdegup kencang, karena tidak biasanya Kinasih bersikap seperti ini. Kinasih terkekeh geli, ia tidak menyangka jika Faye berpikir terlalu jauh. "Kamu itu anak kandung Mama sama Papa. Kamu itu kebanyakan nonton sinetron." Faye menghela nafas lega. "Faye nggak tahu arah pembicaraan Mama kemana." "Fay, apa kamu sudah ada niatan untuk menikah?" tanya Kinasih lembut. Faye menggelengkan kepalanya. "Faye mau sama Mama aja." Kinasih memaksakan senyumnya, ia lalu meneteskan air matanya mendengar jawaban Faye. "Faye, bagaimanapun juga kamu harus menikah. Mama nggak yakin bisa menjaga kamu selamanya. Apapun yang terjadi, cepat atau lambat Mama pasti akan meninggalkan dunia ini," jelas Kinasih. "Ma! Mama ngomong apa sih?!" sentak Faye. Faye terisak, ia benci jika Kinasih mulai membicarakan jika dirinya cepat atau lambat pasti akan meninggalkannya. Bukan sekali dua kali Kinasih mengatakan itu. "Kalau kamu sudah menikah, Mama bisa tenang karena sudah ada yang menjaga kamu." "Sebenarnya mau tidak mau kamu harus siap menerima kenyataan," ucap Kinasih. "Jika itu kemauan Mama, Faye akan segera menikah Ma," ucap Faye di sela isakan tangisnya. Kinasih menyeka air matanya kemudian mengusap batu nisan suaminya. Kinasih memutuskan untuk menceritakan kejadian di masa lalu yang selama ini ia pendam. "Dulu, Papa kamu sebelum pergi meninggalkan kita. Disaat detik-detik terakhirnya Papa memberi wasiat." Kinasih menghela nafas. "Papa mengatakan jika telah meninggal ingin mendonorkan organ tubuhnya kepada orang lain yang membutuhkan, dengan syarat yang menerima organ tubuhnya harus menjaga Ibu dan kamu," jelas Kinasih. Faye semakin terisak mendengar cerita Kinasih, ia menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Kinasih masih mengusap batu nisan suaminya. "Setelah Papa mengatakan itu, tak lama kemudian Papa menghembuskan nafas terakhirnya. Dan saat itu di rumah sakit yang sama, ada seorang pasien lelaki yang membutuhkan donor jantung." "Dokter memutuskan untuk menjalankan wasiat dari Papa. Dokter pun akhirnya melakukan operasi transplantasi jantung kepada pasien lelaki yang membutuhkan tersebut." Kinasih menoleh ke arah Faye. Faye sudah terisak hebat. Kinasih memegang bahu Faye dan menatapnya dengan sorot mata dalam. "Dan pasien lelaki yang telah menerima jantung Papa masih hidup sampai sekarang. Beliau sangat berhutang budi dengan kita. Lelaki itu selalu menjaga kita walau dari kejauhan. Saat ini lelaki itu ingin menjodohkan kamu dengan anaknya. Anak itu lah yang ingin menjaga kamu nantinya," jelas Kinasih. Faye menggelengkan kepala nya tak percaya. Di saat detik-detik terakhirnya, Ayahnya masih sempat memikirkan keluarganya. "Dia ingin menikahi kamu," ucap Kinasih dengan suara yang bergetar. Kemudian Kinasih memeluk Faye, keduanya terisak di samping makam Panji. "Apa kamu keberatan?" Suara Kinasih terdengar sumbang. Faye melepaskan pelukannya, lalu menggelengkan kepalanya. "Kalau gitu besok malam kita akan bertemu dengan mereka," ucap Kinasih sambil menyeka air mata Faye. "Besok malam?" Faye memastikan. "Iya, apa kamu lembur?" Faye menggelengkan kepalanya pelan. "Faye nggak lembur Ma." "Ya, sudah. Kalau gitu kita pulang ya, sepertinya akan turun hujan," ajak Kinasih. Kemudian mereka segera pulang, sesampainya di rumah Faye langsung naik ke atas menuju kamarnya. Faye mengunci pintu kamar lalu duduk termenung di ranjangnya, pikirannya menerawang entah kemana. Jangankan wajahnya, namanya saja ia tidak tahu. Kinasih mengatakan tidak memiliki fotonya dan juga tidak memberi tahu siapa namanya. Jantungnya berdegup kencang, keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya. Faye tidak menyangka jika besok malam akan bertemu dengan lelaki yang ingin dijodohkan dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD