Audi yang dia tumpangi melambat kemudian berhenti tepat di depan bioskop terbesar di Seattle. Bergegas Adam menuruni mobil. Membenarkan sejenak mantelnya yang sedikit tersingkap saat duduk. Semua pakaian pemberian Angelica sangat pas di badannya. Wanita itu benar-benar mengenal tubuhnya dengan baik bahkan tak sesenti pun kesalahan ukuran terjadi pada pakaian ini.
Segera dia celingukan mencari sosok yang sejak sore membuatnya gusar dan kehilangan. Fail-fail pekerjaan terkesan membosankan. Berkali-kali mencoba fokus, tapi bayangan sekretarisnya itu jauh lebih menyita isi kepalanya. Hingga seseorang dari kejauhan menarik perhatian Adam. Kakinya bergerak dengan sendirinya mendekati wanita itu.
Angelica berdiri seorang diri di depan salah satu poster yang terpasang di muka gedung. Kedua tangannya sibuk membawa segelas besar minuman dengan dua sedotan serta sebuket popcorn berukuran besar. Rambut sehalus sutra itu digerai indah. Riasan sederhana terpulas cantik di wajahnya. Lipstiknya yang berwarna pucat, malah menjadikan wajah wanita itu tampak muda. Penampilannya terlihat berbeda dari biasanya. Julukan seorang w*************a ataupun sekretaris profesional luntur begitu saja. Angelica adalah seorang gadis polos dalam pakaian mantel cokelat tua yang sama persis dengan miliknya, kaus hitam polos, serta rok mini jeans pendek. Sangat bersahaja di mata Adam.
“Hey,” sapa Adam. Tak ingin menunggu lama, segera saja dia melingkarkan tangannya pada pinggul Angelica. Menarik hati-hati wanita itu hingga menempel padanya. Lalu membungkam bibir mereka. Baru juga ditinggal beberapa jam, kehilangan itu rasanya sangat kental terasa. “Aku datang, Sayang.”
“Bagus! Kau tepat waktu,” jawabnya sambil memamerkan senyum lebar. Mata Angelica memindai penampilan Adam dari atas hingga bawah. Sorot puas terpasang di wajahnya. “Ini menarik kan, Adam? Kita mengenakan pakaian yang senada tanpa janjian lebih dulu. Kita benar-benar terhubung.”
Sontak Adam tergelak mendengar penuturan Angelica. Kepalanya langsung mengangguk, sama sekali tak ingin menghancurkan khayalan sekretarisnya itu. Sesuai janji yang dia buat, malam ini adalah malam romansa Angelica. Adam akan menuruti apa saja yang menurut wanita itu baik demi mempelancar alur dongennya. Lagi pula, diam-diam dia senang ada seseorang yang membelikannya barang-barang serta mendadaninya. Mengajaknya juga menonton film di bioskop, yang sampai detik ini dia baru beberapa kali ke tempat ini. Sepuluh jarinya saja kelebihan.
“Aku ingin jujur padamu, Angelica,” ucap Adam lirih seraya merangkul sekretarisnya. Sambil menunggu respons, dituntunnya Angelica memasuki gedung. Jam di tiket menunjukan bahwa film akan dimulai sekitar sepuluh menit lagi. Bergegas keduanya memutuskan untuk langsung masuk ke studio saja.
“Silakan. Aku mendengarkan,” balas Angelica.
Sayangnya, Adam memilih untuk menunggu mereka duduk di kursi. Karena saat memasuki studio, sudah banyak orang yang berdatangan. Lampu-lampu juga hampir seluruhnya padam. Layar mulai memainkan iklan berbayar. Menyebabkan keduanya harus berbisik-bisik agar tak mengganggu pengunjung lain untuk memastikan arah duduk mereka benar.
“Jadi….” Adam menggantungkan ucapannya sesaat sembari menduduki kursi. Begitu memastikan dia dan Angelica sudah nyaman, pria itu melanjutkan, “Aku jarang sekali nonton bioskop. Sepuluh jariku terlalu banyak jumlahnya untuk menghitung intensitasku di tempat ini.”
“Bohong!” Angelica sontak menoleh ke arahnya sambil menepuk d**a Adam.
Senyum geli Adam tersungging di wajah tatkala menemukan Angelica membelalakan matanya. Gemas sekali. Refleks, dia mencondongkan wajahnya mendekati sekretarisnya itu. Lagi dan lagi, mencicipi bibir ranum wanita itu yang selalu membuatnya ketagihan. Adam benar-benar heran dan bertanya-tanya, sampai kapan dia puas dengan Angelica? Karena semakin sering mereka bersama, dia semakin terhubung dengan wanita ini. Sangat berbahaya dalam arti yang sebenarnya. Namun malam ini, dia tak ingin memikirkan itu.
