Salah satu bahu Adam bersandar pada kusen pintu ruangannya. Tangannya terlipat di depan d**a. Matanya mengawasi sekretarisnya yang tengah duduk di balik meja kerjanya. Wanita itu terlihat sedang menerawang menatap satu titik kosong di kejauhan. Tak menunjukan gerakan apa pun hingga bermenit-menit berlalu. Angelica juga tidak menyadari kehadirannya. Sesuatu pasti menganggu pikirannya.
Adam melirik jam tangannya sekilas. Jam pulang kantor sudah dua jam berlalu. Dia baru saja menyelesaikan konferensi bersama Philip Xander. Rundingan yang rumit, negosiasi yang alot serta ego dua belah pihak yang sulit diturunkan membuat rapat itu berlangsung selama berjam-jam. Kalau saja harga kerja sama ini biasa saja, mungkin Adam memilih untuk melupakan pria itu. Terlebih Philip dengan seenaknya merubah jadwal mereka serta terlalu banyak persyaratan yang sebenarnya mengada-ada. Sayangnya, nilainya ini sangat fantastis, kerja sama ini juga memperluas area jangkauan Valentini Group di Seattle.
Masalah pekerjaan telah berakhir, sekarang sesuatu yang mengganggu pikiran sekretarisnya ini yang menjadi urusannya. Adam menyadari ada keanehan sejak Angelica pulang makan siang bersama teman wanitanya. Kegelisahan terlihat jelas. Fokusnya pun berantakan dan terbagi, karena dia mendapati Angelica beberapa kali salah memberikannya berkas.
Diputuskannya untuk berdeham kencang, memecah khayalan wanita itu. Refleks, Angelica menoleh. Ada keterkejutaan saat menemukan Adam di dekatnya. Sedikit terbata, dia berbisik pelan, “Adam.”
“Kau baik-baik saja, Angelica?” tanya Adam.
Dengan cepat dia memindai sekitaran mereka. Seluruh pegawainya sudah pulang, menyisakan dirinya dan juga Angelica di lantai ini. Terlihat dari beberapa lampu yang padam di bagian-bagian tertentu. Suasana juga sunyi. Sebuah lampu hijau, persetujuan tak tertulis untuk berganti peran dari bos tegas menjadi seorang kekasih yang cukup perhatian.
Lambat-lambat dia mengikis jarak dengan Angelica. Salah satu tangannya mengusap pundak sekretarisnya. “Katakan padaku, apa yang mengganggu pikiranmu, Sayang?”
Angelica menyunggingkan senyum. Terlihat tidak secemerlang biasanya. “Aku baik-baik saja.”
Jawaban yang tidak meyakinkan, batin Adam sambil mengerutkan alis. Refleks, dia membungkukkan badan. Mencondongkan tubuhnya ke arah Angelica. Matanya mengunci manik mata amber milik sang sekretaris. Saking dekatnya jarak wajah mereka, dia bisa merasakan deru napas Angelica di wajahnya.
“Kau melamun, Angelica. Bahkan tidak menyadari kehadiranku tadi,” bisik Adam.
“Adam.” Angelica semakin gusar, menolak kontak mata mereka. Dengan panik dia malah jelalatan memperhatikan seantero ruangan. “Kita di kantor. Kalau pegawai melihat kita, bahaya!”
“Aku tau,” balasnya. Meskipun kesal karena Angelica menolak sikapnya sebagai kekasih, tapi Adam sadar mereka harus menjunjung tinggi etika di kantor. Tapi ini perusahaannya. Dia bosnya. Harusnya sekretarisnya tidak perlu mendikte bagaimana dia harus bersikap. Buru-buru dia abaikan emosinya karena Angelica lebih butuh perhatian daripada keributan lain selayaknya pagi ini. “Tapi para pegawai sudah pulang sekitar dua jam yang lalu.”
Mata Angelica terbelalak. Dia segera meraih ponsel di meja. Jam sudah menunjukan hampir pukul setengah delapan malam sekarang. Adam penasaran, berapa lama sekretarisnya itu melamun hingga tak menyadari berjam-jam telah berlalu.
“Ah, kau sudah menyelesaikan konferensimu? Aku akan membereskan mejamu dan kau bisa pulang lebih dulu.” Angelica memundurkan kursinya kemudian beranjak dari sana.
