#11 - Fairytale Started

2057 Words
Hari ketiga di Seattle, tidak terasa bahwa besok pagi mereka harus kembali ke New York. Realitas kejam. Selama beberapa hari ini, Angelica merasa jauh lebih damai dan bahagia, sekalipun hidupnya hanya berkutat dengan pekerjaan dan Adam. Alasannya sederhana, karena sikap santai bosnya dalam kehidupannya di sini. Setiap mereka bangun pagi, selalu ada satu sesi b******a. Angelica kapok menolak Adam karena telah memahami rasa frustrasi seseorang yang sedang horni, tapi tidak bisa melepaskan gairah mereka. Kalau masih sempat sarapan menggunakan panggilan kamar, mereka lebih ingin menikmati makan pagi sembari berpelukan dengan sebuah berita ekonomi di televisi. Jika tidak, keduanya memutuskan untuk berhenti sejenak di salah satu makanan cepat saji untuk makan di jalan. Kemudian, seharian akan bekerja dan bekerja. Berusaha tetap profesional dengan tidak menyentuh satu sama lain. Berbahaya. Sentuhan Adam selayaknya sengatan listrik bertegangan tinggi. Sekali pegang, maka seluruh titik sensitif di tubuhnya menyala dan sangat siap untuk sang bos. Pekerjaan selesai, mereka selalu menghabiskan makan malam di salah satu restauran mewah yang direkomendasikan para kolega Adam. Begitu kenyang, Angelicalah yang selalu meminta mobil berhenti lebih jauh dari hotel. Dia ingin menurunkan makanan di perut sebelum kembali ke kamar. Adam yang awalnya hanya ingin menjaga Angelica dari tempat asing, menjadikan aktivitas jalan mereka sebagai rutinitas tetap. Kehidupan impiannya. Sayangnya, ini hanya sekedar mimpi indah. Kenyataannya, mereka harus tetap pulang. Tanpa sadar Angelica mendesah sedih. Refleks, dia memutar badan dan menghadap Adam. Pria itu masih terlelap. Ketika dia tidur, sulit bagi Angelica untuk menemukan sosok angkuh yang berkuasa serta sok atur itu. Satu-satunya yang dia temukan hanyalah pria tampan yang terlihat damai serta polos tanpa sehelai kain yang menutupi setiap inchi tubuhnya. Mengingatkannya pada patung David yang tersohor di Eropa. Oh, dia benar-benar ingin tinggal. Meskipun pada nantinya di sana, dia tetap bekerja menjadi sekretaris Adam dan mengisi ranjang bosnya itu setiap malam. Pasalnya, di New York, mereka tak akan bisa pulang ke kamar sambil bergandengan tangan ataupun menemukan pria itu dengan santainya membelikan sarapan di sebuah makanan cepat saji. Jika Angelica bisa menghentikan waktu saat ini juga, dia akan melakukannya tanpa pikir panjang. Hanya jadi milik Adam selamanya. Sontak kedua mata Angelica melebar saat mendapati pemikiran konyol itu. Dia tak mungkin mengharapkan hal sekonyol itu karena itu mustahil dan hanya akan menyakitinya kelak! “Angelica,” erangan pelan yang berasal dari Adam berhasil mengejutkannya. Sontak dia memejamkan mata, sayangnya kekehan pria itu berhasil menggagalkan aksinya. Dia ketahuan baru saja mengamati bosnya yang sedang tertidur. “Pagi.” “Pa, pagi,” balas Angelica sembari berdeham. Terpaksa dia membuka matanya. Dan di sanalah dia menemukan sepasang mata gelap mengunci tatapannya. Rasa kikuk langsung menyelubinginya. “Jam berapa sekarang?” tanya Adam sambil setengah berbisik. Tiba-tiba saja tangan pria itu bergerak di balik selimut mereka mendekati lengan Angelica yang telanjang. Menari-narikan jemarinya dengan lihai di sana. Membangkitkan rasa damba yang berbeda, keinginan lebih dari sekadar memeluk tubuh telanjang bosnya. Membuatnya berkali-kali menelan ludah karena kebutuhan akan bosnya terasa mendesak. Sedikit terbata, Angelica menjawab, “Masih cukup banyak waktu… alarm belum berbunyi.” “Bagus!” Belum sempat Angelica