“Kenapa aku harus berbohong padamu, Sayang?”
Angelica mengedikkan bahu. “Entah. Mungkin kau ingin membuatku merasa simpati terhadapmu, Adam.”
“Aku tak butuh rasa simpatimu, Angelica. Percayalah.” Adam mendesah panjang. Bersenang-senang ke tempat hiburan seperti ini bukanlah gayanya, lebih tepatnya dia tak ingin membuat dirinya terlena dalam keasyikan dan melupakan tanggung jawabnya. “Pindah dari Itali ke New York seorang diri itu tak mudah, Sayang. Saat itu yang kupikirkan hanyalah bekerja dan bekerja. Membuktikan kemampuanku adalah prioritas. Bahkan bersenang-senang, oh, itu tak ada dalam daftarku.”
“Oh, Sayang,” bisik Angelica. Jari-jari lentik wanita itu menyentuh pipi Adam. “Berarti pilihanku untuk mengajakmu ke bioskop adalah hal benar, bukan?”
“Sangat tepat, Sayang.”
Kali ini, Angelicalah yang bergerak lebih dulu. Menautkan bibirnya ke bibir Adam. Cukup lama, hingga mereka terpaksa berhenti saat cahaya terang dari layar menyoroti keduanya. Membuat mereka terkekeh bersamaan.
“Kau sendiri, Angelica, seberapa sering ke bioskop?” tanya Adam mencoba mengisi kekosongan. Film belum juga main, jadi daripada diam, lebih baik mengobrol dengan suara rendah.
“Lumayan sering,” balasnya sambil memasukan popcorn ke mulut. “Jadi, aku tidak bisa menghitungnya dengan jari.”
“Dengan kekasih?” ejek Adam yang langsung dia sesali. Dia adalah pacar pertama Angelica, bagaimana bisa wanita itu berkencan dengan pria selain dirinya sebelum ini. “Kurasa tidak pernah.”
Angelica mengangguk malas. “Kebanyakan bersama dengan kakak laki-lakiku, sisanya bersama orang tua kami.”
Pembahasan mengenai orang tua langsung menarik perhatian Adam. Mereka jarang membicarakan hal sepribadi keluarga. Tiba-tiba dia penasaran dengan Angelica dengan kakak laki-laki serta orang tua wanita itu. “Ah… ceritakan padaku mengenai keluargamu.”
Tahu-tahu saja Angelica mengalihkan pandangan ke layar. Jarinya menunjuk sisi besar di hadapan mereka itu. “Filmnya sudah diputar, Adam. Kita bahas itu nanti. Okay!”
“Ya….”
Film perlahan mulai berjalan. Sayangnya, Adam tak tertarik. Satu-satunya yang dia inginkan hanyalah wanita di sebelahnya. Dengan sengaja dia memainkan jemari-jemarinya di permukaan punggung tangan Angelica. Memastikan bahwa teman kencannya itu tahu apa yang dia butuhkan. Bukan film, tapi diri wanita itu.
***
Baru juga ditinggal Adam membeli makanan, tiba-tiba pikiran Angelica berkelana. Memori beberapa menit yang lalu di dalam studio berputar di kepalanya. Napas wanita itu sontak tertahan. Kedua pipinya bersemu merah. Mereka baru saja menjadikan fantasi liarnya menjadi kenyataan.
Film dimulai dan seluruh lampu di studio dipadamkan. Satu-satunya penerangan hanyalah cahaya yang berasal dari layar besar di depan mereka. Beberapa menit awal, segalanya berjalan normal. Hingga jari-jari jail Adam mulai menari-nari di atas permukaan kulit Angelica yang telanjang. Lambat-lambat bosnya itu memainkan jemarinya dan hal itu berhasil menciptakan sensasi aneh yang menggelenyar ke sekujur tubuhnya.
Dari punggung tangannya lalu berjalan pelan ke tempurung lututnya. Angelica nyaris mengerang saat tangan Adam bergerak naik ke pahanya. Lama sekali jari itu di sana. Hingga semakin naik dan naik sampai menyentuh pangkalnya. Pelapis celana dalam yang melindungi tubuhnya pun seolah tak berguna. Karena hanya dengan sentuhan-sentuhan itu, Adam berhasil membuatnya basah dan gairahnya naik. Hampir saja dia mengerang kencang. Untungnya suara tawa kecil dari pasangan di sebalahnya berhasil menyadarkan tempat mereka. Buru-buru dia menutup mulut untuk meredam suaranya.
