Mata wanita itu terpejam erat. Terdengar suara dengkuran lirih darinya. Dalam tidur lelapnya, Angelica tetap terlihat sangat cantik. Riasan kaku nan profesionalnya itu telah terhapus di wajahnya, menjadikan wanita itu terlihat jauh lebih muda. Bintik-bintik samar di sekitar bawah matanya membuat semakin menawan. Seperti arti namanya, Angelica adalah seorang bidadari tak bersayap versi e****s, mengingat satu-satunya kain yang menutupi badan sekretarisnya itu hanyalah selembar selimut.
Adam melirik jam di nakas samping Angelica. Pukul setengah tujuh pagi, mereka masih punya waktu lebih dari dua jam sebelum harus bergegas ke kantor. Kembali kerutinitas panjang dan melelahkan yang mewajibkan keduanya untuk menjaga jarak. Karena bagi mereka, satu sentuhan akan menghancurkan segala profesionalitas yang mereka bangun di tempat kerja.
Tanpa bisa dicegah senyum Adam terukir. Dia mendesah lega. Pagi seperti inilah yang dia inginkan terjadi sejak pertama kali mereka b******a. Angelica tidur di sisinya dengan damai. Sedikit bergelung manja akan jauh lebih menyenangkan, sejujurnya. Terlebih jika wanita itu melilitkan tangan-tangannya serta tungkai jenjangnya untuk menjadikan dirinya seperti guling manusia. Sayangnya itu tak pernah terjadi karena Adamlah yang jauh lebih suka memeluk sekretarisnya itu. Tubuh rampingnya yang semampai memang selalu menggemaskan dalam naungan badannya.
Memori beberapa pagi belakangan ini kembali berputar cepat di kepalanya. Adam masih ingat saat mendapati dirinya sendirian di ranjang begitu bangun. Kekesalan memenuhi isi kepalanya, padahal Angelica tidak salah. Hari pertama takut ketahuan, hari kedua kebutuhan pribadinya belum mengisi penthouse ini, serta kemarin wanita itu hanya turun ke lobi beberapa menit. Konyol memang, tapi keinginan posesif itu muncul begitu saja ke permukaan seiring kebersamaan intim keduanya.
Perlahan tangan Adam terangkat. Memandangi wanita ini terasa kurang, selalu ada sentuhan-sentuhan yang dia sukai. Disentuhnya lembut pipi Angelica. Mengusap alis tebal yang natural itu. Memegang permukaan kelopak matanya yang selalu membuatnya teringat akan indahnya iris amber wanita itu. Pelan-pelan menuruni hidungnya. Berhenti pada titik paling mancung. Kemudian, kembali turun tepat ke bibir merah muda yang pucat pagi ini. Tempat segala hal panas di mulai, ciuman mereka. Seketika Adam mengerang. Mengingat hubungan erortis mereka, hasratnya bergejolak. Ini buruk. Kebutuhannya akan Angelica bukannya semakin meredah, malah semakin kuat setiap harinya.
Suara erangan lembut terdengar. Belum sempat dia menarik tangannya, tiba-tiba mata Angelica terbuka. Mata mereka langsung berserobok di udara. Senyum tipis langsung terukir di wajah polos sekretarisnya.
“Morning, Angelica,” sapa Adam. Suaranya serak dan rendah berkat menahan gairah yang mendadak menggelenyar.
“Morning, Boss,” balas Angelica. Saat mendapati Adam dengan sengaja menggerakan bagian bawahnya ke perut wanita itu, Angelica tergelak singkat. Sambil beralih pada jam, dia bergumam, “saatnya bangun, Adam. Sudah hampir pukul tujuh.”
“Aku tau,” desak Adam. Dia butuh dipuaskan oleh wanita ini sekarang. “Tapi aku membutuhkanmu saat ini di ranjang.”
Gelengan cepat Angelica yang menandakan penolakan berhasil membuat Adam melotot. Bisa gila dia harus menahan hasrat atau terpaksa memuaskan dirinya dengan tangan padahal di sini ada kekasihnya.