membalas, Adam telah membungkam mulut mereka. Pekikan tertahan saking terkejut dengan ulah bosnya itu. Namun seperti biasa, Adam selalu tahu cara cepat mengubah kekagetannya menjadi rasa nyaman dan tepat. Dalam beberapa menit ciuman intens, pria itu sudah mengendalikan Angelica. Sepenuhnya. Pelepasan pagi ini cukup terburu-buru. Keduanya takut, jika terlalu lama bergumul di tempat tidur, maka keduanya akan terlena dan melupakan tujuan penting mereka di Seattle, bekerja. Angelica sih mengharapkan itu, tapi Adam, tentu tak ingin melepaskan kesempatan terakhirnya untuk mendapatkan proyek jutaan dollar dan pengembangan bisnis Valentini Group. Napas mereka beradu begitu peleburan mereka selesai. Sekalipun singkat, rasanya bahkan jauh lebih melelahkan. Mereka berpacu dengan waktu sekaligus keinginan untuk menyelesaikan apa yang mereka mulai. Beruntungnya, alarm juga masih belum berbunyi. Alhasil, Adam maupun dirinya memilih untuk saling memandang dalam kesunyiaan kamar. “Aku tidak ingin pulang, Adam,” aku Angelica memecahkan keheningan. Dihelanya napas panjang seraya mengalihkan tatapan ke tempat lain. Kenapa sesuatu yang membahagiakan selalu berakhir lebih cepat daripada sesuatu yang menyedihkan. “New York menungguku, Sayang,” balas Adam. Tangan pria itu semakin mengetat di pinggulnya. Tubuh mereka saling berdempetan lekat. “Kau juga harus pulang ke sana karena aku membutuhkanmu sebagai sekreatris dan juga kekasihku.” “Aku tau.” Angelica menghela napas panjang. Keinginan untuk mengutarakan perasaannya sangatlah kuat hingga dirinya tak mampu mengontrol kata-kata yang meluncur dari mulutnya. “Ketika kita di Seatlle, kau terlihat lebih bebas dan sangat santai. Adam, kau bahkan mau berjalan santai di pinggir jalan setiap malam sambil menggandeng tanganku. Membuatku merasa bahwa kau adalah kekasihku… sesungguhnya.” Angelica meringis. “Harus kuakui, kau bukan hanya sekadar kekasih pertamaku di ranjang, tapi kekasih dalam artian yang sebenarnya. Maaf, aku jadi sentimental.” Adam tak menjawab, hanya menatapnya lekat. Entah apa yang pria itu pikirkan, tapi cara pria itu memandangnya, rasanya Angelica seolah dipuja dan dimiliki. Lagi dan lagi, dia harus mengingatkan dirinya bahwa hubungan mereka tak akan bertahan lama dan percuma mengembangkan perasaannya. “Jadi, kau tak pernah berkencan, Angelica?” tanya Adam sembari membelai lembut rambut-rambutnya yang jauh di sekitar wajahnya. “Ya…. Menyedihkan sekali hidupku. Membosankan.” “Sayang, kuberi tahu satu hal, kata-katamu itu adalah sebuah hadiah untuk pria sepertiku. Semua mantan-mantanku pasti memiliki mantan sebelumku, setidaknya satu. Kau memilihku menjadi yang pertama, itu sebuah penghargaan,” balas Adam sambil membumbuhkan ciuman singkat. “Aku senang dan karena itu aku ingin mewujudkan impianmu untuk berkencan. Katakan padaku, apa yang kau inginkan dari kekasihmu malam ini?” Angelica tersenyum lebar. Seketika dia menerawang. Menarik kembali khayalannya ke kepala sambil berbicara, “Aku ingin menonton bioskop! Berciuman dengan kekasihku di setiap kali ada adegan ciuman yang muncul di layar. Kemudian, menghabiskan malam sambil berjalan di taman kota sambil berpegangan tangan. Berdansa di tengah-tengah dengan latar para pengamen jalanan. Lalu, makan malam di pinggir jalan seperti makanan dari truk makanan atau kafe kecil yang tersembunyi di dalam jalanan kecil.” Angelica berhenti karena mendapati Adam terdiam menatapnya. “Aneh ya?” “Tidak, tidak. Hanya satu sebenarnya.” Adam terkekeh. “Masalah truk makanan, kau serius ingin makan di sana? Bukankah antriannya