Sensasi yang Adam ciptakan menaikan adrenalinnya, campuran rasa nikmat dan takut ketahuan sedang berbuat m***m di dalam bioskop dengan puluhan orang di sekitarnya. Angelica tidak sanggup menahan diri. Refleks, dia meraih tengkuk Adam. Membungkam bibir pria itu dan menciumnya intens dan dalam. Gara-gara kelakukan bosnya, film yang dia tonton jadi memuakan. Kudapan yang dia persiapan juga jadi dibiarkan begitu saja. Satu-satunya rasa lapar yang dia rasakan adalah Adam, tidak ada yang lain. Sepanjang film terasa menyiksa karena Angelica ingin menuntaskan apa yang tertunda di dalam studio.
Film berakhir. Keduanya bergegas keluar. Saat melewati ruang janitor yang terpencil, mereka langsung memasukinya. Untungnya Adam selalu mempersiapkan segala sesuatu, menyimpan pengaman dalam dompet milik pria itu. Dan di ruang kecil yang penuh sesak barang, mereka menuntaskan hasrat. Secepat kilat, sebelum pemilik tempat ini memergoki mereka.
“Sandwich pesananmu, Sayang.”
Suara Adam mampu mengembalikan Angelica ke dunianya sekarang. Bosnya itu berdiri di hadapannya dengan tiga bungkus makanan di tangan. Membuat Angelica terkekeh seraya menerima roti lapis tersebut.
“Kau benar-benar membeli dua,” ucap Angelica seraya menggigit sedikit Sandwich daging asapnya. Tanpa sadar dia berdecak senang. Rasanya sangat lezat, jauh lebih enak daripada yang dibuat oleh pemilik kedai di sebrang apartemennya. Pantas saja orang-orang rela mengantri panjang.
“Aku lapar,” aku Adam sambil menduduki sisi Angelica. Mereka tengah duduk di pinggiran air mancur yang berada di tengah-tengah taman kota. Tak ada air yang menyembur, jadi aman dari cipratan dan basah. “Ternyata rasanya sama sekali tidak mengecewakan,” lanjut pria itu setelah mengigit kecil roti miliknya.
Keheningan panjang langsung menyelimuti keduanya. Tapi anehnya, Angelica merasa sangat tentram dalam sunyi yang mereka ciptakan ini. Ada banyak hal yang bisa mereka lihat di depan mata. Para anak-anak muda yang berkumpul membentuk komunitas tersebar hampir di setiap sudut. Beberapa pasangan yang menghabiskan sesi mengobrol seperti yang Angelica dan Adam lakukan tadi. Sisanya hanya beberapa keluarga yang mengajak anak-anak mereka menikmati malam. Belum lagi di tangan keduanya ada makanan yang sangat cukup untuk mengisi kelaparan pasca percintaan panas mereka beberapa saat lalu.
“Aku tidak pernah melakukan ini, Angelica.” Tiba-tiba Adam kembali bersuara. Dia mendesah panjang. “Makan di pinggir jalan bersama kekasihku. Duduk di tempat yang seharusnya bukan tempat duduk. Mantan-mantanku selalu memilih restauran mewah dengan ribuan dollar tagihan.”
Angelica menoleh, menatap lekat Adam yang semakin santai. Pria itu sudah menghabiskan roti pertamanya dan sekarang melanjutkan roti selanjutnya. Refleks, Angelica menyentuh pipi bosnya yang mulai ditumbuhi janggut tipis di sekitaran rahang. “Selalu ada pertama kali untuk setiap hal, Adam. Kuharap kau menyukai pengalaman pertamamu ini.”
Sontak Adam meraih tangan Angelica untuk dibawa ke bibirnya. Dicium punggung tangannya lama setelahnya, sedangkan mata pria itu mengunci tatapan Angelica. “Kuharap kita bisa melakukan ini di New York.”
“Aku juga.” Angelica tak yakin, tapi harapan selalu ada bagi mereka yang percaya. Mungkin setelah malam ini, Adam akan lebih sering menunjukkan sisi yang jauh lebih santai begitu mereka pulang ke negara bagian tersibuk di Amerika.