Sebelum membiarkan sekretarisnya pergi, Adam dengan cepat menahan gerakan wanita itu. Kepalanya menggeleng tegas. “Semua sudah kubereskan. Kita tinggal pulang.”
“Oke.” Angelica mengangguk lambat. “Aku akan bersiap-siap.”
Adam menurut. Mundur beberapa langkah untuk memberi ruang gerak pada Angelica, tapi matanya masih tetap mengawasi. Lagi dan lagi, sekretarisnya itu hilang fokus. Sempat kebingungan cara mematikan komputer di mejanya. Mencari-cari letak tas rias yang jelas-jelas berada di tumpukan fail di sudut meja. Terakhir, hampir saja meninggalkan ponsel kalau Adam tidak meneriakinya.
Ketika mereka berjalan berdua melintasi lorong panjang dan kosong, Adam kembali memecahkan keheningan. “Kau yakin baik-baik saja, Angelica? Seseorang atau sesuatu mengganggumu? Katakan padaku apa itu dan aku akan langsung mengurusnya untukmu.”
Angelica menghentikan langkahnya. Berbalik menghadap Adam lalu mengusap lembut dadanya. Kali ini, senyuman yang wanita itu pamerkan lebih terlihat tulus. “Aku baik-baik saja, Adam.”
“Sayang,” panggil Adam seraya membelai pipi Angelica. “Kau bisa mempercayaiku.”
Dia mengangguk pelan. “Fine, tapi bolehkah malam ini aku tidur di penthousemu lagi?”
Adam mendengus geli seraya melepaskan jepit ramput Angelica. Menghancurkan cepol rumit wanita itu dalam satu tarikan yang pas. “Aku tak pernah berpikiran membawamu pulang ke apartemen mungilmu, Angelica. Kalau aku bilang pulang artinya kau pulang bersamaku ke penthouseku.”
“Terdengar menyenangkan!”
Jawaban yang lagi-lagi membuat kening Adam berkerut. Ekspresi dan suaranya terlihat berlawanan. Bisa dia pastikan, ketika mereka kembali ke rumah, dia akan mengorek dalam-dalam isi kepala Angelica. Memastikan tak ada lagi sesuatu yang mengganjal isi kepala sekretarisnya ini.
***
Seketika Angelica terjaga saat mendengar suara getaran lirih dari nakas di sampingnya. Matanya mengerjap beberapa kali. Kepalanya menoleh ke sisi kiri. Satu-satunya pencahayaan di ruangan ini hanyalah ponselnya yang masih bergetar. Rasanya dia enggan mencari tahu siapa penelepon tengah malamnya ini. Pria itu, siapa lagi. Sejak berhasil menemukannya, mendadak berbagai telepon dan pesan memberondongnya. Ingin dia blokir nomornya, tapi itu sama saja dengan menambah urusan dengan pria itu. Alhasil, dia memilih mengabaikannya saja.
Ponsel kembali bergetar, kali ini singkat. Angelica tebak sebuah pesan baru masuk di sana. Refleks, diraihnya benda itu. Dugaannya benar. Beberapa panggilan tak terjawab disusul dengan beberapa pesan yang tak terbaca. Suasana hatinya kembali memburuk. Tadinya, seks bersama Adam adalah hiburan, sekarang itu terasa tak lagi menyenangkan.
Tanpa sadar dia mendesah panjang. Tidur terdengar mustahil. Dia membutuhkan sedikit hiburan lain yang mungkin bisa membantunya kembali lelap. Segera dia menoleh ke sisi yang berlainan. Kepala Adam tengah membelakanginya. Sementara satu tangan pria itu terentang ke arahnya untuk dijadikan bantalan bagi Angelica. Napas pria itu teratur, tandanya bahwa tidur bosnya nyenyak selepas beberapa kali sesi b******a sepanjang malam.
Terkadang Angelica penasaran, sampai kapan Adam bertahan dengannya. Setiap hari dia selalu pulang ke penthouse ini. Menghabiskan makan malam yang telah disediakan oleh asisten rumah tangga pria itu atau memesan makanan dari restauran-restauran terdekat. Beberapa pakaiannya ikut mengisi lemari baju bosnya. Nyaris merasa bahwa tempat inilah rumahnya, bukan apartemen kecil di pinggiran kota New York. Buru-buru dienyahkan pikiran tersebut. Dia tak boleh terlena pada sesuatu yang pada akhirnya hanya melukai perasaannya.
Segera dia sibak selimut sutra yang membelit tubuh telanjangnya. Pelan-pelan, dia menuruni tempat tidur. Meraih kemeja kerja Adam yang tercecer di lantai lalu mengenakannya secara asal-asalan. Tubuh bosnya itu besar. Kemeja ini di badannya bukan lagi kemeja, tapi selayaknya gaun kusut karena panjangnya hampir mencapai lututnya. Setidaknya dia tak ingin berkeliaran di penthouse ini dalam keadaan b***l. Barulah meraih ponsel di nakas. Untuk sesaat terhenti. Dihirupnya dalam-dalam aroma musk dan wood yang berasal dari baju ini membuatnya seolah di peluk Adam ke mana-mana.
Begitu pintu di belakangnya tertutup, bergegas dia menuju dapur. Saat sulit tidur atau pikirannya sedang kusut, bahkan ketika suasana hatinya memburuk, satu-satunya stimulus terbaik adalah cokelat panas. Angelica ingat saat pagi tadi dia membuatkan sarapan Adam, dia menemukan beberapa cokelat bubuk instan. Entah siapa yang menaruhnya di sana. Sosok bosnya yang selalu suka minum kopi dalam berbagai kesempatan, membuatnya yakin bahwa itu bukan cokelat bubuk instan miliknya. Mungkin asisten rumah tangganya, mungkin Sophie si mantan sekretaris sebelumnya, atau entahlah, Angelica sulit berpikir sekarang.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Angelica kembali ke ruang tamu dengan secangkir cokelat panas di tangan. Didudukinya meja kopi lebar tersebut sambil menaruh minuman di sampingnya. Dia sengaja memposisikan dirinya tepat di depan jendela lebar Adam. Malam masih sangat larut, pukul dua dini hari saat dia cek terakhir di dapur. Ada satu lagi pesan dari pria itu yang masuk di ponselnya. Semua isinya sama. Cukup berarti, tapi mengganggu dan membuatnya was-was.
From : Armour
Tolong, jangan kabur lagi. Aku merindukanmu, Angelica.
Angelica hampir menitihkan air mata. Oh, dia juga kangen pada pria ini. Setiap hari bertemu dan mengobrol lalu berkat dirinya kabur, keduanya tak lagi saling berbicara. Lebih tepatnya, Angelicalah yang mengabaikan semua cara pria itu untuk menghubunginya. Masalahnya, dia tak mungkin bertemu dengan Armour. Kakaknya itu bisa menggeretnya pulang dengan paksa. Dan tentu saja mematahkan janji satu tahun yang telah dia berikan pada Angelica.
Dihirupnya lambat-lambat cokelat panas tersebut. Menyasapi rasa yang familier, tapi tidak sesedap saat membuatnya langsung dari lelehan cokelat batang kesukaannya. Minuman instan ini pun terlalu manis untuk dirinya yang lebih menyukai dominan pahit dalam sebuah cokelat panas. Sambil mengamati keadaan luar penthouse, dia mengabaikan ketidaksempurnaan minumannya. Bulan purnama sedang bersinar cerah. Beberapa pendar bintang juga menunjukan bahwa dunia di luar sana baik-baik saja, berbeda dengan dirinya dan segala masalahnya yang membututinya. Adam, lalu sekarang Armour mengejarnya.
“Sayang?” panggilan tersebut sontak membuat Angelica menoleh. Adam baru saja menuruni tangga dalam balutan jubah tidur gelapnya. “Sedang apa kau di sini?”
Angelica memaksa senyum masam tersungging. “Tidak bisa tidur,” akunya sambil memamerkan cangkir cokelat panasnya. “Aku menemukan beberapa cokelat bubuk di apartemenmu, jadi aku mengambilnya satu bungkus untuk kunikmatin. Aku heran kenapa kau punya ini, mungkin asisten rumah tanggamu. Kuharap dia tak keberatan aku mengambilnya satu. Cokelat panas selalu… menenangkanku.”
“Kau bisa mengandalkanku, Angelica,” balas Adam sambil mendesah panjang. Dia mendekat. Menduduki sisi meja lain di sebelah Angelica. “Sepanjang hari aku mencoba sabar untuk tidak mengorek isi kepalamu. Tapi melihatmu di sini, membuat cokelat panas sambil berkata bahwa minuman itu menenangkanmu, sesuatu telah terjadi dan apa itu Angelica?”
Seketika Angelica mengutuk dirinya sendiri karena salah bicara. Otaknya yang lumpuh dia paksa untuk bekerja mencari alasan bagus agar Adam berhenti untuk mengeruk isi pikirannya. “Aku hanya tidak bisa tidur, Adam. Sesuatu baik-baik saja. Berkas-berkas untuk persiapan ke Seattle telah kubereskan kemarin. Kau di sini menemaniku. Secangkir cokelat panas. Semuanya pas.”
“Oh, Sayang.” Adam memainkan jari-jarinya ke pipi Angelica. Refleks, wanita itu memejamkan mata, merasakan sentuhan lembut bosnya itu. “Semuanya memang pas sekali, tapi aku merasa bukan masalah kita yang salah atau pekerjaan, tapi kau lah yang bermasalah entah apa itu. Angelica, Sayang, itu cokelat bubuk milikku. Mamma selalu membuatkan itu jika aku sedang tak bisa tidur. Kau benar, minuman itu juga menenangkanku setiap kali pikiranku kusut. Masalah, aku tak bisa membawa Mamma ke sini, jadilah hanya cokelat bubuk itu yang bisa kubawa ke New York. Mustahil kau tak lelap setelah percintaan panas kita, Angelica.”
“Kita punya persamaan juga?” Angelica terkekeh pelan. Mencoba mengalihkan topik. Berkat kata-kata Adam pula, dia jadi mendapatkan ide bagus untuk menghentikan segala pertanyaan bosnya yang menuntut.
“Ya, untuk cokelat panas.”
Pelan-pelan Angelica membuka matanya. Dia langsung disambut dengan dua mata gelap milik Adam yang menguncinya. Ada sorot bertanya dan khawatir di sana. Menyenangkan mendapati seseorang yang memedulikanmu selain seluruh anggota keluargamu. Tapi masalah keluarganya, Angelica ingin merahasiannya dengan Adam. Untuk saat ini atau selamanya. Karena mungkin setelah setahun berakhir, Angelica tak ingin ditemukan lagi.
“Ada satu lagi persamaan kita, Adam. Seks panas di ranjang. Kau benar, mustahil bagiku untuk tetap terjaga setelah percintaan panas kita. Kecuali….” Angelica sengaja menggantungkan kalimatnya, membuat kernyit Adam terlihat di keningnya.
“Kecuali?”
“Kecuali….” Angelica merapatkan dirinya pada Adam. Melingkarkan kedua tangannya pada leher pria itu. Memasang ekspresi penuh damba yang keluar secara natural. “Kecuali kalau aku masih sangat membutuhkan percintaan lain denganmu malam ini. Kau tau, aku tidak bisa berhenti melahapmu, Adam.”
Adam terkekeh kecil. Dikecupnya singkat bibir Angelica, berkali-kali sampai dia kegelian. “Aku juga selalu merasa sangat lapar terhadapmu, Sayang.” Suara Adam berubah sedikit serak. Angelica bersorak kegirangan. Kini hanya ada gairah di dalam otak pria itu, bukan lagi masalah keanehannya sepanjang hari ini.
“Cium aku dan bawa aku ke kamar, Sayang,” desahnya.
Tanpa perlu diperintah untuk kedua kalinya, Adam langsung membungkam mulutnya. Dengan liar kedua bibir mereka saling bertautan. Pekikan pelan meluncur dari mulut Angelica saat merasakan tubuhnya melayang. Dengan cepat kedua tungkainya melingkari pinggul Adam. Mengetatkan dirinya dalam pelukan bosnya tersebut. Pelan-pelan Adam membawanya kembali ke sarang cinta mereka, kamar pria itu.
Angelica berharap, setelah cokelat panas dan disusul seks hebat, Armour akan enyah dari kepalanya. Karena sekarang hanya Adam dan percintaan merekalah yang lebih dia inginkan. Dia benar-benar haus akan hasrat jika itu berhubungan dengan bosnya, entahlah, mungkin semua kesenangan ini akan menghancurkan hati Angelica berkeping-keping begitu hubungan mereka berakhir. Cepat atau lambat. Tapi itu nanti, sekarang biarlah kesenangan duniawi menguasainya.
***