selalu panjang? Itu tidak sepadan dengan porsinya yang kecil!” “Kau bisa membeli dua jika kau merasa kurang. Ayolah, jangan mundur hanya gara-gara truk makanan,” keluh Angelica. Jika memang makan di tempat rame membuat Adam malas, dia bisa bernegosiasi dengan memilih tempat lain yang lebih sepi. Dia tak mau makan di restauran mewah. Bosan. Belum lagi harus mengenakan gaun dan berdandan. Itu akan memakan waktu lama. “Tidak, Sayang. Selepas aku mendapatkan proyek itu, aku milikmu sepenuhnya.” Angelica bersorak kegirangan. Segera dia melingkarkan tangannya di leher Adam. Menautkan bibir mereka kembali. Sayangnya, bunyi alarm memaksa mereka berhenti. Dan tentu saja, kali ini keduanya harus bangun dan bertransformasi menjadi para pekerja profesional demi Valentini Group. *** Senyum lebar dan puas terpasang di wajah masing-masing. Mereka keluar bangunan kantor dengan kemenangan besar. Akhirnya, setelah negosiasi alot, memutar otak untuk mencari jalan tengan, sekaligus merayu mati-matian calon investor Valentini Group, mereka pun luluh. Meski begitu, Adam benar, dia hanya perlu kurang dari seminggu menyakinkan calon partner bisnisnya karena idenya briliant. Dan buruknya, Angelica tak bisa memperpanjang waktu tinggal mereka di Seattle. Hingga percakapan pagi ini sedikit banyak mengembalikan suasana hati Angelica. Janji Adam. Pria itu akan mewujudkan dongen sederhana mengenai kekasih. Kilat, karena malam tak berlangsung lebih dari delapan jam. Walaupun menyedihkan karena berakhir secepat itu, tapi Angelica tak akan meminta lebih. Setelah hubungannya dengan Adam berakhir, dia bisa mencari pria lain dan dia akan memiliki banyak malam indah. Semoga saja. “Jam empat sore,” ucapan Adam berhasil mengembalikan Angelica ke bumi. Dia menoleh dan mendapati bosnya merapatkan diri mereka. Sambil sedikit merunduk, pria itu berbisik, “Aku tidak pernah pulang sepagi ini dari kantor.”  “Aku juga,” balas Angelica senang. Jam pulang paling awalnya setelah bekerja di Valentini Group adalah pukul enam. Itupun karena Adam yang tiba-tiba menggeretnya menuju ke salon untuk mengadakan kencan kejutan. Adam bergegas membuka pintu kaca, memberi akses Angelica keluar gedung lebih dulu. Seattle, salah satu kota yang sama sibuknya dengan New York. Bedanya, di sini tak segila di pusat utama segala bisnis berjalan di Amerika. Semua orang masih bisa berjalan dengan santai sekaligus jarangnya orang-orang berteriak kencang karena terjebak macet. Otak Angelica segera berpikir cepat mengenai kencan yang akan dia adakan malam ini. Pagi tadi dia sudah memeriksa jadwal film, waktu yang masih cukup longgar untuk mereka. Tapi, dia tak ingin menunggu sambil b******a, itu hanya akan mengubah khayalan manis menjadi s*****l. Hingga ide muncul di kepalanya bersamaan dengan panggilan Adam yang menyuruhnya masuk ke mobil. “Aku tidak pulang bersamamu,” jawab Angelica seraya melepaskan pegangan Adam. Sambil tersenyum dia mengangguk tegas. “Aku akan ke suatu tempat lebih dulu. Nanti aku akan menghubungimu untuk mengatakan tempat pertemuan kita.” Kening Adam mengernyit. Tampak gusar. “Kau yakin, Sayang?” “Ya, sangat yakin!” Angelica sungguh-sungguh saat mengatakannya. Tapi itu kurang menyakinkan bagi bosnya. Segera saja dia merapatkan diri pada bosnya. Melingkarkan tangannya pada leher sang bos lalu mencium lembut bibir pria itu. Mengabaikan segala orang di sekitaran mereka, termasuk sopir pribadi Adam yang ikut serta dalam perjalanan dinas ini. “Aku harus mengurus semuanya. Ingat kan dengan janjimu untuk mewujudkan impian kencanku? Berangkat bersama bukan salah