“Jadi, Angelica, ceritakan mengenai keluargamu.” Adam kembali berbicara. Dan Angelica seketika tersenyum kecut mendengarnya. Paling malas jika harus membahas masalah Dad, Mum, dan Armour. Semua orang-orang super protektif itu. Sayangnya, sorot penasaran yang bosnya tunjukan membuat Angelica menyerah untuk memberi sedikit pengetahuan.
“Ah, Dad dan Mum bekerja. Kakak laki-lakiku juga bekerja. Sama sekali tak ada yang spesial. Semua orang sibuk dan aku berada jauh di sekolah asrama hingga sekolah menengah. Tetap jarang bertemu keluargaku saat kuliah, kecuali kakakku karena dia hobi sekali mencampuri hidupku dengan dalih bahwa itu untuk melindungiku.” Angelica memutar bola matanya dengan kesal. Meskipun begitu, dia tetap menyayangi seluruh anggota keluarganya. Tanpa syarat. “Ya, keluarga biasa tanpa ada hal yang spesial untuk dibahas. Kau sendiri, Adam? Aku hanya mengenal Ayahmu, Santo Valentini.”
“Yeah, Mamma itu istri kedua Papà. Istri sebelumnya berpisah karena tidak cocok, meninggalkan kakak tiriku yang tinggal bersama kami, Dante. Kami tidak dekat, kecuali masalah pekerjaan.” Adam mendesah panjang. Terlihat hubungannya dengan sang kakak tiri tak bagus. Pandangannya mendadak menerawang ke lautan manusia yang jauh di depannya. “Alasanku pindah ke New York dan membangun Valentini Group adalah untuk membuktikan pada Dante bahwa aku bisa menang darinya, setidaknya satu hal. Itulah yang membuatku berpacu untuk memperluas pasar di Amerika dan menjadi obsesi karenanya. Sejak kecil, Dante selalu mengibarkan bendera perang. Segala hal yang berhubungan denganku, dia jadikan sebagai kompetisi melelahkan. Mungkin itu caranya agar perhatian Papà tetap tertuju padannya. Mamma sedih karena kakak tiruku itu sulit didekati hingga sekarang. Padahal Mamma sangat menyayangi Dante sama besarnya dia menyayangiku.”
“Sayang,” bisik Angelica yang berhasil menarik perhatian Adam kembali. “Itu tak mudah, tapi kau berhasil unjuk gigi dengan luar biasa mengagumkan. Kau hebat dan tentu aku sangat amat bangga terhadapku.”
Mata ambernya langsung terkunci oleh mata gelap Adam. Tanpa basa-basi lagi, pria itu langsung membungkam kembali bibir mereka. Angelica bisa merasakan bagaimana perjuangan bosnya yang tidak mudah dan pasti sulit untuk diceritakan, tapi pria itu mau terbuka dengannya. Angelica senang.
Obroalan demi obrolan kembali bergulir. Banyak topik yang dibahas hingga berjam-jam. Malam semakin larut. Kantuk mulai menyergap Angelica. Membuat kepala wanita itu terkulai lemas di bahu Adam. Dia kelelahan.
Segera bosnya itu merangkul pundaknya kemudian berbisik di telinganya, “Ayo kita pulang, Sayang.”
Angelica mengangguk pasrah. Saking capeknya, jalannya jadi melambat. Adam yang gemas sontak membawanya ke dalam gendongan pria itu untuk menuju mobil yang sudah terparkir di depan pintu masuk taman. Baru juga mereka menduduki kursi Audi, kesadaran Angelica menghilang dalam pelukan bosnya.
Tahu-tahu saja, kegelapan yang sangat pekat menyulitkan pengelihatan Angelica. Matanya baru saja terbuka. Dengan susah payah dia memindai sekeliling. Angelica bingung dengan keberadaannya. Hingga dia menoleh dan mendapati sosok Adam di sisinya. Sangat pulas dengan dengkuran lirih terdengar. Kepala pria itu bersandar pada lekuk leher Angelica, sedangkan salah satu tangan Adam memeluk pinggulnya erat.
Memiliki Adam dalam satu paket sempurna seorang kekasih adalah terlarang baginya. Bahkan, hanya sebagai bos saja, sosok Adam adalah godaan yang sangat menarik. Dan semakin ke sini, mendapatkan curahan perhatian yang bertubi-tubi dari bosnya itu, Angelica seolah tenggelam dalam perasaan yang hatinya bangun. Dia sudah menolak mati-matian rasa ini. Namun malam ini, di dalam damai nan aman yang Adam berikan, Angelica terpaksa mengakui dengan berat hati bahwa dia telah jatuh hati pada bosnya. Sepenuh hati. Menyedihkan.
***