“Kau gila?” omel Adam. “Kau tau aku BUTUH!”
“Adam.” Angelica mendesah panjang. Sorot menyesal terlihat di matanya. “Maaf. Kau tau aku bukannya tidak ingin, tapi hari ini kita harus berangkat ke Seattle. Semalam sudah terlalu larut untukku mempersiapkan barang-barang bawaanku dan kau juga tentu saja. Pagi ini, aku akan sangat sibuk.”
“Sial!” maki Adam seraya menjauhkan dirinya dari Angelica. Saat sekretarisnya itu mencoba menepis jarak mereka kembali, Adam sengaja memasang wajah galak sambil merentakan tangan. “Diam di tempatmu dan jangan bergerak. Aku melarang keras!”
“Adam, maafkan aku.” Angelica memasang wajah penuh penyesalan. Sekali lagi dia mencoba untuk menyentuh Adam, refleks, pria itu menghindar. Dia sudah cukup b*******h, tapi tidak bisa disalurkan itu akan menambah gila tubuhnya.
“Baiklah,” ucap Angelica pasrah. “Aku benar-benar minta maaf. Kau harus mandi sementara aku memasukan pakaian-pakaianmu ke koper serta menunggu kiriman barang-barangku.”
Angelica bergegas menyibak selimutnya. Menuruni tempat tidur dengan kebugilannya sambil memunguti pakaian-pakaian mereka yang berserakan di lantai untuk dimasukan ke dalam keranjang baju kotor di kamar mandi. Adam lagi-lagi mengumpat. Gerak-gerik sekretarisnya itu semakin menyiksanya.
“Adam.” Angelica berhenti sejenak tepat di ambang pintu kamar mandi. “Aku lupa mengatakan bahwa Papà-mu menelepon semalam saat kau konferensi. Dia memintamu menelepon siang ini.”
“SIALAN, ANGELICA! JIKA KAU TIDAK MAU b******a DENGANKU SEKARANG, SEGERA MASUK KE SANA DAN BERHENTI MENGOCEH DALAM KEADAAN TELANJANG!” teriak Adam frustrasi.
Angelica terkekeh pelan sebelum akhirnya menghilang ke kamar mandi. Ada tatapan menggoda yang terlihat sekilas tadi. Adam mendengus kesal. Dia pastikan, ketika mereka sudah punya waktu yang cukup luang, dia akan membuat sekretarisnya itu merasakan kegilaan yang sama sepertinya. Mendamba dan menginginkannya, tapi harus menunggu dengan kesal karenanya.
***
Suasana hati Adam benar-benar buruk selama berjam-jam perjalanan dari New York menuju Seattle. Dalam penerbangan, pria itu memasang jarak. Duduk di sudut terjauh dan memaksa mereka untuk tak saling berkomunikasi juga. Wajahnya ditekuk. Kedua tangan di depan d**a. Sikap yang sangat defensif ditunjukkan. Sebagai bos, dia cukup menyebalkan karena tukang atur dan pecinta kesempurnaan. Berbeda ketika Adam berperan sebagai kekasih, karena bosnya itu bisa sangat perhatian. Siang ini, peran kekasih baik hatinya musnah. Hanya ada bos mengesalkan ditambah dengan marah-marahnya. Hal kecil saja jadi merembet panjang. Angelica jadi ikut dongkol.
Dalam diam Angelica mengekori Adam menuju ke kamar presidential suite yang telah dia pesan. Ketegangan masih menyelimuti keduanya. Rasanya dia gemas bukan main dengan sikap bosnya itu atau ralat kekasihnya di ranjang. Sudah tau mereka harus berangkat ke Seattle pukul 10. Belum lagi dia harus mempersiapkan barang-barang bawaan mereka. Menyiapkan sarapan untuk Adam dan dirinya. Memastikan juga bahwa berkas-berkas yang dibutuhkan di sini tidak ada yang terselip. Sekalipun pria itu mampu bolak-balik New York-Seattle apabila ada berkas yang tertinggal, tentu nanti akan banyak waktu yang terbuang sia-sia di jalan.
Hingga suatu kenyataan menampar keras Angelica. Sial! Makinya dalam hati. Dia hanyalah wanita yang Adam beli untuk memuaskan nafsu pria itu. Dalam artian, dia harusnya dilarang menolak permintaan bosnya untuk b******a. Mengingat pria itu sudah membelikannya pakaian-pakaian mahal, penerbangan dengan jet pribadi sekaligus fasilitas mewah yang hanya seorang pengusaha sukses dan super kaya yang mampu melakukannya tanpa pikir panjang mengenai uang. Angelica benar-benar tidak tahu malu. Hidupnya sekarang terasa menyedihkan. Memiliki kekasih yang hanya peduli pada tubuhmu, hanya itu.
Suara pintu tertutup di balik punggungnya berhasil mengembalikan kesadaran Angelica. Sesaat matanya memindah cepat seluruh ruang tidur ini. Kasur berukuran raja berada di tengah ruangan dengan dua buah nakas di setiap sisinya. Sebuah kursi malas untuk satu orang diletakan di dekat kaki ranjang. Sebuah televisi LED yang menempel pada dinding. Jendela besar dengan pemandangan dermaga serta laut lepas membuat Angelica langsung jatuh cinta pada tempat ini. Belum lagi dia sempat mendapati sebuah ruangan selain kamar utama, sebuah dapur serta ruang makan untuk menjamu beberapa orang serta tidak ketinggalan ruang tamu mewah. Fasilitas yang sangat sesuai dengan harga sewa yang selangit.
Tatapan Angelica jatuh pada sosok Adam yang tengah berdiri di ambang pintu. Bahu pria itu bersandar pada kusen dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celana. Senyum, tentu tidak ada. Sorot matanya masih dan terus menerus menatapnya penuh gairah. Harus diakui, ditatap seperti ini oleh bosnya membuatnya gerah. Jenis panas yang bukan diakibatkan oleh AC ruangan yang rusak melainkan bara yang terpancar dari diri Adam merambati tubuhnya.
“Adam,” panggil Angelica. “Apakah Valentini Group tidak mampu membayar dua kamar untuk perjalanan ini?” tanyanya mencoba melucu.
Sayangnya, waktunya tak tepat. Bukannya membalas dengan gurauan, Adam malah melotot dengan dengusan. “Setelah kau menolakku di ranjang pagi tadi, sekarang kau minta pisah kamar denganku?”
Angelica mendesah panjang. Segera dilepaskan mantel tebalnya kemudian disampirkan ke kursi malas terdekat. Setelahnya, dia berjalan mendekati Adam. Jika tadi pria itu menolak mati-matian, sekarang bosnya itu membiarkan tubuh mereka bersentuhan. “Aku minta maaf,” ucap Angelica pada akhirnya. “Setiap pagi aku harus berubah menjadi sekretarismu yang handal, Adam. Seks yang kita punya adalah hal bagus. Tapi, aku juga tak ingin mengecewakan bosku dengan melewatkan hal detail mengenai kewajibanku di kantor. Kuharap kau mengerti.”
“Satu lagi.” Angelica menggosok permukaan kemeja Adam tepat di d**a bidang pria itu. “Aku tadi cuma bercanda masalah sewa kamar. Adam, aku yang memesan semua ini. Tentu saja aku bisa mengatur dua kamar yang berbeda, jika aku mau. Nyatanya, aku tetap memesan satu karena Bosku, aku tidak mau tidur berpisah denganmu selama di Seattle.”
“Dasar wanita!” gerutu Adam yang berhasil membuat Angelica tersenyum kecut. Bosnya memahami tapi permintaan maafnya masih digantung. Sambil menatapnya lekat, Adam berkata tegas, “berhentilah bersikap kaku, Angelica. Aku bosnya, harusnya aku yang mengendalikan segala hal. Jika aku berkata bersantailah, maka itu yang wajib kau lakukan! Kita sama-sama punya sifat perfeksionis, tapi bukan berarti dilarang bersenang-senang. Aku benar-benar membenci Angelica sekretaris handalku. Sekaligus aku benci karena aku tak berhasil meredam gairahku padamu!”
“Oh… Adam, aku benar-benar minta maaf.” Angelica semakin merasa bersalah sekarang. Penolakannya benar-benar membuat Adam frustrasi. Pria itu juga sampai menghentikan segala sentuhan fisik yang sangat amat Angelica sukai.
Tiba-tiba saja Adam menangkup pipi-pipinya. Mendaratkan dengan keras bibirnya ke bibir Angelica. Membuat wanita itu terpekik pelan saking terkejutnya. Tanpa jeda, Adam terus menghujaninya dengan ciuman yang bertubi-tubi. Lidahnya menerobos masuk ke mulutnya. Awalnya, Angelica kewalahan karena ruang bernapasnya dihentikan paksa. Namun, saat Adam mulai melambatkan intensitas permaiannya. Memberinya waktu singkat menghirup oksigen, Angelica mulai menikmatinya.
Dengan lambat, pria itu menggiringnya menuju ke ranjang mereka. Selama itu tangan Adam ikut bermain. Menarik ikat rambutnya hingga rambut pirang keemasannya tergerai. Menjelajahi bagian-bagian lain di tubuhnya yang sangat pria itu kenal. Sekalipun masih ada kemeja hitamnya yang menjadi penghalang, bosnya itu mampu membangkitkan hasratnya. Pelan-pelan dan tentu sangat terlatih, Adam mulai membuka satu per satu kancing kemejanya. Angelica juga, dia melakukan hal yang sama pada kemeja putih bosnya itu. Di momen inilah Angelica menyadari, saat dia bersama Adam, dia mampu menjadi wanita yang s*****l dan seksi.
“Angelica,” erang Adam seraya menjatuhkannya ke ranjang. Tiba-tiba saja pria itu menghentikan ciuman mereka dan menarik diri. Adam berdiri menjulang di tepi tempat tidur. “Kita harus menghentikan ini. Aku lapar dan ingin makan malam.”
“APA?” teriak Angelica sontak kembali duduk. Matanya melotot. Setelah dibuat berantakan. Dicium tanpa ampun. Dibangunkan juga putri tidur di dalam dirinya, mendadak Adam menghentikannya. “Kau keterlaluan!”
Adam mendengus sambil memasang senyum keji. “Bagaimana rasanya, Sayang? Frustrasi? Kau ingin b******a denganku, tapi aku harus menghentikannya.”
Refleks, Angelica bangkit dari tempat tidur. Tanpa memedulikan beberapa kancing pakaiannya terbuka, dia segera menerjang bosnya. Membuat pria itu sedikit kelimpungan dengan hal mendadak yang dia perbuat. Hingga mereka pun berguling di atas lantai empuk berselimut karpet.
“Kau puas mempermainkanku?” teriak Angelica seraya memukul d**a Adam tanpa ampun. Kali ini benar-benar kesal dan dia tak akan memaafkan bosnya itu. Dia pikir hanya Adam yang bisa menguasainya, Angelica juga bisa! “Jangan harap aku mau berada di ranjangmu malam ini, Mr Valentini. Aku akan tidur di sofa ruang tamu dan awas saja kau mendekat!”
“Hey!” Adam ikut berteriak. Segera dia menahan pukulan Angelica. Sangat mudah, mengingat pria itu jauh lebih kuat daripada dirinya. “Aku bercanda, oke! Jangan tidur di sofa atau manapun, hanya di ranjang bersamaku! Satu lagi, aku sekarang semakin menggila karenamu!”
Adam menariknya kembali sampai dia jatuh menimpah tubuh keras pria itu. Kemudian, membungkam mulut Angelica dengan bibirnya. Angelica berusaha menolak ciuman Adam. Sayangnya, tubuhnya berkhianat. Karena hanya satu ciuman dari bosnya, disusul dengan sentuhan lain, Angelica pasrah dalam pusaran kenikmatan. Oh, dia semakin menyedihkan karena tak bisa lepas dari pesona menajubkan bosnya.
***