satunya. Jadi, biarkan aku pergi dan aku akan baik-baik saja. Sampai bertemu lagi, Adam.” Sekali lagi Angelica mengecup bibir Adam singkat. Kemudian melepaskan diri dengan sedikit susah payah. Buru-buru dia berjalan ke arah berlainan. Hal pertama yang dia ingin lakukan adalah berbelanja pakaian. Adam tak membawa pakaian santai untuk berkencan di bioskop apalagi taman kota, jadi Angelica akan membelikannya. Kali ini, dia tak akan menggunakan kartu kredit unlimited Adam. Karena ini acaranya, maka bosnya itu akan mendapatkan hadiah terbaik darinya, sang kekasih. *** Bunyi bel unit kamar menarik perhatian Adam. Segera ditaruhnya iPad di meja kopi. Kemudian bergegas membuka pintu. Sejenak dia terheran-heran, siapa gerangan tamunya. Hingga kesadaran mengenai hilangannya Angelica di kamar ini seperti menjawab pertanyaannya. Wanita itu pergi begitu saja tanpa memegang kunci. Kemungkinan besar sekretarisnya lah yang berada di balik pintu. Sedikit berlari dia mencapai pintu karena tak ingin membuat Angelica menunggu. Hampir satu jam seorang diri di kamar sebesar ini terasa membosankan. Membaca berkas pekerjaan hanya pengalihan karena setiap kali dia berada di sebuah kamar, di mana pun itu, hanya ada bayangan sang sekretaris dan momen panas mereka. Lama-lama Adam bisa gila dengan banyak hal aneh yang terjadi pada dirinya dan semua itu disebabkan oleh Angelica Keaton, sekretarisnya. Sayangnya, ketika pintu dibuka hanya ada seorang pria. Seragam yang serupa dengan para pegawai hotel yang berwara-wiri di sekitaran sini menunjukan bahwa orang ini salah satu dari mereka. Sebuah tas belanja yang pria itu tenteng menarik perhatiannya. “Ada apa?” tanya Adam setenang mungkin. “Mr Valentini,” panggilnya seraya mengulurkan tas tersebut padanya. Refleks, dia menerima benda itu dan sedikit mengintip isinya. Sebuah kotak dan menambah pertanyaannya. “Dari kekasih anda.” “Kekasih?” tanyanya lebih kepada dirinya sendiri. Sampai kesadaran menyentaknya. Bagaimana dia bisa lupa jika Angelica kekasihnya di ranjang dan malam ini sedikit ada perubahan, yaitu menjadi kekasih sebenarnya dari wanita itu. “Oh, kekasih saya. Trims.” Pria itu mengangguk patuh sembari mengundurkan diri dari hadapannya. Adam sendiri langsung membanting pintu. Isi kotak ini sangat membuatnya penasaran. Buru-buru dia menuju ke kamar utama. Mengeluarkan kotak dari dalamnya. Ada dua di sana, salah satunya terlihat seperti sepasang sepatu tampak dari brand di permukaannya. Lalu, kotak lainnya dia buka, sebuah mantel cokelat tua, kaus lengan pendek berwarna hitam, serta celana jeans. Untuk sesaat Adam termangu dengan takjub menatap semua barang-barang yang Angelica berikan. Mendapati sepucuk surat yang terselip di antara mantelnya, membuat Adam segera menariknya. Dia penasaran apa yang Angelica tulis untuknya. Hari ini, kau wajib mengenakan seluruh pakaian yang kubelikan untukmu. Karena malam ini ‘katanya’ cukup berangin, jangan coba-coba mengabaikan mantelnya! Jam 7 film dimulai, jadi datanglah lebih awal. Aku akan menunggu di depan bioskop. Sampai jumpa nanti, Sayang. Kekasihmu, Angelica Keaton. Tawa Adam langsung meledak ke seantero ruangan. Perasaan bahagia seolah merayapi hatinya dan memenuhinya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, dia diberi satu set pakaian untuk sebuah kencan sederhana. Sekarang dia tak sabar mengenakan pakaian-pakaian ini kemudian mendatangi bioskop. Dia hanya ingin memeluk Angelica. Menghujani wanita itu dengan ciuman. Berkatnya, Adam bisa sesenang ini dalam hidup. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD